
Suara jam membuyarkan perhatian Hyerin yang masih tidak bisa fokus. Kesadarannya yang sudah membawa dia ke tempat biasa kali ini sedikit berbeda. Jauh di dalam hatinya Hyerin tidak bisa tenang. Dia takut namun tidak bisa berkutik sedikitpun. Akhirnya keputusan besar membuat keberanian untuk segera keluar dari gedung ini.
Hyerin yang tidak bisa mengusir rasa takutnya terlihat sangat cemasnya lari keluar dari pintu dengan mata yang tidak pernah diam membagikan penglihatannya ke semua arah. Dari edaran penglihatan nya dia masih aman tidak ada satupun orang begitu juga dengan perasaannya yang tidak merasakan reaksi sama seperti waktu itu.
Ditarik napasnya dalam-dalam saat dia berhasil keluar gedung dengan mulus. Sejauh ini sudah sesuai dengan rencana. Saat menarik wajahnya melihat ke bagian depan dia langsung terperanjat ketakutan, matanya melotot melihat Rai yang berdiri dengan tajam menatap ke arahnya. Setengah berteriak Hyerin menggambarkan rasa kagetnya itu.
"Dari mana saja?" Tanya Rai terdengar dingin.
Hyerin masih tidak bisa menjawab langsung, dia masih berusaha memperbaiki cara bernapas nya itu. "Aku pikir siapa." Ucapnya yang masih berusaha mengatur napas. Hyerin tidak melepaskan penglihatannya ke arah Rai yang masih berdiri.
Rai tidak menjawab, dia memilih melewati Hyerin untuk masuk ke dalam gedung.
Hyerin terlihat lebih kaget lagi, dengan gerakan spontan dia menahan Rai. "Jangan. Jangan masuk." Ucapnya langsung meyakinkan.
Rai hanya terlihat diam tidak menjawab. Langkahnya mundur dan menatap Hyerin dengan penuh tanya. "Kenapa?" Tanyanya singkat.
"Tidak ada." Jawab Hyerin langsung memalingkan wajah dan melepaskan tangannya. "Ah itu, aku ingin keluar lagi ada urusan." Sambung Hyerin yang terdengar mengada-ada. Sikapnya yang gugup pasti sudah disadari Rai.
Rai tidak membalas perkataanya. Dia menarik lengan Hyerin dan membawanya menjauh dari gedung seperti yang dikatakan oleh Hyerin bahwa dia tidak ingin masuk lagi ke dalam gedung.
Hyerin hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Namun perasaan gugup masih jelas dia rasakan. Dia tidak bisa melepaskan diri dari Rai sekedar menarik lengan tangannya. Dia hanya terdiam mengikuti Rai.
"Sekarang mau pergi ke arah mana?" Tanya Rai.
Pertanyaan Rai seperti mengejutkan lagi, hatinya selalu merasakan kaget dan gugup ketika Rai balik bertanya padanya. "Apa?" Ucap Hyerin sampai menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Rai hanya menatapnya aneh.
"Oh itu. Kita pergi ke tempat itu saja!" Sambil menunjukkan arah. Sambungnya ketika menyadari tatapan Rai yang mungkin dalam pikirannya melihat dia dengan sikap yang tidak biasa.
Keduanya kembali berjalan searah dengan jalan utama yang akan membawanya ke alun-alun kota.
Di sepanjang jalan Hyerin terlihat sangat berusaha mengatur napasnya agar lebih tenang lagi. Dan juga dia berusaha mengumpulkan pikirannya agar tetap fokus tidak terlihat seperti orang gugup yang memalukan.
Pemandangan seperti biasanya. Dia melihat semua tidak ada yang berubah, masih terkesan usang dan seperti satu kota yang sudah terbengkalai. Beberapa kali dia berpapasan dengan roh lain yang kebetulan ada di jalanan yang dilaluinya. Mereka hanya melihat sekilas ke arahnya dan langsung menarik penglihatannya lagi. Jika tidak salah sangka nya orang-orang seperti takut ketika menyadari Rai. Entahlah mungkin juga bisa salah ada alasan lain yang membuat roh lain terlihat seperti itu.
Tanpa sadar Hyerin sudah berjalan jauh hingga di depannya terlihat pemandangan pusat kota yang sangat sepi. Hyerin segera menghentikan jalannya begitupun Rai yang mengikuti. "Tunggu. Kita mau pergi ke arah mana?" Ketusnya. Ketika tidak mendengarkan jawaban Rai yang seharusnya menjawab pertanyaannya itu. Namun Hyerin kembali terdiam dan sedikit membagikan senyumannya yang gugup. Rai hanya memandanginya dengan kesal. Hyerin baru sadar dia sendiri kan yang meminta untuk pergi keluar, memang terdengar tidak masuk akal jika dia sendiri yang bertanya tujuan kepergiannya itu.
Akhirnya pikirannya yang membawa dia pada ingatan tentang perempuan itu membuat ide untuk tujuan selanjutnya. "Kita pergi ke gedung kafe yang ada di seberang gedung-gedung dari sini." Ucapnya yakin.
Lagi-lagi Hyerin terlihat menarik napasnya lagi.
Rai tetap menatap nya dengan dingin.
Hyerin sangat merasa yakin jika orang-orang yang ingin dicarinya sejak kemarin ada di kafe itu. Mungkin tidak masalah juga membawa Rai karena sudah jelas jika bukan Rai yang menyebabkan orang-orang hilang.
Langkah percaya dirinya membawa Hyerin semakin dekat dengan gedung yang dia maksudkan. Hatinya berdebar dia masih tidak bisa mengatasi perasaannya yang selalu spontan gugup.
Di depannya adalah gedung kafe yang kemarin juga dia pergi ke tempat ini.
Saat membuka pintu dia sudah melihat orang-orang yang langsung menatapnya, Hyerin bisa menebak dengan baik mereka siapa. Namun mereka hanya sekilas menatapnya dan bertingkah seperti tidak mengenalinya. Hyerin segera berlari saat sadar mereka akan pergi lagi. "Hey kenapa kalian seperti itu?" Tanya Hyerin yang mendekat.
__ADS_1
Orang yang ada di hadapannya melihat ke arah Hyerin lalu mengalihkan tatapannya ke arah Rai yang sudah berdiri tidak jauh dari belakang.
Menangkap tatapan orang yang ada di hadapannya seperti langsung membuatnya sangat mengerti. Hyerin tidak mengatakan apapun, dia hanya tegas memegang tangan dan menatap dalam-dalam orang yang ada di hadapannya. Menganggukkan kepala dan meyakinkan.
Mendapati sikap Hyerin yang langsung membuatnya mengerti, pasti ada sesuatu hal. Dia langsung menginstruksikan kepada yang lain agar tetap berjalan memasuki ruangan seperti biasa dan tidak harus takut dengan kehadiran Rai yang akan mengikuti mereka.
Akhirnya berhasil, terlihat garis senang dari raut wajah Hyerin. Beberapa orang termasuk Rai yang mengikuti dari belakang pergi ke satu arah yang sama. Hyerin tahu jika kali ini dia akan berhasil mengungkap semuanya di depan orang-orang. Bayangannya memperlihatkan sebuah masalah yang akan terselesaikan dengan baik. Semua akan berakhir secepat ini dengan mudah.
"Loh kok ini, kenapa kita kesini?" Protes Hyerin heran saat orang-orang berhenti di ruangan lain, bukan tempat seperti biasanya.
Tidak ada jawaban. Semua orang berdiri dan menatap lagi ke arah Rai. Hyerin mengikuti tatapan mereka dan melihat Rai lagi.
Rai mematung tidak mengucapkan satu katapun. Dia hanya fokus melihat Hyerin di hadapannya.
"Ah. Baiklah, sekarang aku duduk juga." Ucap Hyerin, tingkahnya canggung dan mengambil tempat duduk sebuah kursi yang terpisah dari orang-orang. Dia sangat gugup karena suasana seketika menjadi tegang. Melihat cara orang-orang menatap Rai dia bisa menebak jika kehadiran Rai tidak diinginkan oleh semua orang. Hyerin menarik napas nya. "Rai bukan yang menghilangkan semua orang." Ketus Hyerin mulai serius dengan perkataannya.
Orang-orang langsung mengalihkan perhatian saat mendengarkan sebuah pernyataan yang membuat semua orang tidak langsung bisa mempercayainya. Mereka semua masih terdiam dan hanya menyimak perkataan Hyerin tanpa berkomentar apapun.
Hyerin mengalihkan penglihatan secara bergantian ke semua orang. Dia sedikit kecewa, sangat terlihat jelas dari raut wajahnya. "Rai bukan yang membunuh semua orang. Aku melihatnya, ada yang lain selain Rai di tempat itu. Teman kalian wanita itupun hilang di depan mataku karena ulahnya juga." Jelas Hyerin panjang lebar dan lebih serius berharap semuanya akan mengerti dan mempercayai nya.
Sangat tak disangka. Rai malah sigap menarik tangan Hyerin hingga membuatnya berdiri. Tanpa mengatakan apapun dengan sikapnya menjelaskan jika dia ingin keluar dari ruangan dengan Hyerin.
Melihat sikap Rai membuat Hyerin segera menghentikannya, namun sia-sia dia terus ditarik paksa olehnya tanpa memberikannya sebuah kejelasan.
"Mengapa tiba-tiba?" Tanya Hyerin protes sambil berusaha menghentikan sikap Rai yang menurutnya sangat tidak pantas. Namun saat matanya melihat ke arah orang-orang tadi akhirnya dia sedikit mengerti. Orang-orang masih tidak acuh seperti tidak pernah mendengarkan kata-kata yang serius diucapkan Hyerin. Kenyataan itu membuat Hyerin kecewa lagi. Melihat satu persatu orang sibuk mengobrol dengan teman bicaranya dan bersikap seperti tidak pernah menganggap Hyerin ada, hal tersebut membuat Hyerin kesal. Tanpa bersikap ramah seperti biasa dengan kesal Hyerin menarik lengan Rai dan berdiri meninggalkan ruangan.
__ADS_1