
"Sebenarnya rencana kamu apa kok nekat ke sini lagi?" Tanya Rere terlihat khawatir saat melihat Hyerin yang bersikeras ingin pergi ke dalam.
Hyerin menatap Rere dingin. "Tolong Re aku sudah bilang segalanya ada batasan yang tidak perlu kamu tahu!" Hyerin mengatakannya dengan sedikit peringatan lagi.
Rere seperti tidak puas dengan jawaban yang diberikan Hyerin. "Sekarang apa kamu bisa menjamin keselamatan di sana? Sudah aku bilang jangan melakukan segalanya sendirian." Rere semakin kekeh dengan asumsinya, dia berharap Hyerin tidak sampai masuk ke dalam sana karena apalagi yang bisa menyelamatkan situasi sekarang seperti yang sudah Hyerin beritahukan kepada dirinya dan orang-orang.
Hyerin menatap sekilas mata Rere dan sikapnya masih dingin. "Sebaiknya sekarang kalian pergi!" Ucapnya lagi memperingatkan untuk kedua kalinya.
"Aku gak bisa ninggalin kamu sendirian masuk ke dalam sana!" Balas Rere tak mau kalah.
"Udah stop! Kalian bertengkar hanya untuk hal seperti ini. Kau tahu Yerin apa yang Rere pikirkan? Dan kau Rere apakah bisa mengerti apa yang Yerin pikirkan?" Ucap teman Rere menengahi suasana saat itu.
Hyerin beralih fokus menatapnya mencerna dengan jelas kata-kata orang yang ada di hadapannya saat itu. Begitupun yang dilakukan Rere juga sama.
"Kalian sebaiknya jangan membuang waktu seperti ini. Kan kamu sendiri yang bilang kalau tempat kita semakin terancam dan tidak ada jalan keluar, sekarang katakan apa rencana mu masuk ke dalam sana?" Kata-katanya seperti mewakili isi pikiran Rere, itu yang dia inginkan.
Hyerin seperti sudah disudutkan dia tidak ada alasan lagi untuk terus menyangkal. Alih-alih Hyerin sekarang nampak bingung, berjalan ke sana kemari dengan cemas.
Rere melihatnya seolah mengerti. Ternyata betapa besar beban yang dia tanggung sendirian. Sampai Hyerin lupa jika satu sisi bagian hatinya sangat lembut dan lemah, dia tidak bisa mengambil semua tindakan sendirian dan mencoba hal baru dengan membahayakan diri sendiri.
"Sudah cukup Yerin, kita pergi ke tempat lain saja." Cetus Rere tak tahan melihat Hyerin yang tampak semakin cemas hingga terlihat pucat.
Akhirnya ketiganya keluar dari situasi yang tidak diharapkan.
__ADS_1
Tapi jam kembali berdentang menandakan pergantian waktu saat itu. Semua yang terlihat di depan mata langsung berubah. Warna tanah, tanaman gersang, rumput kering, ranting gundul, dan warna langit sudah berubah. Sampai cahaya langit menembus mata Hyerin juga kedua orang di sampingnya dan menyilaukan.
Satu persatu keramaian memecah pendengaran. Hyerin melihat satu persatu orang yang sekarang sedang bersamanya, yaitu Rere dan temannya. Hubungan mereka sangat berarti setelah Hyerin harus kehilangan dan tidak mempunyai siapapun, tapi Ken? Hyerin tahu dengan perasaannya yang dalam, dia juga sudah tahu sejak kapan Ken mulai ingin membuat hidupnya lebih berarti. Tapi tentang Ken tidak bisa Hyerin terima, dia tidak ingin ada perasaan lain yang menggantikan Rai di sisi hatinya.
"Kau masih tidak ingin bicara dengan Ken?" Tanya Rere saat duduk di sebuah kursi taman sedangkan satu-satu temannya sudah berjalan santai melihat dan menikmati sekeliling yang jarang terjadi.
"Rasanya semakin sulit, aku harap Ken bisa menjaga diri baik-baik." Jawab Hyerin terdengar lebih tenang dari tadi.
Dalam waktu sekarang membuat roh seperti Hyerin dan Rere sangat merasa tenang dan aman, karena aturannya jika waktu manusia yang hidup kembali datang iblis pun tidak ada seperti pergi ke tempatnya. Hal itu diketahui Hyerin hasil dari kerjasamanya dengan Rere dan yang lain.
"Ken berharap kamu menjelaskan semuanya langsung, dia terlihat bingung dan menyedihkan." Balas Rere.
Hyerin langsung memandanginya tajam. "Kau sudah memberitahu Ken?" Cetus Hyerin. Mendengar hak itu Rere langsung salah tingkah, terlihat dari gerak matanya yang tidak diam.
"Aku tidak mengatakannya sepeti itu, ya itu sih hanya pendapatku saja kamu boleh percaya atau tidak juga sepertinya gak ngaruh." Elak Rere menutup kecurigaan Hyerin terhadapnya. Dalam hatinya juga Rere berharap jika Hyerin tahu bahwa dia sudah mengatakannya, apa yang akan terjadi jika Hyerin sampai tahu.
"Kau ingin pergi dengan ku lagi?" Tanya Hyerin. Rere langsung menatap Hyerin tak percaya karena kali ini dia tidak ditanyai banyak hal, beruntung sekali.
"Ah bisa. Tapi jangan ke sana lagi!" Ancam Rere.
Hyerin membalas perkataan Rere dengan tersenyum.
"Ayo pergi!" Tanpa menunda waktu Hyerin sudah pergi bersama Rere entah kemana.
__ADS_1
"Eh kok, itu temanku ditinggal?" Protes Rere sadar dia hanya pergi berdua saja.
"Udah ah cowok mana boleh ikut." Hyerin beralasan. Dia seperti tidak sabar langsung kembali menarik lengan Rere untuk pergi menyeberang melalui jembatan yang terlihat tak jauh di depannya.
"Kita ke sana?" Tanya Rere saat menebak arah tujuan Hyerin.
"Pokoknya kita ke sana ya!" Paksa Hyerin tak mau banyak ditanyai.
Suasana asri dengan teduh langit yang menurut mata Hyerin masih sama. Aliran angin sungai terdengar menyita perhatian Hyerin saat itu. Sekarang dari tempatnya berdiri di atas jembatan saat melihat kebawah aliran deras sungai nampak jelas dan sangat dekat. Hyerin mengalihkan edaran matanya dan dari tempatnya berdiri dia melihat gedung sekolah yang saling berhadapan juga di sampingnya terlihat rumah sederhana dan membuat bola mata Hyerin berhenti melihat ke arah itu. Saat wanita tua keluar dari daun pintu Hyerin segera berbalik, menganggap jika tadi dia tidak melihat apapun.
"Wah jernih sekali." Pujian Rere bisa didengar jelas oleh Hyerin yang saat itu tidak berdiri jauh darinya.
"Airnya sangat dingin dan sejuk, bagaimana setelah melihatnya? Apakah kehidupan manusia masih kau ingat jelas?" Tanya Hyerin.
Rere langsung berhenti mendengarnya. Dia terlihat menundukkan wajah dan menggelengkan kepala. "Aku bahkan tidak ingat apapun." Ucapnya pelan.
Hyerin langsung mengerti itu berarti Rere sudah sangat lama tinggal di dunia roh hingga tak ada satupun tersisa ingatan di kepalanya. Dan Hyerin harus sangat bersyukur, dengan alasan yang dia sendiri tidak tahu mengapa tapi ingatan semasa hidupnya dalam beberapa kelahiran sudah kembali lagi.
Apakah benar Hyerin harus bersyukur?
Ketenangan di tempat yang sudah lama dia hidup hingga SMA di sana, sampai sekarang tidak membuat dia lupa, dari mana dia berasal, dimana dirinya tinggal untuk terakhir kalinya, dan terutama siapakah sahabat yang ada di tempat itu. Semua dapat Hyerin ingat dengan detail. Tapi dia tidak pernah menceritakannya kepada siapapun termasuk Ken.
"Aku mau ke sana!" Pinta Rere tiba-tiba sambil menunjuk gedung sekolah.
__ADS_1
Bola mata Hyerin bergerak mengikuti ujung jarinya, dan benar saja dia melihat sekolah dulu tempat dia menjalani dan mendapatkan banyak arti kehidupan.
"Kita kesana!" Ucap Hyerin menyetujui.