Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Alasan


__ADS_3

Hyerin dan Rai dalam satu tujuan yang sama, keduanya pernah berharap untuk saling menemukan alasan. Rai ingin tahu alasan Hyerin tetap hidup dari ujian itu, begitupun Hyerin ingin melupakan Rai seutuhnya dengan cara dia mencari lebih banyak hal jika Rai di hadapannya adalah sesuatu yang sudah berbeda.


Dari satu hari yang sama, Rai dan Hyerin duduk di sebuah gedung yang tak biasa ada banyak manusia di sana, mereka hanya kebetulan. Namun petaka yang belum disadari terjadi. Pada waktu yang menerbangkan harapan setiap orang, angin berhembus sampai menyentuh perasaan Hyerin, namun tiba-tiba bencana datang, dimensi goyah, kaca bangunan berterbangan di depan mata berhamburan seperti hujan tanpa sebab yang diketahui. Akibatnya manusia yang berada dan tak berlindung dari apapun mati mengenaskan terbelah, tercabik.


Jeritan orang-orang seketika mengundang Hyerin dan Rai datang di hadapan manusia, keluar dari gedung itu menyaksikan kepanikan mereka. Dan sesuatu sudah berubah, orang-orang saling berteriak untuk menghentikan Rai dan Hyerin agar cepat berlindung dari hujan kaca gedung agar tak celaka. Awalnya Hyerin tak tahu jika peringatan itu adalah untuknya, tapi ternyata setelah dia mendapatkan luka rasanya seperti hidup kembali. Saat matanya beredar sekali lagi Hyerin yakin jika mereka, semua manusia dapat melihatnya dan memperingatkannya tanpa henti.


Hyerin berlari dengan semua kewarasannya saat itu, karena bukan hanya dia yang dimaksudkan tapi juga Rai.


Lantas apa yang membuat dirinya terlihat?


Suatu teka-teki yang tidak bisa ditebak.


#####


"Kau tahu apa artinya?" Tanya Rai was-was.


Hyerin menganggukkan kepala.


"Sebaiknya kita pergi sekarang!" Ajak Rai tanpa basa-basi lagi langsung membawa Hyerin pergi dari tempat itu.


Semua orang teralihkan karena peristiwa yang baru saja terjadi.


Sepanjang Hyerin berjalan perhatiannya tidak lepas dari sekelompok orang yang meninggal dan menjadi korban, tidak ada yang tidak mungkin dan kejadian ini menjadi kejutan baginya.


"Sekarang kita kemana?" Lamunan Hyerin buyar ketika Rai bertanya.


Hyerin berbalik memperhatikan Rai. Dia masih tidak sanggup bicara dan hanya bisa menggelengkan kepala.


Selain menjadi manusia yang terlihat Hyerin ragu jika dengan sosoknya sekarang membuat segalanya lebih mudah.


"Sial. Kita menjadi seperti ini? Apa yang sedang terjadi?" Gerutu Rai tampak frustasi, berbeda sekali dengan Hyerin yang masih tenang.

__ADS_1


"Kau sudah membuat rencana?" Tanya Rai yang tak berarti, menanyakannya sekalipun tidak membuat masalahnya berakhir.


"Kita harus tahu apa sebabnya, dan selain itu kita juga harus tahu apa resikonya." Rai manish tak berhenti tenang dia terus berbicara mengungkapkan apa yang terlintas dipikirannya.


"Teman-teman mu?" Timpal Hyerin saat Rai berhenti bicara.


Rai tak menanggapi dia hanya melihat Hyerin sekilas dengan perkataannya yang tak berarti itu.


"Benar, kita harus temukan mereka." Tapi tak lama Rai mengerti maksudnya.


Perjalanan selanjutnya adalah sebuah misi untuk menemukan teman-teman Rai, dan itu butuh tenaga yang lumayan selain karena mereka menjadi manusia keduanya tidak bisa cepat menemukan roh yang gentayangan pergi kemana saja.


Dari persimpangan jalan di sebuah taman kecil, Hyerin masih bingung dengan sikapnya apakah dia harus senang atau sebaliknya, dia tidak tahu apa artinya setelah menjadi manusia lagi.


Rai mungkin memiliki pemikiran yang sama, dari tadi Rai hanya bingung dan memperlihatkan sisi frustasi nya.


"Kita harus pergi kemana lagi? Sangat melelahkan." Keluh Rai dengan perjalanan yang menyita tenaga, dia tidak tahu jika akhirnya bisa merasakan lagi rasa capek sebagai manusia.


Saat keadaan memang sudah membuat keduanya putus asa, seseorang muncul di hadapan mereka. Seorang dewa kematian lain yang tiba-tiba datang untuk singgah.


Rai menaikkan sebelah alisnya, dari tatapannya dia seperti tengah bertemu dengan orang yang tidak asing lagi.


"Kau terkena kutukan ya? Akhirnya menjadi manusia lagi." Celotehnya dengan nada meledek.


Rai tidak menjawab meski dia sangat penasaran.


"Kutukan? Apa aku juga terkena kutukan?" Tiba-tiba Hyerin berbicara pada roh dewa kematian itu.


"Kalian berdua benar-benar bernasib sial. Coba pikirkan apa kalian sudah membuat sesuatu yang merugikan sampai dikutuk menjadi manusia lagi?" Bagaikan yang tahu segalanya orang itu berbicara tanpa ragu.


"Sudah, apa urusan mu? Cepat pergi!" Tanpa basa-basi dari sikapnya Rai tampak tak begitu senang dengan kedatangan roh itu, ada tatapan benci.

__ADS_1


"Tunggu, aku ikut dengan mu!" Tiba-tiba Hyerin membuat kemarahan Rai menjadi.


"Tidak... Tidak. Kau tidak bisa seenaknya pergi dengan orang sepertinya. Memangnya kau mau pergi kemana?" Rai tak terima langsung mencegahnya.


"Kau malang sekali, bahkan kekasihmu akhirnya ingin meninggalkan mu juga kan? Sudahlah, Rai." Ejeknya dengan tatapan puas.


Rai langsung menarik tangan Hyerin paksa.


"Apa yang kau lakukan? Aku akan pergi!" Ucap Hyerin tak terima.


"Kau manusia memangnya masih bisa pergi dengan roh seperti dia?" Sergah Rai beralasan.


Hyerin diam lagi, sebenarnya tadi dia lupa jika dia adalah manusia saat ini.


"Tentu saja seorang perempuan bisa ikut dengan ku. Kau bisa melakukannya!" Cegah lelaki itu yang baru saja merasa senang dengan perkataan Hyerin.


"Tidak, dia tidak bisa mati di tanganmu Sudah pergi sana!" Ucap Rai dengan emosi dan sebisanya mempertahankan Hyerin.


Mendengar penjelasan Rai dan kata-kata mati langsung terngiang dipikirannya, entah mengapa setelah menjadi seorang manusia Hyerin takut akan arti kematian itu. Spontan Hyerin bersembunyi ketakutan.


"Sudah ku bilang, tidak ada yang akan mati di tangan mu. Selamanya kamu itu hanya dewa kematian yang tak berguna. Pergi saja sebelum kau malu!" Dengan percaya dirinya dan perasaan yang puas Rai menghardik lelaki itu, sangat beruntung karena Hyerin mau mendengarkan dirinya.


Tak lama setelah perdebatan roh dewa kematian itu pun pergi tanpa bisa bicara.


"Sudah pergi juga." Sebut Rai merasa lega


"Kau jangan bodoh seperti itu, ingat kau sekarang manusia. Kematian itu sangat menyakitkan bagi manusia." Terang Rai. Meski Hyerin tak menjawab apapun tapi dia mengerti maksud Rai dan tak lagi berniat untuk pergi seenaknya dengan seorang roh.


Mata Hyerin bingung, beredar ke semua di sekelilingnya. Apa dia bisa hidup lagi menjadi manusia? Tapi bukan itu masalahnya, masalah terbesar adalah alasan dia menjadi manusia sebenarnya untuk apa?


"Kita pergi lagi!" Ucap Rai mengajak Hyerin.

__ADS_1


Hyerin mendongak menatap Rai yang sudah berdiri siap untuk pergi, dia ingat jika tujuannya sekarang adalah mencari teman-teman Rai. Pasti ada sesuatu yang berguna dan dapat dipercaya jika bertanya pada mereka. Untuk sementara Hyerin akan tetap ikut dia tidka mungkin pergi sendirian.


__ADS_2