
Padahal sudah di depan mata, tidak begitu jauh untuk mencari Rai yang selalu hadir dalam ingatannya sebagai satu-satunya orang yang memiliki semua kenangan masalalu dan sekarang. Hyerin tidak mengerti kesempatan itu hilang di depan mata, penyebabnya tak lain karena suara dia yang menghilang.
Hyerin sudah menolak dan menjelaskan dalam tulisan tangannya sendiri, dia tidak ingin pergi ke rumah sakit atau kemanapun, dia butuh sendiri tidak diganggu dan beristirahat. Alhasil Hyerin sekarang hanya termenung memikirkan semua yang sedang dialaminya sekarang sendirian. Meski Ibunya menolak tapi dia tidak bisa membiarkan Ibunya untuk menonton kesedihan dan beban semua yang berkecamuk di dalam pikirannya.
Sebenarnya Hyerin mengerti dengan kondisi tubuh dan kesehatan yang tidak stabil, dia tidak tahu bagaimana cara untuk mengakhiri kesusahannya ini. Rasanya sudah tidak tahan lagi, tapi apa yang bisa dilakukannya? Mengakhiri hidupnya sekarang tidak menjamin dia bisa bahagia menjadi roh dan menyaksikan Ibunya menderita karena kepergiannya yang egois.
Malam cepat sekali mengundang. Hyerin masih sendiri dan tetap menolak untuk ditemani siapapun, bahkan dia mengunci pintu kamarnya. Yang dilakukan Hyerin saat itu hanya memandangi pemandangan di luar dengan jendela yang terbuka dan suara musik yang tidak mengheningkan suasana.
Berulangkali tak terhitung dalam hitungan menit dan jam, Ibunya terus memastikan Hyerin dengan mengintip dari luar kamar. Melihat jika tidak ada sesuatu yang bahaya terjadi pada Hyerin.
Meski sangat sakit jika terus melihat Hyerin melamun dan terlihat jelas dari raut wajahnya beban yang dia tanggung.
Ingatan Hyerin kembali melayang pada kejadian tadi. Dia sempat melihat seorang wanita yang tidak pernah dilihatnya, datang dan mendekat, lalu pergi saat Rai sudah ada mendatanginya. Hyerin langsung menebak mungkinkah Rai sebenarnya terus mendatangi dia dalam waktu yang tidak Hyerin ketahui. Apakah Rai selalu menunggunya? Hyerin merasa tidak tahan mengingat Rai yang selaku setia menunggunya, padahal waktu sudah berlalu sangat lama. Dan apa yang dilakukan Rai? Menyia-nyiakan waktunya hanya untuk menunggu dirinya datang lagi dan terus datang lagi. Hyerin langsung menangis tak tahan. Dia harus berpisah dari Rai, Hyerin tidak bisa terus menyiksa Rai di setiap waktunya, dan Rai dengan iblis itu... Hyerin tidak bisa membiarkannya terus terperosok lebih dalam dalam hasratnya yang sesat.
"Yerin...! Yerin! Buka ya pintunya cepat makan!" Terdengar suara Ibunya dari luar kamar. Tapi Hyerin tidak mengindahkan perkataan itu meski dia jelas mendengarnya. Sudah pasti karena Hyerin untuk saat ini tidak bisa melakukan apapun selain hanya berdiam diri sendirian.
Suara ajakan tadi hilang lagi dan Hyerin tidak memperdulikannya.
Pikirannya masih melayang dan keras memikirkan Rai juga tentang hidupnya.
Hyerin harus pergi ke tempat yang bisa dia datangi untuk menemui Rai, dan satu-satunya jalan hanya dengan pergi lagi ke rumah sakit tempat dimana ia dirawat dulu.
Setelah waktu terus berlalu panjang dan lama. Keputusan bulat sudah dicerna berulangkali oleh akalnya, tekadnya untuk saat ini hanya harus datang ke rumah sakit itu meskipun jauh, di sana dengan penglihatannya Hyerin akan menemui Rai dan berbicara banyak kepadanya. Untuk menjalankan rencananya Hyerin hanya butuh teman untuk mengantar ke tempat itu.
__ADS_1
Hyerin tidak bisa sabar untuk menjalankan rencananya, tapi sekarang masalahnya siapa yang akan dia percayai untuk pergi bersama? Yora, Rey? Hyerin berpikir tidak lagi melibatkan mereka. Tapi siapa lagi? Hyerin tidak punya teman lainnya.
Selama Hyerin terus berpikir dia tidak sadar ada seseorang yang menyelinap masuk ke dalam ruang kamarnya.
Tiba-tiba lampu mati, Hyerin terkejut melihat keadaan langsung gelap. Dia langsung berdiri dan meraba ke setiap sisi menggunakan tangannya. Tanpa sengaja sesuatu mengenainya saat itu, Hyerin merasa tubuh seseorang.
"Ibu?" Tanyanya langsung.
Hyerin langsung diam lagi, dia merasa heran karena suaranya sudah kembali.
"Ibu kan?" Tanyanya lagi.
Hyerin tidak mendapatkan sebuah jawaban. Secara perlahan dia mulai merasa takut, jantungnya 2 kali lipat berdegup lebih cepat. Apakah orang lain masuk ke dalam rumahnya? Siapa? Kakinya mundur secara teratur hingga tubuhnya terjatuh lagi ke kasur. Hyerin berusaha lagi bangun. Matanya langsung membulat karena dia melihat cahaya lampu yang sudah terang lagi. Spontan matanya melihat ke arah tadi, tapi di depannya Hyerin tidak menemukan siapapun, bahkan orang lain yang seharusnya ada berdiri di sana.
"Ibu. Ibu dimana?" Teriak Hyerin panik berlari menuju dapur.
"Yerin. Ibu di kamar." Terdengar Ibunya menjawab, tapi tidak lama Ibunya sudah datang menghampiri.
Hyerin langsung memeluk Ibunya karena takut ada seseorang yang sudah masuk ke dalam kamar. Sebaliknya, Ibu Hyerin sangat terkejut bercampur dengan perasaan haru karena Hyerin sudah bisa berbicara lagi.
"Kamu sembuh Nak." Ucap Ibunya yang langsung menangis.
Hyerin langsung tersadar dengan suaranya yang sudah kembali. Dia tidak tahu mengapa ada begitu banyak hal aneh yang terus terjadi dengan dirinya.
__ADS_1
"Makan ya pasti lapar." Sebut Ibunya langsung mengajak Hyerin makan.
Hyerin menggelengkan kepala karena merasa napsu makannya sudah hilang.
"Dari pagi Yerin belum makan, sekarang kita makan ya!" Ucap lagi Ibunya mengkhawatirkan.
"Tadi seseorang ada di dalam kamar Yerin Bu." Ucap Hyerin mengadu.
"Siapa? Tadi ketika mati lampu?" Tanya Ibunya penasaran.
"Awalnya Hyerin merasakan orang itu ada, tapi saat lampu menyala sudah tidak ada lagi." Hyerin berterus terang dan terlihat raut wajahnya yang takut.
Ibunya diam tidak menjawab melainkan terus menenangkan Hyerin. Ada sedikit keanehan, padahal mati lampu tadi tidak lama dan hanya berselang 3 menit, mustahil jika orang itu bisa masuk dan pergi lagi dari kamar Hyerin. Ibunya langsung memeriksa ke arah pintu, dari sana terlihat sebuah kunci yang menggantung dan keadaan pintu pun dalam keadaan terkunci.
"Siapa ya Bu yang masuk ke kamar Yerin?" Tanya lagi Hyerin membuyarkan Ibunya yang terlihat sejenak melamun.
"Sudah jangan dipikirkan lagi, mending Yerin tidur dengan Ibu di kamar ya!" Ajak Ibunya mengalihkan pikiran Hyerin. Ibunya tidak terkejut mendengar sesuatu yang janggal dari mulut Hyerin karena kesaksiannya sendiri melihat Hyerin yang selalu bertingkah aneh, bisa jadi itu masih dari efek kesembuhan Hyerin yang belum pulih sempurna pasca koma.
Dari luar rumah seseorang mengendap dengan hati-hati. Sebenarnya dia bukan manusia, makhluk hidup tidak mungkin bisa melewati dinding dan pintu yang terkunci. Benar saja, Hyerin tadi merasakan tubuh Rai yang sedang berdiri di hadapannya. Karena Rai sudah menjadi dewa kematian dia bisa sesekali muncul dengan wujud manusia di hadapan Hyerin. Cara itu digunakannya untuk menemui Hyerin secara langsung tanpa memperlihatkan identitasnya.
Rai tidak bisa tenang, dia terus terpikirkan tentang Hyerin. Perasaannya yang khawatir membawanya lagi ke tempat Hyerin. Meski harus menimbulkan sedikit kerusuhan dan Hyerin yang takut karena ulahnya. Itu tidak masalah dia hanya perlu seperti itu untuk menghampiri Hyerin.
Rai kembali lagi ke dunia roh, tanpa dia ketahui kedatangan dan kepergiannya ke rumah Hyerin terus diperhatikan oleh seorang wanita yang tak lain seseorang yang dikenalinya. Satu-satunya orang lain selain Hyerin yang tahu tentang wujud iblis itu ketika suatu kecerobohannya saat mendatangi Rai di gedung rumah sakit. Alasan besar yang membuatnya terus menjadi penguntit Hyerin dan Rai. Ada sesuatu rencana besar yang tidak ada satupun orang mengetahuinya. Sebuah rencana selain dari tugasnya yang masih anggota dari kelompok perkumpulan itu.
__ADS_1