Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Rindu


__ADS_3

Orang mengatakan tempat teraman dari dunia ini adalah tempat pertama kali seseorang tersadar. Bukanlah tanpa alasan kenapa setiap pergantian waktu seseorang akan langsung dibawa ke tempat pertamanya, hal tersebut pun sudah dirasakan Hyerin ketika dirinya berada pada tempat yang berbeda ketika waktu berganti secepatnya dia dialihkan ke tempat semula.


Tentang waktu yang mengatur pergantian dua dunia pada satu dentuman suara jam orang akan diberi penglihatan dengan dunia roh dan pada satu waktu suara dentuman jam ke dua dunia roh hilang digantikan dengan dunia lain tempat manusia hidup.


Pergantian waktu sangat penting untuk menjaga keharmonisan 2 dunia yang berbeda, agar setiap yang hidup bisa damai dan diatur dengan aturan yang ada.


Seorang manusia yang memiliki kemampuan bisa melihat roh tak terlihat oleh mata, bahkan bisa berkomunikasi atau melakukan hal lainnya. Hal tersebut tidak melanggar selagi tidak ada yang dirugikan oleh ke duanya.


Dan para roh hidup di dunia tanpa batas sebagai roh penasaran, roh yang belum tuntas urusannya sebagai satu tantangan bagi dewa kematian agar secepatnya bisa membawa kembali ke jalan selanjutnya, jika tidak kehidupan dewa kematian dipertaruhkan, semakin lama roh tinggal di dunia tanpa batas maka semakin sedikit waktu yang tersisa bagi dewa kematiannya.


Dewa kematian setiap orangnya berbeda-beda, sebagaimana yang sudah diterima Hyerin dari informasi yang dia dapatkan. Bagi semua roh tidak bisa sembarangan melihat wujud dewa kematian lain, hanya roh itu sendiri yang memiliki hubungan langsung maka dapat melihat dewa kematiannya, sedangkan yang lain tidak akan pernah bisa.


Selain dari informasi itu Hyerin belum menemukan hal lainnya. Seorang guru dari sekolah menyarankan Hyerin untuk lebih lama tinggal di sekolah, karena mungkin di luar sana semua roh hampir mencari identitasnya. Begitu pun jika Hyerin dikenal sebagai pasien dari kamar 13 dia akan langsung dijauhi dan mendapatkan sikap yang tidak adil dari orang-orang.


Dari pertigaan pusat kota Hyerin melihat lagi ke arah taman kota di seberangnya, penglihatannya pun langsung tertuju ke tempat ketika dia pernah menemui seorang wanita renta yang sudah menceritakannya banyak hal. Namun dalam pencarian dia tidak menemukan orang yang dimaksudkan. Pikirannya langsung memutar ingatan bagaimana guru itu memberitahunya bahwa Desy juga menghilang dan diperkirakan karena ulah salah satu dewa kematian yang entah siapa karena belum ada bukti yang bisa membenarkan.


Hyerin menundukkan kepala dengan lemah, dia hanya merasakan bersalah karena kehadirannya semua orang ketakutan, karena kehadirannya pun satu persatu orang-orang hilang. Padahal dia tidak ingin lagi dihadapkan oleh masalah yang sama, yang dia perlukan hanya mencari satu petunjuk yang akan membawanya ke tempat yang bisa mengingatkan kembali tentang kematiannya. Bukan masalah yang selalu didapatkan.

__ADS_1


Hyerin pergi ke arah taman kota. Dari bangku taman dia duduk sambil menyaksikan semua orang yang hidup melakukan aktivitasnya. Perhatiannya segera teralihkan ketika satu keluarga yang terdiri dari anak, ayah, dan ibu berjalan melewati posisi duduknya. Tak terasa air mata menetes, yang terbayangkan sekarang adalah keluarganya dulu. Dia sebenarnya sangat merindukan suasana itu, hidup bersama keluarga yang selalu bersikap tulus meskipun sebaliknya Hyerin yang tidak pernah bersikap baik. Sekarang sebagai akibatnya rasa penyesalan datang bertubi-tubi menyiksa batin, Hyerin harus merasakan sesak saat menahan tangis yang begitu saja terisak karena kerinduannya yang sudah sangat lama tidak bisa melihat keluarganya sendiri meskipun sekarang dia adalah roh. Terlebih dia tidak mempunyai kemampuan dan tidak bisa memikirkan cara bagaimana dirinya bisa pergi ke tempat yang sangat dia inginkan, dunia yang ditempatinya sekarang pun dia tidak tahu dan sangat tidak dipahaminya bisa serumit ini.


Tak terasa waktu semakin membuatnya frustrasi, hatinya tidak tahan lagi kemudian Hyerin terisak dalam keramaian yang tidak akan pernah ada satupun orang menyadari keberadaannya saat itu, bahkan dia tidak bisa dilihat sekalipun oleh orang indigo. Dia tidak mengerti tentang kejelasannya, guru yang ditemuinya di taman juga tidak menyinggung kan hal tersebut.


Tanpa Hyerin sadari sejak dia pergi dari taman menemui seorang guru lalu pergi ke tempatnya dan kembali lagi ke jalan, seorang lelaki yang selalu mengikuti Hyerin tidak pernah absen satu hari pun jauh dari dirinya. Pergi sejauh Hyerin membawa dirinya ke setiap tempat.


Semua roh yang melihat kedatangan lelaki tersebut langsung merasa segan, terutama ketika lelaki itu terang-terangan berjalan dan mendekat ke arah Hyerin. Awalnya roh yang lain langsung menatap ke arah mereka berdua, tapi dengan segera semua roh yang memperhatikan bersikap seperti tidak menyadari keberadaan lelaki itu.


Bangku taman yang setengah renta mulai berderit dan bergerak saat tubuh lelaki itu langsung mengambil posisi duduk tanpa memperhatikan Hyerin di sampingnya. Kepekaan Hyerin saat merasakan kehadiran orang lain segera menarik kesadarannya dan menghentikan tangisnya itu.


Hyerin sedikit mengintip dan mendapati seorang lelaki yang sama yang selalu bersikap dingin sudah duduk di sampingnya. Setengah berteriak Hyerin mengungkapkan rasa terkejutnya saat itu, sesaat sebelum dia mengenali lelaki dingin berekspresi datar tengah duduk santai dan tidak memperhatikan ke arahnya, bahkan setelah Hyerin bereaksi lelaki itu masih tetap bersikap dingin.


Hyerin segera memperbaiki posisi duduknya dan beberapa saat bersikap biasa saja untuk mengimbangi sikap lelaki itu yang masih tak mengacuhkan nya.


Namun akhirnya Hyerin menyerah, dengan sigap dia berdiri dan segera meninggalkan tempat. Awalnya dia berjalan, namun setelah melihat lelaki itu yang kemudian berdiri membuat Hyerin mempercepat pergerakan kakinya. Dia berlari menghindari kejaran lelaki itu yang sudah diduganya pasti akan mengikutinya juga. Wajah nya menoleh ke arah belakang, dan mendapatkan lelaki itu yang masih santai dan tajam memandangi Hyerin, hal tersebut semakin membuat Hyerin pergi dengan cepat ke sembarang arah, sebelum akhirnya Hyerin memutuskan untuk pergi ke tempatnya di rumah sakit karena Hyerin teringat dengan kata-kata dari guru yang ditemuinya bahwa tempat teraman bagi semua roh adalah tempat asalnya dia terbangun ke dunia ini. Sesuai inisiatif itu Hyerin terus mempercepat langkah kakinya lagi, menghindar dari kejaran seseorang yang terus mengikutinya.


Dari kejauhan dia sudah tidak melihat lagi sosok lelaki itu, sedikit dia merasa lega namun tidak mempengaruhi nya untuk terus bergerak maju lebih cepat.

__ADS_1


Dia merasa ada sesuatu yang janggal dari sikap lelaki itu, lelaki yang sering ditemui di tempatnya dan selalu bersikap dingin. Hyerin menghentikan langkah kaki nya. Di depannya sangat banyak kerumunan orang, termasuk kerumunan roh lainnya. Hyerin merasa tidak mungkin bisa lolos dari roh lainnya itu, dia memikirkan cara untuk kembali. Dan sayangnya tidak ada satu pun cara yang muncul selain jalan di depan yang hanya bisa dilaluinya itu.


Dengan terpaksa Hyerin melangkahkan kakinya nya yang gemetar melewati orang-orang. Tubuhnya terhuyung bahkan wajahnya terus menunduk hingga bisa disembunyikan dengan hati-hati.


Tiba-tiba tangan seseorang langsung menyambut dan menarik tangannya hingga wajahnya menengadah, matanya membulat melihat lelaki yang dihindarinya malah menyeret tangan dan tubuhnya melewati orang-orang. Hyerin tidak bisa berekspresi dan bereaksi lagi, tubuhnya kaku saat merasa tangan besar yang merangkul tubuhnya. Setengah diseret Hyerin berjalan dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari lelaki itu, dia tidak bisa memperhatikan semua mata yang lain sedang melihat ke arahnya. Dan bagaimana semua tanggapan orang-orang.


Sepanjang ingatannya yang tanpa sadar Hyerin sudah melewati orang-orang tadi. Ketika lelaki itu berhenti membuat kesadarannya kembali dan segera melepaskan diri dari lelaki yang masih menahan tangannya. Dia sangat kesulitan dan tidak mengerti mengapa lelaki yang ada di hadapannya tidak membiarkan dirinya untuk lolos. Di tengah usahanya yang masih tidak berhasil Indra pendengarannya menangkap suara tak asing dan berhasil menghentikan Hyerin. Perlahan wajahnya bergerak ke arah sumber suara. Kali ini dia melihat pemandangan yang berbeda, dia melihat suasana kelas dan kedua temannya. "Yora, Rey" Matanya membulat melihat ke dua orang di hadapannya. Hyerin tidak percaya jika dia bisa melihat ke dua orang sahabatnya itu.


Dalam bungkam Hyerin berjalan mengikuti nalurinya, rasa rindu yang sudah lama dan lebih lama tersimpan, rindu dengan semua tempat di masa hidup yang sudah ditinggalkannya lebih dulu, batin yang tersiksa ketika hati dan pikiran yang tercipta karena rindunya yang tidak pernah bertamu, setiap waktu bahkan di semua kondisi dalam keadaan sadar dan tak sadar yang seluruhnya menyuguhkan tentang rindunya, dalam satu detik pun tak peduli, sesingkat apapun waktunya ketika melihat kedua wajah yang selalu diimpikan akhirnya hadir di hadapannya dengan sosok utuh yang tidak pernah bisa tersentuh.


Hyerin menangis sejadinya melihat ke dua orang yang sangat sedih, murung, suatu ekspresi yang tidak pernah dikenalinya. Hatinya tak sanggup melihat ke dua sahabat dalam keadaan yang tidak pernah diharapkan. Hatinya seperti sudah remuk hancur tidak berkeping, menemui teman semasa hidupnya yang sudah sekian lama waktu memisahkan. Walaupun sekarang adalah kesempatan terakhir Hyerin tidak memperdulikannya, dia hanya ingin tahu bagaimana keadaan semua teman di masa hidupnya dulu.


Tangan samar mencoba mendekat ke arah orang yang ada di hadapannya, namun matanya sangat penuh kecewa dia melihat tangan samar itu tidak bisa menyentuh apapun lagi. Dalam keadaan masih terisak seluruh pikirannya tidak bisa terkendali, yang dia lihat, yang dia dengar seluruhnya hanya tentang kerinduannya. Kali ini penantian panjang dan penyesalan menjadikannya tidak bisa bernapas, sesak yang tidak pernah bisa ditahannya lagi. Semuanya larut dalam tangis yang semakin menjadi-jadi. Hyerin menangis tak hentinya karena dia tahu tidak akan ada satu orang pun yang memperhatikan selain roh lain yang melihatnya.


Kali ini tatapannya yang sendu mata yang memerah berbalik memandangi seorang lelaki tak acuh dan tidak pernah membalaskan pandangannya itu. Hyerin mengerti, lelaki tersebut yang sudah membawanya ke tempat ini, lalu matanya kembali mengisyaratkan memohon ada yang ingin dia temui yaitu adalah kedua orang tua nya, Ibu sebagai orang kedua di dalam hidupnya.


Dalam hatinya tak berhenti memohon, namun lelaki itu masih tak berkutik dan kembali menghancurkan harapannya. Hyerin dengan tekad dan kekuatan baru dia akan melakukannya sendirian, menemukan rumahnya dulu yang tidak jauh dari seberang sekolah.

__ADS_1


Kakinya berlari dengan cepat melewati setiap ruangan kelas di sekolah tersebut, ada harapannya di depan sana, dia hanya perlu sedikit sabar dan meraihnya. Walau kenyataannya dia tidak pernah sabar untuk menemui satu orang lagi yang tersisa dan sangat penting baginya.


__ADS_2