Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Ken, Sani, dan Tania.


__ADS_3

"Apa yang dikatakan Ken? Dia bisa-bisanya Setega itu mengatakan jika Tania sudah tidak ada." Gerutunya dalam hati.


Sani hanya bisa pergi ke keramaian, dia tidak bisa menghentikan langkahnya karena dia sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukannya di tempat asing seperti ini? Terutama seberapa bahayakah misi mereka berdua? Sani masih tidak bisa memahaminya.


Sani tercengang melihat pemandangan pusat kota yang dipenuhi roh di sana. Meski pemandangannya tidak sebagus di kehidupan manusia, tapi bagi roh seharusnya mereka tidak hanya berkerumun bersama dan mengabaikan waktu mereka yang semakin berkurang. Setiap roh umumnya memiliki waktu mereka, pergi bereinkarnasi atau tetap di sini dan hilang tanpa bisa kembali bereinkarnasi? Itulah pilihan hidup sebagai roh.


Di setiap ruas jalan dari kiri ke kanan, semua berjajar rapih gedung yang kini terlihat usang dan kotor. Hingga langkah kaki Sani terhenti di sebuah gedung di depan matanya. Dia terhenti karena melihat sekelompok orang yang memandanginya dari dalam ruangan. Sani seperti terkejut dan secepatnya membalikan tubuh. Dia kembali berjalan ke arah sebelumnya, niatnya untuk segera pergi.


"JANGAN!" Sebuah teriakan yang menghentikan kakinya saat itu.


Sani mendengar seperti teriakan itu ditujukan padanya, tapi untuk apa? Dia mencoba kembali untuk melangkahkan kakinya lagi.


Sebuah tangan langsung menghentikannya saat itu.


Sani terdiam dia tidak yakin ada orang yang mengenalinya dan berani menghentikan langkah kakinya saat itu.


"Jangan pergi!" Ucap seorang wanita yang terdengar tegas.


Sani membalikan wajah secara perlahan. Dia hanya melihat seorang wanita biasa di depan matanya, tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Begitulah hatinya menyimpulkan.


Sani membalas tatapan mata wanita itu beberapa detik.


Tanpa Sani ketahui dengan seperti itu orang lain langsung bisa mengenalinya.


"Sani." Ucap wanita itu yang langsung bisa membuat Sani terperanjat. Terllihat kaget karena baru saja mengetahui kesalahannya.


"Tolong jangan pergi dulu, kamu akan aman." Jelasnya menenangkan suasana yang membuat Sani gugup.


Sani mengangkat wajahnya dan menatap lagi perempuan yang ada di hadapannya itu. Nalurinya merasakan jika wanita itu baik, lagi pula Sani belum tahu kemana dia akan pergi di tempat ini. Setelah mendengarnya seperti kebetulan yang baik saja.


Akhirnya Sani menuruti permintaan wanita itu.

__ADS_1


Sani gugup karena dia satu-satunya orang asing, di hadapannya tidak ada satupun yang dia kenal.


Satu persatu matanya mengabsen setiap orang di hadapannya dengan ekspresi yang tidak sama. Ada yang menyambutnya dengan senyum dan ada juga yang tak acuh.


"Kamu pasti baru pertama ke tempat ini!" Ucap seorang lelaki. Dengan ucapannya langsung membuat Sani tertegun, nalurinya takut jika ada sesuatu yang salah dengan kedatangannya.


Sani tidak langsung menjawab. Dia terus menimbang kata-kata yang akan diucapkannya.


"Hey dia bertanya ayo jawab!" Ucap wanita tadi.


Sani melihatnya ragu. "Ia." Jawabnya gugup.


"Pertama jelaskan tujuanmu ke tempat ini?" Lelaki itu masih terus bertanya.


Sani melihat lagi ke arah wanita tadi sebelum menjawab. Dia mendapatkan tanda agar segera menjawabnya. "Aku memiliki tugas sama dengan Tania." Jawab Sani masih tetap melihat ke arah wanita tadi.


Lelaki itu terlihat mengernyitkan dahi. "Ada berapa orang kalian?" Tanyanya lagi penasaran.


Lagi-lagi Sani tidak langsung menjawabnya, dia kembali melihat ke arah wanita tadi.


Sani segera kembali menarik penglihatannya. Dengan gugup dan terbata-bata dia menjawab. "Ada tiga orang, Tania, aku, dan Ken." Jawab Sani dengan sedikit keberanian.


Sani tidak nyaman jika diinterogasi seperti sekarang, karena itu dia akan gugup untuk menjawab. Padahal sikapnya itu bukan menandakan jika dia takut atau berbohong, Sani hanya sedikit gugup.


"Kamu tahu bagaimana situasi di tempat ini? Kenapa nekat kemari?" Lelaki itu sedikit menaikan nada bicaranya.


Sani terlihat seperti orang polos yang tidak tahu menahu dan tidak menyadari keadaannya yang tidak aman, karena dia tidak memperlihatkan sedikit saja kekhawatiran atau rasa takutnya itu. Karena hal tersebut yang membuat semua orang dalam ruangan sangat penasaran terhadapnya.


"Sani, kau dan temanmu sudah berapa lama tinggal di tempat ini?"


Sani hanya terhenti lagi berpikir, dia tidak tahu akan menjawab apa karena dia sendiri belum mengenal baik ke dua temannya tadi.

__ADS_1


"Seberapa tahukah kau tentang rahasianya?"


Sani masih tidak menjawab.


"Apa kau tahu jika kau diketahui oleh Rai atau Hyerin besoknya kau akan tiada."


Sani langsung membulatkan mata. Dia tidak menyangka mendengar sebuah pernyataan yang langsung membuatnya merinding takut.


"Sepertinya dia tidak tahu apa-apa selain tujuannya mencari Tania." Terdengar suara wanita tadi sekaligus menyudahi setiap pertanyaan yang membuat Sani tertekan.


Sani kembali melihat ke arah wanita itu, dia mengakui kebenaran dari yang wanita itu ucapkan. Tujuannya hanya mencari Tania, selain itu dia belum mendapatkan apapun sebuah informasi yang didengarnya dari Ken.


"Baiklah, sekarang kau adalah anggota kami tujuanmu hanya satu yaitu membawa informasi dari kelompok sebelum mati."


Sebuah pernyataan yang didengar Sani ibarat sebagai pesan terakhirnya, dari kata-katanya seperti lelaki itu sudah pasrah dan tau bahwa hidupnya akan berakhir.


Tidak menunggu waktu semua orang langsung hilang dari hadapannya. Sani terus memeriksa ke samping kiri dan kanan, dia tidak menemukan orang-orang tadi yang begitu saja hilang tanpa pamit. Hal ini semakin membingungkan, dia tidak tahu dan mengerti apa yang dilakukannya sekarang. Dan juga mengapa mereka tidak menjaga dirinya atau membawanya sekalian jika mereka menganggap jika Sani adalah salah satu anggota baru di kelompok mereka. Sani hanya menggelengkan kepala tanda kecewa. Dia langsung keluar dari gedung itu tanpa memperhatikan di sekitar.


Sani berjalan di bagian kiri jalan, matanya menangkap setiap inci pemandangan yang dia dapatkan di tempat itu. Walaupun usang tapi keadaannya cukup membuat dia senang setelah sekian lama akhirnya dia bebas keluar gedung.


Apa yang dilakukannya selama itu? Sani berada di sebuah gedung gelap dan tidak ada cahaya maupun suara di tempat itu, seperti tahanan dia menghabiskan sepanjang hari selama hidupnya di sana demi alasan keamanan. Yang dipikirkan orang-orang bahwa jika keluar dari gedung maka keadaannya bisa sangat berbahaya, tapi setelah melihat langsung bagaimana keadaan di luar, Sani tidak bisa sependapat karena yang dia lihat orang-orang ramah dan suasana yang bersahabat.


Matanya kembali mengabsen keramaian yang ada di depan matanya saat itu. Hingga ada sesuatu yang menarik perhatian. Lama memandanginya Sani memastikan aura berbeda dari orang yang dilihatnya saat itu, seorang lelaki yang langsung bisa meyakinkan hatinya bahwa ada yang beda.


Sani terperanjat kaget saat sepasang matanya berpapasan dengan orang yang terus dia pandangi itu, sampai Sani mengalihkan perhatian dan segera terburu-buru pergi dari tempat.


"Sani!"


"Sani!!"


Terdengar suara yang menyebutkan namanya berulangkali.

__ADS_1


Sani berpikir siapa lagi? Apakah lelaki tadi bisa mengenalinya langsung seperti itu?


Sani masih tidak menghentikan kakinya saat itu juga. Dia terus menyeret kakinya untuk menjauh, namun usahanya itu gagal. Sani merasa tangannya cepat ditarik oleh tangan besar dan dingin. Saat mengangkat wajah menatapnya secepat cahaya keadaan di sekitarnya sudah berubah. Sani tercengang dan tidak bisa mengatakan apapun.


__ADS_2