
Yanktie sampaikan SELAMAT MEMBACA
‘Hari Jum’at besok? Enggak kasih tau bapak? Lalu orang tua Harry? Lalu agama dia? Lalu … lalu … lalu ….’ Tuing-tuing-tuing, banyak pertanyaan tersangkut di otak Dini yang tiba-tiba buntu.
“Ade boleh ngomong?” tanya Dini ragu.
“Kenapa?” kata mami Dini yang bernama Dyah berbarengan dengan papi yang menjawab, “Boleh”
Dini memandang Harry yang menatapnya lembut, hari ini dia lihat laki-laki itu cukup rapi dengan kemeja tangan panjang kotak-kotak berwarna dasar biru dongker. Seperti biasa dia gulung lengan bajunya ¼, kancing kemejanya terbuka sebagian dan t shirt putih di dalam kemejanya berpadu dengan blue jeans belelnya.
‘Lumayan manis,’ pikir Dini, ‘Tapi tetap bikin bete dan tetap aja enggak bikin aku ingin jadi istrinya.’
“Yang jadi peran utama Ade kan? Kenapa Ade rasa Ade cuma figuran? Ade cuma harus ngejalanin semua tanpa diminta pendapat Ade? Ade enggak dianggep!” keluh Dini.
“Kenapa kita enggak kasih tau bapak? Lalu walinya Ade? Lagi pula siapa yang mau nikah? Bukannya Ade pernah bilang enggak butuh suami buat ngebesarin anak Ade?” lanjut Dini kesal.
“Kita sudah bahas hal ini kemaren malam De’,” sanggah mami.
“Di kondisi seperti sekarang Ade tolong jangan ngeyel, Ade harus mikir panjang, sebentar lagi Ade jadi ibu lho, jangan hanya memikirkan diri ade sendiri ya? Pikir juga anak Ade, Ade sayang dia kan?” bujuk mami.
“Ade jangan mikir mami dan papi malu kalau Ade ngelahirin tanpa suami, buat mami itu enggak masalah kalau emang anak yang Ade kandung enggak ketahuan siapa ayahnya, tapi sekarang kan sudah jelas siapa ayahnya dan dia juga mau bertanggung jawab De. Please Ade cooling down, Ade pikir panjang. Dan mami minta sekali ini Ade nurut tanpa ngebantah seperti biasanya ya, sekali iniiiiiiiiii aja!” tegas mami.
Dini diam, permintaan maminya untuk tidak ngebantahnya sekali ini aja membuatnya mati kutu. Karena biasanya semua langkah yang mereka ambil selalu mereka diskusikan dengan semua bantahan dan argumennya, membuat semua adu argumen dulu sebelum mendapat kata sepakat.
Sekarang dia harus diam menjadi boneka mereka. Semua gara-gara kelakuan mahluk alien di depannya ini yang sejak dia datang belum terdengar suaranya.
HUH … dengusnya kesal, di tatap mata laki-laki disebrangnya dengan geram, laki-laki yang enam hari lagi akan menjadi suaminya.
WHAT????
Suami?
__ADS_1
Oh my God tidak pernah dia pikir ini akan terjadi padanya, menikah dengan orang yang bukan typenya dan tak dicintainya pula. Dia ingin hari segera pagi dan berlari ke rumah maz Anto untuk mengeluh padanya.
“Kali ini, satu kali ini aja Ade nurut tanpa ngebantah, Ade akan turutin semua yang Mami dan Papi atur. Tapi beneran sekali ini aja Mi. Satu kali ini aja Ade enggak akan ngebantah. Harap Papi dan Mami catat ini. SATU KALI INI AJA.” jawab Dini kesal dan pasrah.
“Ade boleh bicara ama dia sebentar enggak Pi. Banyak yang Ade mau tanya ama dia” tanyaku ke papi.
“Ok, Papi kekamar ya. Kalian lanjutlah diskusinya. Dan Harry besok kita bahas semua tentang akad dan jangan lupa besok bawa kelengkapan data yang buat akad termasuk pas photo terbaru kamu,” jawab papi sambil berdiri dan mengajak mami ke dalam.
“Puas lo?” tanya Dini pada calon suaminya itu. Ha ha ha ha bagaimana dia bisa menyebut mahluk alien didepannya ini sebagai calon suami? Tapi emang itu kan kenyataannya saat ini? Tawa getir terhadap pikirannya sendiri.
Laki-laki itu diam, menarik napas panjang lalu berucap lirih, ”Boleh ngerokok enggak?”
“Boleh,” jawab Dini cepat.
“Tapi jangan di depan gue, gue enggak mau bayi gue ini menghirup racun sejak dalam kandungan!” lanjut Dini.
“Bayi kita De” jawab alien itu.
“Kalau lo ngerasa ada andil lo, kenapa lo mau ngeracunin dia pakai asep rokok?” tukas Dini marah. Lelaki ini memang mahluk alien tak punya otak. Makin menyebalkan saja.
“Maaf,” jawab Harry lirih.
“Enggak akan gue lakuin lagi,” lanjutnya.
Akhirnya Dini menanyakan mengapa lelaki itu datang sendiri, lalu bagaimana nanti mereka hidup setelah menikah dan dari mana nafkah hidup mereka, karena sejak menikah nanti Dini tidak mau bergantung pada papi atau bapak.
Sengaja diperjelas semua sebelum mereka akan melangkah. Dini tak mau lebih banyak konflik yang akan timbul dalam ‘rumah tangga tanpa niat’ yang akan mereka bangun nanti.
Yups -rumah tangga tanpa niat-. Karena rumah tangga yang nanti akan mereka buat bukan berdasarkan rencana yang matang, tapi berdasarkan kejadian tanpa planning.
***
__ADS_1
“Sah!” jawab beberapa orang yang ada di ruang tamu rumah penghulu ini.
Dini menjerit dalam hatinya. Dia sadar statusnya saat ini sudah menjadi istri seorang laki-laki mualaf yang berada di sisi kanannya. Tak pernah dia bayangkan begini jalan hidupnya. Menikah tanpa kehadiran ayahnya, tanpa pesta sama sekali, walau pesta kecil sekali pun, tanpa ucapan gembira kerabat dan sahabat apalagi teman-teman.
Hanya ada mami, papi, dua kakaknya berikut suami mereka dan Leo adiknya Harry. Tak ada maz Anto atau Yuli apalagi yang hanya sekedar teman biasa.
“Jaga kandunganmu ya De, Mbak malah belum dikasih rizky untuk dapat momongan, kamu duluan,” mbak Sashi kakak tertuanya memberi selamat pada Dini sambil memeluknya dan mengusap lembut perut Dini yang masih rata. Sudah tiga tahun dia menikah namun belum dapat anugrah.
“Iya Mbak, makasih,” jawab Dini lirih.
“Selamat ya Ade centiiilku, jangan kolokan, bentar lagi jadi ibu, bentar lagi enggak bisa bebas mbaca novel kalau si kecil udah mbrojol,” ucap mbak Kirana atau biasa juga dipanggil mbak Kiran, yang sudah punya 2 balita dan akan mendapat momongan ke 3 sekitar 2 bulan lagi. Kakak kedua Dini memang ngebut, dia bilang mau produksi 4 anak sesudah itu langsung stop untuk focus membesarkan anak-anaknya. Kakaknya ini menikah lebih dulu dari mbak Sashi.
Dini hanya nyengir tanpa membalas ucapannya, dipeluknya mbak Kiran erat tanpa kata-kata.
***
“Makan sedikit ya?” bujuk laki-laki disebelahnya, yang sejak dua jam lalu resmi berstatus suaminya. “Mau pakai lauk apa?” tanyanya lagi.
“Aku enggak mau makan!” jawab Dini pelan tapi tegas. Didepan keluarganya tidak mungkin kan pakai lo-gue, lagian sejak tiga hari yang lalu dia emang sudah merubah kata lo-gue di percakapan mereka.
Harry memanggil Dini De juga sejak minggu lalu, tapi Dini belum punya panggilan apa pun untuknya. Bomat lah, bodo amat. Enggak penting juga kan?
“De makan dong!” perintah bu Dyah yang melihat Dini sejak tadi belum mengambil apa pun yang terhidang di meja. Keluarga Dini memang sengaja mampir ke resto langganan mami bila ke puncak. Semua menu kegemaran keluarga mereka sudah mami pesankan, anggap aja ini pesta pernikahan Dini. Miriskan?
==========================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta