Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Tragedi sekolah


__ADS_3

Yora sedang berjalan dengan santai menuju keluar kelas saat itu, niatnya ingin pergi ke kamar mandi. Namun langkahnya dengan sigap cepat terhentikan saat seorang guru tepat di hadapannya berjalan tergesa-gesa tanpa memperhatikan ke arahnya. Membuat Yora penasaran, matanya mengikuti guru itu yang langsung masuk ke ruangan. Karena penasaran dia memutuskan untuk menguping.


"Pak Kim! Pak Kim!" Terdengar sebuah teriakan yang menyebutkan nama guru BK di sekolahnya.


"Aku sampai merinding melihat Yerin." Ungkapnya yang membuat Yora semakin penasaran saat nama sahabatnya disebut.


"Hyerin maksudnya?" Tanya seorang lelaki yang bisa ditebak jika itu adalah suara Pak Kim.


"Pak Kim sudah pernah mendengar kabarnya kan?" Terdengar Guru itu mulai menjelaskan.


"Hyerin baru pulih dari koma?" Tebak Pak Kim.


"Tidak mungkin kan jika benar-benar manusia bisa koma sampai satu tahun? Itu seperti cerita di film-film horror." Guru itu jika didengar lebih jelas lagi seperti Bu Sely. Yora menebaknya karena suara yang terdengar tidak asing lagi.


"Ah mungkin saja. Bu Sely ini sebenarnya ada masalah apa?" Tanya Pak Kim terdengar mulai penasaran.


"Pak Kim ini pasti tidak percaya. Yerin anak itu pasti bukan dirinya." Nada suara Bu Sely terdengar was-was ditambah dengan suara napas yang terdengar berat.


"Dia itu seperti kerasukan Pak Kim. Pokoknya itu seperti di film-film. Seperti Yerin!" Ucap Bu Sely terdengar yakin.


"Ah Bu Sely ini saya kira apa. Wajar saja mungkin Hyerin masih ada sedikit masalah karena dia kan baru saja pulih dari koma."


"Pokoknya bukan seperti itu Pak!" Cela Bu Sely terdengar tidak terima dengan jawaban Pak Kim.


"Sudah Bu, mohon dimaklumi saja Hyerin baru sembuh. Jika saja ada yang tidak sesuai jangan terlalu dianggap masalah.


"Pak Kim! Pak!" Terdengar teriakkan lagi dari arah pintu yang membuat Pak Kim dan Bu Sely menghentikan obrolannya. Termasuk Yora yang setengah mati kaget karena ada siswa yang langsung saja memasuki ruangan dengan panik.


Pak Kim langsung melihat ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Hyerin! Dia pingsan." Jelasnya.


Yora yang mendengar dari arah belakang langsung khawatir juga saat mendengar kabar Hyerin disebut. Dengan spontan Yora berlari menuju kelas yang tidak jauh dari tempat itu diikuti dengan pak Kim dan Bu Sely.


Perasaan paniknya semakin terlihat saat kedua matanya langsung menyaksikan Yerin yang sudah berusaha dibangunkan oleh beberapa orang di kelasnya. Pak Kim cepat membawa Hyerin ke ruang UkS di sekolah sebelum memutuskan membawanya ke klinik. Yora tidak bisa terus berdiam diri mengingat Hyerin masih lemah dan dia takut jika sesuatu yang buruk bisa terjadi.


Yora berlari ke arah kelas dia akan menemui Rei dan meminta Rei untuk mengantarnya menemui ibu Hyerin yang sudah pergi ke tempat kerjanya.


"Rei ayo cepat kita pergi sekarang!" Pinta Yora terlihat panik.


Rei tidak cepat menjawab. Dia malah terusq memandangi Yora yang setengah mati panik sampai tidak bisa menyampaikan kata-kata nya dengan benar.


"Aku tidak mendengar apapun!" Ucap Rei menggoda Yora dengan candaannya.


Yora tidak bisa mengatakan apapun lagi selain menarik tangan Rei tanpa basa-basi. Rei yang terus mempermainkannya saat itu merasa sangat antusias apalagi ketika melihat Yora yang semakin panik dan terlihat hampir menangis karena memohon mengajaknya pergi yang tidak diindahkannya juga.


"Yerin pingsan!" Ucap Yora dengan nada kesal.


"Hyerin pingsan!" Ucap Yora kedua kalinya yang terlihat sudah capek dengan candaan Rei di waktu yang tidak tepat.


Karena kesal Yora membalikan wajahnya dan berjalan ke arah pintu tidak menghiraukan Rei.


"Kamu mau pergi kemana? Dimana Hyerin?" Tanya Rei balik terdengar khawatir.


Yora tidak menjawab karena dia masih kesal setelah Rei sudah mempermainkannya.


"Yerin pingsan! Puas?" Bentak Yora dengan kesal saat Rei terus menghalangi jalannya.


"Ayo pergi!" Ucap Rei seperti tidak terpengaruh dengan sikap Yora yang sudah kesal karena ulahnya. Rei langsung menarik tangan Yora tanpa basa-basi lagi, dia bahkan setengah berlari sambil menarik tangan Yora yang terlihat kesulitan berjalan.

__ADS_1


"Mau kemana?" Dengan susah payah Yora menghentikan Rei yang sudah menariknya paksa sampai akhirnya berhenti berjalan.


"Ke UKS kan? Yerin di sana." Jawab Rei dengan enteng.


Yora sedikit tercengang karena Rei bisa menebaknya, tapi memang secara masuk akalnya jika orang sakit pasti dibawa ke UKS. Dengan perasaan yang masih sedikit kesal Yora mencoba berlari mengimbangi langkah Rai.


"Hyerin! Hyerin!" Teriak Rei lebih khawatir dari Yora saat memasuki ruang UKS. Namun terlihat di sana hanya beberapa siswa tanpa ada siapapun lagi termasuk Hyerin yang dicarinya.


"Itu baru saja dibawa ke ambulan sekolah." Jawab salah satu orang yang ada di sana.


Rei langsung mengambil langkah sigap. Tapi saat melihat ke arah gerbang sekolah dari kejauhan terlihat mobil ambulan sudah melaju ke luar. Pasti tidak mudah dikejar lagi.


"Oh ia kita temui langsung Ibu Hyerin." Saran Rei sambil mengatur napasnya yang susah karena terlalu capek terus berlari dari tadi. Apalagi Yora bahkan dia tidak bisa menjawab perkataan Rei.


Sedikit saja Yora tidak bisa merasa lega untuk bernapas karena lagi-lagi Rei menariknya berlari menerobos gerbang sekolah yang masih terbuka saat itu, sedangkan satpam sekolah yang sedang mengobrol baru menyadari Rei dan Yora keluar sekolah, membuat satpam dengan susah payah mengejar keduanya yang lebih unggul berlari. Dengan terpaksa Yora mengikuti tindakan Rei yang sudah kabur dari sekolah. Seharusnya Rei tidak senekat itu tapi kali ini bukan saatnya untuk protes, yang harus dilakukan Rei dan dirinya hanya bisa berlari sejauh mungkin dari kejaran satpam. Sampai di jalan raya Rei mencoba menghentikan sebuah angkutan umum yang lewat di jalanan. Beruntung ada satu angkot yang lewat dan keduanya bisa lolos dari kejaran satpam itu.


Yora baru bisa menarik napas dan mengatur napasnya yang mulai kesulitan karena dia terus berlari sedari tadi. Matanya sedikit mengintip ke arah Rei di sampingnya yang terlihat sangat panik.


"Pak di depan!" Ucap Rei tidak lama saat mereka naik angkot itu. Yora tercengang dengan tindakan Rei.


"Mau kemana Rei?" Tanya Yora yang terlihat heran.


"Kemana lagi? Ibunya Hyerin kan?" Jawab Rei singkat dan langsung menarik tangan Yora menyeberang jalan.


Yora hanya tercengang karena sikap Rei yang cekatan. Dia tidak menyangka jika Rei lebih cepat bertindak dan berpikir dari nya. Padahal Rei selalu tidak bisa, tidak nyambung jika diajak untuk mengerjakan sesuatu dengannya. Tapi kali ini Rei lebih inisiatif.


"Ibu nya Hyerin ada di tempatnya di sebelah mana?" Tanya Rei tiba-tiba.


Lagi-lagi Yora terperanjat dengan pertanyaan itu.

__ADS_1


"Oh. Itu. Di sana di ujung tempat ini." Jelas Yora yang langsung membuat Rei cepat bertindak.


__ADS_2