
Akemi menjelaskan panjang lebar tanpa mendapatkan jawaban dari Hyerin lawan bicaranya.
Keadaan semakin bertambah canggung, pada akhirnya Akemi terdiam, dia masih mendapati Hyerin yang tidak bereaksi sedikitpun. Berekspresi seperti tidak lagi percaya dengan semua yang sudah dijelaskan. Kenyataan yang ada merubah cara pandang Hyerin terhadapnya hingga tatapan benci terlihat bersembunyi di balik matanya.
Sekarang sudah jelas, di antara ke duanya mungkin ada kesalahpahaman yang tidak bisa dipahami jika Hyerin masih mempertahankan egonya itu, tetap diam dan tidak memberikan sedikit kesempatan untuk Akemi bisa memahaminya.
Sekarang giliran Akemi yang terdiam mematung, ekspresi wajahnya nyaris menyerah tidak lagi memastikan ke arah Hyerin. Pandangannya kemudian tertuju ke arah pintu terbuka, dengan spontan Akemi melangkah ke arah pintu dan membuat Hyerin segera tersadar. Sebelum dia berhasil lolos keluar melalui pintu Hyerin sempat berusaha mencegahnya.
"Akemi..." Ucapnya yang masih tidak diteruskan.
Namun perkataan yang baru saja keluar dari mulut Hyerin sudah bisa mencegahnya.
Hyerin masih merasa canggung, terlebih merasa bersalah dengan membiarkan orang lain berusaha berbicara padanya, dan sebaliknya Hyerin tidak menanggapi dengan baik.
"Kau akan bercerita lagi? sekarang aku akan mendengarkannya!" Lanjut Hyerin yang masih memalingkan wajah menghindari tatapan Akemi.
Ke duanya duduk sejajar. Tanpa putus asa Akemi bertekad akan memberikan semua jawaban yang dia ketahui tanpa satu pun yang terlewatkan.
"Kau bisa melewati orang-orang di luar sana. Apa tidak ada yang terlihat mencurigakan?" Tanya Hyerin mulai serius.
"Mereka biasa saja, aku melewati kerumunan itu dan kemudian masuk melalui pintu."
Mendengarkan penjelasan tersebut Hyerin akhirnya bisa membalas tatapan Akemi. Dia memastikan tidak ada kebohongan lagi.
__ADS_1
"Banyak orang yang membicarakan pasien di kamar 13 kemarin, dan sekarang semua orang sudah banyak berkumpul di luar." Terang Hyerin langsung pada intinya.
"Oh itu, itu sih cerita sangat lama dan aku sudah mengetahui ceritanya banyak sekali, mau kau mendengarkannya kan?" Dengan lancar Akemi menanggapi, kali ini Hyerin benar-benar dibuatnya bingung. Dia melihat Akemi di hadapannya tanpa ragu menjelaskan dan tidak terlihat jika dia sudah tersinggung dengan pernyataannya tadi.
"Orang-orang sering menganggap jika roh yang berasal dari kamar 13 di tempat ini sangat berbahaya, mereka selalu berasumsi seperti itu dari waktu ke waktu. Dan begitu yang terjadi, aku pun berasal dari kamar 13 sebelumnya dan sudah sangat dikucilkan, dijauhi sejak awal."
Mata Hyerin hanya membulat mengikuti alur cerita.
"Kau pun seorang roh yang sama dari kamar 13 ini?" Tanya Hyerin seperti menganggap Akemi adalah yang lain dari seorang roh.
Akemi malah tertawa. Dia tidak menyangka Hyerin membalas ceritanya dengan pertanyaan seperti dirinya bukanlah seorang roh.
"Kau anggap aku ini seorang dewa kematian?" Ucapnya dengan tawa Akemi yang masih belum berhenti.
"Bingung sekali!!" Ucap Hyerin pada dirinya sendiri dengan kesal.
"Apa yang membuat mu bingung?" Tanya Akemi yang balik semakin serius. Tatapannya tajam memperhatikan Hyerin.
Hyerin melihat keseriusan yang tak biasa dari pertanyaan Akemi terhadapnya.
"Orang hanya bercerita buruk, ya dan semua orang bertanya tentang Akemi lalu menyuruhku_" Jelas Hyerin berusaha tidak terlihat gugup, dia menghentikan penjelasannya sambil kembali memandangi Akemi yang masih tidak lepas memperhatikan.
"Oh sekarang semua orang mulai menggunjing bahwa aku orang yang jahat? Harus dijauhi seperti itu?" Tanya Akemi sedikit tersulut emosi.
__ADS_1
Hyerin tidak menyangka jika Akemi akan menyangkal nya. Hyerin melihat dirinya sudah sangat bersalah. Mungkin dia memang awalnya percaya dengan kata-kata semua orang, tapi dia sudah sangat bersalah bersikap seperti itu tanpa tahu reaksi berbeda dari Akemi.
Akemi masih kesal dan Hyerin bisa melihatnya dengan jelas.
Hyerin berjalan mendekat karena Akemi yang masih berdiri dengan kesal, bukan kesal lagi mungkin dia setengah mati menahan amarahnya.
"Maaf, aku sudah menyangka salah." Terang Hyerin.
Beberapa saat terdiam, namun Akemi kembali memegang lengan nya dan malah tersenyum lagi seperti mengisyaratkan tidak ada apapun yang perlu disesali.
Tanpa berkata-kata lagi Akemi meninggalkan Hyerin yang masih berdiri dan memandanginya, Akemi pergi dari ruangan dengan sedikit senyum dan tidak lagi berkata apapun.
Kali ini Hyerin menyadari kesalahannya, dan sangat bersalah apalagi saat melihat Akemi pergi tanpa berkata-kata lagi. Dia tidak bisa tenang meskipun Akemi pergi dengan sedikit tersenyum. Hatinya mengatakan ada sesuatu yang tidak biasanya, dan entah apa. Hyerin hanya merasa khawatir dan tidak bisa menenangkan hatinya setelah Akemi pergi.
Hyerin segera berlari menyusul Akemi yang mungkin sudah keluar. Dia merasa khawatir dengan orang-orang, dari sikap Akemi mungkin akan ada yang dilakukannya. Hyerin sangat khawatir, setelah mendekat ke arah pintu langkahnya mulai melambat, perlahan dia mengamati ke arah luar dengan perasaan yang tidak tenang. Setelah melihat orang-orang di luar dia sedikit merasa lega. Semua orang masih tetap berada di sana. Ternyata tebakannya kembali salah, Akemi tidak melakukan apapun seperti yang sudah diduganya. Hyerin mengira jika Akemi akan berbuat buruk karena orang-orang sudah membicarakannya tanpa jeda pada Hyerin yang bisa dikatakan masih orang baru di tempat itu.
Hyerin hanya menghela napas lega.
Ding, dong.
Suara jam dinding memecah di telinga. Hyerin melihat ke sekeliling. Hatinya menebak kali ini waktu sudah berubah lagi artinya dia akan melihat semua manusia beraktivitas di tempat ini.
Tubuh yang sama berada dengan semua manusia di rumah sakit itu. Sebuah gedung yang sudah sangat berubah dengan drastis. Hyerin menyaksikan semua orang berlalu lalang memenuhi ruangan, seketika dia tersadar dengan keberadaan roh di luar tadi. Dia mengalihkan pandangan ke luar, ternyata tinggal sebagian lagi yang berada di luar. Hyerin masih menimbang dan bingung apa yang dilakukannya saat ini. Tangannya meraba ke bagian tato yang tertulis di bagian dadanya. Apa semua orang sudah melihat wajahnya atau bisa menebak identitasnya? Dan kali ini apakah petaka lain akan kembali terulang jika Hyerin memaksakan diri pergi ke luar setelah rumor sudah beredar di masyarakat.
__ADS_1
Rasa penasarannya yang lebih kuat mendorong Hyerin pergi dari rumah sakit. Dia berjalan sambil membenarkan pakaian yang sepenuhnya menutupi identitasnya itu. Dengan perasaan yang mulai tak tenang lagi Hyerin tertunduk melewati orang-orang di sampingnya. Hatinya sangat gugup dan ragu, tapi setelah melewati roh di sana dengan mulus, Hyerin baru bisa kembali menegakkan wajahnya, dia menoleh sedikit ke arah belakang mencuri pandangan ke arah belakang memastikan roh di sana tidak curiga. Hasilnya tanpa diduga, Hyerin mulai merasa lega. Dia kembali berjalan melewati orang-orang, semua manusia dengan terburu-buru.