
"Apa yang terasa? Apa sakit? Apa kamu ingat siapa namamu?" Dokter terus menanyai Hyerin tanpa henti. Karena koma panjang membuat semua orang terkejut jika Hyerin tiba-tiba saja sudah sadar kembali.
Beberapa orang perawat berlarian bersama dengan seorang perempuan yang tidak terlalu tua dari arah pintu.
"Yerin anakku. Anakku!" Seru perempuan itu dari kejauhan. Matanya berlinang penuh air mata, rasa sedih yang terlihat dari ekspresi wanita itu langsung pecah saat melihat tubuh Hyerin yang sedang duduk terdiam di atas kasur. Dipeluk Hyerin dengan erat, namun perawat segera mengingatkan agar tidak berlebihan khawatir jika ada bagian tubuh Hyerin yang belum stabil dan menimbulkan nyeri.
Pandangan dokter terus saja fokus ke arah Hyerin yang memperlihatkan sedikit keanehan. Hyerin masih terdiam dan terus terdiam dari pertama dia sadar hingga ketika ibunya menghampiri pun Hyerin masih terdiam dengan tatapan kosong.
"Tolong berhenti, ada sesuatu yang salah!" Ucap dokter penuh khawatir.
"Apa kau bisa mendengar ku? Apa kau bisa melihat ku?" Tanya dokter berulangkali. Mata Hyerin tidak bereaksi dan tubuhnya tidak merespon apapun.
Ibunya yang saat itu langsung melihat dokter memastikan Hyerin sesuatu hanya terdiam tidak percaya, namun jauh dalam hatinya tersimpan rasa khawatir yang tidak ada siapapun bisa merasakannya.
Hyerin yang tidak merespon lebih terlihat seperti patung atau boneka hidup saja.
"Yerin!" Ucap ibunya lirih. Tubuhnya seketika ambruk di hadapan Hyerin yang tidak sedikitpun melihat ke arahnya. Tanpa daya, mungkin air matanya sudah terkuras habis selama setahun ketika Hyerin belum sadarkan diri juga. Kini ibunya hanya bisa menangis tanpa bersuara.
Seorang perawat berusaha menenangkan dengan meraih tubuh Ibu Hyerin yang duduk lemas di atas lantai dan juga memapahnya ke arah kursi tunggu di dekat pintu.
"Ini bisa saja terjadi. Mungkin karena pasien terlalu lama koma dan semua sistem tubuhnya belum sempurna kembali." Ucap dokter yang didengar jelas oleh Ibunya.
__ADS_1
Bagaikan disambar petir di tengah hari. Satu-satunya anak perempuan yang dimiliki selama setahun berjuang melawan maut, dan sekarang dia harus menerima jika anaknya itu seperti orang lumpuh yang terlihat menyedihkan.
Tidak seperti orang lain, jika seorang keluarga sakit maka akan ada keluarga lain menjenguk. Hyerin tidak memiliki keluarga seperti itu, bahkan seorang ayah pun tidak ada.
Apa yang bisa dilakukan? Bagi seorang ibu tunggal dan melihat kondisi anaknya yang tidak seperti harapan, semuanya seperti sudah berakhir. Untuk bersedih pun rasanya sudah tidak bisa. Hatinya sangat sakit, sesak, dan hidup pun seperti tidak memiliki lagi energi. Karena kekuatan sebenarnya seorang ibu sedang dipertaruhkan di depan matanya secara langsung.
Tanpa mengatakan apapun, Ibu Hyerin pergi meninggalkan ruangan. Cara berjalannya yang lunglai lemas, matanya yang tertekan, dan ketika dokter memanggil dia hanya terus berjalan seperti orang yang sudah kehilangan harapan.
Dari arah berlawanan ke dua orang yang memakai seragam berlari dengan sangat cepat tanpa memperhatikan Ibu Hyerin. Ke duanya adalah perempuan dan laki-laki. Pergi menuju ruangan pasien yang ternyata malah terhenti di ruangan Hyerin.
"Yerin!!" Teriak seorang wanita yang langsung dari ambang pintu segera dihentikan perawat dengan alasan keamanan pasien. Karena mengingat kondisi dan perawatan yang belum tuntas dokter tidak mengizinkan seorangpun untuk menjenguk.
Kedua orang tadi adalah sahabatnya yang terus berusaha ingin menemui Hyerin, ketika dihentikan mereka hanya bisa menangis di balik pintu.
"Bu Mita, Hyerin sudah siuman?" Tanya salah seorang tetangga menghentikan langkah kakinya.
Bu Mita atau Ibu Hyerin hanya terdiam tidak menjawab, dia juga tidak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya. Hanya sedikit senyum tanpa mengatakan apapun lalu kembali melanjutkan langkah kakinya lagi menuju rumah yang jaraknya tidak terlalu jauh.
###
Apa yang sudah terjadi sebenarnya? Di satu dunia pada waktu yang berbeda, Rai terdiam dan menundukkan wajahnya. Rai berpikir satu kejadian yang baru saja sudah terjadi, insiden yang membuatnya stress dan tidak bisa berpikir lagi dengan logikanya. Meski sudah lama tinggal di dunia roh, dia masih belum bisa tahu semua teka-teki yang terjadi mengejutkan. Terutama dengan Hyerin.
__ADS_1
"Wanita itu hidup lagi. Padahal pergi saja ke neraka sudah cukup." Celoteh suara yang bagaikan angin diterbangkan ke Indra pendengaran Rai.
Awalnya Rai bisa sangat tenang.
"Beruntung sekali, dia hanya beruntung saja."
Suara tidak asing itu yang menjadi satu-satunya orang yang menyebabkan semua insiden terjadi seperti mimpi buruk.
Rai masih diam, tapi kali ini dia mengangkat tubuhnya dan berdiri dengan tegak, sorot matanya yang tajam dan fokus memandangi orang yang bagaikan cermin di matanya.
Suasana saat itu langsung berubah, Rai masih diam seribu bahasa. Tapi dari ekspresi wajahnya terlihat jika dia sudah sangat berusaha menahan emosi yang sudah memuncak di pikirannya.
Apa yang bisa dilakukan terhadap iblis yang tidak pernah berperasaan? Pikiran Rai terus menimbang dengan emosi yang hampir menelan akal sehatnya.
Benar saja apa yang bisa dilakukan? Untuk menyalahkannya? Untuk meluapkan semua emosi? Itu hanya sia-sia saja. Karena tidak mungkin, tidak akan ada yang berubah dan tidak akan ada yang bisa dilakukan iblis itu selain menghancurkan semua harapannya.
Padahal kedua tangannya sudah mengepal erat, hanya tinggal satu kali menyulut emosi Rai maka saat itu juga semuanya akan diluapkan. Tapi Rai sekarang berbeda, dia bukan hanya bisa meredamkan amarahnya tapi kali ini Rai bisa berpikir dengan caranya sendiri. Tidak itu melulu tergantung iblis yang memberinya saran.
Apa yang bisa dilakukannya sekarang? Rai hanya menutup mata berusaha menolak semua suara sumbang yang muncul dari Indra pendengarannya dan dari dalam dirinya sendiri. Dia berjalan menyeret kakinya lebih jauh dan menjauh dari tempat iblis tadi yang menghampirinya. Sekarang dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri, meskipun usianya abadi tapi apa artinya abadi jika tanpa Hyerin. Orang yang selalu ditunggunya dibalik siang dan malam, di sepanjang waktu dan hari berganti menjadi abad tahun dan hitungan reinkarnasi yang tidak terbantahkan. Apa dia harus kembali lagi ke dalam penantian panjangnya itu? Apa kali ini dia sanggup?
Terpaan angin mendingin membekukan kulit, semilir nya yang tajam serasa menusuk pori-pori. Dan yang lebih terasa dingin dari semua hanya hatinya saat ini yang membeku. Hampa, kosong, dia merasakan lagi kehilangan yang panjang. Orang lain tidak akan pernah jadi dirinya dan bisa melalui kegagalan yang terus diterimanya berulangkali. Perpisahan yang terus membentangkan jarak antara dirinya dan Hyerin. Padahal dia hanya mencintai Hyerin sepenuh hati, tapi semesta dan semua tidak bisa berpaling kepadanya.
__ADS_1