
Sebenarnya dia tidak pernah tahu mengapa hanya sedikit potongan kecil ingatan muncul dengan tiba-tiba. Hyerin merasa khawatir jika sebenarnya ada sangat banyak yang tidak diingatnya dan ada sesuatu yang tidak pernah bisa diduganya.
Dengan perasaan khawatir dia berjalan ke arah alun-alun kota, di pusat kota itu ada banyak gedung dan tentu saja dia bisa menemukan dengan mudah sebuah gedung yang baru saja mengganggu pikirannya. Dia hanya perlu mendatanginya lagi.
Dengan semangat Hyerin segera mempercepat langkah kakinya, dia hanya memiliki satu tujuan dan ini adalah kesempatannya apakah semua yang menjadi teka-teki nya bisa segera terselesaikan, mungkin di tempat itu akan ada orang yang menemuinya dan memberitahu dia segala sesuatunya.
####
Rai tidak bisa mengatakan satu kata pun di hadapan Hyerin, seharusnya dia tidak merasa canggung dan memberikan batasan antara dirinya dan Hyerin, karena itu akan memberikan kesulitan bagi dirinya juga. Rai perlu mempertahankan Hyerin lebih lama di tempat ini dengan begitu rencana nya akan berhasil. Tapi sedikit nurani dia tidak merasa tega ketika teringat Hyerin yang tidak pernah mengingat apapun bahkan tentang dirinya sendiri.
Rai sangat terlihat gelisah dia sebenarnya tidak pernah berniat untuk mengakhiri semua hubungan yang sudah dibangunnya.
"Tidak ada roh yang bisa menjadi dewa kematian Rai!" Kata-kata itu kembali mengingatkannya lagi. Akemi yang dulu pernah memperingatkannya dan kini dia harus merasa bersalah?
Sepertinya Rai berusaha membuang semua perasaan bersalahnya jauh-jauh. Dia tidak pernah ingin mengakui apapun yang menurut hatinya sendiri itu adalah salah.
Kenyataan demi kenyataan di luar kendali terus menyerangnya tanpa ampun, alih-alih Rai mengernyitkan dahi dan menunjukkan perasaan stress yang mulai menggoyahkan keteguhan hatinya.
"Seharusnya tidak ada yang salah, semua sudah benar dan sesuai rencana." Ucap Rai dalam hatinya dengan yakin.
Rai tidak bisa diam, dia hanya duduk dan kemudian berdiri mondar-mandir, kemudian Rai terlihat sudah memiliki suatu rencana baru yang akan dilakukannya, dia bersiap untuk segera pergi dengan tergesa-gesa.
Kali ini seharusnya berhasil. Tinggal melakukan beberapa perjanjian dan semua keinginannnya akan segera terwujud lagi.
Secepat cahaya Rai langsung berada di sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi. Interior ruangan yang cukup megah untuk ukuran rumah sakit di tengah kota kecil itu. Para manusia berlalu lalang menambah suasana semakin ramai saja.
Rai dengan tergesa-gesa lagi pergi ke tempat di sebuah ruangan yang langsung ditujunya saat itu juga.
Pintu di hadapannya adalah ruangan Hyerin, karena pintu terbuka Rai bisa langsung melihat memastikan jika Hyerin tidak ada di tempatnya saat itu dan membuat Rai sedikit merasa lega. Dia kemudian melanjutkan langkahnya pergi ke sebuah ruangan lain dengan tergesa-gesa lagi.
__ADS_1
"Manusia memang mudah diperdaya." Langsung terdengar suara yang saat itu Rai bisa langsung menangkap maksud jika perkataan itu khusus dimaksudkan untuknya.
"Perjanjian baru.!" Ucap Rai terdengar santai. Tubuhnya berdiri tegak menghadap orang yang sudah memunggunginya saat itu.
"Itu artinya aku bebas?" Balasnya.
Rai sedikit terdiam seperti mencerna kata-kata yang didengarnya.
"Hanya 5 orang dan jangan Hyerin." Ucap Rai terdengar seperti mengancam bukan memperingatkan lagi.
Orang di hadapannya hanya menyunggingkan senyum sebelum akhirnya langsung pergi dari hadapan Rai.
"Hanya 5 orang tidak banyak kan?" Tanya Rai dalam hatinya.
Rai langsung memutar tubuh dan pergi lagi dari ruangan itu. Ketika membuka pintu dia langsung menangkap sebuah pintu tempat Hyerin. Kali ini Hyerin tidak ada di tempat dan seharusnya dia merasa tenang. Namun kenyataan Rai malah lebih khawatir dengan Hyerin. Dia tidak bisa membayangkan wajah Hyerin yang penuh marah menatapnya. Rai langsung pergi tanpa menoleh lagi ke arah belakang.
Karena sebenarnya Rai tidak pernah memiliki perasaan iba apalagi bersimpati kepada siapapun. Dia adalah dewa kematian yang disebut-sebut dulu adalah seorang roh di tempat ini. Dia menjadi dewa kematian untuk mengikuti takdir seseorang yang dinantikannya. Kemudian tragedi terus berganti hingga banyak kejadian yang terus diulang dalam beberapa kelahiran yang sama dan selalu berkaitan dengan roh dari gedung rumah sakit. Wanita yang dinantikan Rai adalah Hyerin. Seribu penantian yang sudah dilewatinya tidak pernah mengalahkan keteguhan hatinya untuk menantikan kelahiran dan takdir dari Hyerin. Dan saat semua kejadian terus diulang hingga pada detik kini ketika Hyerin masuk ke dunia roh dengan wujud yang belum sempurna. Hyerin masih terbaring koma di kehidupan sana dan rohnya kini mengalami banyak keegoisan Rai yang ingin selalu memiliki Hyerin dalam semua takdir.
Rai tidak pernah memiliki teman, hanya dia mengenal Akemi di masalalu nya ketika menjadi roh dan ada beberapa orang yang menjadi saksi dari perbuatan Rai yang sudah dilakukannya itu, salahsatunya adalah Tania. Tania dan temannya tidak pernah diketahui Rai kecuali ketika Tania menemui Hyerin maka Rai akan langsung tahu. Demi semua ambisi Rai memiliki rencana yang selalu berjalan sesuai dengan keinginannya. Kecuali sekarang pada tahun dimana sakura bermekaran di musim semi.
Rai berjalan menyusuri koridor rumah sakit, hingga dia keluar dari pintu gedung itu.
Untuk pertama kalinya Rai menatap mata roh lain yang sedang memperhatikannya kemudian berpura-pura tidak pernah melihatnya. Semua roh bisa melihatnya meskipun dia adalah seorang dewa kematian. Rai langsung mengabaikan tidak menganggap masalah.
Saat dia ingin lebih jauh pergi kemudian suara jam berdentang kembali terdengar nyaring memenuhi Indra pendengarannya saat itu. Kepalanya bergerak mengikuti arah suara, dia langsung bergegas pergi bahkan setengah berlari ke dalam gedung. Kakinya melangkah cepat menyusuri setiap ruangan dengan cemas, diikuti dengan suasana yang perlahan berubah di sekitarnya.
Aura dinginnya kembali terlihat, dia segera mendekati arah pintu ruangan Hyerin. Sepenuh tenaga dan kepercayaan diri dia mendorong pintu dan sudah terlihat Hyerin yang memandanginya dengan perasaan terkejut.
"Kau langsung masuk saja?" Protes Hyerin yang terlihat marah.
__ADS_1
Rai segera memutar tubuh menyembunyikan wajahnya. Wajar saja jika Hyerin marah karena dia terkejut tiba-tiba ada orang yang masuk ke ruangannya tanpa permisi dan dalam keadaan yang belum siap.
Lidah Rai masih terasa kaku untuk mengatakan apapun. Dia mematung tak berdaya.
"Lelaki sama saja ya!" Hyerin memukul Rai dengan kedua tangannya.
"Begini saja, aku tidak sengaja melakukannya!" Ucap Rai membela dengan sedikit meringis dan menahan tangan Hyerin.
"Sudah salah juga!" Bentak Hyerin.
"Tidak sengaja kan?" Timpal Rai tidak mau kalah.
Akhirnya keduanya kembali diam dan saling memandangi satu sama lain dengan sinis.
Keakraban keduanya terjadi lagi tanpa sengaja, karena waktu berganti maka Hyerin kembali ke gedung itu.
"Mau apa ke sini?" Tanya Hyerin dengan ketus.
Rai langsung merasa terkejut lagi. Dia tidak bisa mengendalikan perasaannya, karena benar saja untuk apa dia kembali menemui Hyerin?
Rai tidak menjawab dia sedikit salah tingkah, namun dengan mudah Rai kembali bersikap dingin. Memunggungi Hyerin tanpa memperdulikannya.
"Terserah!" Ucap Rai singkat.
Beberapa saat Hyerin tidak menjawab.
"Pergi sana!" Tegas Hyerin.
Saat mendengar Hyerin mengusirnya Rai merasa sedikit kecewa, namun dia masih harus bersikap tenang tapi ternyata bukan perasaan tenang yang diperlihatkan, lebih terlihat tidak peduli dan langsung meninggalkan Hyerin dengan begitu Saja.
__ADS_1