
Hyerin dan perempuan yang ada di sampingnya hanya bisa terdiam memandangi orang yang sama.
Bruk...
Suara tabrakan keras yang menghantam tembok
Dalam hitungan detik menegangkan bahkan tidak membiarkan kesempatan pada Hyerin untuk mengumpulkan kesadarannya. Tiba-tiba sekilas ekspresi senyum yang menyeringai lalu sebuah tendangan yang melayang hingga tubuh Hyerin dan teman perempuannya terhempas jauh menabrak sebuah tembok dan berhasil menghentikan mereka. Hyerin tidak bisa menduga sebuah gerakan cepat yang akan melayang pada tubuhnya hingga dia harus merasakan lagi nyeri pada semua bagian badan.
Kesadarannya segera terperanjat, dengan susah payah tangannya meraih tubuh yang sudah menindih ketika kembali jatuh ke lantai.
Bahkan untuk membukakan mata sangat terasa sulit apalagi harus berusaha bangun dan memastikan teman perempuan nya itu selamat.
Saat Hyerin terus berusaha untuk membangkitkan kekuatan yang tersisa agar tubuhnya sedikit bangun dengan menggunakan kedua tangan yang dengan sangat susah payah, tapi dia kembali merasakan tubuh temannya itu yang ringan dan bergerak tidak lagi menindih tubuhnya. Hyerin mengira jika temannya itu tidak apa-apa karena masih bisa bergerak setelah bertabrakan langsung dengan tembok. Tapi satu menit kemudian matanya membulat, napas ya kembali terasa sesak dan irama jantung yang tidak bisa dikendalikannya. Dari sudut mata Hyerin menangkap sepasang kaki dan terdengar suara dari sepatu yang berjalan melewati dia, begitupun terlihat tubuh temannya yang berbaring tidak bergerak sama sekali ditarik dari belakang. Hyerin tercengang dia tidak percaya dengan hal yang dilihatnya saat itu. Namun karena sakit dari bagian kepala yang membentur ke tembok kembali menyerang membuat Hyerin kesulitan untuk sekedar membuka mata karena sakit yang tak tahan semakin mencengkram kepala. Saking sakit yang dirasakannya lebih berat membuat Hyerin langsung hilang kesadaran.
Tanpa diduga perjalanan menuju tempatnya dan rencana yang sudah dibuat matang tidak berjalan sesuai ekspektasi. Sebagaimana orang bilang jika gedung rumah sakit itu bisa dikatakan sebagai satu-satunya tempat terlarang. Bukan tanpa alasan mungkin kejadian yang menimpa Hyerin pernah terjadi di sebelum-sebelumnya. Hyerin yang terbaring tanpa sadar sudah kehilangan lagi salah satu temannya yang akan menunjukkan sebuah fakta dari ingatannya yang hilang. Kini entah apa yang akan terjadi selanjutnya, tanpa teman tanpa ingatan Hyerin harus menanggung semua yang sudah terjadi dibalik kesadarannya yang utuh.
###
__ADS_1
Bayang-bayang tak manusiawi kembali menyerang di bawah kesadaran yang hampir mustahil bisa membuat Hyerin kembali sadar dengan tenang. Serangkaian kejadian yang sama mempertontonkan bagaimana sosok yang mirip dengan Rai menyerang Hyerin di malam kejadian yang berbeda dengan seorang lelaki adalah Akemi yang dikenal baik oleh Hyerin.
Sepasang mata langsung terperanjat bangun. Pandangannya mengarah pada dinding atap yang sebagian penutupnya sudah tidak ada. Kemudian matanya kembali melihat ke arah kiri dan kanan Hyerin melihat lagi sebuah ruangan yang tak asing baginya. Dia segera berusaha bangun setelah sebuah mimpi menyerangnya. Namun lagi-lagi tubuhnya terasa sakit, semua tulangnya terasa remuk ditambah dengan sakit di kepala yang tidak bisa ia tahan lagi.
"Kau baru bangun?" Suara pertanyaan seseorang yang mengalihkan perhatian Hyerin.
Dari arah pintu matanya melihat Rai yang tidak asing masuk dan berjalan menghampiri dengan wajah yang murung.
Hyerin hanya terheran melihat Rai yang tidak biasa.
"Apa mungkin karena kejadian itu?" Tanyanya dalam hati. Hyerin sebenarnya sudah tahu jika Rai dan sosok yang mirip dengannya adalah orang yang berbeda. Tapi dia masih bersikap diam saja tidak langsung menanyakannya.
Beberapa saat Hyerin terdiam tidak langsung menjawab, karena Rai yang canggung hal tersebut membuatnya juga canggung. "Tidak apa-apa, baik-baik saja kok." Jawab Hyerin sambil menyembunyikan wajahnya.
"Baiklah." Ucap singkat Rai yang sambil berlalu dari samping Hyerin.
"Rai!!" Ucap Hyerin berteriak membuat langkah kaki Rai berhenti. Tubuh Rai terlihat sedikit bergerak namun di luar dugaan dia masih juga menyembunyikan wajahnya dari Hyerin. Posisinya yang masih memunggungi Hyerin dengan sedikit menoleh kesamping tanda merespon teriakan Hyerin.
__ADS_1
"Apa ada yang ingin ditanyakan?" Tanya Rai yang sedikit nadanya melambat.
Hyerin hanya menggelengkan tanda dan sedikit tertawa kecil. Namun usaha Hyerin untuk mencairkan suasana tidak juga berhasil. Rai tidak merespon dan suasana masih canggung.
Menyadari keadaan masih tidak berubah Hyerin segera menjawab dengan terbata-bata.
"Tidak. Em. Pergi saja... Ia pergi." Ucap Hyerin masih tersenyum sendiri meski Rai tidak juga membalas senyumannya.
Tak lama mendengarkan jawaban Rai segera melanjutkan berjalan ke arah pintu.
Hyerin yang masih tertidur di atas kasur memperhatikan dengan baik bagaimana Rai keluar dari ruangannya. Saat itu juga perasaannya kembali tidak tenang. Mengingat bayangan tadi yang menurutnya sudah seperti nyata di depan mata. Hyerin tidak bisa tenang dan entah apa yang akan terjadi lagi, dia tidak bisa menebaknya ketika berpapasan dengan orang yang mirip Rai itu.
Saat Hyerin berusaha bangun dengan kedua tangannya yang masih tidak bertenaga, sederet bayangan kembali bermunculan di ingatannya. Kali ini yang dia lihat sesuatu hal yang sudah terjadi tidak lama dari ia tersadar tadi, alasannya karena sebagian Hyerin mengingat ketika dia dan teman perempuan nya itu berhadapan langsung dengan sosok yang mirip Rai hingga sebuah insiden tanpa diduga menyerang. Hyerin terperangah tidak percaya dengan ingatan yang dia dapatkan lagi. Fokusnya langsung buyar dan dia kembali merasa sangat khawatir. Perempuan itu tidak ada di sampingnya dan di setiap yang dia lihat Hyerin tidak menemukannya juga.
Dia mulai berusaha mengangkat tubuhnya yang masih terasa sangat sakit, namun memang bukan saatnya memperdulikan keadaan yang sedang menimpanya. Hyerin terus berusaha hingga akhirnya berhasil bangun ke posisi duduk. Selanjutnya dia hanya perlu turun dari atas kasur dan pergi keluar mencari perempuan itu. Lagi pula untuk keadaannya sekarang Hyerin tidak bisa tahan di ruangannya. Dia harus pergi atau sesuatu bisa saja cepat terjadi.
Setengah meringis menahan sakit Hyerin cepat bangun ke posisi berdiri tanpa harus mengeluh lagi. Dia sangat tidak sabar ingin mencari kepastian yang menurutnya mungkin akan sia-sia juga. Hyerin tidak tahu jika perempuan itu sudah dibawa kemana, jika hanya berpindah tempat di rumah sakit namun persisnya dimana.
__ADS_1
Pikirannya semakin gusar, rasanya ingin saja berteriak dan menangis. Dia tidak bisa berjalan apalagi jika harus menemukan temannya itu berasa hal tersebut tidaklah mungkin. Perasaan bersalah karena ketidak tahuannya membuat Hyerin terus terdiam berusaha mengingat semua ingatan yang sudah hilang.