Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Informasi baru


__ADS_3

"Padahal niatku sudah baik. Menemui mereka baik-baik dan mengatakan semuanya dengan jujur. Lalu apa yang salah?" Protes Hyerin yang tidak pernah diam melampiaskan kekesalannya.


Di sepanjang jalan yang masih menampakan pemandangan yang sama. Saat mendekat ke arah kursi taman dia segera berlari mempercepat langkahnya dan duduk di kursi itu dengan ekspresi yang jengkel. Sesaat tidak memperhatikan Rai yang selalu setia berdiri dekat dengannya.


Saat berbalik matanya langsung menangkap Rai yang saat itu juga sedang memandanginya. "Semua salahmu." Tuduh Hyerin masih jengkel.


Rai langsung merubah ekspresinya, matanya melongo menatap Hyerin. Namun tidak lama dia langsung berubah lagi. Tidak peduli jika Hyerin sudah sangat kesal ditambah dengan sikap dirinya yang akan semakin menambah kekesalan Hyerin.


Mendapati Rai yang tidak bereaksi seperti biasa semakin membuatnya kesal, namun tidak ada kekesalan yang bisa dilampiaskannya lagi karena percuma saja Rai akan tetap bersikap seperti itu.


Aroma angin di musim dingin tiba-tiba melintas ke Indra penciumannya. Hingga membuat Hyerin terperanjat heran, ketika memalingkan perhatian dia melihat suasana yang sudah berubah semuanya. Rasa takjub yang terpancar dari wajahnya saat itu menggambarkan bagaimana ekspresi pertama ketika melihat sesuatu yang baru.


"Hyerin. Hyerin." Panggilan itu berhasil kembali menarik kesadarannya.


"Ternyata hanya mimpi." Ucapnya dalam hati ketika Hyerin menatap wajah di depan wajahnya. "KAU?" Sambil membentak kaget Hyerin mendorong tubuh lelaki uang sudah membuatnya kesal.


Rai hanya meringis singkat, tubuhnya dengan enteng terhempas hingga jatuh ke tanah.

__ADS_1


Hyerin masih tidak memperdulikan, dengan wajah angkuh mengangkat wajahnya tinggi, berdiri di hadapan Rai yang terduduk di tanah, hingga berjalan melewatinya dengan begitu saja.


Aksi balas dendam yang sudah bisa membuatnya sedetik saja merasa puas. Hyerin tersenyum sendiri mengingat Rai sampai terjatuh karena ulahnya.


Sekali lagi dia sudah ceroboh, karena terlalu asyik sendiri dengan perbuatannya pada Rai membuat dia lupa sudah berjalan jauh hingga membawanya ke kerumunan. Seketika ekspresinya berubah lagi. Pertama dia melihat satu orang menatapnya aneh, kemudian dia melihat orang kedua, ketiga, hingga banyak orang yang memandanginya dengan cara yang sama. Hyerin sangat gugup, untuk sejengkal melangkah pun terasa berat, apalagi ketika dia menunduk pun pikirannya masih membayangkan ekspresi orang-orang yang sudah dilihatnya tadi.


Di sepanjang jalan Hyerin menundukkan wajah, tidak peduli dengan semua di sekelilingnya, karena yang terpikirkan kini hanya bayangan wajah orang-orang yang membuatnya sangat takut. Untuk sekarang dia mengerti seperti apa tempatnya di mata orang-orang, sudah jelas tidak ada satupun orang yang akan memandanginya dengan tatapan hangat dan ramah. Hingga kakinya berhenti. Matanya melotot melihat warna sepatu yang menghadap ke arahnya. Orang yang berdiri sudah menghalangi arah berjalannya saat itu, artinya Hyerin harus melewati orang yang tak dikenalinya dengan jarak sedekat ini.


Hyerin masih tidak mengubah posisi wajahnya yang menunduk. Dia berusaha melewati orang di depannya saat itu, namun setiap kali melangkah ke kanan maka sepatu yang dilihatnya juga melangkah ke arah yang sama hingga beberapa kali. Kejadian yang sangat membuatnya kesal. Siapa yang berani mempermainkannya lagi? Pikirnya kesal.


Dengan sekaligus Hyerin mengangkat wajah menerawang siapa yang berani menghalangi jalannya lagi.


"Kau disini. Ternyata di sini." Ucapnya senang, sesegera mungkin menarik lengan Hyerin yang masih larut dalam perasaannya. Tidak percaya jika dia bisa bertemu lagi dengan orang yang sama tanpa disengaja. "Kenapa masih bengong? Ada yang ingin ku katakan." Ucapnya berusaha membuyarkan pikiran Hyerin agar segera fokus padanya. Namun berhenti, sekilas wanita itu melihat Rai yang tidak jauh jaraknya. Spontan dia menjadi pendiam. Menarik mundur dirinya perlahan dan membuang wajah dengan berbalik memunggungi Hyerin.


Sikap yang sangat aneh, Hyerin mendapati perempuan yang ada di depan matanya dengan tatapan heran. "Apa yang tadi kau katakan? Ulangi lagi!" Pinta Hyerin. Pernyataannya tidak digubris, wanita itu diam dan hanya melambaikan satu tangan seperti memberi sebuah isyarat lagi. Hyerin mengikuti jari tangannya yang menunjuk pada satu arah, tepat di belakang tubuhnya. Dengan perlahan matanya bergerak mengikuti arah yang ditunjukkan hingga matanya terhenti dengan tatapan yang tidak asing bagi Hyerin. "Rai!!" Ucap Hyerin sangat terkejut.


Tidak bisa percaya jika orang yang sedang berdiri di hadapannya adalah Rai, padahal dia sudah meninggalkan Rai jauh entah dimana, kini Rai sudah ada saja di depan matanya.

__ADS_1


Sikapnya menjadi gugup, terlihat dari tingkah Hyerin yang berusaha membuat wanita yang ada di hadapannya itu segera membalikan wajah dan melihat ke arahnya.


Hyerin terus berusaha mengedipkan mata berharap wanita yang ada di hadapannya bisa mengerti dengan isyarat yang dia maksudkan. Tapi kenyataannya tidak semudah itu, wanita di hadapannya hanya menonton Hyerin yang berusaha mengungkapkan sesuatu tanpa mengerti. Hyerin kesal, dengan berani dia melangkah maju dan membisik di telinga wanita itu bahkan tidak peduli jika Rai sudah mengawasi ke duanya. "Ayo kita pergi bersama. Jangan hiraukan Rai!" Ucap Hyerin membisik. Mendengarkan perkataan Hyerin wanita itu hanya melongo tanda tidak percaya. Sekilas matanya melihat ke arah Rai dan segera kembali menatap Hyerin yang masih menunggu. Tanpa aba-aba wanita itu menarik Hyerin dengan sigap dan mulai berlari dengan sangat susah payah. Dia melihat ke arah belakang kepada Resi yang juga mengejarnya. Tidak peduli dengan tindakannya wanita itu lebih semangat membawa Hyerin hingga bisa menjauh dari Rai, seperti ada sesuatu yang penting dan ingin dikatakannya tanpa ada Rai.


Sebuah belokan dari gedung yang menyisakan jeda antara dua gedung di depannya. Sangat sigap wanita itu menarik Hyerin ke samping dan segera menundukkan tubuh di balik reruntuhan yang cukup membuat mereka berdua tidak terlihat. Perasaannya mulai tidak bisa terkontrol, merasa sangat takut jika Rai masih bisa menemukan keduanya di tempat itu. Setelah cukup lama berteduh dan bersembunyi di balik reruntuhan, wanita itu melihat ke arah Hyerin dan menganggukkan kepalanya tanda jika keadaan sudah aman tidak ada Rai lagi. Hyerin segera berdiri dengan senang. Wajahnya terlihat ceria, namun saat pandangannya menatap ke arah lain tiba-tiba perhatiannya terhenti lagi. Spontan mulutnya bungkam seperti terkejut dengan sesuatu yang dilihatnya itu.


"Rai." Matanya membulat merasa jika aksinya sudah sia-sia.


Wanita yang ada di dekatnya juga bereaksi sama.


Akhirnya harus putus asa juga, dan mengakui jika usahanya sudah gagal. Keduanya hanya saling membalaskan pandangan dengan malas. Kegagalan yang sangat jelas menampar dirinya sendiri.


"Berlari kabur saja terus." Omel Rai yang sudah dekat menghampiri. Terlihat wajah kesalnya juga.


Dengan kompak Hyerin dan satu wanita di dekatnya langsung memalingkan wajah tidak menanggapi perkataan Rai, keduanya saling berjabat tangan dan kembali berjalan dengan santai di hadapan Rai.


"Padahal aku harus segera memberitahunya dengan cepat. Bahwa Hyerin itu belum mati dia hanya koma di rumah sakit." Gumamnya dalam hati yang membuat dia resah karena masih belum ada kesempatan untuk mengatakannya. Matanya hanya sesekali melihat ke arah Hyerin. Perasaan gugupnya tidak dapat disembunyikan, bahkan ketika dia berusaha ingin memanggil Hyerin beberapakali. Tapi gagal, mulutnya seperti terkunci, mungkin karena keberadaan Rai juga yang mempengaruhi maksudnya itu. Ada satu asumsi yang mengganggu pikirannya, apakah selanjutnya jika dia mengatakan kebenaran itu buka. sesuatu yang salah? atau hal yang tidak diinginkan oleh Rai?

__ADS_1


Hyerin tidak bisa diam, dia seperti mengerti dengan perasaan wanita yang ada di sebelahnya ketika terus memandanginya dengan gugup. "Ada yang ingin kau katakan?" Tanya Hyerin segera menghentikan kakinya.


Mendengar pertanyaan Hyerin wanita itu masih terdiam dan terlihat tidak menyangka jika Hyerin akan bertanya dengan pertanyaan seperti itu. Dia sedikit berpikir. "Tidak ada. Benar tidak ada." Ucapnya segera menjawab pertanyaan Hyerin, dengan sedikit tersenyum namun masih tidak bisa menutupi kebohongannya saat itu.


__ADS_2