Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Kecewa


__ADS_3

Harapan yang tercampur dengan perasaan putus asa menjadikannya bagian yang tidak pernah bisa lepas dari tekadnya. Antara yang dia tahu dan tidak diketahuinya tidak menjadikan dua pihak yang akan merusak akal sehatnya, Hyerin menggiring dan melewati waktu sesuai dengan kemampuannya. Meskipun kali ini wujudnya adalah sebuah roh, dia masih bisa tahan mengimbangi tempat yang sudah mengutuknya sejak awal, dikecewakan karena ketidak tahuannya, dan diasingkan karena ketidak mampuannya, bukanlah hal besar yang bisa membuatnya putus asa lagi.


Langkahnya cepat bahkan berlari menuju tempat yang terus terngiang dipikirannya itu, dan beberapa saat melambat saat matanya menangkap sebuah pintu masuk di rumah yang dia tuju.


Hyerin bisa lolos masuk karena tubuhnya yang langsung tembus ketika memasuki rumah, dia masih berjalan dan terus mencari. Namun wajahnya sedikit kecewa kesimpulannya dia tidak menemukan satu orang pun di rumah.


Langkahnya kembali bersiap pergi meninggalkan rumah, dia berlari tanpa arah seperti sudah tahu kemanakah seharusnya dia pergi.


Kakinya ambruk dengan lemah, setelah berlari, berjalan cepat hingga melambat, kemudian dia ambruk dengan napas yang hampir tidak tersisa.


Disepanjang ingatan mengenai tempat yang dia tuju masih terngiang jelas urutannya, tidak ada kesalahan. Tapi tidak ada yang dia temukan juga.


Hyerin kesal menahan ekspresi wajah yang semakin kecewa, pencariannya tidak membuahkan hasil.


Matanya melongo tajam memandangi langit luas tanpa celah.

__ADS_1


Dalam beberapa saat hingga rasa kesalnya masih membekas, tapi suara jam dinding lagi-lagi terngiang jelas. Matanya kemudian melihat seorang lelaki yang masih menyaksikan Hyerin terdiam, dengan nanar ingin meluapkan semua kecewanya. Hyerin berlari ke arah lelaki yang masih mematung, namun kembali terhentikan karena semua keadaan kembali berubah mempertontonkan Hyerin dengan pergantian waktu dan tempat seketika. Hyerin masih berdiri dengan kaki yang sudah bersiap. Secepat cahaya semuanya berubah lagi. Yang tadinya dia berada di tempat tinggalnya dulu kini dia sudah berada di tempat yang paling dia takuti sendiri.


Hyerin segera berlari ke semua arah, dia bertekad mencari kejelasan dari semua yang sudah terjadi.


Terlampau pikirannya yang sudah penuh tersulut emosi karena merasa dipermainkan seketika, Hyerin sangat gesit berlari lagi bahkan dia sudah melupakan jika beberapa saat sebelumnya tubuhnya sudah sangat lelah dan lemah. Yang ada dalam pikirannya hanya sosok lelaki itu, lelaki yang harus ditemuinya lagi tanpa ragu. Tanpa tersadar Hyerin tidak memperhatikan jika orang yang sedang dicarinya sedang berdiri tidak jauh dan memperhatikan Hyerin yang berlari ke sana kemari hingga hilang dari pandangannya. Lelaki itu kemudian duduk di sebuah ruangan dengan pemandangan yang tidak asing, sebuah tempat yang menaungi Hyerin seperti biasanya.


Di sisi lain Hyerin sangat sibuk mencari ke seluruh tempat di balik pintu, di setiap tempat, namun tidak menemukannya juga. Rasanya sangat kesal, dia tidak tahu lagi harus pergi ke arah mana, hatinya masih merasa yakin jika lelaki itu juga berada di tempat yang sama dengannya. Matanya membulat, Hyerin sadar ada yang terlewatkan, dia segera berlari tanpa menunda waktu lagi ke arah ruangannya.


"Rupanya kau di sini?" Ucap Hyerin dengan nada suara kesal, dia berdiri di ambang pintu sambil melihat ke arah seseorang yang sibuk dicarinya sedang duduk menghadap meja pasien.


Sebaliknya lelaki itu tidak membalas sedikitpun perkataan Hyerin, hanya dia balik memandangi Hyerin dengan tenang.


"JAWAB! Aku sangat kesulitan di tempat ini, memikirkan cara untuk kembali ke rumah, tapi semua orang menyerang ku dengan sebuah rumor jahat, kau dengan entengnya menyeret ku ke rumah, kenapa baru sekarang? Kenapa kau tidak membuatnya lebih mudah?" Terang Hyerin masih panjang lebar menyerang dengan kata-kata dan sama sekali tidak di balas lelaki itu.


Masih dengan pandangan tenang, dari satu sisi lelaki itu menenangkan Hyerin.

__ADS_1


Beberapa saat terdiam, rasanya hati Hyerin saat itu juga sudah hancur remuk tidak bersisa lagi, sebagai perempuan yang sudah sangat merindukan keluarga dan keadaan terpaksa mempersulitnya. Tentu saja sebagian hatinya akan marah, kecewa, dan sebagian besarnya sangat sedih. Terbukti, tidak lama matanya tidak tahan lagi menahan air mata yang berjatuhan seperti hujan, bayangannya yang sekilas mengobati kerinduan dan menyisakan sesak yang sangat dalam. Terlebih dia belum menemukan ibunya, namun waktu memaksa menyeret Hyerin untuk kembali.


Dengan nanar dan tanpa bisa ditawar lagi, Hyerin menangis sejadinya dia berteriak mengeluarkan semua sesak yang sudah menumpuk dan memupuk di dalam dadanya. Dia menangis dan tidak peduli lagi akan semua hal di sekelilingnya, dia tidak peduli jika orang asing sedang melihatnya.


Tanpa perasaan iba atau perlakuan lain, Lelaki yang ada di hadapan Hyerin masih mematung dengan dingin tidak memperdulikan nya. Dia melangkah pelan menghampiri. Tanpa terduga lelaki itu malah mengusap rambut Hyerin dengan ujung jari tangannya dan mengatakan bahwa Hyerin bodoh. Kemudian dengan entengnya kembali bersikap tak acuh dan meninggalkan Hyerin lagi.


Hyerin yang menangis langsung menghentikan teriakannya, dia membalikkan badan dan melihat punggung lelaki itu yang masih berlalu ingin meninggalkannya.


"Kau yang bodoh. Kau BODOH!!" Maki Hyerin tanpa jeda.


Lelaki itu bereaksi dan menghentikan langkahnya dengan spontan. Tubuhnya berbalik dan menangkap pandangan Hyerin yang kesal, namun kemudian tatapan Hyerin langsung berubah dengan gugup dan sikapnya yang mulai salah tingkah. Perasaan Hyerin mengatakan ada yang salah dari kata-kata yang sudah diucapkannya. Dia langsung menghindar ketika lelaki itu mendekat dan tanpa memberikan kesempatan langsung merangkul tubuh Hyerin yang lebih pendek darinya dengan erat. Pandangannya tidak lagi memandangi Hyerin hanya dia membalas sikap Hyerin dengan sentuhan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebuah ciuman pertama yang Hyerin dapatkan. Matanya yang melebar tidak bisa menahan rasa terkejutnya dari tindakan orang asing yang sudah lancang memperlakukannya sebagai wanita gampangan. Saat Hyerin akan menghindar tiba-tiba sekelebat bayangan yang jatuh dalam bayang-bayang ingatannya mulai muncul dan menyerang Hyerin terus menerus. Dia bisa melihat dirinya sedang pergi dengan sebuah tas besar pergi ke bandara, namun sebelum sampai kecelakaan tragis menimpa bus yang ditumpanginya terjun menuruni tebing dalam.


Hyerin tersentak dengan ekspresi yang sangat kaget, dia tidak bisa menolak ingatan yang seperti kenyataan baginya. Hyerin menghentikan seketika semua ingatan yang menyerang pikirannya itu, rasanya sangat tidak sanggup membayangkan sebuah kecelakaan yang menimpa dirinya sendiri.


Dengan napas yang tertahan Hyerin balik memandangi lelaki yang ada di hadapannya itu. Pandangannya sangat dalam dan penuh tanya, tapi yang membuatnya terheran adalah sikap lelaki itu yang masih dingin dan datar terhadapnya. Hyerin tidak mengerti dan tidak memahaminya. Padahal lelaki itu sudah sangat membantunya, tapi sebaliknya lelaki itu masih tak acuh bersikap tidak peduli dengan masalah yang dihadapi Hyerin.

__ADS_1


__ADS_2