Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Orang-orang dibalik kabut


__ADS_3

Perasaannya kian larut dalam masalah yang membuat Hyerin terus merasa tak pasti. Saat harus sabar, saat harus tenang, dan saat berharap. Seolah menjadi perjalanan yang tidak berujung.


Hyerin mendongak menatap langit di atasnya. Kabut sudah membuat suasana gelap bahkan menyamarkan setiap tempat yang tadi terlihat. Tidak ada ujung yang pasti di setiap pandangan, dimana-mana terlihat gelap. Suasana pun hening seperti tidak ada satu penghuni pun di tempat itu.


Hyerin berdiri menegakkan kakinya di tanah asing yang masih terngiang dalam pertanyaan besarnya tentang semua masalah yang sekilas dia tahu tadi.


Ada yang harus dipastikan di tempat ini.


Kaki yang tadinya terasa tak sanggup untuk berdiri pun kini saatnya harus berjalan menembus tebalnya kabut. Entah apa yang akan dia temukan jika setelah berjalan sampai tempat dan waktu yang tidak ditentukan.


Hyerin masih bertahan, tidak ada alasan lagi kan? Harapan pun tidak ada.


Saat samar menyergap matanya nampak dari kejauhan remang-remang terlihat cahaya menembus kabut. Seolah tak percaya Hyerin beberapa kali harus memastikan lagi dengan pandangan matanya yang terbatas.


Rasa penasaran membuat sedikit semangat yang tiba-tiba memanas di dadanya.


Hyerin langsung mempercepat langkah kaki saat itu. Dan tanpa dipercaya sebuah gedung satu-satunya yang mungkin tidak tersentuh oleh kabut terlihat jelas dengan kedua pasang matanya kini. Pikirannya langsung melayang dengan gedung yang sama. Sekarang dengan antusias Hyerin berlari dan masuk ke dalam gedung tanpa berpikir panjang, berharap ada satu diantaranya orang yang bisa dia temukan di sana. Seluas gedung yang di dalamnya kini dia tahu ada beberapa ruang luas. Satu persatu dengan rasa sabar dan penasaran Hyerin memastikan sendiri tanpa berpikir untuk menyerah dulu.


Saat menghela napas dan ketika rasa penasarannya harus terhapus lagi, tapi dia harus tetap kuat. Tidak berpikir jika sekarang adalah akhirnya.


Langkah gontai Hyerin keluar dari dalam gedung, kini dia harus menelan rasa kecewa lagi karena tidak mendapatkan satu apapun yang membuatnya merasa puas.


Memang sudah saatnya berhenti? Diam saja dan menerima setiap jam, menit, dan detik akan bergulir pada waktunya. Entah besok atau sekarang apapun yang terjadi dia harus membiarkannya terjadi.

__ADS_1


Saat merasa hampir putus asa Hyerin melihat ke arah kabut, lekat melihatnya lebih serius lagi. Dan akhirnya berhasil, dia menemukan bayangan yang begitu banyak di dalam kabut itu sampai Hyerin hanya merasa kebetulan dan tidak percaya. Spontan kakinya melangkah lebih dekat ke arah kabut yang memperlihatkan bayangan orang-orang. Dan ternyata benar. Hyerin langsung menutup mulutnya menahan sebuah suara karena takjub atau bingung. Ternyata orang-orang tidak hilang tapi ada di balik kabut. Mengapa seperti itu? Bukannya roh tidak akan tahan oleh kabut ini? Hyerin bingung menyimpulkan fakta yang harus membuatnya beberapa kali menarik napas.


Satu hal yang pasti dilihatnya, apakah mereka semua roh atau semuanya sama sepertinya? Ataukah mereka semua sama seperti anak kecil waktu itu?


Hyerin terus bertanya-tanya menatap kejanggalan yang tidak bisa dicerna dengan logikanya. Bagaimana bisa dia meyakini sesuatu yang nampak tidak mungkin itu tapi mau tidak mau pandangannya itu nyata kan?


Hyerin kembali menarik napas dalam-dalam melangkah mundur dan masuk diantara banyak orang. Tidak ada tindakan lain yang ingin dilakukannya, saat ini dia hanya butuh untuk selamat tidak lebih.


Apakah orang-orang akan menyadari kedatangannya ini?


Hyerin masih mengendap di belakang kerumunan tapi tiba-tiba dia ahrus terbelalak melihat orang-orang yang sibuk mengobrol berbalik menghadap ke arahnya. Jangan sampai jika mereka tahu saat kedatangannya itu dan berniat untuk menjebaknya.


Saat pikiran buruk datang ditambah dengan perasaannya yang tidak tenang, Hyerin sudah siap untuk mengatur diri bersiap untuk pergi dari tempat itu. Hingga satu persatu sepasang mata menatap ke arahnya membuat perasaannya langsung sontak kaget.


Beberapa detik berlalu tidak ada yang terjadi lagi.


Membuat perasaannya semakin tak menentu. Sebenarnya orang-orang itu siapa?


Tak ingin lebih lama menunda waktu di tempat itu, Hyerin bersiap untuk pergi ke tempat semula. Semoga saja dia bisa memikirkan hal lain yang akan membawanya pada sebuah informasi.


Baru saja berpikir sebuah cara, tanpa sadar orang-orang berlalu pergi bersamaan. Padahal kabut belum selesai dan sekarang orang-orang akan pergi kemana? Saat itu rasa penasarannya tidak bisa menahan Hyerin untuk tetap diam. Kapan lagi sebuah kesempatan sebagus ini datang? Tidak ada yang tahu.


Dengan hati-hati Hyerin mengikuti arah langkah orang-orang pergi. Sebenarnya ada perasaan ganjil yang mengganggu hingga detik itu. Yang menjadi pertanyaannya apakah orang-orang sadar akan kedatangannya itu? Dan jika ya, apa memang tidak terdengar beresiko membiarkan dirinya untuk berbaur dan tak ada satu tindakan pun hingga detik itu untuk membongkar identitas Hyerin.

__ADS_1


Banyak sekali tanya yang mengganggu, satu persatu sudah masuk dan membuat otaknya berpikir keras.


.Sekarang Hyerin merasa bimbang, apakah dia harus melanjutkan langkah kakinya? Membuntuti orang-orang tanpa sepengetahuan siapapun.


Antara kewarasannya dan rasa penasaran Hyerin yang tidak bisa membuatnya diam duduk menunggu.


Hyerin berjalan masih mengikuti orang-orang hingga langkah kakinya berhenti.


Apa yang sedang terjadi?


Pertanyaan dasar yang umum orang pikirkan saat menyaksikan langsung keadaan di luar kendali.


Termasuk Hyerin, selama dia hidup dan kembali datang ke tempat ini setelah kesekian kali bereinkarnasi. Semua ingatan dulu tidak memberinya kejelasan tentang kejadian langka yang baru saja menyadarkan Hyerin.


Hitungan detik terasa lama saat dia harus mematung berdiri menahan rasa penasaran dan takut yang bercampur menjadi satu. Diam saja tidak nyaman untuk pergi dia tidak mungkin. Tepat satu hal yang mungkin akan memberinya alasan mengapa harus tetap diam di sana, yaitu tentang informasi yang ingin dia dapatkan. Dan sekarang terjawab.


Di hadapannya bukan lagi seorang asing yang harus ditanyakan siapa. Bukan juga orang lain yang harus dipastikan beberapa kali. Rasanya tak nyata, seolah kakinya melayang diantara kehidupan yang terasa mempermainkan kewarasannya lagi. Bahkan sekarang Hyerin harus merasa sesak lebih sulit saat dia menemui ketakutannya. Dan sekarang perasaannya masih sama seperti ketika pertama bertemu dengan sosok orang yang sudah lama dinantikannya. Benar saja, tak salah lagi jika seorang lelaki yang berbicara adalah Rai.


Apakah harus selama ini? Apakah harus mengalami banyak hal dulu baru bisa bertemu dengan Rai lagi?


Hatinya kian larut dengan perasaan yang sudah lama sekali mengurungnya dalam-dalam di tempat yang hanya dirinya saja yang bisa mengerti.


Tanpa sadar Hyerin berjalan menyusuri satu persatu langkah kakinya yang terasa sangat berat. Tubuhnya yang ingin sekali saja langsung pingsan atau rasanya ingin sekali dia langsung berlari mendekat tanpa harus terurai air mata dulu.

__ADS_1


Tentang kerinduannya, jangan perhitungkan lagi seberapa besar itu sekarang? Dan bagaimana perasaannya saat melihat sosok Rai sedang berdiri santai dekat sekali dengan tempatnya.


__ADS_2