
Tidak berhasil. Hyerin kembali memalingkan wajah melihat Rai yang tidak bereaksi sedikitpun dengan pertanyaannya.
Rai berlalu di depan mata tanpa berpikir untuk sekedar memberitahu, begitupun sifat dinginnya yang masih tidak bisa ia perbaiki.
"Aku ingin bertanya apa kau tahu dengan orang-orang itu? Mereka semua menghilang dan sampai sekarang tidak ada kabarnya lagi." Teriak Hyerin mencoba lagi usahanya. Dia sengaja berteriak untuk menarik perhatian Rai.
"Diam... Dan jangan bertanya aneh-aneh lagi." Dengan sigap Rai memperingatkan dan ke dua matanya yang melihat awas ke semua sisi. Seolah ada sesuatu yang sedang dihindari.
Rai segera menarik lengan Hyerin, berjalan cepat dengan menggandeng tangannya berusaha mempertahankan Hyerin supaya tidak pergi jauh.
Namun tanpa disadari suara jam kembali terdengar menggema. Rai dan Hyerin mematung mendengarkan suara jam yang berdenging di telinga.
Sudah bisa ditebak Hyerin langsung berpindah tempat ke tempat dimana ia melihat sebuah ruangan yang di anggapnya asing sejak awal. Kini dia sudah tahu seutuhnya, sebuah tempat yang sudah menampungnya sejak awal dia berada di tempat ini.
Hyerin tidak membiarkan dirinya lengah, dengan terjaga dia berbalik mengamati ke setiap arah. Melihat semua yang terpampang jelas di depan mata. Sedikit waktu tidak dibiarkannya berlalu dengan sia-sia. Tanpa disadari sebabnya lagi dia merasakan sesuatu yang cepat mencengkeram dirinya di kejauhan gelap yang tiba-tiba terasa mengancam. Bola matanya bergerak ke kiri ke kanan mencari sumber ketakutan yang selalu menjadi imajinasinya. Lebih nyata kali ini tubuhnya berasa melemah bahkan untuk sedikit bergeser ke kanan terasa sangat berat. Atmosfer ruangan yang serasa membakar pori-pori kulit terluarnya saat itu menambah perasaan ngeri nya yang semakin nyata. Bahkan untuk bernapas pun terasa sesak seolah oksigen hanya tersumbat di bagian kerongkongan.
Tak... Tak... Tak
Suara sepatu yang beradu dengan lantai terdengar menggema. Menjadi satu-satunya pusat perhatian yang masih tidak bisa dia hindari. Sekujur tubuhnya sudah merasa sangat takut dan pikirannya tidak bisa lagi fokus.
Tiba-tiba dari sudut mata Hyerin melihat tubuh orang melintas dan aura nya bergerak mendekat.
Ke dua matanya melongo, dia tidak pernah menyangka melihat Rai dengan ekspresi yang berbeda. Wajah Rai namun auranya berbeda, bukan seperti Rai. Hyerin tidak bisa berhenti waspada dengan sosok Rai yang ada di depan matanya saat itu. Pikirannya lebih menyangka jika orang itu adalah orang asing bukan Rai, tepatnya orang asing dengan wajah yang mirip.
Mulutnya terkunci merespon sebuah senyum yang tersungging kepadanya. Dia tidak bisa membalas senyum bahkan bergerak merubah posisi berdirinya saat itu.
__ADS_1
Lantas siapa yang ada di hadapannya? Terlintas sebuah pertanyaan yang tanpa sadar sedikit lengah dia langsung kehilangan sosok orang yang menjadi perdebatan hati dan pikirannya.
Hyerin mencari ke semua tempat bahkan di balik lemari, di bawah kasur, dan yang terlihat hanya sebuah pintu yang tertutup seperti semula. Mustahil orang itu bisa cepat pergi dari hadapannya sekilas sekejap mata.
Dia kembali menimbang semua yang dirasanya janggal, perasaan yang dirasakannya tadi bukan hal asing yang pernah dia alami sendiri. Dia pernah merasakannya di tempat yang sama juga, dan apakah mungkin jika selama itu orang yang selalu ada dibalik semua yang dirasakannya adalah orang yang sama? Tapi wajahnya sangat mirip... Mirip dengan Rai. Tapi dia juga merasakan tidak ada diri Rai di sana, yang terlihat hanya wajahnya saja yang mirip.
Sekejap pikirannya terhenti lagi. Sekilas semua bayangan menerornya lagi, merasuki pikirannya hingga mengingatkan dia di sebuah kejadian dimana pada waktu itu dirinya pernah melihat sosok yang sama. Dan ada Akemi yang dia lihat. Potongan-potongan ingatan menambah perasaannya menjadi tidak tenang. Terkait Akemi sosok lelaki yang kini menjadi ingatan terakhirnya. Tanpa sabar Hyerin terus memikirkan Akemi yang semakin lama sosoknya semakin terlihat jelas. Akemi yang pernah akrab dan pernah atau bahkan sering menemuinya di tempat yang sama. Dan sekarang kemana perginya Akemi?
Matanya tertegun melihat sepasang mata yang juga membalas tatapannya. Hyerin sedikit mundur dan meneliti ke arah orang yang sedang berdiri di hadapannya.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya lelaki itu.
Mata Hyerin terhenti. "Tidak." Jawabnya sedikit lambat.
Hyerin sedikit teralihkan saat Rai terus menatap cemas, dia menduga Rai akan bertanya banyak jika dilihat dari ekspresi wajahnya saat itu. Tapi Rai hanya terus terdiam seolah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Kenapa?" Tanya Hyerin yang masih terheran. "Ada yang salah?" Tanya nya lagi tanpa memalingkan perhatiannya.
"Tidak. Tidak ada." Jawab Rai sedikit terperanjat dan langsung memalingkan wajahnya membelakangi tubuh Hyerin.
Hyerin sangat penasaran tidak bisa berdiam diri melihat reaksi yang sangat langka dari Rai.
"Ada yang salah?" Tanya Hyerin menegaskan.
Lagi-lagi Rai segera menggerakkan tubuhnya menghindari tatapan Hyerin.
__ADS_1
Hyerin hanya tertegun melihat responnya lagi.
"Ada yang salah? Apa ada yang salah denganku?" Tanya Hyerin tak menyerah segera menghadapi tubuh Rai yang mematung dan matanya yang berusaha menatap Rai meski berulangkali Rai terus menghindar.
"Sekarang kau tidak boleh lagi sendirian, jika di sini sendiri cepat keluar saja dari ruangan ini." Rai berterus terang dengan nada khawatirnya yang bisa langsung ditebak Hyerin.
Memang baru pertama kali Rai bersikap seolah urusan Hyerin adalah sesuatu yang penting baginya.
"Hah. Apa urusanmu?" Ketus Hyerin bersikap tidak memperdulikan anjuran Rai.
"Akan ada dan selalu ada orang di sekitarmu, tapi itu orang lain." Jelas Rai yang terlihat kesulitan dengan banyak menimbang ucapannya.
Hyerin hanya terdiam dia langsung menebak apakah yang dimaksudkan Rai adalah orang itu. Orang yang mirip dengannya?
"Aku sudah melihatnya." Jawab Hyerin singkat.
Rai segera mengalihkan perhatian dan semakin tajam menatap ke arah Hyerin. Dia berusaha dalam-dalam membalas sepasang mata yang juga terheran melihat sikapnya. Namun masih tidak berkata apapun, Rai tidak berterus-terang dan hal itu mungkin lebih mempermudah kejelasannya.
Hyerin terus membalas tatapan mata yang terlihat serius melihatnya. Tapi perasaannya sangat tidak paham mengapa Rai terus berdiam saja tidak langsung menjelaskan dengan mudah.
Hyerin segera melepaskan tangan Rai dan menghindar, dia balik membelakangi Rai.
"Aku tahu. Ya sudah tahu. Kamu jangan khawatir." Ucap Hyerin dengan nada ragu, tepatnya Hyerin hanya merasa canggung ketika Rai bersikap tidak biasanya. Rona wajahnya bisa saja memerah saat itu juga saat dia baru sadar jika Rai sudah sangat dekat menatap ke arahnya.
"Baiklah." Ucap Rai sambil berlalu membiarkan Hyerin dengan banyak pertanyaan yang tidak bisa juga dia utarakan.
__ADS_1