
"Ko datang sekarang?" Teriak seorang wanita yang langsung protes.
Rai bengong tidak tahu apa salahnya. Saat sedikit mengintip Rai melihat ada lelaki yang duduk dan sedang berbenah di belakang wanita itu.
"Oh." Ucap Rai polos dan langsung membalikan tubuhnya membelakangi mereka.
"Cepat pakai lagi dan pergi!" Ucap wanita itu terdengar membisik.
Rai heran apa yang sudah dilakukan keduanya di dalam ruangan ini. Hanya sedikit percakapan yang dia dengar lalu kemudian hening lagi.
Rai menebak jika mereka berdua sudah tidak ada, sudah meninggalkan tempat.
Rai berbalik dan spontan langsung tercengang. Dia melihat orang yang berbeda.
"Pasti ada yang penting kan?" Tanya wanita itu. Kali ini Rai kenal dengan wanita yang ada di hadapannya.
Rai langsung mengangguk dan mencari-cari kursi yang ada di belakang wanita itu. Dia segera menarik kursi untuk diduduki tapi tangannya merasa menyentuh sesuatu yang basah. Saat menarik tangannya dan melihat ada cairan menempel.
"Kursi itu saja!" Ucap wanita itu tidak membiarkan Rai berpikir.
Rai menurut dan langsung pergi tanpa bertanya lagi. Dia mengangkat kursi dan duduk.
"Masih saja diam, cepat bicarakan!" Pinta wanita itu membuyarkan.
Rai teringat jika tujuannya ke tempat ini untuk bertanya sesuatu.
"Tempat ini sebenarnya untuk apa?" Rai langsung bertanya tanpa basa-basi.
Wanita itu melihat Rai dengan serius. "Anggap saja tadi tidak ada apapun yang terjadi."
Mendengar jawaban itu Rai semakin tidak mengerti. Dia diam dan bingung memang nya apa yang sudah dilakukan orang-orang tadi?
"Hanya itu?" Desak wanita itu.
"Sepertinya ada salah paham. Aku mau tahu mengapa awalnya kalian semua memintaku untuk datang langsung ke tempat ini. Terdengar seperti sesuatu yang istimewa." Jelas Rai dengan detail.
Rai langsung melihat wanita itu yang salah tingkah. Dia mengira apakah ada yang salah lagi dengan perkataannya?
__ADS_1
"Oh jadi itu." Jawab wanita itu dengan sedikit senyum yang terlihat dipaksakan. "Ini memang tempat khusus dan keberadaannya sekaligus tidak bisa dimasuki oleh sembarang, terutama oleh dewa kematian. Bisa jadi tempat ini disebut anti dengan kedatangan dewa kematian." Lanjutnya lagi menambahkan.
Rai terdiam dan mencerna setiap kata-katanya.
"Ternyata ada tempat seperti itu di dunia ini." Pikir Rai dalam hati.
Rai kali ini sadar jika ada banyak yang tidak diketahuinya tentang dunia ini. Itu sebabnya karena dalam berabad lamanya dia tidak pernah berinteraksi dengan siapapun di dunia ini, kecuali sekarang.
"Ada lagi yang mau diceritakan?" Lagi-lagi pertanyaan itu terdengar. Wanita itu seperti ingin cepat menyudahi pertemuan singkat itu.
"Namamu?" Cetus Rai.
Wanita itu langsung terlihat sedikit gugup tapi dia berusaha keras untuk tidak memperlihatkannya.
"Oh nama ya. Panggil saja Gisya." Jawabnya santai dan sedikit terbata.
"Usia mu?" Tanya lagi Rai dengan ekspresinya yang dingin.
Gisya tidak bisa menatap mata Rai, dia berulangkali berusaha membuang pandangannya itu.
Gisya tidak lagi bertanya, dia jadi diam dan seperti menunggu Rai untuk memulai ceritanya.
"Aku baru tahu jika ada tempat seperti ini. Padahal usia ku sudah sekitar berapa abad." Jelas Rai.
Dari penjelasan Rai membuat Gisya melotot tidak percaya.
"Abad?" Tanya Gisya kaget.
"Ada yang salah?" Tanya Rai sedikit terheran.
Gisya menggelengkan kepala. Dia teringat jika semua temannya menyarankan agar tidak terlalu dekat dengan Rai, karena Rai sendiri terlalu berbahaya untuk semua orang. Dan juga misi Gisya dia harus mencari tahu perjanjian iblis yang disebutkan semua rekannya. Tapi dia bingung untuk mencari tahu dan mengawali pertanyaan itu.
Gisya tersenyum, dari raut wajahnya dia tidak bisa menyembunyikan gugup dan bingung seperti mencari-cari alasan untuk mengawali pembicaraan lagi.
Sesekali mata Gisya mengintip ke arah Rai dan kembali memalingkan wajahnya saat Rai melihatnya juga.
"Aku pergi sekarang." Ucap Rai. Belum sempat Rai berkata lagi Gisya langsung menahan dengan tangannya.
__ADS_1
"Ada yang lain lagi." Ucap Gisya gugup berusaha menahan Rai.
Rai hanya melihatnya heran.
"Ayo kita bicarakan lagi di sini." Pinta Gisya saat itu yang langsung menarik tangan Rai hingga dia duduk kembali di kursi.
"Benar sekali, sebenarnya ada banyak yang ingin aku tanyakan tentang semua hal. Selain tempat ini juga orang-orang apakah kalian tahu tentang diriku?" Tanya Rai serius.
Gisya mencerna pertanyaan Rai dengan cekatan.
"Seperti tentang perjanjian-perjanjian itu." Ucap Gista ragu.
Rai melihatnya serius. "Sebenarnya perjanjian itu awalnya diragukan, aku tidak pernah tahu jika akhirnya akan berhasil." Jelas Rai.
Gista tidak percaya jika Rai sama sekali tidak tersinggung, dia sadar sekarang adalah waktunya.
"Perjanjian itu seperti apa?" Tanya Gisya ingin melanjutkan cerita Rai.
"Semua terjadi dengan begitu saja, aku hanya mencobanya dari sebuah cerita kuno di masa hidupku, tapi tanpa disangka hal itu bekerja juga." Rai terlihat sedih. "Tapi aku sangat menyesal, mengapa dulu sempat berpikir untuk mencobanya. Kau tahu akibat dari perjanjian itu? Aku tidak dapat lagi bereinkarnasi." Lanjut Rai panjang lebar.
Bagi Gisya untuk pertama kali mendengarnya dia langsung menyangka jika perjanjian itu sebenarnya adalah terlarang, dan akibatnya Rai tanggung sendiri.
"Sepertinya itu sangat disayangkan. Aku tidak banyak tahu seperti yang lain tapi menurutku perjanjian itu terlarang kan?" Tanya Gisya berterus terang, dia tidak lagi membatasi dirinya untuk bertanya.
"Itulah penyesalan terbesarnya. Aku hanya ingin menjadi dewa kematian agar menjadi abadi dan bisa selamanya menunggu Hyerin di dunia ini, meski itu artinya tidak menjamin. Dan kesalahan terjadi, ternyata dengan melakukan perjanjian mendatangkan iblis dan umurku sebenarnya tidak abadi karena sejatinya aku memang bukan seorang dewa kematian." Untuk pertama kalinya Rai menceritakan semua. Dia tidak terlihat berbohong atau sedang mengarang cerita.
Gisya dibuatnya tercengang lagi sampai beberapa saat tidak bisa berkata-kata.
"Itu terdengar seperti jebakan saja. Lantas kau di beri waktu berapa lama?" Gisya semakin penasaran.
Rai tidak langsung menjawabnya. "Itu lumayan lama sebenarnya." Jawab Rai terlihat salah tingkah. "Sepertinya aku akan pergi sekarang." Ucap Rai tanpa menunggu persetujuan dia langsung menghilang.
Gisya hanya menggelengkan kepala. Sebenarnya dia ingin lebih lama lagi untuk bercerita tapi Rai langsung pergi saja. Tapi kabar baiknya dia sekarang sudah sedikit tahu tentang yang tidak diketahui orang lain. Dia sudah menuntaskan misinya. Kali ini dia hanya tinggal menunggu saja orang-orang datang dan akan menceritakannya.
Gisya sangat tidak sabar lagi. Dia memutuskan pergi dan mencari mereka ke tempat lain.
Saat berniat pergi dia terkejut melihat temannya sudah ada di tempat itu, kedatangannya membuat Gisya salah tingkah.
__ADS_1