CINTA KECILNYA MAZ

CINTA KECILNYA MAZ
51 SUAMINYA BELUM PERNAH MENYENTUHNYA, LALU ANAK SIAPA DIRAHIM SHINTA?


__ADS_3

Anto mengangkat wajahnya, menarik nafas panjang. Ditatapnya mertuanya dengan datar. “Kita tunggu Shinta sadar ya, dan aku minta ga ada yang bertanya apapun, apalagi kasih tau kehamilan ini padanya. Tunggu sampai aku selesai bertanya padanya” jawab Anto lirih.


“Diminum bu tehnya, sama ini martabaknya aku taruh sini, ibu sempet-sempetnya lho bawa martabak,” kata Anto.


“Pas kamu telpon, pak Budi sedang antri martabak, jadi ya wis ibu bawa kesini aja sekalian” jawab bu Gita. “Ayo lho nak Rina, dicicipi martabaknya, ini martabak kesukaan Shinta.”


Shinta mendengar suara percakapan di ruang depan, dia berusaha bangit dan berjalan keluar kamarnya.


“Sudah bangun de” sapa mbak Rina yang kebetulan duduknya menghadap pintu kamar, bu Gita menoleh kebelakang, melihat Shinta yang sedikit terhuyung berjalan menuju ketempat mereka duduk, dia bingung mengapa Anto tidak membantu istrinya yang baru sadar dari pingsan?


“Kamu gapapa?” tanya bu Gita lembut sambil mengusap puncak kepala anak semata wayangnya itu.


“Gapapa koq bu” jawab Shita pelan.


“Ini barusan mas Imron sudah periksa kamu, katanya kamu terlalu lelah” kata Anto memulai percakapannya. “Saya jadi ga enak, apa kamu sangat lelah sehingga bisa pingsan? Apa tugas rumah tangga yang saya berikan terlalu berat?” tanya Anto menatap tajam istrinya.


Shinta tak berani mengangkat kepala, dia hanya menggeleng kepalanya lemah. “Kamu ga masak, kamu ga cuci piring, kamu ga cuci baju dan setrika, juga ga ngepel serta bebersih rumah, lalu apa yang membuat kamu lelah?” cecar Anto didepan bu Gita, membuka kedok bu Gita yang selama ini bermain kotor dalam urusan rumah tangganya.


“Kecapean lembur ya Shin” canda mbak Rina yang ingin membuat suasana menjadi hangat karena dia hafal karakter Anto yang kaku, dia tau saat ini Anto sedang sangat marah, terlihat rahangnya mengeras.


“NAH” teriak Anto, “Mumpung ada perwakilan dari keluarga Shinta dan dari keluarga saya, mohon di jawab, apa kamu kecapean karena kita melakukan hubungan suami istri?” lanjut Anto yang malah senang mendapat jalan untuk membuka jebakan yang dia terima.


“De, ga pantes ah tanya gitu” sanggah Rina, “Tadi mbak hanya becanda aja.”


Bu Gita masih diam, dia sudah tau di hal masak dan cuci baju dia salah, karena ide nya lah untuk selalu men suply makanan setiap hari, juga membawa baju kotor ke rumahnya agar dilakukan oleh ART nya di rumahnya.


“Diem mbak, biar Shinta jawab” kata Anto agak keras. Imron memegang telapak tangan istrinya seakan mengatakan jangan melanjutkan debat kali ini, ditatapnya mata istrinya lembut.


“Kenapa ga jawab Shin, kamu kecapean melakukan hubungan dengan saya?” tanya Anto.


“Bu” kata Anto menatap bu Gita, “Coba jelaskan bagaimana Shinta bisa kelelahan berhubungan badan dengan saya, wong sejak menikah saya belum pernah menyentuhnya!” kata Anto dalam sambil tetap menatap mata bu Gita, sementara Rina menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar dia ga berteriak.

__ADS_1


Bu Gita, shock mendengar pertanyaan Anto yang ditujukan pada dirinya. Bagaimana bisa Shinta hamil sedang Anto belum pernah menjamahnya. Lalu anak siapa di rahim Shinta?


“Anak siapa di rahimmu Shin, jawab ibu” kata Gita sambil mengguncang bahu Shinta. Rina mendekap bu Gita, berupaya agar bu Gita tidak menyakiti Shinta lebih jauh.


“Jawab Shin, siapa lelaki itu?” tanya Gita lagi.


“Shinta ga tau bu, Shinta ga tau” jawab Shinta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Bagaimana bisa kamu ga tau, apa kamu di bius atau bagaimana?” cecar bu Gita, sedang Anto hanya duduk bersandar sambil menghisap rokoknya, dia tidak memandang drama didepannya, cukup mendengarkan saja.


“Jawab Shintaaaa!!! desak bu Gita geram.


“Aku ga tau siapa yang jadi ayah bayi ini,” jawab Shinta lirih.


“Apaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa? Artinya ada banyak pria yang tidur denganmu sehingga kamu ga tau siapa yang berhasil menanam benih di rahimmu? Sekotor itu dirimu?” tanya bu Gita tajam.


“Maaf bu, maaf” isak Sinta.


“Ok, selesai” kata Anto. “Shinta saat ini kamu sedang hamil, yang pasti itu bukan benih saya. Namun karena statusnya kamu adalah istri saya maka dengar ketentuan yang saya buat” lanjut Anto.


“1 bayi itu tetap harus dipertahankan, saya ga mau ada pembunuhan, walau kamu sendiri ga tau siapa ayah biologis bayi yang kamu miliki itu.”


“2 kita tetap tinggal disini, satu rumah, tapi karena kamu hamil maka boleh ada 1 ART yang akan membantu kamu.”


“3 di akte kelahiran nanti, saya ga keberatan ditulis nama saya sebagai ayah bayi tersebut.”


“4 sebulan setelah bayi lahir maka saya akan menggugat cerai.”


“Saya harap ibu dan mbak Rina menjadi saksi, kalau perceraian yang nanti terjadi bukan kemauan saya, melainkan karena saya dijebak menikahi wanita hamil” jelas Anto.


“Apa ga sebaiknya mulai malam ini Shinta ibu bawa pulang saja?” tanya bu Gita, dia sangat malu akan kelakuan anaknya.

__ADS_1


“Secara hukum saya masih sah sebagai suaminya. Jadi keputusan saya mutlak harus dituruti oleh istri saya.” tegas Anto.


“Kalau gitu ibu pulang dulu, besok ibu akan kesini lagi untuk membawa 1 ART untuk membantu Shinta disini” pamit Gita pada Anto, dia masih kecewa, sehingga tidak pamit kepada anaknya.


Anto dan Rina mengantarkan bu Gita kemobilnya, pak Budi sopir bu Gita sudah tertidur didalam mobil. Setelah bu Gita berlalu, Rina bertanya pada Anto, mengapa Anto ga kaget kalau Shinta hamil.


Flash back on


Anto sudah bersiap untuk duduk di meja akad nikah, namun dia permisi ingin ke toilet, dia takut saat sedang tegang mengucap ijab kabul dia ga konsen karena ingin buang air kecil. Dia menuju toilet belakang yang kebetulan melewati ruang rias Shinta. Anto bergegas ke toilet membuang hajatnya.


Sesudah dari toilet kembali dia melewati ruang rias, saat itu MUA baru saja keluar, dan pintu tidak tertutup rapat. Lamat-lamat dia mendengar suara Shinta dan Lia sahabat akrabnya. “Gile ya lo, akhirnya bisa juga lu dapetin cowoq idaman lo dari SMA” kata Lia. Anto sangat bangga calon istrinya ternyata memujanya sejak lama. “Shinta getuloooh” jawab Shinta bangga.


“Lo kasih dia berapa ronde sampe dia nurut mau cepet nikahin lo” tanya Lia lagi. Deg, jantung Anto serasa berhenti berdetak mendengar kata-kata sahabat calon istrinya itu.


“Ga lah, nyipok gue aja belom, gue sering cium pipi dia, tapi dia ga mau nyosor gue” balas Shinta.


“Ya elaaaah, ama Ronald, Franky, Luhut, Garo, Jhony, Bambang dan terakhir Teguh lo baru kenal bisa langsung tancap gas ber kali-kali, masa ama calon laki lo, lo belom test drive?” cecar Lia ga percaya.


“Ama mereka gue cari kepuasan, kemaren pagi aja gue masih maen ama Tulus, kalau Anto gue ga tau dia bisa muasin gue ga, yang penting gue punya status jadi bininya. Itu aja sih target gue, kalau buat kepuasan gue bisa dapet dari mana aja” jawab Shinta santai.


Mereka ga tau, calon pengantin pria mendengar semua percakapan rahasia mereka.


Flash back off


Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini,


Biar ga penasaran ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa


Jangan lupa like dan vote serta komennya


Inget pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul  KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  ya

__ADS_1


__ADS_2