
Rai pergi terburu-buru, dia sebenarnya ingin merahasiakan tentang perjanjian itu, tidak boleh lebih dari banyak orang yang tahu. Itu hanya awalnya, ternyata orang-orang lebih cepat tahu. Dia pergi dari Gisya karena tidak ingin membahas lebih lanjut lagi, dia takut jika akhirnya semua orang akan menyalahkan Rai tentang insiden yang terjadi.
Meski dipikirkan berulangkali secara logis insiden yang terjadi di kota memang karena ulahnya, jika saja iblis itu tidak ada maka tidak akan banyak orang yang menjadi korban. Rai tidak ingin menerima kenyataan itu karena salahnya, dia tidak bersalah yang dilakukannya tidak sengaja.
Dengan perasaan kesal Rai pergi jauh dari keramaian dan jauh dari gedung rumah sakit itu, dia tidak ingin sesuatu yang terlihat olehnya kembali mengingatkan tentang perjanjian itu. Dia bisa frustrasi jika terus ingat tentang masalahnya ini.
Rai menatap sebuah sekolah yang ada di seberang sungai. Sekolah yang akan mengingatkannya tentang Hyerin. Dan di ujung setelah sekolah ada rumah sederhana, di sana Hyerin tinggal. Ragu rasanya jika kembali melihat keadaan Hyerin, dia tidak bisa melakukannya sekarang, menemui Hyerin dengan keadaan dirinya yang sekarang.
"Ketemu lagi ya!" Ucap seseorang.
Rai langsung menoleh dan melihat di sampingnya.
Wanita itu tersenyum. "Kebetulan lagi." Ucapnya dengan sedikit senyum yang dipaksakan.
Rai melihatnya dengan kebetulan di tempat ini, atau wanita itu sengaja mengikutinya sampai sejauh ini.
Rai menatapnya lagi, tapi wanita itu diam dan gugup seperti ada yang sedang disembunyikan.
Rai terus menatapnya mencari alasan untuk mulai bertanya.
"Hyerin tinggal di sana ya?" Tanya wanita itu.
Rai mulai bingung dengan pertanyaan itu, untuk apa dia bertanya?
"Aku mengikuti mu." Ucap wanita itu berterus terang.
__ADS_1
Rai langsung bereaksi dan mendekat ke arahnya. "Tidak dengan Hyerin, jangan ganggu dia." Ucap Rai dengan nada mengancam.
Wanita itu dengan tenang membalas tatapan Rai. "Tidak ada, aku hanya ingin tahu." Jawabnya.
Rai masih tajam memandanginya, dia cukup yakin jika ada sesuatu rencana di balik wajahnya itu.
"Jangan khawatir karena aku tidak mempunyai masalah dengan Hyerin." Jelasnya lagi meyakinkan.
Tetap saja bagi Rai itu tidak cukup. Karena pasti ada sesuatu yang direncanakan oleh wanita itu, jika tidak untuk apa terus mengikutinya sampai ke tempat ini.
Rai tidak menjawab, dia menarik tubuhnya mundur dan tetap berdiri dengan tenang.
"Tentang iblis itu, aku sangat terkejut dan sampai sekarang aku tidak bisa melupakan wajahnya." Ucapnya lagi yang masih tidak berhasil membuat Rai goyah untuk bereaksi.
Rai hanya melihatnya sekilas dan langsung pergi.
Hyerin yang masih pingsan mulai kembali tersadar. Semua orang yang ada terlihat sangat senang dan mulai berbicara dengan semua pertanyaan yang tidak didengar Hyerin. Sekilas dia melihat dan sadar juga bisa melihat ke arah mereka, tapi Indra pendengarannya tidak bekerja, Hyerin tidak dapat mendengar mereka dengan baik. Setelah sadar dan dalam kondisi yang lemah, sekujur tubuhnya bergetar menahan lapar yang tiba-tiba langsung menguasai. Hyerin langsung berdiri dan tidak membiarkan siapapun yang akan menghalangi langkahnya saat itu, dia berusaha keluar dari kamar mencari makanan karena rasa lapar dan haus yang terus dirasakannya.
Ibunya langsung terjatuh, kedua temannya tidak tahan lagi menghalangi tubuh Hyerin.
Tanpa sadar Hyerin langsung mengambil apapun di atas meja makan dan melahapnya dengan sangat cepat. Layaknya orang yang sudah tidak makan berhari-hari.
Yora hanya bisa saling pandang dengan Rei. Keduanya berpikiran sama jika ada sesuatu yang aneh terjadi. Saat Ibunya Hyerin berdiri berusaha kembali berjalan mendekati Hyerin tapi Yora langsung mencegahnya. Dia yakin akan ada sesuatu yang terjadi.
Sakit rasanya melihat anaknya sendiri bersikap seperti orang kesurupan. Ibunya Hyerin tak hentinya hanya bisa menangis, tidak tahu apa yang bisa dilakukan untuk menghentikan Hyerin yang membuat hatinya sangat terluka.
__ADS_1
Hyerin tiba-tiba melihat ke arah mereka yang terduduk dan tersenyum lebar. Dari penglihatannya ada seorang wanita yang ada di belakang Ibu dan kedua temannya, tapi mungkin hanya dia yang bisa melihat kehadirannya karena di ruangan itu kenyataannya hanya ada Hyerin dan Ibu juga kedua temannya.
Hyerin seperti tersadar lagi, dia melihat kedua tangannya yang kotor dengan sangat terkejut. Dia merasa mual selain karena bau amis dari makanan mentah Hyerin merasa perutnya seperti akan meledak saja.
Karena tak tahan Hyerin langsung memuntahkan semua yang mengisi perutnya. Dia sangat kesakitan
, dan tak tahan karena seisi perutnya keluar dengan terpaksa.
Ibunya langsung sigap menghampiri, saat itu Hyerin melihat wanita tadi yang mendekat dia bisa tahu jika wanita itu bukanlah manusia biasa terllihat jelas dari penampilannya. Hyerin tidak bisa mengatakan apapun melalui mulut yang suaranya tidak bisa keluar. Dia tak mengerti mengapa tenggorokannya sangat sakit dan suaranya tidak bisa keluar.
Wanita yang ada di penglihatan Hyerin terus memandanginya dengan tatapan yang tidak dimengerti Hyerin.
Hyerin di bawa ke dalam kamar, Ibunya mencoba menangkan Hyerin yang terus saja tidak tenang dan menangis karena sepertinya dia langsung kehilangan suara.
Yora dan Rey hanya saling pandang, bingung mereka tidak bisa melakukan apapun selain menonton Hyerin.
Ibunya berinisiatif untuk membawa Hyerin ke rumah sakit.
Tapi Hyerin melawan tidak ingin pergi ke rumah sakit. Dari matanya dia seperti melihat sesuatu yang terus ditunjuk oleh tangan.
Tidak ada yang bisa melihat apa yang Hyerin lihat saat itu, secara kebetulan Hyerin melihat Rai datang dengan wajah menunduk di hadapannya. Ini adalah momen bagus baginya, Hyerin akan bertemu Rai setelah Rai melihat ke arahnya. Tapi suaranya tidak ada saat ingin memanggil Rai. Hyerin bingung dan hanya bisa terus memberontak menolak usaha Ibu dan temannya untuk membawa dia ke tempat lain.
Rai tidak begitu lama melihat Hyerin, dia langsung menghilang lagi setelah 2 menit hanya datang ke hadapan Hyerin lalu pergi lagi.
Hyerin langsung terdiam, dia tidak melawan lagi membuat orang-orang kesusahan. Hyerin hanya bisa menangis karena kesempatan yang datang itu hilang sendiri di hadapan matanya, padahal begitu dekat di depan mata, tapi apa daya lagi suaranya yang tiba-tiba hilang membuat dia kesulitan.
__ADS_1
Hyerin menangis dan langsung di peluk oleh Ibunya. Seperti mengerti apa yang dirasakan hati Hyerin. Tidak mudah memang dengan kondisinya saat itu. Dan Ibunya tahu hanya dia yang bisa membuat Hyerin tenang dan perlahan menerima semuanya.