
Hyerin berpikir panjang untuk masalah seserius ini dia tidak bisa berhenti sejenak saja, apalagi dia kesulitan untuk mencari tahu kepada yang lainnya di tempat ini.
"Eh, rumah mu masih jauh Adik?" Tanya Hyerin, beberapa kali melamun dan merasa sudah cukup lama juga berjalan tapi Adik masih tidak bilang arah rumahnya juga.
"Sebentar lagi Kak, di sana!" Balas anak kecil itu sambil menunjukkan arah. Hyerin melihat ke ujung telunjuk yang dimaksudkan Adik, ternyata tempatnya ramai dia tidak bisa membayangkan tempat itu saat waktu berganti lagi.
"Sekarang kita masuk?" Tanya Hyerin ragu. Adik tak menjawab tapi dia mulai tersenyum aneh.
Hyerin mulai ragu dia membayangkan kali ini sedang bertaruh dengan keberuntungan saja. Semoga apa yang dikhawatirkan tidak berarti apapun.
"Adik, di sini kok." Komentar Hyerin saat itu juga. Matanya membulat melihat satu persatu iblis yang ada di sudut gang sempit yang Adik sebut jika itu adalah rumahnya.
"Kakak, ini rumah Adik." Jawabnya lagi terdengar lancar dan ekspresinya langsung berubah tidak terlihat seperti anak kecil berumur 7 tahun kurang.
Hyerin masih terhipnotis dengan pemandangan iblis yang detik itu juga langsung menatapnya tajam, melihatnya seolah seperti sesuatu yang sedang mereka tunggu. Jangan tanyakan tentang keberaniannya, saat itu juga mentalnya terasa hancur dan rasa takut mulai membuat jantungnya berguncang, napasnya beradu dengan perasaan cemas yang sangat memanas hingga terasa darahnya ikut mendidih.
Hyerin masih diam, kaki yang spontan bergerak mundur teratur. Sudut matanya baru bisa melihat ke arah Adik bertubuh kecil layaknya anak kecil berdiri diantara iblis yang rupanya jauh dikatakan layak sebagai monster, bahkan lebih dari itu. Baru kali ini sebagai pengalaman pertama yang tak berkesan sama sekali baginya, Hyerin melihat iblis bertubuh gemuk dengan lemak perut yang menggumpal tersembul ke luar dan mulutnya panjang memperlihatkan lidah panjang nya dengan air liur yang menetes ke tanah.
Hyerin melihat ke sekitar dan di tempat itu suasana masih sama tidak ada yang berubah. Masih ramai dan ornag-orang berhamburan dengan kesibukan dan aktivitas yang berbeda.
__ADS_1
Tanpa menunggu jeda, sebelum dia dilahap habis oleh iblis yang kelaparan sikapnya yang gesit berhasil membuat Hyerin selamat. Sekarang dari kejauhan Hyerin masih melihat ke arah iblis yang tidak bergerak ke luar dari gedung sempit. Saat matanya menatap langit uang memancarkan sinar Hyerin langsung terpikirkan spekulasi yang pernah dikatakan Ken. Apakah matahari membuat mereka terbatas? Tidak bisa keluar dan menjamah sinar matahari?
Bagaimana dengan anak kecil yang bersamanya? Dia masih terlihat menyeringai melebarkan senyum aneh seolah sengaja memperlihatkannya. Adik berdiri di tengah-tengah iblis tanpa rasa getar, ketir, atau takut. Melihatnya Hyerin menebak jika Adik adalah bagian dari iblis? Apakah seperti itu?
Beruntung jika saat itu masih siang dan waktu juga belum berganti, setidaknya Hyerin bisa menyadarkan semua orang untuk berlindung ke tempatnya atau apakah di sini juga ada tempat yang bisa membuat semua roh aman dari kedatangan kabut itu? Pikiran Hyerin gusar, dia tidak bisa memikirkan cara jika dalam keadaan genting dan kalut seperti itu.
Saat berusaha ingin memperingatkan orang-orang sedikit lagi hampir dia mendatangi salah seorang roh di tempat itu yang terlihat di depan matanya. Pikirannya langsung menghentikan niatnya itu, bayangan Adik seperti mengudara di dalam pikirannya, dan kenyataan pahit tentang Adik sudah membuatnya sadar. Anggap saja jika Adik adalah iblis, jika seperti itu ternyata banyak kemungkinan yang akan terjadi di tempat ini. Bisa saja roh yang dilihatnya adalah iblis juga? Anak kecil, orang dewasa tidak ada bedanya. Hyerin tidak bisa menemukan perbedaan antara identitas mereka.
Kenyataan yang didapatnya dengan matanya sendiri membuat Hyerin harus berdebat dengan hatinya sendiri. Saat ini dia harus segera pergi, bagaimanapun alasannya dia harus pergi menjauh atau kembali lagi ke gedung sekolah itu. Hyerin harus memberitahu semua orang tentang kenyataan ini, entah hanya sebatas asumsi tapi kemungkinannya cukup besar. Anggap saja Hyerin tidak bisa mengambil resiko lebih besar dengan membiarkan informasi sehebat ini tidak sampai kepada semua orang.
****
Naas Rere tak terlihat dimana pun.
Hyerin bergegas lagi mencari di sekitar gedung sekolah, matanya tak henti terus beredar mencari sosok dua orang yang sangat dia harapkan untuk segera bertemu.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kemanakah perginya Rere dan temannya?
Hyerin teringat dengan kejadian terakhir saat dia pergi dari gedung sekolah. Tentu saja dia tidak bisa lupa tentang perdebatan bodoh yang sudah dilakukannya. Karena sebab itu, Rere mungkin saja pergi dan menyusul ke tempat sebelumnya.
__ADS_1
Kabar buruk.
Hyerin tak tinggal diam lagi. Semua pikiran tentang kekhawatirannya, tentang resiko, tentang apapun semuanya dia hilangkan. Dia tidak ingin jika Rere sampai bertemu dengan anak kecil itu, pastinya Rere akan mengalami masalah dan itu bukan masalah biasa.
Seolah semua keributan dan orang-orang di sana tidak ada, dia hanya membayangkan Rere dan temannya hingga perasaannya mulai kalut.
Saat berhadapan dengan gang kecil itu Hyerin tak mendapatkan satu penampakan di sana. Rasanya dia ingin langsung berteriak kesal karena kecewa, semua tidak akan terjadi jika saja dia tidak berdebat dengan Rere. Dan sekarang dimana Rere? Hyerin tidak bisa mencerna pikirannya sama sekali. Dia mematung di depan gang tadi yang ditinggalkannya beberapa saat tak lama. Sekarang apa yang tersisa? Dia sendirian?
Sendirian mematung di depan gang kecil dengan tatapan kosong begitupun pikirannya saat ini. Hyerin tidak tahu apa yang akan dilakukannya sendirian? Saat ini?
Rasanya masih sama, saat orang-orang pergi secepat kilat dari hidupnya. Dari pertama Rai, dan sampai terakhir sekarang. Rasa sesaknya masih sama. Mengapa harus berakhir sendirian seperti sekarang? Apa memang dia tidak pantas memiliki apapun meskipun itu hanya sekedar memiliki saja?
Tak terhitung air mata terurai membelah pipinya, mengalir lancar dengan semua ingatan yang mulai bermunculan satu persatu. Sekarang dia tidak tahu apakah akan ada saatnya untuk mengubah semua yang sudah terjadi?
****
Jam berdentang tak membohongi waktu yang langsung bergulir, suaranya mengisi kekosongan pagi, siang, dan malam dan jiwa yang masih terperangkap di dunia roh suatu tempat dengan dimensi dan waktu berbeda dengan kehidupan manusia. Saat waktu bergulir kehidupan manusia sirna di mata semua roh, pemandangan kehidupan juga sirna berganti dengan nuansa kehidupan roh yang gersang seperti Padang pasir.
Aroma nya masih sama dan kabut memang kembali datang tanpa diundang.
__ADS_1
Berteduh kan langit yang membelah memberi jalan iblis dari atas, Hyerin menyebutnya jika langit itu adalah tempat iblis keluar dan inilah saatnya.