Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Pencarian Hyerin


__ADS_3

"Di luar terus." Suara Rere langsung menyapa Hyerin yang saat itu memang sedang sendirian di teras. "Terimakasih!" Cetus Rere langsung membuat Hyerin menatap Ker arahnya. "Kalau gak ada kamu pasti terjadi lagi kekacauan di sini." Sambungnya.


Hyerin hanya melihat sekilas, mulutnya benar-benar bungkam tidak berkomentar sedikitpun.


"Aku bingung apa yang bisa ku bantu? Jika diizinkan kita akan mencari Ken bersama." Rere tak gampang menyerah, mengatakan apa yang bisa membuat Hyerin senang.


"Sayangnya tidak bisa. Dan tidak mungkin." Dengan yakin Hyerin mengatakannya tanpa ragu. "Masalah kita bukan Ken, tapi arus waktu dan dunia ini. Kehidupan kalian ada diujung sana." Ucap Hyerin menunjukkan jarinya yang menyentuh kabut hitam.


"Kita tidak tahu sampai kapan kabut itu ada di sana, seperti itu kan?" Lanjut Rere, dia berhasil membuat Hyerin menganggukkan kepalanya.


"Dan sayangnya sekarang kita tidak mempunyai rencana lain, kebanyakan di sini semua orang tidak bisa pergi ke dalam kabut itu." Sambung. lagi Rere masih melanjutkan celotehannya.


"Kita tidak bisa menjalankan rencana awal, pergi mencari tempat seperti gedung sekolah rasanya tidak mungkin." Hyerin terdengar sudah menyerah dengan rencana yang susah payah dia dan yang lainnya pikirkan.


"Tapi kita semua masih punya kamu, kan!" Seru Rere membuat kedua mata Hyerin memutar Heran melihatnya.


"Jika gedung ini cukup aman untuk semua orang, artinya ada kemungkinan di luar sana di tempat yang berbeda pasti sedang melakukan hal yang sama. Apa itu terdengar tidak mungkin." Pendapat Rere seolah menjadi pencerahan yang membuat Hyerin melanjutkan lagi cara berpikirnya.

__ADS_1


"Kita harus memastikan, pergi ke sana dan akan kita dapatkan informasinya." Celoteh Hyerin terdengar sedikit antusias. "Semoga saja termasuk Ken berlindung di tempat berbeda." Batin Hyerin. Sebenarnya hanya alasan Ken yang membuat dia bisa bersemangat lagi.


"Kau pasti bisa kan? Kita semua sangat berharap kau melakukannya." Saran Rere yang terlihat tidak sedikitpun membuat Hyerin keberatan. Yang terpenting untuk kebaikan semua orang, bagaimanapun jalannya yang pasti Hyerin harus bisa melewatinya, meski dia sendirian. Tentu saja hanya dia yang mampu bertahan di dalam kabut itu, jadi hanya dia sendiri yang bisa melakukannya.


"Setidaknya ada sedikit harapan, itu sudah cukup!" Simpul Hyerin membenarkan kesanggupannya. Tak masalah sendirian, yang terpenting kehidupan masih ada untuk semua orang.


Tanpa dikomando Hyerin langsung pergi lagi dari hadapan Rere, tapi wajah Rere menunjukkan ekspresi yang berbeda, dia seperti sudah melewatkan sesuatu untuk dibicarakan lagi. Hanya disayangkan karena Hyerin sudah terlanjur pergi.


Seluas apa tempatnya? Yang pasti tidak akan pernah menyurutkan semangat Hyerin untuk menemukan ke setiap sudut jalan, ruang, dalam batas yang tidak ditentukan di luar nalarnya. Itu tak penting, yang paling penting Hyerin bisa memastikan dengan mata kepalanya sendiri jika Ken ada diantara orang-orang selamat, itu sudah cukup.


Berawal dari tempat tadi, dari alun-alun kota. Hyerin menuju akun-alun karena ada satu tempat sebuah gedung kafe yang di dalamnya terdapat ruang sama sepertu gedung sekolah. Dulu dia tahu atas pemikiran yang lain jika ruangan yang sering dipakai perkumpulan itu adalah ruangan khusus tanpa bisa ditembus oleh dewa kematian. Dan itu yang akan dia cari sekarang.


Meski harus menarik napas panjang, berusaha untuk membuat hatinya sendiri yakin bahwa dia bisa melewati waktu dan masalah yang sedang diusahakannya saat itu.


Mau tak mau Hyerin harus melakukan cara manual, dia tidak ingin ada yang terlewatkan lagi.


Dengan susah payah, sisa tenaga yang sudah terkuras habis dan rasa sesak baginya untuk mengumpulkan setiap inci sisa semangat dan perasaan yang sudah berulangkali kecewa itu.

__ADS_1


Dia sendirian, seharusnya masih ada Ken yang selalu tulus dan rela terus di sampingnya dalam semua situasi. Ken memang seperti itu, terlanjur baik.


Hyerin kembali fokus lagi, dia tidak ingin terlalu banyak berpikir pada sesuatu hak yang masih menjadi prioritas nomor dua.


Hyerin merasa terhenyak kaget, terbelalak melihag situasi yang sedang didatanginya itu.


Sangat sunyi lebih mencekam dari yang dibayangkan. Coba saja pikirkan, seorang diri berjalan di tengah suasana yang sepenuhnya diselimuti kabut dan pandangan yang terbatas. Segenap hatinya harus bertaruh dengan keselamatan yang tak menjamin. Sekarang atau dalam detik yang tidak diharapkan bagaimana jika terjadi sesuatu yang tak pernah diinginkan? Untuk sampai saat ini Hyerin tak pernah siap harus kehilangan sukmanya pergi ke alam yang entah apakah dia bisa bereinkarnasi lagi?


Sangat disayangkan mentalnya tak bisa sekuat baja, tapi karena tekadnya yang lebih kuat dari baja dia berhasil menemukan tempat yang sangat dicarinya dari tadi. Tangannya bisa merasakan gagang pintu di ruangan itu, karena tak lama sebelumnya dia masih ingat saat-saat berdiskusi dengan orang-orang. Mungkin itu yang terakhir.


Perlahan pintu dibuka dengan tak sabar Hyerin menantikan saat harus melihat semua kondisi di dalamnya. Dan yang terlihat sangat mengecewakan, di tempat itu tak ada satupun orang seperti di gedung sekolah. Pertanyaan terbesarnya kemanakah pergi orang-orang di tempat ini?


Akhirnya dia harus merasakan dipukul lagi dengan perasaan bingung dan menyerah. Harus kemana lagi dia pergi selain dari tempatnya sekarang. Apa ada di tempat lain? Di suatu tempat yang belum terjamah.


Hyerin masih menunduk bingung hingga perlahan samar terdengar suara jam dinding berdentang mengusik masuk ke dalam indera pendengarannya.


Matanya terkesiap, secepat detik berganti semua suasana dalam ujung pandangan Hyerin berubah total. Cahaya masuk ke dalam retina mata dengan disuguhkan pemandangan elok dari tempat sekitar. Senyuman yang tampak dari sudut bibir orang, kesibukan, dan obrolan yang terjadi antara beberapa orang. Hampir tak bisa bernapas Hyerin tak percaya dengan penglihatan matanya sendiri.

__ADS_1


Sekarang memang waktunya kehidupan dalam dimensi manusia, sejauh sampai detik itu keadaan masih berlangsung normal termasuk pergantian waktu yang umum menjadi pembeda antara dunia roh dan dunia manusia.


Lantas apakah keadaan akan normal setelah ini? Semua fenomena tidak akan terjadi lagi kan?


__ADS_2