Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Di sekolah guru baru


__ADS_3

Sayup angin yang semakin kencang menerobos masuk dari arah pintu yang dibiarkan terbuka, tubuhnya tidak sama sekali merasakan dingin angin yang sangat kencang. Pikiran Hyerin seluruhnya teralihkan dengan kebimbangan yang dia harus tanggung sendiri.


Saat asyik menimbang setiap tanya di dalam hati, Hyerin teringat suatu hal lagi, dia perlu pergi ke sekolah seperti yang disarankan oleh orang-orang itu. Lagi pula jika dia terus berdiam diri sudah yakin Hyerin tidak akan pernah mendapatkan satu ide pun atau informasi yang benar.


Kesempatan baik akhirnya Hyerin memutuskan pergi ke sekolah. Dia akan berjalan seperti biasa melewati orang-orang karena memang hanya dirinya saja yang tidak memiliki kekuatan seperti roh yang lain dan seperti Akemi. Lagi-lagi pikirannya terhenti saat nama Akemi terngiang muncul di pikirannya.


Hyerin sangat kesal mengapa Akemi selalu muncul tiba-tiba. Namun sebenarnya jauh dalam hati Hyerin terdalam dia berinisiatif untuk lebih dekat dengan Akemi agar dia bisa mendapatkan setiap informasi tanpa pergi keluar. Tapi sebagian pikirannya secara logika dia menolak untuk dekat-dekat dengan Akemi terlepas dari perkataan setiap orang tentang dirinya itu.


Hyerin membanting kesal pintu kamarnya hingga tertutup. Dia tidak bisa berpikir baik mengapa harus bimbang dengan keputusan yang belum tentu tidak akan merugikannya.


Tubuhnya terus melewati koridor rumah sakit hingga dia bebas keluar dari gedung. Yang dia perlukan hanya menutupi identitasnya dari orang-orang artinya dia hanya membutuhkan pakaian layak yang sangat tertutup.


Langkah kakinya gontai mengikuti arah jalan, matanya pun tidak pernah diam terus mengawasi roh lain yang semakin ramai di jalanan. Padahal sebelumnya dia tidak pernah melihat roh lain yang sangat banyak. Entahlah Hyerin tidak akan membiarkan hatinya untuk bertanya lagi.


Di sepanjang jalan yang tandus dan semua keadaan gedung tidak pernah berubah selama yang dia ingat di tempat ini. Semuanya kemudian berubah setelah waktu mengembalikannya ke dunia roh, kemudian keadaan secepat cahaya bisa berubah lagi setelah tanda waktu berganti lagi.


Saat berada di pusat kota Hyerin membagikan pandangannya lagi ke arah wanita yang beberapa waktu lalu pernah mengobrol dengannya. Sekarang sudah beberapa waktu berganti dan wanita itu mungkin memang benar sudah hilang.


Hyerin menghela napas dan dengan berusaha tegar dia kembali melanjutkan jalannya yang perlu beberapa langkah jauh lagi hingga dia bisa sampai di sekolah.

__ADS_1


Sangat santai hingga Hyerin membiarkan terpaan angin gersang menyapu kulit tangannya. Terik matahari tidak lagi terasa membakar kulit alasannya mungkin karena sudah terbiasa Hyerin sudah bisa beradaptasi dengan tempatnya saat ini.


Dari kejauhan sudah bisa terlihat rumput yang menghijau tumbuh di sebuah gedung yang disekelilingnya terdapat pemandangan sebakiknya. Hyerin hanya perlu beberapa langkah lagi. Senyum yang tersungging di bibirnya menandakan perasaan senang karena sudah menemukan tempat yang dia cari. Namun lagi-lagi langkahnya tertahan. Hyerin teringat jika Rai pasti selalu mengikutinya, dan bukankah hal yang berbahaya jika harus pergi ke sekolah? Matanya kembali fokus mengawasi ke segala arah, akhirnya Hyerin yakin jika Rai tidak mengikutinya. Dengan lega Hyerin melanjutkan jalannya.


Di dalam kelas orang-orang sudah hadir lebih dulu, bersikap biasa saja meski Hyerin berjalan dan melewati mereka, terlebih dia ingat jika sebagian orang-orang ada yang pernah bertemu dengannya di tempat itu. Tapi Hyerin tidak melihat ada lelaki yang selalu memimpin pembicaraan orang-orang. Tiba-tiba firasat yang kembali mengatakan jika lelaki itu pun hilang?


Dalam gusar hatinya semakin gelisah menghitung waktu yang tidak mudah berlalu baginya, matanya mengabsen lagi setiap orang yang mengisi ruangan itu, dari sebagian orang Hyerin merasakan baru pertama kali melihatnya, dan sebagian lagi sudah tidak asing.


Seorang guru memasuki ruangan memecah kegaduhan orang-orang, semua orang langsung terdiam sambil menahan pertanyaan tentang guru baru yang masuk hari ini. Mungkin selain dirinya dan belasan orang yang bertemu kemarin tidak akan pernah tahu jika guru di sekolah sudah digantikan.


Bisa terlihat bagaimana ekspresi dari sebagian orang yang hadir, tidak akan terkejut atau terheran.


Beberapa orang menatap ke arah Hyerin, dia sedikit terkejut dan tidak mengerti maksud dari tatapan orang-orang. Akhirnya Hyerin hanya memalingkan wajah dengan menunduk berusaha menutupi sikap canggungnya.


Seorang guru yang baru saja duduk langsung tidak menunda waktu lagi untuk mengawali kelas. Tidak ada perkenalan seperti dalam tahapan awal pembelajaran, tapi guru wanita ini lebih serius ke dalam menjelaskan semua pembahasan dengan detail. Seperti yang diminta pada pertemuan kali ini guru akan menjelaskan semua pengenalan awal yang perlu diketahui oleh pendatang baru seperti Hyerin dan orang-orang. Pantas saja lelaki itu meminta penjelasan dasar, mungkin hal itu ditunjukkan untuk para pendatang baru.


Dari penjelasan setiap kalimat yang diucapkan dengan detailnya sangat mudah diterima bagi para pendatang sama seperti Hyerin.


Tentang pengenalan dunia roh ini, aturan waktu, termasuk kemampuan yang dimiliki roh pada umumnya. Diterangkan bahwa semua roh di tempat ini memiliki kapasitas kekuatan yang berbeda namun yang paling dasar adalah kemampuan dalam membaca identitas semua orang sehingga dengan hanya bertatapan saja sebagai roh bisa langsung mengenali roh individu lainnya, hal tersebut juga digunakan sebagai tanda perkenalan. Hyerin sedikit berpikir mengapa tidak dijelaskan bagaimana jika ada roh yang tidak memiliki kemampuan itu juga? Sama persis seperti cerita nasibnya. Hyerin sangat fokus memperhatikan, rasanya dia ingin langsung bertanya namun terhalang lagi oleh perasaan ragu, belum lagi dengan rasa takutnya karena perbedaan dari yang lainnya.

__ADS_1


"Guru jika saja ada orang yang tidak memiliki kemampuan itu, apa sebabnya?" Pertanyaan cetus yang terdengar kritis di telinga Hyerin membuat perhatiannya teralihkan mencari ke sumber suara.


Seorang lelaki entah siapa bertanya di hadapan semua orang.


"Tidak mungkin, karena sejatinya kemampuan itu adalah kemampuan dasar dan semua roh pasti memilikinya." Jawab guru wanita itu yang tidak memuaskan hati Hyerin. Dia mengira akan mendapatkan jawaban yang tidak terpikirkan olehnya sama sekali. Ternyata bukan, jawabannya malah terdengar seperti sanggahan bukan suatu jawaban.


Kelas kembali diam, dan guru tersebut masih menjelaskan. Sekarang mengenai pembahasan tempat yang bisa dimasuki, di tempati, dan yang tidak bisa tertembus oleh dewa kematian. Hyerin merasa tidak menyangka jika tempat itu memang ada. Tempat yang dimaksudkan adalah sebuah tempat yang ada antara kehidupan manusia dan kehidupan roh ada pada satu dimensi waktu yang sama. Sebetulnya tempatnya tidak mengalami perubahan seperti pada umumnya, hang berubah hanya orang-orang yang mengisi tempat tersebut saja. Contohnya seperti ruang sekolah ini, adalah 1% tempat yang tidak bisa dimasuki oleh dewa kematian bisa dikatakan juga tempat paling aman dari dewa kematian.


Terlepas dari pembahasan yang sudah disampaikan keadaan kelas sudah bubar, semua orang secepat cahaya berbaur kemudian hilang dari pandangan. Terkecuali Hyerin dan lelaki itu. Hyerin menatap lelaki yang sedang duduk dengan sangat teliti. Lelaki itu adalah yang bertanya tentang kemampuan dasar setiap roh. Dan mengapa sekarang dia yang tersisa di kelas. Hyerin sedikit waspada tidak mengerti dengan jalan pikiran orang itu. Tanpa kembali menoleh ke arah yang sama dan berbincang atau bertanya, Hyerin pergi seolah-olah tidak menganggap kehadirannya. Langkahnya dipercepat untuk segera berlalu meninggalkan ruangan dengan cepat.


"Tunggu Hyerin." Ucap lelaki itu yang tidak menghentikan kaki Hyerin.


"Hyerin... Hyerin." Terdengar suaranya semakin meninggi meneriaki nama dirinya. Hyerin yang kalut dan takut hanya mempercepat langkah kaki nya saja. Namun usahanya tidak berhasil, lelaki itu sudah menahannya lebih dulu tepat di hadapannya.


Hyerin berhenti dan memasang pandangan dengan hati-hati.


"Ayolah Hyerin... aku juga sama dari sekolah ini apakah kamu tidak bisa memberikan sikap yang sewajarnya?" Tegas lelaki itu yang masih tidak dihiraukan Hyerin sama sekali, bahkan Hyerin tidak pernah menatap lagi matanya. Dengan sigap Hyerin berusaha berjalan melewati lelaki itu, tapi tangan lelaki itu lebih sigap menangkap lengan Hyerin dan menahannya.


Hyerin tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya. Dia berusaha melepaskan tangan orang itu, namun usahanya tidak berjalan mulus, kekuatannya tidak bisa sebanding.

__ADS_1


Lelaki itu malah dengan kasar menyeret Hyerin melewati lapangan dan menuju keluar gedung.


Hyerin sangat khawatir dengan tindakannya yang seenaknya, terlebih Hyerin memikirkan keselamatannya bukankah sudah banyak orang yang hilang jika berada dekat dengannya. Sekarang yang ada dalam pikiran Hyerin hanya bagaimana caranya untuk melepaskan diri dari lelaki itu.


__ADS_2