
"Kok kamu enteng gitu bicaranya." Celoteh Rere seolah tidak terima jika itu hanya ungkapan candaan Hyerin sekalipun.
"Emangnya kita bisa cari dia, Re? Orang kaya gitu tuh cuman caper, nanti juga datang lagi dengan sendirinya ngapain repot mikirin orang kaya gitu." Hyerin merasa jika kekhawatiran Rere hanya akan berakhir sia-sia.
"Udah jangan berdebat dulu, sekarang kita fokus dengan misi ini." Beruntung teman Rere menengahi dan tidak ada lagi yang harus diperdebatkan.
"Kita berada di alun-alun kota, se tahu ku di gedung yang berjajar di sana, diantara gedung itu ada sebuah kafe dan di dalamnya terdapat ruang yang pernah kita berkumpul di sana." Ucap Rere, matanya lekat memperhatikan.
"Udah aku cek, gak ada apapun di sana." Cetus Hyerin langsung membuat Rere melihat ke arahnya.
"Sekarang kita pergi kemana? Tadi kamu baru sampai mana?" Tantang Rere seolah dia menunjukkan sangat siap jika harus pergi kemana saja.
"Selain tempat ini, kita mulai dari kota selanjutnya." Saran Hyerin.
Rere terdiam, dia menarik napas dalam-dalam. "Sudah kita turuti sarannya." Tukas Rere seolah dia menyindir jika hanya Hyerin yang bisa melakukan semuanya.
"Tunggu dulu, kenapa kita gak dengar pendapatmu?" Cegah Hyerin merasa tak nyaman dengan sikap Rere yang entah karena apa alasannya tapi dia saat ini seolah menjadi rivalnya.
"Cewe memang sama. Sama-sama main perasaan." Komentar temannya Rere yang menjadi satu-satunya laku-laki berdiri diantara dia perempuan yang terus saja saling serang. "Kita pergi kemana saja itu sama, tujuannya mencari tempat di daerah yang berbeda. Kalian berdua hanya harus kompak jangan dikit-dikit maen hati, gak enakan, kalau gini terus kapan beresnya."
Hyerin dan Rere saling membalaskan pandangan. Memang bukan saatnya lagi untuk saling berdebat.
__ADS_1
"Waktu terbatas, kalau tiba-tiba waktu berganti lagi mau apa?" Peringatannya lagi langsung membuat Rere mengiyakan rencana Hyerin.
"Kita pergi ke kota selanjutnya!" Dengan semangat yang sudah terkumpul Rere dan dua orang yang sedang bersamanya pergi ke kota selanjutnya. Entah tantangan apa yang akan didapatnya di tempat itu. Apakah memang akan sulit seperti yang sudah dibicarakan tadi? Atau malah sebaliknya.
"Re. Coba lihat! Itu, semua roh disini masih banyak dan tepat menempati sudut-sudut kota. Kita langsung tanya saja." Seru Hyerin bersemangat, matanya beredar ke semua arah di tempat seluas lapangan.
"Kita lakukan bersama." Ajak Rere.
Ketiganya berjalan bersama mendekati seseorang siapa saja yang bisa diajak bicara baik-baik.
Tapi ketiganya berhenti lagi.
"Coba kamu pikir, diantara orang-orang mana yang mudah kita ajak bicara?" Tanya Hyerin.
"Terserah yang mana saja!" Sambung Hyerin terlihat menarik napas.
Apa seterusnya akan seperti ini? Kendalanya selalu sama? Pertama membayangkan sangat sulitnya untuk berkomunikasi dengan orang-orang asing yang baru dikenalnya, kedua apakah mereka akan bersikap ramah menyambut baik setiap pertanyaan entah itu dari Hyerin atau yang dikatakan Rere? Baik Hyerin, Rere atau temannya sama-sama memikirkan hal yang sama. Tapi tidak ada gunanya jika harus tetap berdiam diri saja, sebaiknya mencoba dari pada tidak sama sekali.
Hyerin melihat seorang anak yang melamun sendirian, menopang dagu dengan kedua tangannya, dan membiarkan matanya bebas melihat atau melamun. Ketika Hyerin mendekat mata anak kecil itu langsung tajam memandanginya seolah sedang melihat orang jahat ke arahnya, dan tak lama malah berlari menjauh. Hyerin kembali mengelus dada menahan lagi perasaan sabarnya.
Rere melihat seorang Nenek yang sedang sibuk tersenyum, mungkin terhibur dengan pertunjukkan yang biasa dilakukan manusia. Ragu-ragu Rere mendekat bahkan perlu beberapa saat dia bicara. Saat akan bicara Rere terkejut karena Nenek di hadapannya sudah menghilang. Dia berulangkali mengedarkan pandangannya dan mustahil Nenek itu sadar akan kedatangannya dan segera melarikan diri juga.
__ADS_1
Giliran temannya Rere, tapi siapa yang akan bicara baik dengannya? Penampilannya yang seperti lelaki preman di jalanan, cukup menakutkan bagi anak kecil atau orang dewasa. Rere menggelengkan kepala menahan agar dia tidak melakukan apapun.
"Kak, tolong Carikan ibuku!" Seorang anak tanpa diundang datang menghampiri, menyapa (Teman Rere).
Semua mata tercengang, tak perlu usaha karena jawaban dari usahanya kian datang menghampiri tanpa dirisaukan seperti tadi.
"Siapa yang kamu cari, De?" Tanya Hyerin saat mendekati anak lelaki berusia sekitar 7 tahun. Pembicaraan Hyerin langsung terhenti begitu matanya menangkap sosok lain dari anak yang sedang berdiri di hadapannya sekarang. Hyerin masih tidak bicara, dia mendekat dan meneliti dengan detail ke dalam mata dan seluruh tatapannya itu.
"Apa sih Yerin?" Ucap Rere risih melihat Hyerin yang malah balik menatap anak kecil itu beberapa saat, mengkhawatirkan saja karena dia takut jika anak kecil itu sampai takut.
Hyerin tak menjawab dia membalikkan tubuh anak itu dan dihadapkan nya wajah anak itu agar Rere langsung melihat ke arahnya.
"Dia sama." Gumam Rere pelan. Rere balik menatap Hyerin memperlihatkan apa yang sedang dirasakannya saat itu.
Hyerin menarik napas lagi mencoba agar tidak harus panik, anggap saja tidak ada masalah. "Adik lagi cari Ibunya?" Tanya Hyerin yang dibalas dengan anggukan. "Dari tadi ada temannya gak?" Tanyanya lagi penuh selidik. Anak itu menggelengkan kepala. "Kakak bantu ya cari Ibunya, gimana kalau adik ikut sama kakak?" Anak itu menggelengkan kepala dan kini balas melihat Hyerin dengan tatapan takut. "Kita sama, kamu akan baik-baik saja." Ucap Hyerin meyakinkan. Tanpa disangka dengan bujukannya anak itu berhasil menerima ajakan Hyerin.
"Udah sampai sini, kita pulang sekarang!" Seru Hyerin.
"Sekarang?" Rere mungkin kaget dengan keputusan Hyerin, padahal kan belum juga lama tapi Hyerin sudah ingin pergi dan mungkin dengan seorang anak yang baru mereka temui.
"Yasudah." Rere akhirnya menyetujui keputusan Hyerin, dia ingat karena bukan saatnya lagi untuk berdebat. Tidak ada gunanya kan?
__ADS_1
"Kita pulang dengan kakak ya." Ajak Rere bersikap lembut pada anak itu, yang ternyata anak itu tak mengindahkan ucapannya. Sikapnya mungkin hanya akan peduli pada apapun yang dikatakan Hyerin, alasannya karena mereka berdua sama. Hyerin tahu pasti fakta itu ketika dia melihat arah ke dalam matanya, sama sepertinya setelah melakukan perjanjian dan berubah menjadi dewa kematian seperti sekarang.
Setidaknya dalam misi kali ini Hyerin bisa bertemu dengan seorang anak yang bernasib sama dengannya. Dan sebagai tambahan anak itu berasal dari kota lain, dengan itu Hyerin akan bertanya banyak tentang tempat yang ingin dia cari di sana. Sudah jelas kan karena bertanya pada yang lain sangat sulit, mungkin ini kesempatannya. Hyerin juga sangat penasaran mengapa anak sekecil itu bisa melakukan perjanjian yang bahkan dirinya sendiri sangat menyesalinya.