
Ken tiba di depan gedung rumah sakit. Dia berjalan tergesa masuk ke dalamnya. Saat melangkah di depan pintu matanya teralihkan melihat seseorang yang menurutnya tak asing sedang duduk diantara banyak orang yang kesana kemari. Dia berusaha melihatnya dengan baik. Sesuatu hal terjadi, Ken tercengang saat tahu dugaannya benar. Yang dia lihat adalah Hyerin dan juga Rere wanita itu.
Ken berjalan lagi berniat menghampiri keduanya.
Hingga dia berdiri tepat di hadapan mereka.
Hyerin langsung melihat kearahnya saat tahu seseorang berdiri dan memperhatikan mereka berdua. Begitupun yang dilakukan Rere.
Ken hanya diam saat mata mereka bertemu. Namun sorot matanya seolah bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi di depan matanya? Dia sempat kaget dan cemas jika tiba-tiba saja Hyerin dan wanita itu tidak ada, apalagi setelah tahu niat Rere dan temannya membuat Ken tidak bisa diam dan tenang.
"Aku tidak akan membawanya pergi ko. Kami sudah berbicara sedikitnya Hyerin akan memberitahumu." Jelas Rere sambil berdiri menghadapi Ken yang terus memperhatikannya dengan tatapan tajam.
Ken hanya diam tapi raut wajahnya menjelaskan jika dia tidak bisa menerima kata-kata itu dengan mudah.
"Sudahlah aku akan pergi!" Ucap Rere. Tapi tangannya ditahan, Rere melihat ke arah Ken bertanya lagi dengan hatinya.
"Jangan coba-coba untuk mencelakakannya. Kau ingat aku bisa melakukan apapun!" Ancam Ken merasa kesal. Memang sudah sikapnya seperti itu, watak Ken tidak pernah bisa santai dan berdamai dengan kepribadiannya.
"Tidak akan, aku berjanji!" Ucap Rere sambil menepis tangan Ken yang masih tidak melepaskannya juga.
"Apa ini Ken? Sudah biarkan dia pergi!" Sambung Hyerin di tengah perdebatan Ken dan Rere.
"Sudahlah, aku akan menceritakan semuanya!" Ucap Hyerin sambil berusaha membiarkan Rere pergi.
Ken melihat ke arah Hyerin, sedangkan sebaliknya Hyerin langsung mengalihkan pandangannya dengan cara menunduk.
Tidak begitu sulit Ken langsung melepaskan genggaman tangannya itu sambil berlalu ke luar gedung membiarkan mereka berdua kembali bercerita, tapi sebenarnya dia sedang menenangkan perasaannya mencoba menerima kenyataan yang dia lihat dan mencernanya dengan logika. Ken tidak bisa mengerti dengan Rere, wanita itu menurutnya mempunyai sebuah rahasia yang tidak dia ketahui. Tapi bersabarlah, Ken hanya bisa memperingatkan dirinya karena itu tidak sulit bahwa dia akan mencari tahu sendiri tentang wanita itu.
__ADS_1
"Ken ayo pergi!" Sebuah suara menghalau pikirannya. Dia mendengar suara Hyerin menyapanya dan juga tak lama Hyerin juga berdiri di hadapannya.
Tatapan mata Hyerin terus saja dia hindari, dia tidak bisa menyembunyikan apa yang dipikirkannya jika terus berpapasan dengan Hyerin.
"Sudahlah aku akan menceritakannya jadi jangan terlalu berlebihan." Ucap Hyerin membuat Ken langsung memandanginya tanpa ragu.
"Aku akan menunggunya!" Ucap Ken.
Kali ini Hyerin yang membawa Ken ke suatu tempat.
Namun reaksi Ken langsung menunjukkan emosinya. Betapa dia merasa marah karena tempat yang ditunjukkan Hyerin adalah gedung sekolah itu, hingga dia berusaha untuk pergi.
"Ken ayolah berpikir terbuka sekali saja, aku akan menceritakannya disini!" Ucap Hyerin bersikeras membuat Ken mengerti.
"Untuk apa pergi ke sini? Kau tidak tahu apapun jadi jangan mencoba memaksaku!" Ucap Ken dengan nada kesal. Dia hanya berpikir jika Hyerin sudah terlena dengan kata-kata Rere dan membodohi nya hingga membuat Hyerin bisa berani pergi lagi ke gedung sekolah ini, padahal Ken masih ingat jelas alasan mereka ingin membawa Hyerin.
"Aku akan menunjukkannya sesuatu yang akan kita butuhkan untuk rencana dan semua yang sudah kita pikirkan bersama!" Ucap Hyerin memberikan pengertian.
"Apapun asalkan kau selamat. Ingat tidak akan ada orang yang sepenuhnya bisa dipercaya, bisa saja aku, atau siapapun. Semua bisa melampaui batasannya karena alasan." Jelas Ken berbicara pada Hyerin yang berhasil membuat Hyerin terpaku diam.
Beberapa saat Hyerin diam, sorot matanya seperti menerawang jauh lagi pada sesuatu yang dia pikirkan entah apa hanya dia yang tahu.
"Memang tidak ada." Balas Hyerin pelan.
Hyerin langsung berjalan menyeret kakinya, nampak sesuatu memukul lagi hatinya hingga dia menunduk sedih dan berjalan lemas seperti tak bertenaga.
Ken masih berdiri diam sambil memikirkan cara agar membuat Hyerin mengerti, setidaknya itu yang ingin dia lakukan. Dengan menyelamatkan Hyerin dia juga selamat dan semua orang juga.
__ADS_1
"Hyerin!" Ucap Ken tertahan. Matanya bergerak ke arah lain mencari Hyerin yang sudah tidak ada lagi. Ken memutar tubuh dan melihat ke setiap sisi, dia berjalan juga menuju tempat lain dan tertahan saat melihat Hyerin yang sedang duduk dan menundukkan wajah.
Ken berjalan mendekat sedikit heran melihat Hyerin yang diam saja. Tapi saat jarak mulai dekat Ken langsung diam tidak meneruskan lagi langkahnya. Matanya menangkap gerak bahu dan terdengar Isak tangis yang sangat pelan. Setidaknya Ken tahu alasan mengapa Hyerin menangis, mungkin sesuatu mengingatkannya lagi dengan Rai.
Arah mata Ken menoleh ke arah langit-langit gedung dan bergerak ke tempat lain yang jauh di seberang. Memang gedung ini sangat istimewa entah apa yang membuatnya berbeda sejak awal. Gedung ini tidak bisa dimasuki oleh dewa kematian dan bisa dikatakan tempat teraman, begitulah yang Ken tahu. Dan andai saja iblis juga tidak bisa ke tempat ini.
"Di sini juga rupanya." Sebuah sapaan yang langsung mengubah ekspresi Ken saat itu juga. Terlihat kesal, seperti Ken tidak ingin mendengar nada bicara orang itu, Ken juga terlihat enggan menoleh ke sumber suara, dia diam tidak bergerak seperti menganggap jika tidak pernah mendengar apapun.
Terlihat wajah datar Ken yang menandakan jika dia tidak menyetujui pertemuan ini. Tapi Hyerin sudah mengaturnya untuk semua orang.
Pandangan Ken beralih pada Hyerin, ternyata Rere sudah menemaninya, beruntung jika sudah seperti itu.
Jika sudah seperti ini Ken hanya bisa mengikuti rencana Hyerin dan mereka, meski entah dia bisa menyetujuinya atau tidak.
Tak lama Hyerin terlihat berjalan melewatinya, kemudian Rere yang juga bersamanya. Dan Hyerin mengikuti dari arah belakang begitupun lelaki yang dibenci Ken juga mengikuti sebagai orang terakhir.
Yang terpenting sekarang dia harus mendengarkannya dengan sangat yakin, kemudian memikirkan keinginan orang-orang pada dia dan Hyerin. Pasti seperti itu, mereka sengaja lebih dulu menghasut Hyerin yang mudah terhasut dan tersentuh tubuhnya. Dan itu pasti karena ada maunya kan?
Di sebuah ruangan, tepatnya ruangan yang dipakai Hyerin, Ken dan Rere sebelumnya.
Ken masih diam tidak mengatakan apapun. dia menunggu sebuah perkataan yang akan menyebutkan namanya.
"Rere mengatakan jika kita semua sudah sepakat." Tiba-tiba lelaki itu langsung mengeluarkan sebuah asumsi yang langsung membuat Ken merasa tersinggung.
"Isi kesepakatan nya dulu apa? Semuanya yang mana bahkan aku sendiri tidak tahu apa-apa." Timpal Ken judes sebelum lelaki itu melanjutkan kembali perkataannya.
Sorot mata lelaki itu tengah fokus melihat ke arah Ken, entah apa yang dipikirkan apakah sebuah emosi sudah tersulut lagi?
__ADS_1
"Hyerin sendiri yang akan menjelaskan apa yang diketahuinya sendiri!" Balas lelaki itu yang gak mau kalah.
Ken melihat ke arah Hyerin yang masih diam. Jelas-jelas jika Hyerin tak bisa berbicara apapun dalam kondisinya saat itu. Bagaimana bisa orang tak berperasaan memaksanya untuk bicara.