
"Aku berhasil kan?" Tanya Rai dalam hatinya.
Sesosok iblis muncul, awalnya hanya seperti asap hitam pekat yang berkumpul lalu kemudian menjadi wujud lelaki.
Rai terkejut, kedua matanya tidak percaya jika di hadapannya adalah rupa dan bentuk tubuhnya sendiri.
"Mengapa bisa?" Tanya Rai.
"Mau melakukan perjanjian?" Tanyanya yang masih membingungkan Rai.
Rai tidak menjawab, dia sedikit takut karena baru pertama kali melihat seorang iblis datang ke hadapannya.
"Pikirkan itu dan jangan membuang waktu, sekarang umurmu terhitung dari sekarang!" Ucapnya yang langsung menghilang.
###
Rai segera terbangun dari mimpi yang baru saja mengusik hatinya lagi. Mimpi itu mengingatkannya lagi pada kesalahan pertama yang sudah dibuatnya.
"Bermimpi lagi?" Sebuah suara langsung membuyarkan pikiran Rai.
Rai terperanjat kaget dan melihat lagi seorang wanita yang ada di hadapannya. Wanita tidak asing itu.
"Mengapa dia ke sini lagi?" Pikir Rai dalam hatinya sedikit terganggu karena kehadiran wanita itu.
Rai tidak menoleh maupun membiarkan perhatiannya kembali teralihkan.
"Iblis itu sudah tidak ada di sini kan? Sepertinya dia cukup bebas di tempat ini. Apa yang dilakukannya? Apakah dia bisa memakan roh seperti ku?" Ocehannya mulai memancing perdebatan dengan Rai.
Rai langsung melihatnya dengan serius.
"Mau cari mati datang ke sini?" Tanya Rai dingin. Ekspresi kesalnya sudah tidak bisa ia sembunyikan.
__ADS_1
"Apakah Iblis itu bisa memakan roh seperti ku?" Ucapnya lagi sengaja diulangi.
Rai langsung memalingkan wajah dan cepat berdiri.
"Tunggu. Aku bercanda, sebenarnya aku takut ke tempat ini. Pertama kali bertemu dengan iblis itu bisa membuat jantungku copot. Tapi sepertinya aku tidak takut lagi." Jelasnya.
Rai tidak tertarik dan tidak menghiraukan wanita yang terus berusaha dekat dan mengusik sisi lain dari dalam dirinya.
"Apa kamu tidak ingin tahu apa yang dilakukan iblis itu?" Wanita itu masih berusaha mengganggu Rai. Bahkan saat Rai terlihat berjalan dan akan meninggalkan ruangan itu.
"Pasti sudah banyak korban yang tidak diketahui oleh orang-orang." Ucapnya.
Rai menghentikan langkah kakinya dan sedikit tersinggung dengan kata-kata itu.
"Apa yang ingin kamu ketahui?" Tanya Rai langsung kembali berjalan mundur lagi mendekati wanita itu.
"Apa kamu sudah membiarkan banyak korban ulahnya? Iblis itu kamu kan yang mengundangnya?" Tanyanya sambil membalas tatapan mata Rai yang mulai serius menatapnya.
"Kau sudah tahu semuanya, sekarang katakan apa yang ingin kamu tahu lagi?" Tanya Rai terlihat emosi.
Wanita itu sedikit sesak karena tidak ada lagi jarak dan Rai yang semakin mendekat hingga membuatnya sulit bernapas. Membuat wanita itu bingung dan tidak nyaman. Tapi Rai sepertinya tidak memperdulikan hal itu. Rai langsung menahan lengan tangan wanita itu dan memegangnya erat. Wanita itu berusaha melepaskan tangannya.
"Mau tetap hidup? Jangan datang lagi ke sini!" Ucap Rai terdengar seperti peringatan.
Wanita itu terdiam dan gugup. Sedikit terkejut dengan tindakan Rai.
"Sudah jelas kan!" Ucap Rai kembali menekankan peringatannya.
Wanita itu diam dan tidak lagi memandangi Rai.
Rai langsung melepaskan tangannya dan kembali berjalan dengan dingin membelakangi wanita itu pergi ke arah pintu.
__ADS_1
"Aku sudah tahu semuanya dan apa yang kamu lakukan!" Teriak wanita itu.
Rai hanya sedikit tertegun, tapi dia kemudian tidak memperdulikannya lagi. Terus berjalan dan menganggap bahwa wanita itu tidak ada.
Di sepanjang jalan Rai sangat terganggu dengan kata-kata dan kehadiran wanita itu yang tiba-tiba muncul. Semua kata-katanya terngiang jelas di pikiran Rai. Ada pertanyaan besar yang mulai menjadi perhatiannya, sebenarnya dari mana wanita itu tahu semua tentang dirinya dan tentang iblis itu, selain Akemi tidak ada yang lebih tahu lagi. Tapi siapa lagi? Rai bersikeras memikirkannya, dia tidak bisa mencari sebuah jawaban lagi.
Di luar gedung Rai terus memikirkan apa yang bisa dilakukannya hari ini? Selain dirinya menunggu kabar tentang janji yang diberikan Gisya dan teman-temannya, mempertemukan dia dengan seseorang yang akan menjawab solusi dari masalah Hyerin. Rai tidak pernah bisa lagi menunggu waktu yang sekarang hanya tersisa sedikit untuknya.
"Semua tidak bisa diselesaikan sendiri kan?" Sebuah suara yang sama terdengar lagi oleh telinganya.
Ekspresi Rai langsung berubah, dia lebih terlihat marah.
Dari pada menunggu kata-kata wanita itu yang semakin membuat Rai frustrasi, Rai langsung pergi saja menghilang dari tempat.
Sedangkan wanita itu tampak semakin kesal seperti usaha yang dilakukannya tidak berhasil juga.
Tanpa sadar Rai kembali ke tempat yang sama, dimana tempat itu adalah rumah Hyerin di dunianya. Rai masih tetap berada di ujung jalan yang jaraknya sedikit jauh dari rumah. Matanya hanya sesekali melihat ke arah rumah, hatinya selalu berharap dia akan melihat Hyerin lagi, ingin sekali rasanya langsung menemui Hyerin memastikan kabar tentangnya. Meski caranya itu terdengar mudah karena menurut Rai sendiri bahwa Hyerin tidak akan bisa melihat keberadaannya. Namun keberanian untuk melakukannya tidak juga bisa membuat Rai melakukan rencana itu.
Rai kembali membuang pandangannya pada aliran sungai di bawah jembatan. Dalam keadaan tenang seperti ini membuat dia mengenang kembali semua ingatan yang ingin sepertinya dia ulangi pada waktu yang sama. Mengapa rasanya semua akan berakhir saja? Rasanya waktu semakin dekat saja baginya.
Di dalam rumah Hyerin sudah mengatakan rencana yang ingin dia lakukan sekarang, rencana seminggu yang lalu. Dia akan berangkat ke kota dimana dulu dia dirawat bersama kedua temannya. Ibu Hyerin yang terlihat berat melepaskan lagi Hyerin, mengingat kejadian setelah kecelakaan itu. Tapi apa daya jika itu adalah sebuah permintaan yang lama tidak didengar dari Hyerin, seperti tidak ada sebuah alasan lagi yang bisa membuat Ibunya Hyerin menolak.
Hyerin terlihat senang, hari ini dia akan pergi berlibur ke tempat dimana dia dirawat selama koma. Tujuannya berlibur, meskipun sebenarnya dia ingin mencari tempat Rai di sana dan menemuinya.
Hyerin pamit karena dia juga tebruru-buru untuk menemui kedua temannya.
Perlahan langkahnya mulai keluar dari rumah, sama seperti pada hari itu ketika Hyerin pergi ke kota untuk mencari kerja, Hyerin pergi dengan penuh emosi karena dia tidak pernah tenang tinggal dengan Ibunya. Namun pemandangan sekarang berbeda, kepergian Hyerin penuh dengan senyuman yang terlukis di bibirnya.
Ibunya hanya melambaikan tangan dan sedikit menangis di ujung mata.
Hyerin memang sudah mengatakan jika dia akan pergi bersama kedua sahabatnya itu. Dia sekarang hanya perlu langsung menemuinya ke rumah yang jaraknya tidak begitu jauh.
__ADS_1
Matanya langsung mengarah ke arah jembatan di atas sungai yang ada di ujung rumahnya. Entah mengapa Hyerin langsung melihat ke arah itu. Dia tidak melihat apapun selain seorang lelaki yang sendirian berdiam diri di sana. Hyerin berusaha memperjelas penglihatannya, hatinya merasa jika sosok itu bukan sesuatu yang asing lagi baginya. Spontan matanya langsung membulat karena yang dilihatnya saat itu adalah Rai yang berdiam diri sambil menundukkan wajah. Hyerin sudah hapal dengan struktur tubuh Rai meskipun itu dari jarak yang jauh. Dia tidak menyangka jika Rai sedang berdiri di sana. Seperti dalam mimpi, Hyerin tidak bisa meluapkan rasa senangnya itu. Kedua kakinya langsung berjalan perlahan ke arah Rai. Dalam pikirannya sekarang adalah waktu baginya, waktu untuk berbicara dengan Rai.