
89 I'M PROUD OF YOU
“Maz udah pikirin gimana kita sesudah halal nanti? Kita mau tinggal dimana? Aku udah nyaman tinggal disini” kata Dini tidak menjawab pertanyaan Anto
“Kebiasaan, ga jawab pertanyaan malah balik nanya” protes Anto sambil meletakan kepalanya dipangkuan Dini, dia berbaring dengan paha Dini sebagai bantalnya
“Sepertinya kita kepaksa tinggal di Jakarta de, di Jogja ga ada cabang bank of India, sebaliknya disana ada yayasan tempatmu ngajar, atau karena kamu sudah selesai S2 kan kamu bisa melamar sebagai dosen” kata Anto memaparkan argumennya
“Iya juga sih” kata Dini. Dia tau kalau Anto pindah ke bank lain, belum tentu jenjang kariernya akan bagus seperti sekarang
“Jawab pertanyaanku tadi mom” pinta Anto
“Aku belum berani melangkah lagi maz, kalau maz ga sanggup nunggu, tinggalin aja kami” kata Dini pasrah.
“Sampai kapanpun maz akan tunggu de, walau gimanapun sekarang kamu sudah kasih maz lampu hijau. Waktu masih lampu kuning aja kan maz setia nunggu. Jadi maz minta jangan pernah kamu bilang maz ga sanggup nunggu atau mempersilahkan maz mencari yang lain. I really really love you so much sweet heart” dibelainya pipi Dini lembut
Dini menunduk dan mengecup sekilas bibir Anto : “Makasih atas cintamu buatku maz”
***
Seminggu sudah Anto kembali ke Jakarta. Diruang keluarga rumah mamanya sudah terpasang pigura besar photo nya besarta Dini dan Amora dengan baju sarimbit. Mamanya sangat senang melihat rona bahagia di wajah putranya itu. Dia selalu mendoakan semua yang terbaik bagi semua anaknya. Sedang dikamarnya banyak pigura baru terpasang, ada photo dengan pose dia mengecup kening Dini ambil Dini memeluknya, ada pose cium pipi dengan posisi Anto atau Dini atau Amora ditengah, dia pajang semua itu di dinding yang berada di posisi kakinya, sehingga setiap akan tidur dia bisa melihat semuanya. Dia ga taruh didinding yang posisi kepala karena saat dia akan tidur ga bisa memandang moment bahagia itu
Dimeja kerjanya dia meletakan photo mereka bertiga di Sunmor, Steve sebagai pengarah gaya sekaligus photografer menyarankan photo manis dengan pose Anto menjunjung Amora tinggi diatas kepalanya dan Dini menggapai kaki Amora, mereka bertiga dengan ekspresi tertawa lebar, dengan back ground hutan buatan sekitar UGM, memang sangat cantik jadinya
Sebaliknya dirumah Dini di Jogja juga sudah terpasang photo resmi penghuni rumah itu. Dini memajang photo itu diruang tamu. Memperlihatkan kemantapan hatinya. Juga menunjukkan pada siapapun yang datang ke rumah itu, dia ada pendampingnya
Di ruang keluarga terpasang photo dengan Amora sebagai focus cium dari Dini dan Anto. dan dikamar depan yang biasa Anto gunakan, terpasang photo Anto menjadi sasaran cium Dini dan Amora. Baju Anto juga ga ada yang di bawa pulang. Saat datang Anto membawa baju kantornya yang kotor ke Jogja, sehingga saat berangkat kerja hari Senin dari Jogja Anto menggunakan baju yang sudah dicuci di Jogja. Kamar ini sekarang menjadi semakin hidup. Terdapat juga sepatu dan sandal Anto
“Maz, sibuk kah” tanya Dini sehabis mereka bertukar salam
__ADS_1
“Engga de, baru mau keluar buat sholat lalu makan. Kenapa? Ada yang urgent sampai kamu tumben telpon siang-siang?” tanya Anto. Karena mereka berkomitmen selama jam kerja mereka ga mau saling mengganggu. Mereka memang menjalani LDR, tapi karena merasa bukan anak ABG, maka mereka telpon hanya saat malam sekalian ngobrol dengan Amora
“Mau ngasih tau, bulan ini ade ga bisa ke Jakarta sesuai dengan kesepakatan jadwal kita. Sekolah mau akreditasi, jadi semua Guru akan mempersiapkan materi untuk diperiksa.” jelas Dini
“Masa Sabtu dan Minggu kamu juga sibuk de?” tanya Anto
“Aku ngerjain semua kan sehabis Amora tidur maz, masa aku bawa berkas ke Jakarta?” tanya Dini
“Ya sudah, bulan ini biar maz lagi yang ke Jogja, bahkan tiap minggu pun maz kan mau aja ke Jogja, hanya kamu yang ngelarang” sungut Anto
“Maz aku bisikin ya” kata Dini menggantung perkataannya.
“Kenapa de?” tanya Anto penasaran
“Kamu itu sudah punya anak 1, jadi ga boleh boros beli tiket pesawat pulang pergi tiap minggu cuma buat pacaran” goda Dini ambil tertawa pelan
“Awas kamu ya de, begitu ketemu ga akan maz kasih ampun, ga akan maz mau berhenti sesuai permintaanmu” balas Anto mengancam Dini, karena merasa disindir Dini tentang statusnya yang kini sudah mempunyai anak, dipandangnya photo di meja kerjanya. Dia sangat merindukan keduanya.
***
“Hallo sayangnya papa, balapan yok” goda Steve saat akan memarkir mobilnya.
“Papaaaa..” pekik Amora sambil melambaikan tangannya.
Steve menghampiri Amora dan mengecup kedua pipinya. Sesudah itu dia menghampiri Dini yang duduk di kursi taman “Hallo sayangku”, katanya sambil cipika cipiki pada Dini
“Tumben, dari mana hari gini koq sudah sampai sini?” tanya Dini
“Aku dari jalan Mangkubumi, jadi sekalian aja kesini” kata Steve
__ADS_1
“Mau duduk sini atau kedalam?” tanya Dini
“Sini aja dulu deh, gerah aku” kata Steve sambil menyalakan rokoknya
“Aku ambilkan kamu minum dulu ya sebentar” kata Dini sambil berjalan ke dalam. Lalu dia keluar membawa segelas es lemon tea dan cake. “Minum deh biar ga gerah” kata Dini
Mereka bercerita aneka topik, dan masuk ke rumah saat adzan maghrib berkumandang. “Masuk yok, sambil aku siapin makan malam” ajak Dini
“Ok, aku sekalian mandi deh” kata Steve menuju mobilnya untuk mengambil baju gantinya. Steve kaget ketika memasuki ruang tamu terpampang photo besar penghuni rumah. “Wow wow wow, luaaaaaar biasa ibu kita ini, selalu mengelak, ternyata sudah memproklamirkan diri secara resmi seperti ini” kata Steve kagum akan tindakan Dini..
“Serius I’m proud of you dear, kamu sudah berani menentukan langkah” katanya tulus. Saat Dini sedang menuju ruang sholat, Steve menelpon Anto, dia tau di Jakarta belum masuk waktu maghrib, masih ada jeda untuk menghubunginya.
“Hallo bro, gue hampir pingsan nih” cerocos Steve langsung menggoda Anto
“Kesambet apa lo maghrib-maghrib?” tanya Anto
“Gue di Bumijo nih” tegas Steve
“Apa hubungannya ama lo mau pingsan?” tanya Anto ga ngerti arah pembicaraan Steve
“Gimana gue ga mau pingsan, begitu masuk ruang tamu ada pigura besar menampilkan photo keluarga bahagia” cerita Steve pada Anto
“Serius dia pajang photo di ruang tamu?” tanya Anto ga percaya, dia pikir Dini akan meletakkan photo mereka di kamarnya, paling tidak di ruang keluarga, bukan di ruang tamu seperti sekarang. Kalau di ruang keluarga kan ga semua tamu bisa melihatnya, hanya yang masuk sampai kedalam yang akan tau. Dia sangat bahagia Dini berani memproklamirkan diri seperti itu, karena siapapun yag datang pasti akan langsung melihat photo itu
***
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini
Jangan lupa like dan vote nya ya
__ADS_1
jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya