
Hai hai para kesayangan yanktie, sehat semua kan? Bagaimana puasa kalian sampai hari ini?
Terima kasih sudah selalu setia mengikuti cerita sederhana ini. Kenapa yanktie selalu menyampaikan terima kasih untuk yang selalu setia membaca dan memberi like saat kalian selesai membaca bab cerita ini? Karena ada notif siapa aja yang kasih like.
Kemarin ada yang nanya kenapa koq updatenya pendek bangeeeeet, serasa belum puas udah habis ceritanya. Kemarin-kemarin yanktie agak kurang fit, jadi memang hanya menulis 500-600 kata saja untuk update tiap bab. Tapi sekarang sudah bisa kembali 1000 kata per bab koq. Semoga tidak bosan menunggu cerita selanjutnya ya. Sekarang kita ikutin terus keseruan bab ini. Selamat membaca!
Yanktie mohon sehabis baca bab langsung tinggalin jejak like dan hadiah ya….
Maturnuwun.
--------
“Daddy …,” Moya yang bangun tidur langsung duduk di pangkuan Daddy nya dan memeluk tubuh heronya lalu kembali memejamkan matanya. Anto mengusap lembut punggung Amora agar kembali bisa lelap. Kadang memang begini kelakuan Amora, berjalan untuk pindah tidur.
***
“Maaf Nto ganggu tengah malam,” suara serak Leo menyapa Anto. Saat ini masih pukul 00.37. Masih dini hari, yang berbunyi sebenarnya ponsel Dini, namun yang punya tidak dengar. Mungkin karena terlalu lelah berperang dengan Anto.
“Kenapa Yo, Dini nya enggak dengar,” balas Anto. Dia yakin Leo menghubungi Dini tengah malam karena ada berita penting.
“Mama baru aja meninggal!,” dengan lirih dan sedikit terisak Leo menyampaikan berita duka.
“Ibadah tutup peti jam berapa? Pemakaman di mana dan jam berapa? Bisa tunggu Moya?
__ADS_1
“Tutup peti jam 12, jam 1 kita meluncur ke pemakaman,” balas Leo. “Iya, kami akan tunggu Moya,” balas Leo. Saat ini cucu kandung bu Sandra memang baru Amora, anak Harry dengan Dini.
Anto membangunkan Dini dengan pelan, dia mengabarkan berita duka itu dan mereka sepakat berangkat bertiga dengan Moya, sedang Arya dan Abbhie akan ditinggal dengan Mama dan Sari yang baru saja punya bayi usia sebulan. Ternyata Steve juga mau ikut. Sehingga mereka akan berangkat berempat. Pukul 02.02 Anto dan keluarga berangkat ke rumah Sari, bersama 2 asisten rumah tangga. Tak mungkin menitipkan dua anak balita tanpa membawa pengasuh. Kebetulan Steve bilang dia akan ikut, karena Harry adalah sahabatnya sejak mereka SMP.
Dari rumah Dini sebenarnya lebih dekat ke bandara Adi Sucipto, namun tak mungkin Sari yang pindah tidur ke Bumijo. Itu sebabnya Arya dan Abbhie yang diungsikan ke Jakal.
Pukul 06.05 mereka sampai di bandara Halim, Leo yang tinggal di Kramat Batu di rumah Risye sejak dua hari lalu sudah menginap di rumah papanya. Sesungguhnya Leo dan Risye sedang bersiap pindah ke Jogja, barang-barang mereka sudah dikirim ke alamat show room Steve lebih dulu. Tapi seminggu lalu mama sakit sehingga Leo menunda keberangkatannya ke Jogja.
Dari bandara, rombongan Anto langsung menuju rumah mami di Rawasari Selatan I, mereka akan mandi serta sarapan di sana. Tas dan koper juga akan mereka tinggal di Rawasari saja. “Maz, tolong isikan 1 stel pakaian Maz dan Moya juga bajuku di tas ini ya,” pinta Dini. Sengaja dia minta 1 stel baju untuk prepare bila diperlukan ganti baju. Dia menyiapkan kopi untuk Steve dan Anto serta sarapan untuk Amora.
“Mami dan Papi mau ngantor dulu ya de’ nanti kami ke sana pas jam istirahat aja,” Papie memberitahu Dini.
“Iya Pi, ga-papa. Aku ‘kan harus pagi, karena cucu mama ‘kan baru Moya, belum ada yang lain. Enggak enak lah aku datang siang seperti tamu,” balas Dini sambil menyendok sarapan untuknya.
“Steve, makan nasi atau roti?” tanya Dini.
Mereka sarapan dalam diam, kalau ngikutin emosi, tentu Dini tak akan sudi datang. Tapi untungnya Dini tak pernah diajarkan memupuk dendam oleh mami dan papinya. Walau mama mertuanya adalah penyulut perceraiannya dengan Harry, namun Dini menerima dengan lapang dada. Dini bahagia dengan jalan hidupnya. Dia bahagia memiliki Anto, Moya, Arya dan Abbhie sebagai pelengkap hidupnya. Sebagai pemberi warna dan lingkaran nuansa rumah tangganya.
Pukul 09.11 Anto menjalankan mobil mertuanya menuju rumah duka di Kramat V. Dini dan Moya duduk di belakang, karena di depan ada Steve menemani Anto. Harry dan Leo menyambut para tamu yang menyampaikan bela sungkawa. Sementara Risye menemani Vionne di dalam. Papa duduk diam disebelah peti, mengamati wajah almarhum istrinya yang sudah di rias cantik. Dini dan Moya masuk lebih dulu dari Anto dan Steve. Dini memeluk erat Leo, lalu beralih ke memeluk Harry. “Maafin mama ya,” bisik Harry saat mantan istrinya memeluk menyampaikan bela sungkawa. Lalu Harry menggendong Moya untuk didekatkan ke oma nya. Di dinding rumah itu masih ada foto Moya ketika bayi dengan Oma dan opa nya. Juga ada foto Harry dan Moya di setiap ulang tahun Moya yang Harry bisa datangi. Ada foto Moya sendiri saat menggunakan toga TK, ada foto Moya ketika menjuarai lomba menggambar di TK. Buat opa dan oma, memang baru Moya lah yang bisa membuat rumah tangga mereka kembali berwarna, setelah anak-anak beranjak dewasa.
Anto dan Steve duduk bertiga di teras rumah, sementara Amora masih dalam pangkuan Harry yang duduk di kursi sebelah papa. Jarang papa berpaling dari wajah istrinya. Perempuan keras kepala dan egois yang telah mendampingi hidupnya selama 45 tahun. Papa dan mama sangat bertolak belakang. Papa yang lembut dan sabar, bertemu si keras kepala, yang egois dan meledak-ledak. Tapi itulah jodoh, mereka saling melengkapi. Naik turun badai rumah tangga bisa mereka lewati dengan mulus, hingga titik terakhir saat mama mulai anfal karena menyesal telah membuat Harry terpuruk akibat perlakuannya. Sesudah itu mama menjadi sosok yang tak mengerti apa pun, dia hanya hidup badannya saja, namun jiwanya sudah pergi sejak 7 tahun lalu.
Isak tangis terdengar saat ibadah tutup peti. “Moya, ini terakhir kita bisa lihat Oma, selamat jalan Oma,” bisik Harry pelan saat peti akan di tutup.
__ADS_1
***
“Maz! Moya bobo, gimana ini?” tanya Dini saat mereka baru saja tiba di pemakaman. Dia kasihan bila harus membangunkan Moya yang lelah karena terpaksa bangun sejak tengah malam tadi.
“Biar Maz gendong, nanti dibangunkan saat peti akan di turunkan saja,” jawab Anto.
Steve mencarikan kursi untuk Anto duduk di tempat teduh, sebentar lagi akan ada kebaktian pemakaman sebelum peti di turunkan. Jadi Amora masih sempat tidur walau sekejap. Toch mereka tidak ikut kebaktian. Harry walau tak ikut kebaktian, sebagai anak tentu dia tak mungkin menjauh. Lagi pula tugasnya mendampingi Papa yang sangat terpukul akan kepergian istrinya. Walau 7 tahun merawat tanpa interaksi dari sang istri. Namun tetap saja, kepergian istrinya merupakan pukulan tersendiri bagi papa.
***
Sudah sejak semalam Dini tiba kembali di Jogja, mereka langsung menjemput Arya dan Abbhie di rumah Steve. Hari ini Dini ingin di rumah saja, kebetulan hari ini hari Jumat, tanggung dia masuk ke kampus karena besok libur. Demikian pun Amora, Dini masih membiarkan putrinya izin agar tidak terlalu lelah. Sebaliknya Anto harus masuk, karena sehabis salat Jumat ada janji dengan kliennya.
Sehabis melemaskan ototnya, menjelang siang Dini mulai melihat isi kulkas juga stock bahan baku di dapur. “Mbak, Mommy mau ke supermarket, Mbak mau ikut atau mau titip apa?” tanya Dini pada Amora yang juga masih malas bangkit. Putrinya membaca komik donal bebek di karpet depan televisi.
“Malas Mom, titip apa juga bingung, lagi enggak ada yang dikepengenin,” balas Amora.
“Ya sudah, Mommy pergi dulu ya, Mas Arya ikut Mommy,” Dini pun bergegas ke mobilnya karena Arya sudah tak sabar menunggu di dekat pintu mobil.
“Janji enggak rewel ya Mas, enggak minta mainan,” Dini mewanti-wanti jagoannya sebelum mereka berangkat.
“Keep my promise Mom,” balas Arya tenang.
--------------------------
__ADS_1
Terima kasih sudah selesai membaca bab ini, semoga tidak mengecewakan. Nantikan cerita selanjutnya besok ya. Jangan lupa kasih like sebelum menutup cerita ini.
Salam manis dari Jogja