Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Ada sesuatu


__ADS_3

"Kemana perginya Rere." Batin Hyerin. Dia berjalan keluar dari gudang itu mencari Rere dan temannya yang juga hilang entah kemana. Seharusnya siang ini dia akan melakukan rencana yang sudah diceritakan sejak awal. Hyerin berencana untuk mencari tempat dulu yang pernah dia datangi dan di tempat lainnya. Tapi bagaimana melakukannya sekarang? Rere tidak ada dan orang-orang juga tidak ada, di gedung hanya tinggal Hyerin dan Ken di dalam kamar.


Perasaan tidak tenangnya yang membuat Hyerin gelisah, melihat tak tentu arah dan bingung tanpa tujuan.


Hyerin berbalik melihat ke arah jendela kamar Ken yang masih ada di dalam, sedikit ragu apakah mungkin dia harus menemui Ken lagi dan berbicara padanya, atau lebih baik menunggu Rere mungkin tak lama lagi dia pasti pulang.


Akhirnya Hyerin duduk di kursi taman yang ada di halaman samping. Meskipun kali ini waktu belum berganti juga tapi rasanya sangat membuat hati Hyerin khawatir, dia menduga jika waktu selanjutnya adalah waktu kemunculan iblis lagi, sebelum itu dia harus mempersiapkan segala sesuatu untuk kemungkinan di luar kendalinya.


Tapi sayang kali ini dia tidak dapat melakukan apapun, Rere tak kunjung datang juga.


Ding...ding...dong.


Suara jam dinding berdentang lagi sebagai pertanda pergantian waktu. Seketika suasana mencekam, secepat cahaya berubah menjadi pemandangan yang menyiksa mata. Angin yang berhembus pun terasa seperti angin di musim kemarau, suasana kali ini membuat hatinya semakin tidak tenang. Hyerin memutar bola matanya meneliti ke setiap inci di sekitar yang terlihat hanya ceceran sampah yang diseret angin, bahkan di sepanjang penglihatannya Hyerin tak melihat satupun roh lain yang ada di sana. Sekarang sudah jelaskan mengapa Hyerin sangat terlihat gusar dan lebih tidak tenang dari sebelumnya.


Hyerin menarik napas lagi mencoba membuat hatinya tenang, mengingatkan dirinya bahwa sekarang baik-baik saja tidak ada yang harus dia takuti atau khawatirkan selain sebuah gerbang pintu yang melebar di atas langit.


Kedua mata Hyerin melotot terpana dengan pandangan yang langsung membuat bulu kuduknya berdiri dan napasnya tiba-tiba menjadi berat. Jantung yang berpacu menjadi cepat dan Hyerin merasakan tangan dan kakinya yang gemetar merasa lemas seketika. Bagaimana tidak? Di atas langit ada gerbang yang terbuka dan menghitam lebar hingga tak terlihat ujungnya sampai mana. Padahal awalnya di langit hanya sebuah retakan tapi kali ini melebar dengan sendirinya.


Apa yang sedang terjadi? Langit menghitam membentuk sebuah dimensi ruang lain.


Apakah itu sebuah gerbang atau jalan untuk memasuki dunia lain?


Pikirannya terus menerka-nerka Hingga saat satu kali menarik napas muncul beribu- ribu penampakan hitam dari langit yang membuat Hyerin terus bertanya-tanya tidak tenang.

__ADS_1


"Ken... Ken!" Spontan Hyerin berteriak dan masuk ke dalam kamar Ken, sigap menutup jendela kamar dan tirai hingga di dalamnya benar-benar gelap tanpa celah.


"Apa yang kau lakukan." Protes Ken saat duduk sudah melihat Hyerin ketakutan terburu lari ke dalam kamar.


Hyerin masih mengatur napas tidak tahu apakah di luar tidak akan terjadi sesuatu yang lebih menakutkan lagi.


"Ada sesuatu. Aku tidak tahu apa." Ucap Hyerin dan memandangi mata Ken dengan ekspresi yang senada.


Ken bingung tidak mungkin bisa menebak dengan hanya melihat tingkah Hyerin saja. Dia menunggu sebentar hingga Hyerin bisa mengendalikan dirinya.


"Sekarang kita cepat pergi dari tempat ini!" Terdengar nadanya gemetar. Ken sangat penasaran apa yang sedang terjadi, akhirnya dia bersiap untuk bertanya.


"Cepat!" Ucap lagi Hyerin yang langsung mendekat dan secepat cahaya keduanya pergi menuju tempat lain.


Hyerin menganggukkan kepala memberikan isyarat pada Ken, secepatnya lagi keduanya langsung pindah ke tempat lain.


Perpindahan kedua kalinya kini Ken dan Hyerin berada di sebuah gedung.


"Kah melihat itu sejak awal?" Tanya Ken saat suasana tak bergeming sedikitpun.


"Aku tak bisa mengatakannya, tapi iblis pasti sedang berada di mana-mana." Ucap Ken pasti.


Hyerin semakin erat memegang tangan Ken.

__ADS_1


"Tidak ada siapapun dimana-mana." Gumam Hyerin yang masih terasa berat untuk mengatakannya.


Memang benar sejak di tempat awal tadi dan saat berpindah tempat suasananya tidak berubah, langit menghitam sebagian kabut tebal dan tidak ada cahaya dari matahari yang seharusnya ada karena waktu masih siang, dan juga roh yang biasanya terlihat ada di beberapa titik tempat saat tadi Hyerin tidak melihatnya satupun. Entah kemana semua pergi termasuk Rere dan temannya.


"Rere tidak ada." Ucap Hyerin terdengar khawatir.


"Nanti akan coba kita cari, tapi sekarang yang terpenting kita harus mencari tahu keadaan situasi di tempat-tempat lainnya. Jika benar ada iblis maka kemunculannya akan terlihat kan." Jelas Ken yang lebih tanggap pada situasinya saat itu, seperti biasa pemikirannya yang membuat Hyerin selalu setuju, karena begitupun yang dikatakan hatinya.


"Aku akan melakukannya." Ucap Hyerin saat matanya kembali menangkap ke arah Ken.


"Aku cukup bisa diandalkan tenang saja, aku pasti bisa berjalan sendirian." Timpal Ken saat melihat bola mata Hyerin bergerak ke arahnya.


"Itu tidak mungkin, kau tunggu saja di sini dan tolong lakukan apapun yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri." Terang Hyerin yang tidak ingin jika Ken dengan kondisinya saat itu harus berpergian menghabiskan tenaga dan harus memaksa menyeret kakinya yang masih kaku untuk berjalan.


"Aku bisa Yerin, tolong jangan berpikir seperti itu. Aku bisa!" Ken bersikeras dan merasa tak terima.


"Tidak sekarang. Kau lihat sekarang dengan tubuhku saat ini iblis pun tak bisa menyakiti ku." Jelas Hyerin dan sudah bersiap akan pergi.


"Dan tolong kali ini saja, jangan nekat!" Hyerin memberikan peringatan.


Ken tak menjawab, dia memalingkan wajah ke arah lain. Tentu saja dia tidak bisa melakukan sesuatu yang diinginkan Hyerin padanya, bagaimana pun dia tidak ingin jika Hyerin melakukannya sendirian, dan memang tak berguna mengapa harus dengan kondisinya seperti sekarang? Tubuhnya tak berguna.


"Aku pergi sekarang!" Pamit Hyerin dengan matanya tak lepas melihat ke arah Ken yang saat itu masih duduk di tempat. Rasanya memang berat harus menjalankan sebuah misi sendirian, meskipun sekarang dia menjadi seorang dewa kematian tapi tetap saja dia tidak mungkin bisa berjalan sendirian. Hyerin tak ingin mengingat seberapa besar resikonya saat itu, dia hanya harus fokus berjalan mengunjungi beberapa tempat melihat jika saja ada satu tempat yang berbeda dari tempatnya saat itu.

__ADS_1


__ADS_2