
Sekarang apa yang harus dihadapinya lagi? Orang-orang? Kenyataan baru? Momen terbaik?
Hyerin menjadi menyedihkan, dalam semua keadaan dia diserang oleh banyak pihak. Bersamaan dalam satu waktu dia pun disalahkan karena banyak kejadian. Semua yang terjadi secara acak memberikan kejutan yang dia sendiri tidak bisa menebaknya. Di satu sisi dia membutuhkan orang untuk membuat semuanya lebih baik lagi, tapi di sisi lain setiap orang yang memiliki hubungan dengannya tanpa dia mau satu persatu hilang tidak meninggalkan kabar. Seolah disengaja waktu tidak membiarkannya sedikitpun memiliki kesempatan untuk bertanya.
Menjadi roh yang lahir sebagai pasien di kamar 13 bukanlah pilihannya, seolah sudah dijebak untuk mati di tempat yang sangat tidak diinginkan di mata semua roh yang hidup di dunia ini. Apakah terlihat hal itu adalah kesalahannya? Lalu mengapa orang-orang dengan bebas menghujat tanpa memikirkan bagaimana perasaannya sebagai seorang wanita tidak dikatakan sebagai kesalahan?
Hyerin hanya meratap menunggu setiap waktu akan berganti. Bagi dia tidak ada bedanya hidup dan mati selalu berakhir seperti yang tidak diinginkan.
Beberapa saat berlalu, waktu pun berganti dengan cepat. Semua kegaduhan dari keramaian orang-orang tidak membuat Hyerin bergeming dan berniat untuk berpindah tempat. Hyerin menatap ke arah pintu yang selalu dimasuki oleh seorang dokter ke ruangan. Masih dengan dokter yang sama, Hyerin menduga jika dokter itu merawat seorang pasien di dalam ruangannya. Matanya tertarik dan melihat ke arah dokter, dia melihat dengan detail apa yang dilakukan dokter namun Hyerin tidak melihat pasien yang sedang dirawatnya. Dia sedikit terheran lalu apa yang akan dilakukan dokter itu? Pikirnya sesaat. Dia tidak memperdulikan, memilih segera meninggalkan ruangan meski sebenarnya Hyerin tidak tahu kemana dia akan pergi.
Langkahnya terhenti, Hyerin membalikan tubuh dan melihat sosok Rai yang masih mengikutinya. Dia hanya menggelengkan kepala dan kemudian bersikap biasa saja. Hatinya berasumsi apakah Rai memang dewa kematian yang dimaksudkan Akemi? Tanpa diduga pikiran itu muncul. Dia teringat akan rencananya untuk memastikan suatu hal, antara Akemi atau Rai siapa yang sebenarnya adalah dewa kematian itu.
Hyerin melihat ke semua arah, dia berjalan memasuki setiap ruangan satu persatu dan pergi ke setiap tempat. Hampir semua ruangan gedung tidak terlewatkan, tapi Hyerin tidak melihat jika ada Akemi. Hatinya sedikit kesal, kalau saja waktunya dia mencari Akemi... Lelaki itu tidak pernah muncul.
Hyerin memutuskan tidak mencarinya lagi. Dia bergerak ke satu tempat dan memastikan bahwa Rai masih mengikutinya. Sekarang rencananya berbeda, Hyerin perlu memastikan lagi apakah Rai benar-benar terlihat oleh orang-orang atau tidak?
__ADS_1
Hyerin memilih bergerak ke luar gedung. Sambil matanya yang selalu terjaga meneliti ke setiap sisi mencari roh lain yang kebetulan ada di lokasi. Untuk melakukan rencananya Hyerin harus melupakan kejadian yang baru saja sudah terjadi, dia harus berani dan melakukannya.
Selama dalam pengawasan akhirnya Hyerin melihat roh anak kecil yang sedang sendirian. Saat dirinya segera mendekat anak kecil tersebut malah mendahului menoleh ke arahnya, wajahnya sangat sedih hingga membuat Hyerin tergerak untuk menghampiri.
Hyerin bertanya apa yang membuatnya sedih, anak kecil itu tidak berhenti menangis sambil pandangannya yang selalu mengarah ke arah belakang tubuh Hyerin. Dengan sedikit gerakkan Hyerin memastikan bahwa anak kecil itu melihat seseorang, benar seperti dugaannya bahwa anak kecil yang sama ini bisa melihat Rai. Belum lepas dari aksinya, Hyerin kembali tersadarkan dengan kesedihan anak kecil itu. Dia bertanya mengapa bisa bersedih? Ternyata usahanya sangat sulit, untuk mengobrol dengan anak kecil tidak segampang seperti yang dipikirkan. Beberapa saat Hyerin tidak bertanya lagi, dia menoleh ke semua arah mencari sosok wanita tua yang selalu bersama anak kecil itu. Tapi dari sepanjang penglihatannya Hyerin tidak menemukan wanita tua itu, lantas kemana perginya? Hatinya seketika tersentak kembali, pikiran bahwa wanita tua itu hilang karena pernah mengobrol dengannya tiba-tiba muncul. Hyerin tidak bisa mengelak perasaannya yang sangat bersalah. Dia berdiri dan sudah tidak bisa lagi menahan kesedihannya itu. Hyerin sangat ingin mengutuk dirinya sendiri sampai semua petaka tidak terjadi lagi di sekitarnya. Dia sangat tak kuasa melihat anak kecil yang menangis karena kehilangan orang tuanya. Bukan tanpa alasan atau tidak tega, tapi Hyerin berpikir untuk menjauh dari orang-orang agar mereka bisa aman dari petaka yang tidak bisa ditebak nya itu. Yang terpenting sekarang dia sudah yakin bahwa Rai bisa dilihat artinya dia bukanlah dewa kematiannya seperti yang disebutkan Akemi.
Tinggal Akemi, Hyerin butuh pembuktian tentang Akemi. Bagaimana caranya? Akemi selalu muncul dimana tidak bisa ditebak nya.
Hyerin bergerak ke arah alun-alun pusat kota. Kali ini di kesempatan yang berbeda semua orang terlihat padat dan lebih banyak dari sebelumnya. Mungkin karena akhir pekan semua orang bersantai dan memilih liburan sedikit ke alun-alun kota.
"Hyerin... " Seseorang terdengar lagi memanggil namanya.
Hyerin menoleh dan mencari di keramaian.
Dia tidak mendapati orang yang memanggilnya itu.
__ADS_1
"Hyerin... Ini." Suara yang sama masih memanggilnya lagi.
Dengan satu kali menoleh Hyerin langsung mengenali orang tersebut. Seorang wanita yang berasal dari sekolah. Hyerin menahan dirinya untuk bergerak dan mulai hati-hati lagi. Selain karena takut dengan pengawasan Rai dia khawatir jika akan terjadi lagi sesuatu hal. Hyerin memilih untuk membiarkannya, memalingkan wajah dan meng tak acuhkan wanita itu.
Tanpa diduganya wanita itu malah menghampiri ke arah Hyerin sambil matanya yang sangat waspada melihat ke semua sisi. Wanita tersebut semakin berani mendekat dan duduk di samping Hyerin.
"Dengar kan aku, hari ini kita semua kumpul lagi di tempat sebelumnya." Terangnya yang tidak ditanggapi Hyerin.
Hyerin malah menoleh ke arah belakang dan melihat tubuh Rai yang jaraknya tidak terlalu jauh. Tiba-tiba hatinya terhentak kaget, padahal ada Rai apa mungkin akan terjadi lagi? Pikir Hyerin. Namun prasangka nya mereda karena dari tindakan sebelumnya Hyerin sudah meyakinkan jika Rai bukan dewa kematian seperti yang disebutkan oleh Akemi.
Dia bersantai dan segera meng ia kan maksud dari obrolan mereka berdua.
Tidak menunggu kesempatan lagi Hyerin dan wanita itu berjalan santai mengikuti jalanan yang langsung membawanya ke dalam sebuah gedung yang sudah pernah datang sebelumnya.
Masih dengan perasaannya yang gelisah, Hyerin mencuri kesempatan mencari ke bagian belakang sosok Rai, ternyata dia masih melihat Rai yang mengikutinya. Sedikit merasa khawatir tapi dia mencoba meyakinkan lagi bahwa Rai bukanlah dewa kematiannya artinya Rai bukan pelaku yang menyebabkan orang-orang di sekitarnya hilang.
__ADS_1