Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Perkenalan


__ADS_3

Yora mendengarkan dengan bijak apa yang dikatakan Rere di hadapan dia dan Hyerin. Matanya sesekali menatap seolah sedang bertanya apakah yang dikatakan Rere benar? Melihat ekspresi Hyerin yang juga serius dan tidak berkomentar apapun memberikan keyakinan yang cukup bagi Yora.


Bagaikan orang yang baru lahir lagi, mau tidak mau roh yang menyimpang ke tempat ini adalah roh penasaran meskipun beberapa kali menolak tapi Hyerin meyakinkan, bahwa Yora pasti memiliki tujuan yang dia harapkan dan belum terwujud.


Hyerin menambahkan dalam cerita panjang yang selalu disimak baik oleh Yora.


"Kau tahu aku dulu saat datang kesini tidak ingat apapun, bahkan tentang sebab kematian ku juga." Tutur kata Hyerin yang santai. Yora langsung menyipitkan matanya tanda tidak mengerti. "Karena aku pernah koma datang kesini, artinya aku tidak sepenuhnya mati." lanjut Hyerin yang sempat berhenti menantikan reaksi Yora.


"Ketika kamu gak sadar berbulan-bulan itu? Kok bisa seperti itu." Jawab Yora menunjukkan rasa herannya.


"Bukan tadi katanya semua disini adalah roh orang mati penasaran, tapi kenapa kecuali untuk Yerin ya?" Goda Yora menunjukkan wajah nya yang penasaran.


"Gak tahu juga sih. Tapi kan koma itu emang keadaan setengah mati kaya gitu." Jawab Hyerin ngasal yang tak mau kalah karena tidak bisa menjawab pertanyaan Yora. "Udah ah kamu jangan banyak tanya dengerin aja dulu!" Tukas Hyerin terdengar seperti protes.


Yora terkekeh sendiri mendengarnya karena berhasil membuat Hyerin kesal.


"Artinya Yerin ku ini sudah dua kali ke sini ya." Simpul Yora mulai lebih mengerti. "Apa yang kau pikirkan sebelum mati? Em keinginan mu yang belum tercapai itu?" Lanjut Yora lagi-lagi bertanya.


Hyerin memalingkan wajah dengan matanya yang bergerak ke sisi kiri dan kanan menunjukkan sikap salah tingkah. Tentu saja mulutnya terasa Kelu untuk menjawab sesuatu yang tidak ingin dia ceritakan sekarang tentang Rai, Hyerin tidak bisa berhenti cemas ketika lagi-lagi pertanyaan Yora mengingatkan Rai.


"Udah cerita-ceritanya?" Sela Rere bergabung dalam obrolan Yora dan Hyerin.


"Tau ah Yora banyak nanya. Nah tanya sama Rere aja dia pasti bisa jawab semuanya! Ah aku udah dulu ya." Hyerin berusaha menghindar dengan melimpahkan pembicaraan sepenuhnya kepada Rere. Dia langsung pergi meski beberapa kali Yora meneriaki namanya tapi tidak dihiraukan juga.


"Yerin aku baru saja Dateng eh udah pergi aja. Males ah Yerin." Celoteh Yora cemberut memajukan bibirnya dan tangan yang berpangku di dada.


Rere melihat sekilas Hyerin yang pergi, meski hanya sekilas dia bisa langsung menebak sebab Hyerin pergi. Dia sedang menghindari sesuatu yang tidak ingin bergulat lagi dengan pikirannya yang labil.


"Udah tanya saja sama aku, sama kan!" Rere mengatakannya seperti mendukung Hyerin yang pergi.

__ADS_1


"Tanya apa ah udahan." Ucap Yora seperti kecewa.


"Udah ah ikut yu! Aku kenalin sama semua orang. Cepat!" Rere menarik lengan Yora untuk ikut dengannya.


Tapi Yora sangat malas melakukan kegiatan itu, hanya saja dia tidak memiliki kegiatan lain kan, boleh juga jika harus ikut dengan Rere. Mata Yora tak pernah lepas memperhatikan Hyerin yang sibuk mengobrol dengan satu persatu orang di tempat itu.


"Nanti juga dia balik lagi, mending ikut aku!" Usaha Rere benar-benar ingin membuat Yora tidak salah paham dan tidak membuat Hyerin lebih ingat tentang Rai karena pertanyaan Yora. Rere tak kuasa melihatnya sebagai satu pihak yang kehilangan.


"Ternyata banyak sekali orang." Cetus Yora sambil mengikuti Rere orang yang baru dikenalnya karena Hyerin.


"Betul sekali. Banyak orang dan kamu bisa merasa hidup lagi bebas di sini." Jelas Rere berniat membuat Yora paham.


"Kita adalah hantu kan? Aku kira semua hantu sangat mengerikan seperti dalam sebuah film horror." Yora masih berkomentar dan tersenyum heran.


"Siapa bilang hantu? Emang nya kamu mau ya dibilang hantu?" Tanya Rere semakin greget karena setiap asumsi yang dikatakan Yora.


"Emang gitu kan? Aku salah?" Meski cara menjawabnya seperti itu tetap saja menunjukkan sikap Yora yang bersikeras dengan asumsinya yang salah.


"Kamu lihat itu? Apa mereka hantu?' Tanya Hyerin penasaran dengan jawaban Yora.


Yora memicingkan matanya, dia enggan menerima jika hatinya berkata bahwa anak kecil yang lucu dan masih terlihat sikap layaknya anak kecil biasa seperti malaikat selalu bahagia, bukan hantu menakutkan. Dia memalingkan wajah dari Rere.


Rere terkekeh kecil mentertawakan sikap kekanak-kanakan Yora yang dilihatnya.


"Kita ini roh bukan hantu, roh yang diberi kesempatan untuk hidup di tempat ini untuk tujuan yang pasti. Jika hantu dalam film horror yang sering kamu tonton, itu adalah IBLIS." Ucap Rere dengan ekspresi yang berbeda saat mengatakan nama iblis dengan berbisik dan kedua bola matanya bergerak mengawasi ke sisi lain, seolah sosok iblis itu sangat ditakuti sampai namanya harus disebut pelan.


Yora tak berkomentar awalnya, anggap saja dia setuju dengan perkataan Rere.


"Em iblis ya. Emang ada iblis?" Tanya Yora merasa ada sesuatu yang harus diketahuinya.

__ADS_1


Suuuttt... Rere menempelkan jari telunjuknya dibibir dan memerintah Yora untuk tidak sering mengatakan iblis.


"Jangan katakan lagi!" Peringatan Rere masih tidak terlihat penting bagi Yora saat itu.


Setelah diperingatkan Yora segera terdiam dan mengangguk beberapa kali seperti mengerti dengan peringatan yang dikatakan Rere.


"Hey aku kenalin ke kalian!" Ucap Rere melambaikan tangan ke beberapa orang sambil mengatakan sesuatu yang mungkin bisa menarik perhatian orang-orang.


Betul saja dengan dugaannya, orang-orang langsung bereaksi dan menatap ke arah Rere.


Rere tersenyum. "Terimakasih semuanya!" Sambutnya menyikapi tindakan hangat dari orang-orang. "Dia Yora teman baru semua orang disini !" Tegas Rere mengatakannya dengan bangga.


Melihat tingkah Rere membuat Yora malu dan mundur sedikit bersembunyi di balik tubuh Rere selama Rere tidak menyadarinya.


Semua orang tersenyum dan mengatakan salam.


"Wah banyak yang suka sama Yora." Goda Rere sambil tertawa renyah.


"Ah malu, ngapain lagi!" Protes Yora cemberut sambil berjalan melewati tubuh Rere saat berdiri tak jauh di depannya.


"Kamu selalu begitu ya sama Hyerin." Cetus Rere sambil menahan lagi senyum nya.


Yora cemberut bahkan tak ingin memandangi Rere saat itu.


"Hyerin pasti bahagia dulu, dan di sini dia sangat mandiri tidak bergantung pada orang-orang." Puji Tere mengingat sosok Hyerin yang tergambar di pikirannya


"Kau penasaran ga?" Tanya Rere sambil memandangi wajah Yora.


"Tentang apa?" Tanya Yora ucapnya singkat.

__ADS_1


"Kita akan bicarakan tentang teman mu. Itu gak apa-apa kan?" Rere bertanya tentang persetujuannya.


__ADS_2