
Tanpa berkompromi soal pembukaan pertemuan yang sudah dilakukan seperti sebelumnya. Hyerin tidak menyangka jika ternyata tempat seperti itu banyak. Yang dia tahu sudah ada 3 tempat.
Mata menyelidik ke setiap orang yang hadir, dalam hitungannya lagi hanya terdiri dari beberapa orang saja. Kemana yang lainnya? dan wanita tadi?
"Aku kehilangan lagi 1 orang dalam kelompok, wanita itu tidak pernah kembali lagi setelah mendapat tugas untuk menjemput. Ini memang semua salahku." Ucapnya terdengar penuh sesal.
Hyerin tertegun dia tidak percaya dengan penuturan yang dikatakan orang tersebut, karena beberapa saat wanita itu bersamanya.
"Sebaiknya kita jadwalkan saja setiap hari, kita simpan pertanda di dinding atau apapun yang terpenting kejadian itu tidak terulang lagi." Saran seseorang terdengar masuk akal.
"Itu salah dia, dia tidak menjalankan rencananya. Atau dia tidak berniat sama sekali." Timpal yang lainnya terdengar sangat kesal.
Hyerin hanya menundukkan kepala. Bagaimanapun keadaannya dia selalu disalahkan lagi dan lagi. Padahal dia tidak melakukan apapun, itu terdengar tidak adil kan?
Keadaan kembali memanas, banyak orang yang menuduh, menyalahkan, dan tak segan memaki-maki Hyerin dengan seenaknya. Padahal dia sudah sangat berusaha dan tidak pernah ada niat untuk membiarkan agar kejadian itu terjadi lagi.
__ADS_1
Di tengah suasana yang tidak lagi tenang, seseorang ada yang langsung menarik tangan Hyerin dan mengajaknya keluar dari tempat tanpa sepengetahuan yang lainnya.
"Keadaan tidak akan cepat mereda, aku bosan melerainya. Padahal semua orang sudah mati kenapa harus takut mati lagi." Ucap gadis yang ada di samping Hyerin dengan santai. Hyerin menangkap sikapnya yang ramah dan tidak terlihat kebohongan. Akhirnya ada orang yang mengerti dengan penderitaannya juga.
"Sudahlah kau jangan terlalu ambil pusing. Mereka hanya bodoh." Ucapnya lagi menenangkan dan sedikit tersenyum.
Mendapatkan sikap yang ramah Hyerin balik tersenyum.
"Kamu mau pergi ke suatu tempat? Ikut ya denganku." Ucapnya sambil menggandeng tangan Hyerin.
Secepat waktu setelah mengedipkan mata Hyerin mendapati tempat yang berbeda. Sebuah tempat yang mungkin juga sangat digemari oleh manusia, Karena sepanjang penglihatan Hyerin melihat banyak manusia yang asik bermain atau menjadikan tempat ini lebih ramai lagi.
Hyerin hanya mengangguk. Sebaliknya dia tidak terlalu suka dengan keramaian tapi berusaha menyesuaikan dengan teman yang ada di sampingnya.
Tak terasa waktu baginya sangat melambat lama, mulai merasa jenuh, dan sudah tidak tahan lagi. Tapi saat melihat gadis itu yang tersenyum mengamati kebahagiaan orang lain sangat bersalah rasanya jika harus memperlihatkan yang tidak menyenangkan. Hyerin menolak untuk pergi, dia melakukan hal yang sama mengamati kebahagiaan orang lain. Yang terlihat adalah sekelompok keluarga, ada anak kecil yang sangat polos dan bahagia di tengah-tengah orang yang melindungi nya. Balik ke arah lain Hyerin melihat orang yang berlari-lari memainkan bola dengan senang, kebahagiaan yang sangat sederhana.
__ADS_1
Tempat yang hanya dipenuhi dengan rumput hijau yang luas dan sesekali ada pohon di tengah-tengahnya. Tempat seperti ini pun rupanya bisa memberikan kebahagiaan pada orang-orang.
Hyerin membalikan wajah dan mendapati wanita itu yang sudah tidak lagi duduk di sampingnya. Dengan panik dia berdiri dan mencari ke semua orang-orang yang dilihat. Tiba-tiba matanya terkesiap melihat wanita itu ikut berkumpul dengan satu keluarga yang terdiri dari anak kecil, ibu, ayah, dan sebuah foto. Dia menangis sangat sedih. Hyerin dengan bingung hanya memperhatikan nya dengan diam, dia berdiri dari kejauhan dan melihat apa yang dilakukan wanita itu.
"Mereka bertiga adalah keluargaku. Ayah ibu dulu selalu mengajakku untuk sekedar bermain di tempat ini. Dan adik kecil itu sebenarnya bukan adik kandungku, karena ibu tidak memiliki anak lain selain aku." Terangnya saat kembali menghampiri Hyerin.
Mendengarkan bagaimana cerita wanita itu yang menyebutkan namanya adalah Susan, Hyerin mengerti dengan kesedihan yang dia rasakan. Sebagai anak semata wayang lalu akhirnya harus pergi juga dari keluarga yang sangat mencintainya.
Rasanya sangat tidak adil, tapi bagaimana pun takdir bermain di kehidupan kita. Begitu juga yang dirasakan Hyerin.
Hyerin ikut terdiam seolah semua kesedihan sedang menggenggamnya tanpa ampun. Hatinya sangat sesak, namun dia tidak bisa menangis merusak suasana hati Susan saat itu.
"Dulu aku mati karena kelalaian ayah, ibu selalu menyebut nya seperti itu, ibu marah dan di depan mata kepalaku sendiri yang sudah mati aku melihat ibu dan ayah hampir berpisah. Namun sebenarnya itu kemauanku, kesalahanku yang merasa mampu pulang sendirian tanpa sabar menunggu ayah.
Langkah ku pergi ke tempat yang sebenarnya di sepanjang jalan sekolah tidak di lalui keramaian dan tidak banyak kendaraan yang lewat. Waktu itu aku masih SMA kelas awal, aku berjalan sendirian hingga sebuah mobil hitam menghentikan ku. Beberapa orang dewasa menyeret tubuh lemah ku dengan paksa, tanpa ampun, bahkan karena aku memberontak seseorang memukul kepalaku hingga aku tenang karena menahan sakit, sebuah sakit yang baru pertama kali ku rasakan. Aku tidak sadar sudah dibawa kemana, setelah bangun yang terlihat hanya gedung kosong dan sangat kotor. Di tempat itu penderitaan ku tidak berhenti. Orang-orang bergiliran melepaskan semua kain yang menempel ditubuh ku, bahkan ada yang sampai menyiksaku tanpa ampun dengan sebuah ikat pinggang dan membuat bekas memar dimana-mana. Aku tidak sadar setelah itu karena merasa ada yang memikul kepala ku berulang terus menerus hingga rasanya aku melayang ke dalam sebuah mimpi untuk selamanya. itu lah cerita kelam yang tidak pernah bisa ku lupakan walaupun dalam keadaan mati seperti sekarang." Ucapnya dengan detail sampai-sampai Hyerin tidak memiliki kesempatan untuk berbicara.
__ADS_1
Mendengarkan bagaimana dengan tegar nya Susan bercerita, seolah dirinya sudah diuji dan sanggup menghadapi cobaan yang menimpanya, Hyerin merasakan hatinya yang tenang menceritakan hal yang bisa dikatakan bukanlah hal enteng bagi setiap orang yang mengalaminya. Ternyata Susan sangat baik, menerima setiap kejadian yang terjadi di hidupnya.
"Kau tahu, cukup dengan seperti ini selamanya dan menyaksikan keluargaku berada dekat denganku ... itu adalah hal yang jauh dari apa yang aku impikan, aku sangat senang dan berharap bisa menjadi wujud ini sampai aku pun pergi bersama keluargaku." Ucapnya yang tidak berhenti tersenyum. Rupanya Susan sangat bahagia karena dia masih bisa melihat keluarganya kapanpun, atau mungkin bukan Susan saja, tapi semua roh merasakan kebahagiaan yang sama. Tapi bagaimana dengan nasib Hyerin? Hyerin hanya bisa menatap langit yang sama, tinggal di bumi dan dimensi berbeda, tidak bisa pergi, tidak bisa menemukan, tidak bisa selamanya ada di sisi keluarganya dengan tenang walaupun sudah menjadi seorang roh penasaran. Sangat tidak adil, tapi apa yang bisa dilakukan? Hyerin tidak mempunyai kemampuan seperti Susan atau seperti orang lainnya.