Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Hyerin koma


__ADS_3

"Kau cari ke sana ya!" Saran Rei saat melihat di sekelilingnya tidak terlihat Ibunya Hyerin.


"Mau apa Rei? Harusnya ada di sini, karena tempatnya sudah benar." Ucap Yora.


"Ia kita cari saja ke tempat lainnya!" Rei bersikeras mengajak Yora untuk mengikuti kata-katanya itu.


"Itu Rei, di sana ibunya Hyerin." Sambil menunjukkan arah Yora mencoba memberitahu Rei.


Ternyata tujuan mereka salah, jika tempat berjualannya Ibu Yerin ada di beberapa ruang setelah tempatnya saat itu, hanya terhalang oleh beberapa kios saja.


Rei langsung berlari menuju arah yang ditunjuk oleh Yora.


Yora segera mengikutinya dengan perasaan tidak tenang. Dia lebih terlihat panik seperti sudah tahu sesuatu hal sampai dia terlihat panik lagi.


"Ibu, ini saya Rei temannya Hyerin."


Yora hanya berdiri dibeberapa langkah jaraknya saat itu. Dia tidak ikut mengatakan apapun, matanya hanya memperhatikan Ibu Hyerin dengan ekspresi takut.


"Rei yah, kenapa?" Ibunya Hyerin masih bisa menjawab perkataan Rei dengan santai meski saat itu kesibukannya terlihat tidak santai.


Rei menarik napasnya dan mulai mengumpulkan setiap ide nya. Dia sebenarnya bingung untuk mengatakan apa, menghadapi seorang Ibu yang langsung akan panik setelah mendengar anaknya pingsan. Pikir Rei yang masih gugup untuk menjelaskan. Apalagi Yora yang terus terdiam tidak mengatakan apapun.


"Yerin Bu." Ucap Rei sambil memandangi Yora yang masih tidak membantunya untuk bicara.


"Kenapa Yerin? Dia sakit?" Tebak Ibunya Hyerin yang sudah terlihat sangat panik.


Rei tidak menjawab, dia hanya mengangguk dan gugup.


"Yerin!" Tangis langsung memecah suasana saat itu, Yora dan Rei sudah mulai cemas dan bingung dengan kondisi yang dihadapinya saat itu. Dengan susah payah Yora sebagai perempuan mencoba untuk menenangkan Ibu temannya. Setelah beberapa kalimat akhirnya sesuai dengan yang dibicarakan Yora, Ibunya langsung menuruti untuk segera pergi bersama ke klinik terdekat di sekolah.

__ADS_1


Setibanya di tempat Rei langsung mengecek ke bagian administrasi dan menanyakan pasien dari sekolah mereka, Rei langsung mendapatkan petunjuk dan dibantu menuju ruangan dimana Hyerin dirawat.


Sebuah pintu yang bertuliskan angka 12 menunjukkan ruangan tempat Hyerin dirawat di dalamnya. Perasaan seorang ibu langsung hancur seketika. Bukan hanya takut itu seperti terus menghantui saja, tapi takut kehilangan Hyerin lebih terasa nyata di depan mata. Kakinya langsung lemas jatuh ke lantai saat melihat anak satu-satunya kembali terbaring di atas kasur dengan mata yang terpejam.


Kabar buruk langsung didengar oleh Rei dan Yora dari seorang perawat. Jika saat itu Hyerin kembali koma jika dalam waktu 2 kali 24 jam tidak sadar juga maka Hyerin akan kembali dirujuk ke rumah sakit sebelumnya.


Bagaikan tersambar petir mendengar kabar yang sangat mengejutkan. Tira dan Rei hanya terdiam satu sama lain. Saling memandangi dan kali ini terasa bingung saat melihat Ibu temannya itu, bingung untuk menyampaikan sebuah kabar buruk.


Ibu Hyerin masih menangis dan berusaha meminta seorang perawat agar bisa menemani Hyerin di dalam kamar pasien. Tentu saja permintaan itu ditolak karena prosedur rumah sakit dan dokter. Mau bagaimana lagi, meski dengan berat hati dan tidak tega Yora dan Rei hanya berusaha lagi menenangkan Ibunya Hyerin. Kali ini mereka bertiga menunggu di tempat duduk yang tidak jauh dari kamar pasien dengan saling terdiam. Yora yang sesekali memandangi Rei tanpa mengatakan apapun. Begitupun sebaliknya Rei. Pandangan mereka seperti mengatakan rasa iba nya melihat Ibunya Hyerin bersedih untuk kedua kalinya.


Ceklek...


Suara pintu dibuka mengalihkan perhatian ketiga orang yang sedang menunggu di luar pintu.


Yora langsung terperanjat saat tahu seseorang yang keluar dari kamar itu tidak lain adalah Hyerin. Mulutnya bahkan bungkam tidak percaya.


"Yerin putriku!" Ucap Ibunya yang membuat kesadaran Yora dan Rei terkumpul. Rei langsung menghampiri Hyerin yang saat itu terlihat heran memandangi mereka.


"Dokter... dokter!" Disusul Yora yang berteriak menyusul seorang dokter yang kebetulan terlihat tidak begitu jauh.


Dokter dan perawat langsung menghampiri Hyerin dan kembali menyarankannya untuk tidur lagi dengan pemeriksaan dasar yang langsung dilakukan dokter. Berdasarkan diagnosa medis tidak ada yang salah, tapi Hyerin sudah siuman lagi dalam waktu yang singkat.


Dokter meminta untuk dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh, tapi Ibunya menolak. Hal tersebut membuat Yora tidak bisa berkata apapun lagi selain menyetujuinya. Pihak rumah sakit pun langsung menutup kasus yang terjadi dan menganggap Hyerin sudah sembuh total.


Hyerin akhirnya bisa pulang setelah beberapa jam melengkapi administrasi rumah sakit. Hyerin juga tidak menyetujui ketika disarankan untuk menemui dokter dan tetap beristirahat di rumah sakit. Yang pasti dia bersikeras untuk pulang bersama Ibunya itu.


"Kamu yakin mau pulang?" Tanya Yora memastikan lagi.


"Aku tidak sakit Yora, lihat sangat sehat seperti ini." Sangkal Hyerin yang tidak menyetujui permintaan Yora.

__ADS_1


"Istirahat yang cukup yah di rumah jangan lupa makan dan obatnya." Ucap Rei segera menyudahi percakapan antara Yora dan Hyerin.


Hyerin tersenyum dan pamit untuk pulang bersama Ibunya.


"Ko kita jadi ditinggal berdua seperti ini!" Yora mulai protes tidak terima, padahal dia ingin mengantar Hyerin pulang.


Rei tidak menanggapi, dia malah pergi sendiri tanpa mengatakan apapun membuat Yora semakin kesal dengan sikapnya.


"Kau ini kekanakan sekali sih Rei!" Teriak Yora menghentikan langkah Rei saat itu.


"Apalagi Ra, cepat pulang! Kita sudah bolos loh." Ucapnya sambil tersenyum.


Sontak Yora hanya membulatkan mata baru tersadar jika Rei sudah mengajaknya bolos karena tadi. Dia sedikit menyesal mengikuti Rei yang bisa membuatnya sampai dapat hukuman dari guru.


"Ayo pulang!" Ajak Rei yang tidak membiarkan Yora untuk menyesali tindakannya itu.


Yora masih kesal dan terpaksa membuntuti Rei sampai ke terminal bus.


"Aneh ya Rei, sejak koma sampai sekarang Hyerin semakin aneh." Yora memulai lagi obrolan ketika di dalam bus.


"Udah lah Ra, kita bersyukur sekarang dia sudah sembuh lagi apa sih yang harus dipermasalahkan." Rei masih tidak sependapat dengan keheranan Yora.


"Maksudku aneh loh, kok katanya dia koma tapi setelah 5 menit berlalu bisa sadar lagi, kali gitu kan namanya bukan koma tapi pingsan." Celoteh Yora yang masih berusaha mengajak ngobrol Rei.


"Namanya juga manusia Ra pasti ada salahnya." Balas Rei singkat.


Yora hanya bisa manyun karena tidak puas dengan setiap jawaban Rei yang tidak bisa seperti dirinya, tidak memikirkan hal yang sama.


Akhirnya Bus berhenti di pemberhentian pertama. Saatnya Yora untuk turun. Yora langsung berdiri dan memandangi Rei yang masih tak acuh dan tidak memandangi dirinya sama sekali. Yora ragu untuk menyapa dengan berat hati dia akhirnya mengabaikan Rei juga dan segera turun dari bus dengan perasaan kesal yang masih tersisa di dadanya.

__ADS_1


Yora merasa ini pertama kalinya Rei bersikap sangat menjengkelkan. Padahal Rei tidak seperti itu kan.


__ADS_2