
"Yakin dong, pasti Yora mau kan kalau perginya sama aku?" Rere meyakinkan diri di hadapan Hyerin.
Yora menatap Hyerin dan Rere bolak balik.
"Aku titip dia ya Re, kalian pasti bisa kan? Tolong pergi dan kembali lebih cepat, aku berharap tidak sampai pergantian waktu selanjutnya." Ucap Hyerin memandangi Yora yang hanya diam saja.
"Udah ah! aku udah tahu lagian, aku tidak sampai kembali lagi lebih dari itu ya!" Ucap Rere terdengar menenangkan.
Yora memang tidak tahu apapun lebih dalam rencana apa yang dibicarakan oleh Rere dengan sangat yakin, dia hanya tahu jika dirinya harus pergi bersama Rere ke tempat lain entah kemana.
"Mau kemana sih?" Tanya Yora selama Rere mempersiapkan hal apapun yang harus dia siapkan sebelum pergi dengan rencananya.
"Nanti juga tahu sendiri." Ucap Rere terdengar tidak berniat untuk membeberkan hal yang jelas-jelas Yora tak tahu.
Yora berdecak kesal, mengikuti Rere berjalan di depannya.
Tidak ada persiapan khusus yang dilakukan. Yora juga melihat Rere tidak membawa apapun sebagai bekalnya. Tadi dia pikir perjalanan ini sangat penting tapi setelah melihat Rere yang tidak membawa apapun, Yora menebaknya dengan hati-hati.
"Kayanya udah ya cukup sampai sini. Kamu tunggu di sini dan amati yang keluar masuk nanti." Instruksi Rere tepat saat Yora berada di seberang gedung yang jaraknya tidak begitu jauh.
"Ngapain di sini? Ikut saja." Pinta Yora polos.
"Gak bisa! Udah deh kamu nurut aja apa yang aku bilang." Jelas Rere. Dia tidak diam sudah mengawasi gedung diseberangnya.
"Aku pergi sekarang!" Pamit Rere dia langsung menghilang di hadapan Yora.
__ADS_1
Yora menatap aneh ke arah gedung yang menurut hatinya tidak ada apapun. Itu hanya sebuah gedung rumah sakit kan? Keramaian di sana tidak membuatnya takut. Yora bergegas pergi karena rasa penasaran.
"Kenapa sih harus tunggu di luar? Padahal masuk juga gak masalah kan?" Ucap Yora dalam hati. Dia melangkah masuk ke dalam gedung tanpa ragu, pemandangan rumah sakit yang ramai pengunjung menjadi hal yang biasa baginya. Sejauh ini Yora merasa tidak ada yang aneh, satu persatu semua diperhatikan Yora tanpa terlewatkan. Baru kali ini mungkin karena dia seorang roh bebas masuk ke dalam rumah sakit dengan berani, padahal tak sedikit pemandangan pasien membuat kaki Yora lemas. Beda lagi dengan sekarang, dia pikir karena sudah menjadi roh dia tidak akan mengalami lagi hal serupa yang dilihatnya, seperti kehilangan darah karena terluka, tubuh yang patah, atau apapun itu yang sering dia takutkan kalau pergi dan masuk ke dalam rumah sakit.
Yora menghentikan kaki melihat seorang roh tersenyum simpul padanya, baru kali ini dia menerima senyuman dari roh lain karena selama itu Yora hanya menjadi penunggu di sekolah dulu.
Seorang lelaki dengan tatapan tajam dan menarik, menyimpulkan senyum lalu pergi berlalu dari hadapan Yora, membuat mata Yora terbelalak dan penasaran. Tanpa sadar kaki Yora bergerak mengikuti lelaki itu. Dari tingkahnya seperti sengaja menginginkan Yora untuk mengikuti dia, Yora tak merasa aneh dia pikir tidak masalah kan jika harus menambah teman dengan roh lain selain Hyerin adalah sahabatnya.
Yora terus berjalan tak sabar karena lelaki itu tiba-tiba hilang di ujung lorong rumah sakit. Dia melihat ke sisi kanan dan kiri tapi masih tidak menemukan sosoknya. Kebanyakan Yora melihat roh lain dari tadi, tapi setelah memasuki tempat ini penampakan dari yang lain tidak Yora lihat juga. Sedikit merasa aneh, perasaannya terjaga saat tahu hanya dia sendiri telah memasuki ruangan kosong tanpa siapapun.
Yora menarik napas dan berbalik, tiba-tiba senyuman tadi sudah ada di depan mata. Hati Yora terhentak kaget, dia tidak tahu jika ada orang yang tiba-tiba muncul begitu saja.
Yora terdiam setelah mundur beberapa langkah memberikan jarak diantara mereka. Dia memandangi lelaki yang terus memperlihatkan ekspresi sama, membuat Yora penasaran dengan apa yang dipikirkan lelaki itu padanya.
"Kau pasti anak baru ya?" Sebuah kata-kata terlontar lancar dari mulut lelaki itu. Yora langsung menatap bingung dan heran, seharusnya kalau di dunianya dulu lelaki se keren itu dan ganteng sangat jarang bersikap ramah apalagi pada dia yang termasuk bukan orang populer.
Yora mengangguk ragu, dia tidak menjawab pertanyaan lelaki itu karena masih canggung.
"Bisa datang kemari? Emangnya lagi cara apa di sini?" Tanyanya lagi. Yora pikir pertanyaan awal tadi sudah akan mengakhiri obrolan ini, tapi tak disangka lelaki di depannya memberinya pertanyaan kedua.
"Kenapa?" Cetusnya lagi.
Karena canggung Yora langsung salah tingkah, dia memang tidak terbiasa berbicara langsung dengan lawan jenisnya, apalagi hanya berdua seperti saat itu.
"Aku tadi lewat sekitar sini, ya tertarik saja masuk ke sini." Jawab Yora masih tidak terdengar pasti dan yakin, padahal dia sudah kehabisan ide untuk mencari alasan karena sebenarnya kedatangan dia ke tempat ini karena misi yang dia jalankan bersama Rere. Apa dia salah ya mulai berbicara dengan orang asing? Apa Rere menginginkan dia tidak bicara dengan siapapun karena itu Rere melarangnya masuk ke dalam gedung.
__ADS_1
"Mau ditemenin." Tawarnya pada Yora. Lagi-lagi Yora merasa jantungan, dia tidak menyangka ada sebuah penawaran yang tidak pernah dia dengar selama hidup dulu dari lawan jenisnya, kecuali Rey sahabatnya sendiri.
"Tidak perlu, aku mau kembali ke sana." Ucap Yora merasa tak enak, dia tidak berani untuk lebih jauh lagi karena malu dan tidak bisa mengendalikan sikapnya yang mungkin selalu salah tingkah.
"Gak apa-apa kok, pergi bersama aja!" Tawaran kedua.
Hampir membuat Yora tak percaya dia mendengar sebuah tawaran lagi. Apa memang ini adalah mimpi terbaiknya? Pikiran Yora yang kemana saja waktu itu tidak bisa mengontrol sikapnya termasuk menilai orang asing yang baru dia temui di tempat itu.
Selama beberapa saat Yora tak menyimpan rasa curiga sampai akhirnya dia menyetujui ajakan lelaki asing yang bahkan belum menyebutkan nama.
"Maaf ya, namamu siapa? Aku belum tahu." Ucap Yora terdengar memaksakan pertanyaan yang mungkin tidak sengaja dia katakan juga.
"Bener ya dari tadi bersama aku sampai lupa memperkenalkan diri." Ucap lelaki itu seperti memaklumi ke lancangan Yora. "Panggil aku Rai saja. karena memang namaku Rai." Senyumnya sedikit bersuara.
Yora mengikuti tertawa kecil yang dilakukan lelaki di hadapannya.
"Oh namanya Rai, sangat mudah diingat " Gumam Yora dalam hati. Dia merasa bangga karena tahu nama lelaki yang sedang bersamanya saat itu, apalagi bisa dikatakan ini adalah rekor nya.
Yora tertawa kecil tanpa sadar suaranya bisa didengar oleh lelaki di sampingnya itu.
"Ayo lagi mikirin apa?" Goda Rai mulai bersikap akrab.
Yora langsung terdiam dan wajahnya yang merah padam karena malu. Untuk menghapus rasa malunya Yora memperlihatkan Rai senyumnya yang terkesan dipaksakan.
"Aku ada tempat lain loh, mau ikut kan?" Tanya Rai pada Yora.
__ADS_1