
"Kau benar. Tapi dimana sebaiknya kita menunggu? Memangnya teman mu bisa langsung menemukan kita?" Tanya Hyerin.
Rai berpikir cukup keras, lagi-lagi dia merasa putus asa. "Sebaiknya kita tetap berjalan kesana saja."
Hyerin diam tidak meladeni obrolannya karena dari awal dia sudah berencana untuk pergi ke tempat yang dikatakan Nenek.
Akhirnya perjalanan dimulai dengan dua orang yang saling bergantung satu sama lain. Kelemahannya sebagai manusia membuat Rai dan Hyerin cukup kesulitan ketika melewati lelah, ketika harus melawan rasa lapar, ketika mereka banyak menggunakan emosi dan dikuasai dengan perasaan egois.
"Aku capek dan rasanya ingin menyerah saja." Baru pertama kalinya Rai mengeluh sepanjang waktu. Rai duduk dan tak memperdulikan banyak orang yang melewati mereka berdua. Perjalanan kali ini melewati perkotaan yang padat penduduk.
Hyerin berhenti sambil mengatur napas. "Lapar, haus." Ucapnya. Bahkan matanya tampak tidak tahan lagi menahan semua perasaan lelah yang berkali lipat itu.
Rai melihat wajah Hyerin yang lebih kelelahan darinya. "Kau jangan merepotkan ku! Sebaiknya kau beristirahat dan menyerah saja." Saran Rai terdengar bukan sebagai solusi.
"Kau bisa lebih baik kan? Sekarang pikirkan saja!" Hyerin menyerah dan akhirnya dia jatuh limbung ke tanah.
Rai panik, rasanya ingin segera melarikan diri saja dari pada harus kesulitan menghadapi masalahnya sekarang.
"Ada apa, dia kenapa?" Seseorang tak disangka menghampiri Rai yang tampak bingung.
"Dia teman mu?" Tanyanya lagi pada Rai.
Dalam situasi ini Rai berpikir lebih baik dia pingsan juga dan seseorang akan cepat menolongnya.
"Ayo kita bawah ke samping toko itu." Perintahnya.
Rai langsung mengeluh, tidak bisakah bukan dirinya yang harus mengangkat tubuh Hyerin dalam keadaan lelah seperti sekarang. Tapi apa yang akan dikatakan orang lain tentangnya.
Terpaksa sekali Rai langsung membawa tubuh Hyerin yang terasa lebih berat berkali lipat. Padahal dilihat dari postur tubuhnya, Hyerin terlihat ramping namun entah mengapa dia merasa sudah mengangkat beban yang begitu berat.
"Sepertinya kalian sangat kelelahan. Baiklah aku akan ambilkan minum, tunggu sebentar!" Ucapnya. Rai sedikit bersyukur setidaknya dia juga akan minum kan.
Tak lama wanita tadi muncul lagi dengan 2 botol air mineral dan beberapa makanan.
"Ambilah. Aku akan antar kalian ke dokter. sekarang!" Ucapnya. Rai langsung mencegah dengan sigap. "Tidak. terimakasih kami sudah cukup hanya beristirahat saja, sebentar lagi teman ku akan sadar." Jelas Rai karena dia tak berharap akan pergi kemana-mana lagi.
__ADS_1
"Baiklah!"
"Setidaknya akan ku antar pulang saja?" Tawarnya.
Rai semakin bingung, sebenarnya dia akan pulang kemana setelah ini. "Aku baik-baik saja, rumah ku dekat dari sini." Ucap Rai sebagai alasan.
"Bagus sekali. Ayo kita ke rumah mu."
"Tidak!" Rai langsung menolak.
"Maksud ku, tunggu sampai teman ku sadar." Dengan canggung Rai berbicara. Padahal dia sendiri tidak tahu akan melakukan apa ketika melihat Hyerin yang pingsan, dan apa yang akan dilakukannya nanti ketika Hyerin sudah bangun. Entahlah, dia dan Hyerin hidup sebagai manusia yang benar-benar baru tidak mempunyai apapun bahkan selembar uang atau makanan.
"Tante!" Teriak seseorang yang langsung membuat wanita di hadapan Rai menoleh.
Seorang anak kecil berlari menghampiri.
"Dia teman ku!" Tiba-tiba anak kecil itu mengoceh sesuatu yang tidak dimengerti Rai.
"Teman?" Wanita di hadapannya juga tidak begitu mengerti.
Rumah yang begitu besar, manusia pada umumnya hanya memiliki satu rumah yang tampak sederhana. Rai melihat rumah itu yang bertingkat beberapa lantai ke atasnya. Sebuah rumah bagaikan istana.
"Kau temannya teman ku juga? Sebaiknya kau pulang." Ucap anak kecil itu ketika semua orang tepat sampai di depan gerbang.
Rai membulatkan mata mendengarnya, dia tidak mungkin sendirian. Kemana dia akan pergi?
"Loh, kenapa kakak yang ini gak boleh ikut? Kakak ini temannya juga." Tantenya langsung mencegah.
"Boleh ikut, tapi janji jangan bikin masalah." Ucap anak kecil itu yang membuat Rai sedikit jengkel.
Meskipun kesal Rai tetap bersikap baik, tersenyum kecil, dan ramah.
"Masuk ya ikut aja! Maaf, anak kecil biasa." Ucap Tantenya melerai kembali omongan anak kecil itu.
"Jangan bikin masalah ya!" Peringatannya lagi. Rai hanya bisa menahan napas, dia harus sadar mungkin anak kecil memang menjengkelkan seperti itu. Lagi pula dia butuh sekali tempat untuk istirahat kan.
__ADS_1
"Udah, jangan ngomong gitu terus dong katanya mau diajak ke sini tapi malah galak." Tantenya langsung mengingatkan.
Pintu rumah pun terbuka, Rai langsung terbelalak melihatnya, benar-benar sebuah istana mewah. Rumah mewah dan kuas yang di dalamnya banyak sekali hiasan, guci antik, dan mungkin banyak barang berharga lainnya. Mengapa baru kali ini dia menyadari ada rumah sebesar ini di tengah kota.
Hyerin yang digendong Rai akhirnya menunjukkan akan cepat siuman. Hyerin benar-benar sudah bangun dalam hitungan detik.
Rai segera meletakan Hyerin di sebuah kursi. Tak lama Hyerin membuka mata, mengabsen satu persatu orang yang dia lihat termasuk anak kecil yang sudah tersenyum dari tadi.
"Sudah ku bilang kan, kita akan bertemu lagi." Ucap anak kecil itu yang tampak sangat bahagia. Hyerin terdiam, dia sangat tidak percaya. Ketika matanya bergerak lagi dia melihat Rai yang sangat kelelahan, matanya bergerak lagi dia melihat ada di dalam ruangan rumah.
Benar-benar mimpi yang menakjubkan.
"Aw." Keluh Hyerin sakit karena tangannya mendapatkan cubitan kecil dari anak kecil itu.
"Aku mencoba membantunya. Kau tidak bermimpi, kau berada di rumah ku." Ucapnya.
Hyerin tertegun, dia tidak percaya jika ini adalah nyata. Bagaimana ceritanya dia bisa sampai di rumah anak kecil yang pernah dia temui hari itu.
"Tante, siapkan makanan ya!" Pintanya yang sangat menggemaskan.
"Kau temannya anak kecil itu." Ucap Rai yang masih berusaha mengendalikan napasnya.
"Apa dia anak kecilnya?" Rai terperanjat setelah menyadari sesuatu.
Hyerin membalikan wajah dan mengangguk pada Rai.
Keduanya langsung terdiam.
"Kalian mau makan kan? Aku mempunyai makanan yang sangat enak." Tawarnya dan tak segan mendekat ke arah Hyerin, sikapnya yang manja memang seperti anak kecil. Namun siapa anak kecil itu sebenarnya?
Hyerin tidak merasa jika anak kecil itu sangat berbahaya baginya, dari sikap dan tubuhnya tidak memperlihatkan jika dia berbahaya.
"Apa kau mau melanjutkan lagi perjalananmu?" Tanyanya pada Hyerin.
Mendengarkan pertanyaan itu Hyerin langsung membulatkan mata, dia tidak percaya mengapa anak kecil itu tahu tentang perjalanan yang dilakukannya sekarang.
__ADS_1
"Aku tahu segalanya, aku tahu orang pembuat masalah itu." Ucapnya sambil menunjuk ke arah Rai.