
Tinggal mengatakannya apalagi setelah mendengar Hyerin yang seperti mengerti dengan maksudnya yang ingin mengatakan sesuatu hal tanpa kehadiran Rai. Saat itu juga perempuan itu kembali mengalihkan perhatiannya pada Rai yang masih berjalan mengikuti dari belakang.
Tanpa sadar Hyerin terus memperhatikan sikapnya yang tidak biasa. Dia juga melihat ke arah Rai.
Seketika Hyerin menghentikan langkahnya lagi, tanpa bisa dipercayai Hyerin berjalan ke arah Rai yang juga berhenti dalam jarak yang tidak begitu jauh dari tempatnya.
Dari kejauhan Hyerin terlihat berusaha mengungkapkan sesuatu hal yang tidak bisa didengar baik oleh perempuan itu.
Hyerin secara terus terang meminta jika dia tidak ingin diikuti terus menerus, jika bisa untuk kali ini saja karena dia memiliki teman yang tidak nyaman dengan kehadiran Rai. Seperti yang sudah dapat diduganya dengan baik. Rai tidak menjawab dengan persetujuannya atau rasa keberatannya menerima permintaan Hyerin. Melihat Rai yang tidak bereaksi Hyerin harus kesal lagi, dia segera meninggalkan Rai dan tidak ingin peduli jika Rai bisa atau tidaknya mengikuti permintaan yang baru kali ini dia jelaskan kepada Rai untuk pertama kalinya.
Wanita itu hanya melihat Hyerin kembali dengan wajah kesal. Hyerin langsung menggandeng tangannya dan berniat untuk berhenti setelah jalan di depannya yang tidak jauh membawa mereka ke alun-alun kota.
"Aku ingin berhenti di alun-alun." Pinta Hyerin tiba-tiba.
Mendengarkan ucapan Hyerin dia langsung segera menyetujuinya, saat tatapannya kembali mengarah ke Rai, Hyerin secepatnya berkata bahwa jangan memperdulikan dan mempermasalahkan Rai.
"Bagaimanapun Rai tetap akan mengikuti kita. Jangan hiraukan dia saja!" Jelas Hyerin yang tidak basa basi.
keduanya akhirnya kembali berjalan menuju pusat kota di tempat yang sudah direncanakan itu.
Tidak lama setelah dalam perjalanan keduanya melihat sebuah alun-alun kota yang masih dipenuhi banyak orang di sana. Awalnya Hyerin bisa begitu yakin untuk pergi ke kerumunan orang, namun setelah semua orang terlihat di depan matanya sedikit rasa percaya diri yang dibangun seketika menjadi lemah. Hyerin tidak bisa menutupi perasaan ragu saat itu.
__ADS_1
"Lebih baik kita cari tempat lain." Ucap wanita itu membuyarkan kekhwatiran Hyerin.
Hyerin hanya membalas tatapannya.
Melihat reaksi Hyerin yang tidak diharapkannya membuat wanita itu sedikit tidak tenang, matanya masih terus mencari ke arah lain, berharap Rai tidak akan menghentikannya jika kali ini dia harus mengatakan suatu kebenaran yang seharusnya Hyerin sudah tahu sejak awal.
"Hyerin. Ada yang ingin ku katakan dari tadi." Ucapnya terlihat serius. Hyerin semakin menajamkan matanya melihat keseriusan yang menurut hatinya sangat penting.
"Kau sebenarnya belum mati." Cetusnya singkat.
Seperti tidak mengerti Hyerin hanya membulatkan mata merasa terkejut dan penasaran dengan sebuah pernyataan yang lewat ke Indra pendengarannya. Dia sedikit menarik diri menatap dalam-dalam menerawang pikirannya yang sama sekali tidak bisa menjelaskan sebuah pernyataan yang terdengar sangat jujur.
"Apa maksudnya?" Tanya Hyerin heran.
Situasi kembali berubah dengan drastis. Hyerin yang diperebutkan oleh dua orang membuatnya semakin tidak mengerti. "HENTIKAN!!" Teriak Hyerin dengan napas yang berat karena menahan kesal. Keduanya langsung berhenti dan beberapa saat terdiam sambil melepaskan pegangan tangannya pada lengan Hyerin. Di depannya Hyerin melihat kedua orang itu sudah bersikap tidak wajar lagi. Keduanya seperti tidak perduli dengan kehadiran Hyerin diantara mereka. "Kenapa seperti anak kecil saja. Ada yang penting kan? Ayo jelaskan!" Setengah kesal Hyerin harus berteriak menengahi kedua orang yang membuatnya kesal.
Awalnya wanita itu dan Rai saling diam dan tidak langsung menjawab pertanyaan Hyerin yang harusnya segera dijawab.
"Sudah ku katakan kau itu masih hidup dan orang ini tidak begitu senang." Ucap wanita itu mendahului. Rai segera mengalihkan tatapannya tanpa berkomentar lagi. Hyerin yang mendengarkan seperti sudah mendapatkan lelucon yang tidak bisa dipercayainya, dia malah membuang wajah dengan kesal.
"Aku sudah berkata benar, aku melihatnya wanita yang sama terbaring di rumah sakit di ruangan itu. Seharusnya kamu percaya!" Sambungnya lagi terdengar berusaha meyakinkan.
__ADS_1
Hyerin masih memandangi Rai yang tidak bereaksi sedikitpun. "Kapan? Apa kamu yakin aku bisa mempercayai sebuah lelucon seperti itu?" Jawab Hyerin yang sesekali masih menatap Rai yang mematung.
"Aku benar melihatnya, kau boleh tidak percaya karena aku juga tidak bisa mempercayainya." Sangkal wanita itu yang sebenarnya sangat ingin jika Hyerin bisa mempercayai perkataannya.
"Lalu apa masalahnya? Kenapa aku belum mati dan sudah ada di tempat ini?" Tanya Hyerin yang sebenarnya dia juga sedikit terpengaruh dengan perkataan wanita itu. Namun di sisi lain dia melihat ke arah Rai yang masih tidak bereaksi seperti tidak begitu mempermasalahkan.
"Aku juga bingung. Tapi aku benar melihatnya." Yakinnya lagi kembali meyakinkan Hyerin.
Tidak bisa ditampik nya dengan mudah. Hyerin melihat ke dalam sorot mata wanita itu yang memperlihatkan kejujurannya, namun seperti yang dia katakan tadi bahwa dirinya juga bingung dengan hal yang sudah diucapkan nya sendiri. "Kamu yakin? Karena tidak ada gunanya harus berbohong seperti ini, tidak ada untungnya juga kan?" Hyerin masih mencari sebuah kebenaran yang bisa meyakinkan hatinya itu.
Wanita itu malah tidak menjawab. Dia seperti sangat kebingungan dan tertekan.
"Kau berbohong kan?" Tanya Hyerin masih penasaran.
"Sebaiknya kita kembali ke tempat itu saja." Jawabnya spontan.
Hyerin terdiam dan hatinya menimbang. Memang tidak ada salahnya meski sedikit membuang waktu tapi tidak salah juga jika membawa lagi wanita itu ke tempatnya. Saat Hyerin ingin memberikan sebuah keputusan namun Rai langsung menarik lengannya tanpa berkata apapun.
Melihat Hyerin yang ditarik lagi oleh Rai wanita itu tidak bisa diam, dia langsung menghentikannya. "Kenapa? Kau tidak senang dengan kenyataan yang sudah aku katakan padanya?" Tanya wanita itu dengan nada bicara yang sudah berbeda kepada Rai, nadanya sedikit meninggi tersulut emosi. Bukan tidak ada alasan, jauh dalam pikirannya jika sangat wajar Rai tidak senang dengan sebuah kenyataan yang membingungkan itu, pasti ada sesuatu hal yang tidak diketahuinya.
Namun tindakan Rai kembali tidak bisa ditebak. Awalnya wanita itu menganggap jika Rai akan marah atau mempermasalahkan tapi sebaliknya, Rai dengan tenang kembali melepaskan tangannya dan membiarkan Hyerin berdua dengan wanita itu.
__ADS_1
Melihat sikap Rai setelah mendengar perkataan wanita itu yang sedikitpun tidak mempengaruhinya. Dia masih dingin dan tenang.
"Ayo sebaiknya kita ke tempat mu lagi. Itu lebih mudah kan?" Seperti tak ingin membuang waktu wanita itu langsung mengajak Hyerin untuk mengikuti rencananya.