Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Menemui teman


__ADS_3

"Tempat tadi?" Seru Rai tak percaya karena Hyerin masih saja berjalan mengikuti tangga di sebuah gedung yang tadi sempat Rai amati.


Hyerin tak menjawab, apa boleh buat Rai membuntutinya dari arah belakang.


"Nyamannya." Puji Hyerin tampak senang ketika bersandar di sebuah kasur.


Rai tak berhenti mengamati seisi ruangan yang masih membuatnya kikuk. Tempatnya bersih namun pintu tanpa pengamanan.


"Nenek selalu menganggap jika ini adalah kamar ku, membersihkannya sepanjang waktu sampai akhirnya dia meninggal." Ucap Hyerin. Rai menaikkan sebelah alisnya, dia tahu orang yang dimaksudkan oleh Hyerin.


"Dia baik-baik saja kan?" Tanya Hyerin ketika berbalik menatap Rai.


Sedikit terhenyak aneh saja karena Hyerin masih menanyakan manusia yang jelas-jelas sudah tiada.


"Aku bisa menemuinya?" Tanya Hyerin membuat mata Rai membulat.


"Kau masih saja sempat memikirkannya, bisakah sekarang kau pikirkan saja bagaimana caranya agar kita bisa bertemu dengan mereka " Ocehan Rai yang tidak begitu dipedulikan Hyerin. Rasanya tidak pantas saja membahas masalah dalam suasana seperti ini.


"Kau pikirkan saja masalahnya, mereka teman mu mana aku tahu." Jawab Hyerin tampak membuat Rai kesal. Jika dia mau Rai sudah meninggalkan Hyerin dari tadi, andai saja Hyerin sadar jika dia juga menjadi sial karena berada di dekatnya.


"Yasudah itu lebih baik." Ucap Rai cuek. Rai pergi ke arah pintu, seperti yang dia katakan tadi jika saat ini bukan waktunya untuk diam dan menikmati waktu sesaat. Tidak ada yang tahu kan waktunya menjadi manusia untuk apa dan juga seberapa lama?


Rai sekilas memandangi Hyerin yang sudah terlelap, dia tidak berniat untuk membangunkannya dan memilih pergi memutar pintu dan menutupnya.


Akhirnya rencana yang dipikirkan Hyerin berhasil, setelah kepergian Rai dari dekatnya itulah rencana yang dia pikirkan. Raut wajah Hyerin langsung berubah seketika. Sekarang adalah saatnya dia melakukan semua cara yang dia mampu.


Pertama adalah anak lelaki itu, Hyerin harus mencari tahu segala hal tentang anak itu. Entah mengapa Hyerin berpikir jika karena perkataan anak lelaki itu dia akhirnya terjebak dalam kondisi ini. Jika diingat-ingat lagi anak lelaki itu memang mengajaknya menjadi seorang teman, tapi ketika itu dia tidak sampai berpikir karena ucapan itu dirinya bisa langsung berubah sekejap mata.


Tak bertahan lama Hyerin tampak frustasi dan menghela napas lagi. Kalau soal mencari tahu tentang anak lelaki itu dia pasti membutuhkan Rai, orang yang tampak so tahu. Apa dia harus bertanya saja?


Hyerin langsung membalikan badan menatap ke arah pintu, dalam hati dia langsung menebak jika Rai pasti sudah terlalu lama pergi dan dia sudah jauh.

__ADS_1


Tanpa sadar Hyerin langsung berlari memburu pintu, dan ketika pintu terbuka Rai dengan wajahnya yang sudah menghadap ke arah Hyerin.


"Sudah keluar juga." Ucap Rai, dia tersenyum-senyum sendiri.


Hyerin memicingkan matanya tampak tidak begitu senang dengan ekspresi Rai.


Tak lama Hyerin membanting pintu lagi di hadapan Rai, dia cukup kesal rasanya tak mungkin jika harus bertanya langsung seolah dia benar-benar membutuhkan Rai. Yang ada Rai kembali memperlihatkan ekspresinya tadi.


#####


Rai menggelengkan kepala, jika dia sudah bersabar dan menunggu Hyerin tapi nyatanya wanita itu masih memiliki keegoisannya sendiri, apa boleh buat lebih baik membiarkannya saja. Padahal apa salahnya jika sekarang Hyerin sedikit berpikir serius tentang kondisinya, bekerja sama mencari satu-satunya solusi yang tersirat. Bukan berdiam diri, mengurung diri, dan menunggu, apa yang akan didapatkan?


Rai cukup kesal karena dia harus turun lagi sendirian mencari semuanya sendirian.


"Rai!" Sebuah teriakkan menyebut namanya. Rai membalikan badan dan tampak bingung tak percaya Hyerin berlari lagi ke arahnya.


"Ikut!" Seru Hyerin dengan napas yang terputus-putus.


"Boleh ikut, janji jangan nyusahin." Seenaknya Rai bicara membuat Hyerin diam lagi dan menatapnya kesal. Tapi Rai memang sengaja melakukannya dia ingin membuat Hyerin kesal.


Tak menyerah dengan sikap Rai baginya sekarang Hyerin hanya bisa berharap jika kembali mengikuti Rai dia bisa pelan-pelan bicara tentang masalah yang sudah dipikirkannya dalam hati.


Saking tenangnya berjalan dan tidak begitu memperhatikan sekitar, tanpa sadar Hyerin kembali tak sengaja menabrak seorang manusia. Menyesal sekali Hyerin bisa lupa diri dengan kondisinya sekarang.


"Jangan nyusahin!" Rai memperingatkan dengan tegas. Hyerin hanya bisa membuang wajah rasanya sedetik lagi dia mendengar kata-kata itu lebih baik dia pergi dengan caranya, dia akan pergi sendirian dan mencari jawabannya sendirian.


Rai berhenti di sebuah gedung, di halamannya yang luas memperlihatkan anak-anak yang masih senang bermain dengan bola. Rai berhenti di sana dan mengamati ke sekeliling.


Saat berbalik memperhatikan Hyerin matanya terbelalak ketika tak sengaja dia menangkap basah seorang dewa kematian yang berniat untuk mengambil sukmanya.


Rai melotot kesal, tanpa sadar dia berjalan ke arah yang memperlihatkan dewa kematian itu dengan tatapan galak. Setelah mendekat barulah dewa kematian yang ada di hadapan Rai membalikkan badan dengan terkejut. Tak sempat melarikan diri Rai dengan tenang memegang tangannya, beruntung sekali gerakkan spontan yang dilakukan Rai ternyata bisa berguna menahan seorang roh, aneh jika harus dipikirkan ulang.

__ADS_1


Hyerin yang bingung hanya diam saja, jika dia protes atau berbicara pasti akan tampak aneh di hadapan semua orang karena tidak mungkin akan ada yang melihat penampakan roh itu selain dia dan Rai.


Rai menatap mata Hyerin memberinya sebuah gerakkan sebagai isyarat, Hyerin dengan nalurinya langsung mengikuti isyarat itu.


Tak disangka Rai memang jago memilih tempat, kini di tempat Hyerin berdiri tidak mungkin ada orang lain yang sengaja datang kan?


"Kau hantu? Kau iblis?" Teriak dewa kematian itu yang langsung dilepaskan tangannya oleh Rai.


Rai diam sebentar dengan tatapan galak.


"Kau hantu dan aku manusia." Jawab Rau.


Sebaliknya dewa kematian itu tampak bingung menatap Rai. "Kau hantu!" Ucapnya ragu-ragu.


"Aku manusia." Tegas lagi Rai kesal.


"Aneh sekali. Kau menjadi manusia?" Ucapnya masih terdengar cukup syok setelah melihat penampakan Rai sekarang.


Dari keakraban keduanya Hyerin bisa menebak jika lelaki itu pasti seorang teman yang dikatakan Rai.


"Ternyata temannya hanya dewa kematian ya g payah." Batin Hyerin.


"Dia juga menjadi manusia? Iblis itu?" Ucapnya yang tidak mengindahkan perasaan Hyerin.


Dengan kesal Hyerin membulatkan mata tampak marah, semoga saja itu menjadi peringatan agar tak menyebutnya lagi iblis.


"Sudah sadar sekarang?" Tanya Rai sambil dia menampar keras pipi temannya itu. Aneh lagi karena Rai mampu melakukannya meski dia adalah manusia sekarang, harusnya Rai tidak mungkin bisa melakukan hal itu pada seorang roh kan.


Teman Rai mengangguk takut.


"Sekarang kau mau apa?" Tanya nya membuat Rai langsung galak lagi.

__ADS_1


"Tidak. Maaf! Maksud ku akan ku panggil yang lainnya." Terburu-buru lelaki itu langsung mengubah cara bicaranya hingga Rai bisa tenang lagi.


__ADS_2