
Pagi-pagi kulihat mama dan mbak Rina sibuk berdandan, sementara kulihat Sari hanya menyisir rambut seadanya tanpa sanggul seperti mama dan mbak Rina. Mereka mengenakan kebaya hijau dengan warna agak berbeda, warna kebaya mama lebih tua daripada warna kebaya mbak Rina dan Sari. Bagiku ketiga wanita ini sangat cantik, terutama mama, ga pernah aku bosan memandang wajah teduhnya. Namun tetap ada satu wajah yang kurindu, wajah kekasih kecilku yang sekarang menghilang di sapu badai.
Saat ini kami siap berangkat. Para pakde dan bude juga sudah siap mendampingi mama dalam acara lamaranku kali ini.
Kami sampai dirumah calon tunanganku tepat waktu yaitu pk 10.45 WIB. Aku sangat kaget saat melihat kondisi rumah Shinta yang sangat diluar perkiraanku.
Aku mengikuti semua prosesi tanpa ada rasa special dalam hatiku, aku malah seakan tak ada disana, aku tak tau rasa apa ini. Aku merasa kosong. Semua kujalani tanpa kuikut sertakan perasaanku disana. Hampa!!
Terlebih sesudah lamaranku diterima dan para pinisepuh membicarakan tentang pernikahan, aku sangat marah ketika keberadaan keluargaku ga dianggap sebelah mata oleh keluarga Shinta. Tak ada satupun keluargaku terlibat dalam kepanitiaan pernikahan, aku harus bertindak, aku ga ingin diinjak-injak oleh keluarga kaya yang senang bersikap sewenang-wenang ini.
Acara lamaran yang dilanjutkan tukar cincin berjalan lancar. Pernikahan Anto dan Shinta direncanakan akan dilangsungkan 2 bulan sejak hari ini. Semua urusan pernikahan baik thema, catering, pemilihan gedung serta WO sudah ditetapkan oleh keluarga Shinta. Keluarga Anto tidak dilibatkan, bahkan dalam panitia pernikahan sekalipun.
Anto mulai merasa, dia akan dikendalikan keluarga Shinta. Dia tidak mau terjerumus semakin dalam. Maka sebelum pulang dia bicara pada Shinta. “Bisa bicara sebentar?”
“Tentu saja honey, masa ga boleh bicara ama tunangan sendiri” jawab Shinta manja. Gadis itu langsung bergayut dilengan Anto. “Misi, kami mojok dulu ya, mau ngobrol sebentar” beritahunya pada beberapa saudaranya yang tadi ada disekitar mereka berdua.
“Calon pengantin sudah ga sabar nih.”
“Awas belum sah, jangan yang hot-hot dulu.”
“Cie-cie.”
__ADS_1
Dan banyak lagi godaan dari yang hadir disitu. Anto hanya meringis saja menanggapi candaan itu, sementara Shinta sangat bahagia.
“Aku mau bilang ke kamu syarat pernikahan kita, sebelum ijab kabul terjadi, aku harus memastikan hal yang akan aku katakan ini kamu setujui. Kalau kamu ga setuju, kita masih punya waktu untuk membatalkan pernikahan kita” cetus Anto serius.
Shinta kaget dengan pernyataan tunangannya itu, dia wajib menyetujuinya, tak akan dia tidak menyetujuinya karena akan mempermalukan keluarga besarnya. “Kamu mau apa mas, kenapa baru sekarang mengatakannya?” tanya Shinta gugup. Dia sangat ketakutan pernikahan impiannya akan gagal.
“Ini aku pikirkan setelah melihat kondisi dilapangan sejak pengaturan pertunangan hingga pengaturan pernikahan kelak. Kalau keluargamu ga bikin suasananya seperti ini, aku ga akan mengajukan syarat. Keluargamu sudah keterlaluan, maka sebelum memulai berumah tangga denganku, kamu harus tau dan setuju syarat menjadi istriku” jelas Anto.
“Katakan apa syaratnya mas” pinta Shinta pelan.
“1 sejak menjadi istriku, yang harus kamu dengar dan kamu patuhi adalah kata-kata aku sebagai suamimu. Bila ini kamu langgar maka aku akan segera memutuskan kamu bukan istriku.”
“2 sejak menjadi istriku, kamu wajib bertindak sebagai istri, kamu harus masak serta melakukan semua urusan rumah tangga sendiri,karena kita masih berdua maka ga perlu ada ART.”
“Ingat, aku ga mau ada intervensi dalam keluarga kita, jadi siapapun tidak boleh mengatur keluarga yang akan kita bentuk nanti. Bisa kamu terima 3 syarat ini?” tanya Anto.
“Kamu ga perlu jawab sekarang, aku kasih waktu 1 minggu untuk memikirkan, kita akan lanjut ke pernikahan atau tidak” kata Anto sambil menyalakan korek untuk membakar rokoknya dan berjalan meninggalkan tunangannya yang terhenyak tidak percaya mendapat ultimatum dihari pertunangan mereka.
***
Sejak hari pertunangan, Shinta mulai galau, 3 syarat yang Anto berikan mungkin bagi sebagian orang adalah hal biasa, namun tidak baginya. Di poin pertama saja Anto sudah menjelaskan Anto ga mau keluarganya nanti mencampuri urusan keluarga baru Anto-Shinta. Jelas ini sangat berat, dia yakin ibu dan ayahnya akan terus mengatur kehidupannya seperti sebelumnya. Bahkan selama ini Sinta tidak pernah memutuskan apapun tanpa keterlibatan ibu dan ayahnya. Tapi bila Shinta ga menyanggupinya, maka pernikahannya akan batal. Dia ga mau gagal menikah, selain dia sangat memuja Anto, dia juga ga ingin ibu dan ayahnya malu.
__ADS_1
Lalu poin ke 2, bagaimana dia akan memasak dan mencuci? Hal sederhana itu tak pernah dilakukannya, dia anak metropolitan, pikirannya simple, ngapain harus sibuk memasak di dapur bila pesan aja lebih mudah dan cepat? Buat apa kotor-kotor didapur? Apalagi mencuci dan mensetrika baju. Tinggal taruh laundry semua beres.
Bagaimana ini? Dia tau calon mertuanya melakukan semua hal sendiri, Rina dan Sari juga biasa melakukan itu, tapi itukan karena keterbatasan ekonomi mereka yang memang ga kaya, walau ga kekurangan. Sedang dia? Rumah besar dengan 4 ART, 2 sopir untuk ayah, ibu dan dirinya rasanya aneh kalau dia harus masak dan mencuci sendiri kan, pikirnya. Dia ga tau ada gadis cantik yang sama kekayaannya, namun sampai makanan untuk bayinya saja lebih memilih memasak sendiri daripada beli bubur bayi instan. Ya dia ga tau Dini pujaan tunangannya selalu bisa melakukan yang dia ga bisa, bahkan sejak SMP!
Dan poin ke 3, benar-benar mengerikan, dia harus tinggal dirumah kontrakan kecil berdua dengan suaminya kelak. Padahal kalau Anto mau, setelah pernikahan, mereka bisa tinggal di rumah ayah Shinta, bahkan bila mamanya Anto dan Sari mau ikut pindah pun rumah ayahnya masih berlebih kamar. Mengapa Anto mengajaknya meninggalkan istana nyamannya?
Galaaaaau ..itu yang Shinta pikirkan, memang jauh banget sama Dini ya, yang malah memutuskan keluar rumah setelah menikah, bahkan bayar sewa bulanan yang penting mandiri. Dini juga melakukan semua pekerjaan ibu dan istri sambil kuliah dan dia mampu, padahal kekayaan Sinta dan Dini setara.
***
Rupanya kegalauan Shinta dilihat Gita ibunya. “Kenapa nduk? Koq ibu lihat sejak bertunangan kamu malah jadi terlihat ga bahagia, beda banget ama sebelum tunangan, kamu terlihat bahagia dan antusias membahas semua persiapan. Sekarang event yang lebih besar, event pernikahan, koq kamunya ogah-ogahan?” tanyanya.
“Mas Anto kasih syarat bila aku masih mau meneruskan pernikahan ini bu” jawabnya. Akhirnya diceritakanlah 3 syarat dari Anto. Jujur Gita kaget mendapat perlawanan tegas dari calon menantunya yang dia kira bisa dengan mudah di arahkan, dia menduga Anto lelaki lemah yang akan tunduk dengan kekayaannya, dia juga akan membuat Anto mejadi pemimpin perusahaannya yang saat ini dipegang suaminya. Hendro, suaminya laki-laki lemah yang bisa tunduk dibawah kendalinya. Ternyata dia keliru, tapi untuk mundur dan membatalkan pernikahan putrinya tentu saja dia malu, lebih-lebih dia tau Shinta sangat mencintai Anto.
“Masih sempat, kita punya waktu 5 minggu efektif sebelum pernikahanmu yang masih 8 minggu lagi. Kamu terima semua syaratnya, dan mulai besok kamu belajar ilmu dasar memasak dan mencuci baju. Nanti sisanya ibu yang atur, Anto ga akan sadar kalau itu adalah rencana ibu, kita akan menggenggam Anto pelan-pelan tanpa dia merasakan sudah terikat olehmu” kata Gita optimis.
Makasih sudah ngikutin cerita ini sampai bab ini, makasih udah ngikutin galaunya Shita akan syarat yang diberikan Anto. kira-kira dia mamppu ga ya menerima syarat itu?
Ikutin ceritanya di bab berikutnya yaa
Jangan lupa like dan vote serta komennya
__ADS_1
Inget pesan yanktie, jangan lupa mulai intip-intip spin cerita ini dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya