
Harus menutup telinga ketika disindir kan banyak kegaduhan di sekitar yang bahkan tanpa harus dia sadari apa yang salah dan apa yang benar.
Sebenarnya semua kejadian diceritakan ketika ada lagi seorang pasien di kamar 13 dan kehidupan dewa kematian yang memacari agennya lalu dewa kematian menggila bisa membunuh banyak roh, cerita berakhir dengan asal-usul Akemi. Hyerin yang sudah berada lagi di ruangan kamar rumah sakit mondar-mandir tidak bisa diam sambil menimbang semua fakta yang sudah disebutkan. Kenyataannya Hyerin memang berasal dari rumah sakit ini, dia pun belum bertemu dengan dewa kematiannya dan entah dalam bentuk seperti apa, hanya saja kisi-kisi dari orang-orang di sekolah menyebutkan jika dewa kematian bisa berwujud dari orang yang paling ditakuti dulu. Otaknya memutar dengan perlahan bagian yang paling ditakuti seumur hidup, bisa ditebak yang paling ditakuti adalah dirinya sendiri, dia benci dengan takdir dan dirinya sendiri. Hyerin hanya mematung memandangi jam dinding yang menunjukkan pukul 08.00. Sudah waktunya pergi ke dunia roh. Ada yang berbeda, Hyerin saat ini tidak bisa tenang dengan rasa takut yang menghantui, sebagai antisipasi dia tidak boleh pergi bebas dan disarankan tidak jauh berada di sekeliling rumah sakit saja.
Otaknya tak berhenti terus memutar perkataan-perkataan yang sama. Semua memang menyindirnya namun dia tidak merasa apalagi memacari dewa kematiannya sendiri, lantas siapa lagi? Pasien di sini hanya dirinya tidak ada yang lain.
Di tengah kegaduhan hati yang tak pernah lepas dai beban pertanyaan, tiba-tiba terdengar lagi suara dari sepatu seseorang yang melambat dan berhenti tepat di depan pintu nya.
Hyerin membulatkan mata dan penasaran dengan sumber suara tersebut yang kini dia rasakan bergidik takut lagi, seluruh tubuh yang melemas, pikirannya melayang hampa, selain cucuran keringat kecil keluar dari celah pori-pori kulitnya. Tubuh Hyerin tidak bergerak sama sekali, masih kaku mematung menunggu orang yang tiba-tiba akan membuka pintu.
Matanya kemudian terbelalak, Hyerin melangkah mundur menjaga jarak dengan orang yang tiba-tiba masuk menerobos pintu. seorang lelaki yang tidak menampakkan wajahnya dengan rambut sepundak dan berpenampilan serba hitam.
Hyerin masih tidak memalingkan mata, dia menjaga jarak dan bersikap hati-hati menghadapi orang misterius yang ada di hadapannya.
Perlahan wajah lelaki yang menunduk itu mulai bergerak dan memasang ekspresi datar sambil langsung menangkap pandangan Hyerin. Hampir saja Hyerin dibuatnya berteriak, dia tidak menyangka lelaki yang sedang di hadapannya adalah lelaki yang pernah dia temui dulu di tempat yang sama.
Ekspresinya yang mengesalkan masih tidak berubah simpul hati Hyerin yang masih mematung menahan tatapan tajam dari orang yang ada di depan matanya.
Melihat dari penampilannya kembali membuat Hyerin tercengang, berpakaian serba hitam persis identik dengan dewa kematian yang sering muncul dalam film-film. Apa mungkin lelaki yang di hadapannya adalah dewa kematiannya juga?
__ADS_1
Rasanya seketika ingin berhenti bernapas saja, Hyerin menutup mulut menahan rasa tidak percayanya. Berhadapan langsung dengan dewa kematian dan apakah ini waktunya?
"Apa yang kau lakukan?" Tanya nya tanpa basa-basi. Masih dengan nada kesal yang diperdengarkan.
"TIDAK." Jawab Hyerin singkat.
Lelaki itu hanya kembali membuang wajah seperti tidak ingin melanjutkan percakapannya dengan Hyerin.
Beberapa saat kembali terdiam. Begitu pun Hyerin yang diam sibuk mencari cara agar bisa melarikan diri dari lelaki di hadapannya. Namun tanpa basa-basi Hyerin mencuri kesempatan dan melangkah mundur mengendap meninggalkan lelaki yang tak mengacuhkannya.
"Kau sudah bertemu Akemi?"
Hyerin membalikan tubuhnya dan tidak bereaksi, dia hanya menahan gugup dan memalingkan wajah.
"Sebaiknya jauhi anak itu." Tegasnya.
Hyerin tak menyangka kali ini ada orang lain lagi yang mengingatkan itu.
Sebelum Hyerin ingin melanjutkan obrolan, lelaki yang bersamanya memilih bersikap tak acuh lagi. Membuat Hyerin bingung, padahal ada kesempatan untuk bertanya tapi seperti yang terlihat lelaki itu tidak bersahabat untuk diajak bicara.
__ADS_1
Hyerin mengendap berjalan ke arah pintu kaca. Dia melihat ke arah luar yang ternyata sudah banyak orang-orang. Dia tercengang kaget dan membalikan tubuhnya. Ke dua kalinya dia kembali memastikan melihat ke arah pintu lagi, matanya menangkap sosok lelaki yang tidak asing tersenyum. Akemi, baca hatinya dan membuat keadaan semakin tidak terkendali. Hyerin bersiap untuk berlari menghindari Akemi yang akan menemuinya. Dia berlari ke arah pintu terbuka, Hyerin menebak itu adalah pintu ruangannya. Tanpa berpikir lagi dia segera berlari ke dalam ruangan dan menutup pintu, menahan pintu dengan tubuhnya.
Napasnya masih tak beraturan bercampur dengan perasaan khawatir. Hyerin tidak bisa membenarkan mana yang salah dan mana yang benar dalam kenyataannya. Kali ini yang terngiang hanya kata-kata semua orang yang menyarankan Hyerin untuk menjauhi Akemi. Lelaki yang sudah menceritakan banyak hal termasuk menceritakan dirinya sendiri yang menyatakan ketidak tahuannya mengenai semua yang ada pada dirinya, dia tidak memiliki tanda sebagai roh, tidak mempunyai kemampuan sebagai roh, dan orang mengatakan Akemi tidak diketahui sudah berapa lama umurnya karena dia sudah ada sangat jauh sebelum Hyerin dan jauh sebelum orang-orang.
Perdebatan hatinya yang masih bingung menimbang semua kenyataan yang sangat kontras dan bertolak belakang. Matanya menangkap sebuah lemari kecil yang menurutnya akan menahan pintu agar Akemi tidak berhasil menemuinya. Dia berlari dan bersiap mendorong lemari, tapi suara pintu berderit yang terbuka menghentikan tindakannya. Matanya menangkap Akemi yang sudah ada di ambang pintu.
Hyerin malah histeris berteriak asal pada Akemi. Sebaliknya Akemi bingung dengan sikap Hyerin, dia dengan polosnya memegang lengan Hyerin dan mengguncangkan nya. Beberapa saat Hyerin sedikit tenang, ke dua matanya melihat ke arah lengan tangan yang dipegang Akemi dengan erat. Mendapatkan tatapan Hyerin yang melihat tangannya Akemi segera melepaskan tangan dan memulai pembicaraan.
"Kenapa seperti melihat hantu?" Pertanyaan cetus dari Akemi yang sedang memperbaiki cara duduknya. Hyerin tidak menanggapi dan masih mematung ketakutan.
Akemi bisa melihat dengan jelas bagaimana Hyerin di hadapannya sangat ketakutan, dia pun bingung kenapa Hyerin sangat ingin menghindarinya.
Kemudian Akemi bangkit berdiri dan tidak lagi memandangi Hyerin, dia membalikan tubuhnya membelakangi Hyerin.
"Aku kemari karena melihat orang-orang berkerumun di luar, dan kau malah berlari ketika aku menemukanmu." Jelas Akemi dan membalikan tubuhnya, mendapati Hyerin yang masih tidak bereaksi membuat dia semakin bingung dan tidak bisa menebaknya.
Di sisi lain Hyerin masih mempertahankan posisi duduknya, dia tidak bisa menampik perasaan takutnya ketika melihat Akemi, perasaannya tidak bisa terlepas dari perkataan orang-orang terhadapnya.
Tapi ketika melihat Akemi yang polos menghadapi dirinya membuat Hyerin bingung. Matanya semakin tidak bisa membedakan kenyataan yang ada, antara yang benar dan salah?
__ADS_1