Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Bimbang


__ADS_3

Pertemuan yang singkat mengingatkan Hyerin untuk selalu hati-hati ketika berpapasan langsung dengan setiap orang yang ditemui.


Ternyata kejadiannya serumit itu, orang-orang yang hilang bisa dikatakan karena ulahnya. Padahal jika bisa membela diri hal tersebut sangat tidak adil bagi Hyerin, dia yang tidak tahu menahu harus menerima semua rumor dari orang-orang, menerima ancaman yang dia lihat dari setiap sorot mata yang mengarah padanya. Membuat Hyerin harus bersembunyi, mengendap ketika berjalan melewati kerumunan, dan menutup diri dari publik ketika semua keadaan semakin menyudutkannya.


Hyerin hanya menggelengkan kepala dan menahan dalam-dalam perasaan kecewanya.


Sekarang tidak ada tempat yang bisa dia tuju, tidak ada orang yang bisa dia temui lagi. Sangat tidak adil padahal begitu sangat banyak yang tidak diketahuinya sama sekali.


Tubuhnya terhuyung melewati jalanan, dengan penampilan yang menutupi wajah oleh jaket yang menempel di tubuhnya.


"Itu ada lelaki yang terus memperhatikan kakak." Hyerin merasakan sebuah tangan mengguncangkan tubuhnya. Matanya melihat ada roh anak kecil yang menatapnya tajam dan berusaha mengungkapkan maksudnya dengan mengarahkan tangan ke arah belakang. Hyerin mengerti dan sesuai dengan dugaannya. Ketika dia membalikan tubuh ke arah belakang, matanya langsung menangkap sosok Rai yang masih tidak berekspresi sedikitpun terus mengamati dengan serius ke arahnya.


Dia berdecak kesal, sangat jengkel. Rai selalu mengikutinya.


Sebelum Hyerin menyapa anak tersebut seorang roh tiba-tiba datang menghampiri. Wanita tua yang tentu saja tidak dikenalinya langsung menggandeng tangan anak itu dengan setengah menyeret untuk pergi.


Sekarang tidak ada alasan lagi, dia berlari sejadinya menuju jalanan yang mengarah ke rumah sakit, meskipun tempat tersebut bukan tempat yang sepenuhnya bisa melindungi dirinya.


Tepat setelah sampai dan memasuki gedung dengan napas yang berat dan susah payah suara jam dinding kembali terdengar memecah di telinga. Waktu yang pas, Hyerin segera berlari menuju ruangannya itu. Namun langkah kakinya kembali tertahan, dia tidak mengerti mengapa seketika kedua kakinya gemetar dan melemah. Ada aura yang sama seperti yang dirasakannya waktu itu, Hyerin masih mengingatnya dan mempertanyakan hal yang sama juga. Entah siapa, dia bahkan tidak berani sedikitpun mendekat ke arah pintu yang ada tubuhnya malah mundur teratur dan sangat pelan menahan rasa takut nya yang tiba-tiba menyerang.


"Hyerin!!" Sapa seseorang yang langsung mengalihkan perhatian.


"Akemi." Baca hatinya.


Masih dengan ekspresi yang sama, Akemi selalu mendatanginya dalam momen tertentu. Dia akan tersenyum meski sudah jelas bagi Hyerin sendiri itu tidak perlu. Dia tidak visa mudah akrab dan langsung dekat bahkan dari sikapnya Hyerin secara lantang menghindar.


"Tolong jangan lari lagi!" Langsung cegah Akemi melihat gelagat Hyerin yang tidak bisa tenang memperhatikan ke arahnya, bersiap untuk pergi dari perhatian Akemi.

__ADS_1


Hyerin sekilas memperhatikan, tapi dia tidak bisa tahan jika terus berada membiarkan dirinya dekat dengan Akemi.


"Apa yang salah? Apa yang sudah aku lakukan? Hyerin tolong, sedikit saja kesempatan. Jelaskan semuanya!" Pinta Akemi memohon tak henti-hentinya berusaha mendapatkan perhatian Hyerin.


Sebelum Hyerin menjelaskan semua yang ada di dalam pikirannya namun dengan sigap Akemi menyeret tangannya hingga membawa dia ke dalam sebuah ruangan. Sempat menolak tapi Hyerin tidak bisa menandingi tenaga seorang lelaki yang memaksanya untuk pergi mengikuti maksud Akemi.


"Sekarang coba jelaskan, jangan takut di sini tidak ada Rai lagi." Terang Akemi membisik.


Hyerin sedikit mengangkat alisnya tanda menanggapi perkataan Akemi.


"Apa yang kamu ketahui tentang Rai?" Tanya Hyerin tanpa basa-basi.


"Tapi berjanjilah untuk percaya." Pinta Akemi yang malah membuat Hyerin sedikit kesal.


"Tolonglah untuk percaya, aku tidak mengada-ada tentang Rai akan ku ceritakan semuanya." Sambungnya lagi berusaha meyakinkan.


"Baiklah." Hyerin sedikit mengatakan nya dengan tidak ikhlas.


"Itu artinya Rai adalah dewa kematian ku?" Tanya Hyerin memastikan.


Akemi hanya mengangguk pelan. Tapi dia tidak bisa menyembunyikan keraguan yang diperlihatkan oleh matanya di depan Hyerin.


Hyerin yang melihat tingkah Akemi langsung tidak terima dan membalikkan tubuhnya dengan kesal.


"Maaf. Tapi yang ku tahu Rai adalah dewa kematian di tempat ini." Sambung Akemi.


Mendengar jawaban yang tidak memuaskannya Hyerin membiarkan Akemi mematung tidak peduli. Dia menarik dirinya ke atas kasur untuk tidur.

__ADS_1


"Tentang pembicaraan yang kau dengar dari orang lain itu semua bohong, aku tidak pernah membahayakan siapapun kamu bisa melihatnya sendiri." Tegas Akemi yang masih berusaha meyakinkan.


"Aku tidak mengingatnya, bahkan aku tidak melihat satu ingatan pun ketika hidup, mati dan berakhir di tempat ini." Nadanya terdengar tinggi. Seperti sudah meluapkan segala hal, Akemi terdengar jujur menyatakan semua pernyataannya.


Beberapa saat Hyerin tidak lagi mendengar Akemi yang selalu berusaha berbicara dengannya. Hyerin penasaran dan membalikan tubuh, dia langsung menangkap sosok Akemi yang masih diam. Dilihatnya lagi Akemi yang masih mematung dan mempertahankan posisi berdirinya santai bersandar pada sebuah tembok. Hyerin merasa tidak enak, lagi pula dari perkataan terakhirnya sangat mengingatkan dia ketika dalam posisi yang sudah disebutkan Akemi tadi.


"Lantas mengapa semua orang mengatakan hal yang sama?"Tanya Hyerin memecah hening.


"Mereka semua takut dengan Rai, karena mereka semua tahu hal apa yang sudah diperbuat Rai." Terang Akemi perlahan dengan nada yang lembut.


Hyerin terdiam mencerna kata-katanya. Hatinya menimbang sangat bimbang, mungkin itulah alasannya lagi pula selama ini yang mengikuti dirinya adalah Rai bukan Akemi.


"Memangnya apa?" Tanya Hyerin ketus.


"Pokoknya kamu hanya perlu tahu untuk menjauhi dia dan menutup telinga dari orang-orang." Jelas Akemi yang terdengar tegas. Ada nada kesal saat nama Rai terus disebut-sebut dalam obrolan.


"Kenapa harus marah seperti itu?" Tanya dalam hatinya. Hyerin bertanya-tanya dengan reaksi dari Akemi yang berlebihan.


"Pokoknya jauhi Rai, dia adalah dewa kematian di tempat ini. Kamu masih ingat singkatnya dewa kematian lain bisa membunuh roh manapun sesuka hatinya." Sambung lagi Akemi yang semakin mendekat kan diri ke arah Hyerin. Akemi duduk di samping kasur di sebuah kursi duduk.


Hyerin tidak langsung menjawab lagi.


Akemi yang sudah menundukkan kepalanya terlihat menyerah setelah menjelaskan segala hal tanpa menerima jawaban yang diinginkan.


"Bukankah dewa kematian lain tidak bisa dilihat oleh sembarang orang, tapi mengapa dia bisa melihat sosok Rai, begitupun orang-orang. Artinya Rai bukankah dewa kematiannya." Gertak hatinya. Dia sangat bimbang, tidak tahu mana yang benar. Semua pihak seperti menolak kenyataannya.


Sekarang Akemi, apakah dia dewa kematiannya? Lantas Hyerin memikirkan cara untuk memastikan. Yang dia perlukan hanya meminta orang lain untuk melihat dirinya apakah semua orang bisa melihat Akemi?

__ADS_1


Hyerin masih tidak bergeming, dia sibuk memikirkan semuanya sendiri. Rasanya juga enggan untuk berkompromi atau mengobrol apapun dengan Akemi, meski dia sendiri tidak bisa menolaknya perasaan tidak enak, tidak nyaman karena sudah memperlakukan Akemi dengan tidak adil.


"Bukankah sebaiknya Hyerin tanyakan kepada orang-orang tentang Rai?" Tanya lagi hatinya. Karena kesibukan yang dilakukan sendiri membuat Hyerin tidak sadar jika Akemi sudah dulu meninggalkannya sendirian.


__ADS_2