
Hyerin dengan santai dan tidak lagi menghiraukan kehadiran Rai yang masih mengikutinya. Dia memasuki ruangan bersama seorang wanita yang memandu nya.
Hyerin disambut oleh beberapa orang namun tidak ada diantara mereka menemukan sosok yang sama, lelaki yang selalu menjadi pembicara diantara semua orang. Alih-alih merasa senang Hyerin malah merasakan keadaan yang sedikit tegang bercampur dengan canggung. Pertama melihat dia mendapati rona wajah semua orang yang sedih dan kesal.
Semua yang terdiam membuat Hyerin salah tingkah.
"Langsung saja pada intinya, sekarang di hadapan semua akan ku umumkan bahwa lelaki yang biasa memimpin pembicaraan sudah dikabarkan hilang. Dari tim pencari tidak menemukan jejak dan sudah memastikan bahwa Key hilang." Jelasnya dengan wajah yang dingin.
Hyerin yang mendengarkan seolah tersindir dan dia sudah mengira akan kemana arah pembicaraan ini.
"Sebenarnya kita semua sudah tidak setuju dengan tindakan dan rencana sekolah... Harus menerima dia dan menjamin keamanannya." Jelasnya sambil berdiri. Hingga karena kesal dia tidak bisa menahan emosi lagi sampai sebuah kursi di hadapannya di tendang hingga mengapung beberapa jarak. Semua terkejut apalagi Hyerin yang harus menghadapi keadaan yang membuatnya sangat tersudut. Hyerin tidak menyangka jika ternyata semua orang sebenarnya tidak pernah bisa menerima dia terkecuali lelaki itu dan niat dari guru di sekolah. Kali ini dia sangat takut tidak bisa memikirkan cara untuk segera pergi dari tempat, batinnya tidak kuasa menghadapi semua orang yang memiliki pemikiran sama bahwa segala petaka yang terjadi adalah karena sebab nya.
Satu persatu orang hanya memasang wajah kesal, seolah tidak akan pernah memberikan ampun sedikitpun pada Hyerin, membayangkan apa yang akan terjadi membuat Hyerin bisa langsung putus asa.
"Dan... Kenapa kamu sampai menyembunyikan sebuah insiden yang sangat besar terjadi di sekolah?" Tanya nya yang serius pada Hyerin.
Hyerin hanya bisa menatap ke sembarang arah, bukan lagi karena gugup, bahkan dia seperti tidak memiliki kekuatan lagi untuk menjelaskan.
"Kamu tahu? Lelaki itu sudah dikabarkan hilang juga, dan bisa dikatakan semua orang yang berada di luar gerbang sekolah pun hilang." Tegasnya yang langsung membuat Hyerin terkejut. Dia sangat ingat bagaimana kejadian yang menimpa dirinya pada waktu itu. Namun saat mendengar petaka terjadi lagi membuat Hyerin tidak bisa memikirkan apapun.
__ADS_1
"JAWAB!!!" Teriak nya yang berhasil membuat suasana semakin tegang.
"Ini semua salahku. Maafkan aku... Tapi aku benar-benar tidak tahu apapun." Pinta Hyerin dengan nada memohon. Tangannya gemetar karena seseorang dengan sengaja menahan lengan tangannya membuat Hyerin tidak bisa kemana-mana lagi.
"Seseorang hanya terus mengikuti ku, aku tidak tahu jika kejadian insiden seperti ini bisa terjadi." Terang Hyerin yang berusaha membela.
"Seseorang? Siapa? Akemi?"
Hyerin hanya menggelengkan kepala.
"Rai... Dia selalu mengikuti ku kemanapun, bahkan tadi dia juga mengikuti sampai ke tempat ini."
Orang-orang spontan membulatkan matanya, menutup mulut dengan tangan karena kagetnya dan tidak menyangka dengan penuturan Hyerin.
"Rai dewa kematian mu?" Tanya seseorang yang menyelidik.
"Bukan. Rai bukan dewa kematian, dia bisa dilihat oleh anak kecil dan aku sudah memastikannya dengan benar." Terang Hyerin berusaha meyakinkan.
"Dari mana kamu tahu jika dia bukan dewa kematian mu? Jelas-jelas dia yang selalu mengikuti mh kemana pun bukan?" Cela seseorang.
__ADS_1
"Celaka... Sekarang kita semua sudah terancam bahkan dirinya pun tidak aman lagi." Cetus seseorang yang memecah suasana.
"Apa yang kau maksudkan?" Timpal Hyerin penasaran.
"Kamu tidak sadar bahwa dia adalah dewa kematian mu sendiri? Tidak mungkin dengan Akemi, Akemi adalah roh sama seperti kita semua namun keberadaannya tidak pernah terlihat terkecuali oleh pasien no 13."
Mendengar sebuah pernyataan yang bagaikan Sambaran petir di siang hari membuat waktu seperti berhenti seketika, pikirannya berhenti mencerna setiap kata-kata yang tidak terdengar lagi masuk ke dalam telinganya. Seketika Hyerin merasakan sebenarnya bahaya yang selalu mengintai dan bahaya bagi semua orang di ruangan ini.
Kegaduhan pun tidak bisa terhindarkan, semua orang saling menyalahkan satu sama lain sedangkan Hyerin hanya terdiam dengan pikirannya. Suasana yang tidak terkendali di dalam ruangan membuat seseorang dengan lantang meneriaki orang-orang.
"Semua sudah tahu resikonya, semua sudah tahu bagaimana bahayanya, dan semua tahu sekarang atau nanti sudah tidak ada lagi waktu untuk kita. Lantas akan kita sia-siakan dengan berdebat dan tidak akan pernah menemukan solusinya. Coba pikirkan orang-orang yang bersusah payah membangun perjanjian dan membangun sekolah sebagai tempat yang aman, mereka pun hilang tanpa solusi. Sekarang yang kita perlukan adalah mendiskusikannya bukan menciptakan keributan dan memperlihatkan ketakutan kita." Terang seseorang panjang lebar tanpa jeda, dia berusaha keras mendiamkan keadaan dan melerai orang-orang. Usahanya berhasil namun tidak berjalan mulus, karena untuk menerima kata sepakat tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan.
Akhirnya semua orang sudah tenang, termasuk lelaki yang sangat kesal dan menjengkelkan tadi. Namun sebagai tekad terakhir yang harus dilakukan Hyerin untuk tidak lagi ke sekolah termasuk dengan semua orang tidak boleh kembali ke sekolah, menjaga satu sama lain, dan Hyerin harus selalu bersama mereka.
Tanpa sadar ada satu yang terlewatkan juga. Sebuah pertanyaan yang ingin disampaikan Hyerin kepada orang-orang. Bagaimana dengan dirinya jika dalam satu waktu dia kembali ke tempat itu, dia perlu membutuhkan waktu karena Hyerin tidak memiliki kekuatan yang sama seperti yang lainnya.
Dengan ragu, Hyerin hanya bisa menatapi satu persatu orang yang ada bersamanya. Dia tidak tahu harus mengawali pembicaraan dari mana, terlebih Hyerin takut jika dengan pembicaraan yabg akan disampaikan malah merusak lagi keadaan.
Benar-benar bingung. Apakah memang sesuatu yang fatal jika roh sepertinya tidak memiliki kemampuan seperti orang lain?
__ADS_1
Sebagai kesepakatan Hyerin hanya perlu lebih dekat dengan Rai, mengalihkan waktu Rai, dan mengendalikan Rai. Dia sangat perlu karena keselamatan semua orang tergantung pada tindakannya itu. Jika Rai sedikit saja memiliki kesempatan untuk membunuh satu persatu orang, maka rencana yang akan dijalankan juga bisa berakhir tanpa membuahkan hasil. Sebenarnya Hyerin sangat takut dan ragu, tapi dia sangat sadar jika tidak ada pilihan lain lagi. Dia hanya perlu sedikit dekat saja, karena yang lain mengatakan jika Rai tidak akan pernah bisa membunuhnya karena dia adalah dewa kematian Hyerin. Itu artinya Hyerin aman selama bisa menjalankan rencana utama.
Untuk rencana ke dua akan dijelaskan kembali dalam pertemuan di tempat yang berbeda.