
Hyerin tak bisa membuat permintaan dua orang roh yang saat itu tak lain mereka adalah keluarga Nenek. Tapi apa yang bisa dilakukannya kan?
"Udah beres!" Seru Nenek sambil tersenyum.
"Suami ku pasti pulang!" Seru nenek.
Mata Hyerin berkaca-kaca dia tak tahan dan rasanya ingin mengatakan semua hal yang dia ketahui.
Hyerin masih mematung memperhatikan nenek seorang diri. Dalam-dalam Hyerin mencoba memikirkannya lagi, lebih baik dia bicarakan? Saat mendapatkan keputusan itu, nampak sekarang nenek sangat melamun dan nampak dari sudut matanya bekas air mata terlihat.
Hyerin langsung berjalan mendekat dengan perasaan yang tak menentu.
"Nek!" Seru Hyerin pelan.
Nenek berbalik. "Kita harus mencari tahu, dimana jasad suamiku itu. Pasti sudah sangat lama. " Nenek itu tak menyangka bisa mengatakan sebuah rencana yang langsung membulatkan mata, Hyerin melihat Darii wajah nenek dan dari dalam matanya yang mengatakan tentang kesedihannya itu.
Tak tinggal lama Hyerin segera berjalan dan spontan memeluk nenek dengan sedih.
"Aku baik-baik saja, semoga aku bisa menerima kenyataannya kan!" Seru nenek.
Andai saja Hyerin bisa menemukan roh suaminya dimanapun. Apakah itu terdengar mungkin?
Hyerin langsung mengatakan sesuatu yang membuat neneknya membulatkan mata.
"Kamu jangan berbohong! Anakku? Kenapa aku tak bisa melihat mereka?" Serang nenek nampak bingung.
Hyerin tertegun mendapatkan pertanyaan itu, harusnya dia berpikir jauh termasuk berpikir jika nenek akan membuatnya bingung seperti sekarang.
"Aku harus bertemu anakku!" Seru nenek nampak sangat berharap.
__ADS_1
Hyerin menundukkan wajah. "Jika alam sudah mengizinkan maka akan ada saatnya kalian bertemu dan bertemu terus hingga tak ada satupun orang yang bisa melarangnya." Ucap Hyerin.
Nenek tertegun beberapa saat. "Sekarang aku mau keluar!" Pinta nenek tiba-tiba. Hyerin yang mendengarkannya langsung menatap nenek heran. Masalahnya apakah nenek sekarang tahu apa masalah besar yang ditakutkan Hyerin.
"Tenang saja. Aku tahu kamu tidak terlihat oleh orang-orang. Aku hanya perlu tetap waras kan?" Nenek tiba-tiba meyakinkan.
Setelah mendengarkan hal itu Hyerin yang ragu namun terpaksa harus mengabulkan permintaan nenek. Setidaknya dia akan tetap menjadi teman hingga di usia senja nenek dan sampai panggilan itu datang, sebuah panggilan untuk membawa nenek dari alam dan dimensinya.
"Aku sangat senang saat berada di luar, meski kenyataannya aku ditemani dengan seorang roh bukan manusia." Pernyataan nenek membuat Hyerin tak mau kalah.
"Bersyukur saja tidak ada yang lebih baik dari ini kan?" Cetus Hyerin dengan nada bertanya.
Nenek menjadi diam lagi, dia sekarang sepenuhnya sedang menikmati alam yang begitu dekat dengan mata dan sebuah keberuntungan yang membuatnya tak kesepian lagi.
Saat suasana menjadi tenang dan larut dengan sendirinya, menjadi suasana terbaik yang didapatkan nenek. Tiba-tiba Hyerin mendapatkan sebuah pertanda alam, dia melihat seorang dewa kematian yang akan segera mendekat ke arah Nenek. Awalnya Hyerin cemas dia akan melakukan segala macam cara agar nenek tetap hidup walau sebentar lagi saja.
Sebelum berpikir bagaimana caranya, dewa kematian sekejap mata langsung ada di hadapan nenek dan Hyerin. Spontan Hyerin membulatkan mata, saat akan berusaha mempertahankan nenek tiba-tiba dia langsung tak bisa melihat nenek. Mata Hyerin kehilangan sosok nenek hingga dia bingung seperti biasa. Tapi tak begitu lama, Hyerin baru sadar jika nenek sekarang sudah pergi bersama dewa kematian itu.
Sekarang apa yang akan dilakukannya? Setelah kejadian itu semakin membuat Hyerin bingung dan bertanya-tanya.
Dia adalah sosok dewa kematian, itu benarkan? Tapi bagi manusia Hyerin adalah roh.
Hyerin masih duduk sendirian di antara semua lalu lalang yang sibuk di depan matanya, dia berharap sekali sekarang ada sesuatu yang bisa dilakukan.
"Kak." Ucap seseorang yang langsung membuyarkan pikiran Hyerin saat itu.
Hyerin melihat sesosok anak yang memandanginya sayu, Hyerin tahu jika anak itu adalah manusia mungkin karena kemampuannya anak tersebut bisa melihat Hyerin.
Untuk membalas ucapan anak itu Hyerin hanya tersenyum simpul, kemudian dia terlihat bersiap untuk berdiri dan akan pergi ke tempat lain.
__ADS_1
"Kau yang bisa aku lihat, setidaknya kau mau menjadi teman ku kan?" Celotehnya yang cukup lancar bagi anak seusianya.
Hyerin hanya bisa tertegun mendengarkan sebuah kata-kata dari anak kecil padanya, wajar saja memang jika ada seorang anak yang bertanya seperti itu kan?
Menit berlalu, Hyerin mengabaikannya tanpa berbicara lagi. Saat melangkah pergi tapi hatinya ragu dan kembali menoleh ke belakang, melihat anak tadi masih berdiri tanpa melakukan apapun.
Aneh juga rasanya, tapi untuk apa menghiraukan sesuatu yang tidak bisa dipahami, akhirnya Hyerin memilih untuk pergi saja dan melupakan anak kecil itu.
"Kau tidak boleh bersama manusia lagi." Tiba-tiba telinganya menangkap sebuah suara yang langsung membuat Hyerin sadar jika kata-kata itu adalah untuknya.
Hyerin bergerak mencari siapa yang bicara padanya.
Tak lama sorot matanya langsung menemukan siapa yang berbicara, seorang lelaki duduk dengan tak acuh. Dari penampilan yang Hyerin lihat dia bisa menebak jika lelaki itu bukanlah manusia biasa tapi seorang dewa kematian.
Sekarang adalah kali pertama dia berbicara dengan seorang dewa kematian, setelah sekian lama baru pertama kali ini ada yang berani bicara padanya.
"Tolol." Tiba-tiba lelaki itu langsung memakinya tanpa alasan, wajar saja kali ini Hyerin langsung membalas tatapannya dengan emosi.
Satu langkah berlalu menuju ke arahnya, seolah tak merasa bersalah dewa kematian itu tak mengindahkan kehadirannya dan tidak merasa jika sudah menyinggungnya juga.
Hyerin cukup tercengang dibuatnya. "Siapa yang tolol?" Tanya Hyerin dengan nada bicara naik turun berusaha untuk meredam amarah yang mendesak di dadanya.
Tidak ada sebuah jawaban uang didengar, apalagi berharap itikad baik yang didapatkan Hyerin hanya sikap angkuh.
"Apanya yang tolol? Kau siapa berani bicara seperti itu?" Hyerin semakin tak tahan. Tapi sebelum dia meluapkan semua emosinya lelaki itu menghilang entah kemana seperti pecundang.
Beberapa saat Hyerin benar-benar ingin marah, apa yang salah dengannya? Mengapa dia sampai mendapatkan kata-kata yang menghardiknya.
Kalau saja dia bertemu lagi Hyerin tak akan membiarkan lelaki tadi lolos.
__ADS_1
Hyerin duduk lagi dan berusaha membuang semua emosinya yang meluap. Dia tidak ingin terus marah dan rugi sendiri, lebih baik diam saja seperti sekarang dan menjalani semuanya seperti biasa, itu tidak sulit kan.
Tak lama Hyerin berdiri lagi dan berniat untuk beranjak pergi, namun pemandangannya kali ini membuat Hyerin kembali terdiam. Sosok anak kecil tadi dan keluarganya. Apa yang sedang terjadi dengan hidup anak seusianya hingga dia bisa mengajak pada sesuatu yang bukan biasa untuk berteman dengannya? Sangat mencengangkan.