
"Wanita itu tahu banyak, Ken! Kita harus bicara padanya!" Pinta Hyerin masih terlihat sama.
"Aku ingin bicara dan bertanya banyak, mungkin dia lebih banyak tahu, Ken!"
Hyerin masih bersikeras. Pikiran yang tidak stabil belum cukup menyadarkannya tentang kematian Rai yang harus dia terima. Mungkin benar sangat sulit, menerima kematian orang yang sangat dinantikannya itu tanpa melihat langsung kebenaran.
Ada waktu dan ada saatnya, apakah sekarang sudah cukup menjadi alasan untuk memperlihatkan Hyerin pada kenyataan?
Ken tidak tahu seberapa besar dia sudah bersalah hingga melihat seorang wanita sangat sengsara. Tapi harus dicoba, kebenaran harus tetap disampaikan.
"Rai... Aku ingin kembali!" Ucap Hyerin setengah sadar.
Ken semakin tak tahan, pandangan itu sangat memukul hati dan membuatnya sekaligus hancur. Semua karena salahnya, jika saja dia langsung memberitahukan dari awal dan mungkin sekarang Hyerin sudah mulai berdamai dengan kesedihannya, mungkin sesingkat itu waktu yang dibutuhkan Hyerin tidak seperti sekarang dia harus tahu setelah begitu membutuhkan waktu berusaha mencari kebenarannya sendirian.
"Ken aku ingin ke sana!" Pinta Hyerin terus terisak.
Tidak ada lagi pilihan.
Ken berjalan sambil berusaha kuat menahan gugup dan khawatir jika sesuatu yang akan disampaikannya sekarang membuat keadaan Hyerin bertambah buruk.
"Lihat kemari!" Ucap Ken terdengar tenang.
Hyerin membalikkan wajah dan menatap dalam-dalam binar mata dari seorang lelaki yang dia anggap asing dari awal, dengan pasrah dan masih berkaca-kaca juga aliran air mata terus mengalir.
Ini sudah saatnya.
Penglihatan yang Ken berikan untuk Hyerin tentang ingatannya ketika dia melihat dan mendengarkan kabar Rai juga kesaksian yang dia tahu saat Rai pergi menjadi asap untuk selamanya.
__ADS_1
Matahari di hari itu sangat cerah seperti tidak biasanya, setelah turun hujan untuk pertama kali di pertengahan tahun Ken pertama kalinya melihat lagi tanah basah. Sambil berjalan santai menghabiskan waktu yang baginya seperti sudah berlangsung seabad lamanya. Tanpa Sani semua terasa melambat, dan hari-hari tidak begitu berarti. Kali ini akan ada lagi rapat di tempat biasa, Ken sudah mempersiapkan diri, tapi tujuannya bukan untuk menghadiri rapat dan mendengarkan kabar di sana. Ken berniat melabrak Rai dan sangat ingin puas meluapkan semua emosinya hari ini.
Ken sudah tiba sendirian di tempat itu di gedung yang sudah dijanjikan. Tatapan heran dan nalurinya merasakan ada sesuatu yang salah. Tapi apa? Semua orang tidak ada yang datang setelah selama ini, di gedung ini kan tidak salah?
Ken berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan santai.
Tiba-tiba matanya membulat dan dia tidak bisa mengatakan apapun. Dengan cepat Ken kembali menutup pintu yang masih dipegang gagangnya itu dengan perasaan tidak tenang.
Tadi sekilas dia menangkap sosok Rai dan yang satunya lagi? Pikir Ken sangat bingung. Dia melihat dua orang yang sama dengan wajah yang sangat mirip.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ken langsung kembali mengumpulkan kesadarannya, dia berusaha mencerna kenyataan yang baru saja dilihat. Pikirnya pasti ada sesuatu yang salah.
Sadar dengan firasatnya itu Ken berniat untuk meninggalkan tempat itu dengan segera sebelum seseorang benar-benar menangkap basah dirinya.
Ken tahu dia harus berhati-hati, tidak begitu masalah kan jika dia menguping percakapan Rai dengan wujud Rai lain, dia sangat penasaran.
Jaraknya tidak begitu jauh, Ken hanya cukup membuka sedikit pintu dan menguping dari dalam.
"*Tidak adil kan bagaimana bisa?" Teriak Rai, Ken bisa memastikan itu adalah suaranya.
"Apa yang sedang kamu perjuangkan? Hidup? Dia? Sudah tahu tidak ada yang bisa didapatkan masih bodoh dan ngotot." Ken juga mendengar suara lain yang berbeda.
"Aku sudah tahu dan kali ini aku tidak butuh kamu! Aku akan kembali! Ingat itu!" Ucap Rai terdengar seperti penekanan.
Ken mengintip lagi dan melihat dengan terkejut saat Rai berubah menjadi asap dan menghilang.
__ADS_1
Karena kaget Ken langsung kembali menarik penglihatannya dan hanya bisa mengatur napas dengan tenang di balik ruangan itu.
"Kau siapa hah?" Tiba-tiba sebuah suara kembali membuatnya kaget lagi. Ken hanya bisa membulatkan mata saat melihat seorang wanita yang sudah menangkap basah*.
"Berhenti!! Sudah!" Teriak Hyerin histeris.
Ken yang mendengarnya langsung berhenti dan segera menarik penglihatan nya.
Hyerin lebih terlihat mengkhawatirkan dari tadi, dia tampak sangat tertekan sekali hingga membuatnya kebingungan.
Ken segera memastikan keadaan Hyerin. Dia berusaha membuat Hyerin sadar dengan menepuk pipinya berulangkali, tapi apa yang terjadi? Hyerin tak bereaksi dan masih diam tak berekspresi. Tapi melihat kondisinya Ken tahu jika dia sangat shock berat. Mulutnya seperti menggigil dingin dengan gemertuk gigi beradu satu sama lain, arah matanya berubah hingga terlihat juling ke satu arah. Tubuh Hyerin juga hanya bisa berbaring kaku, lemas tidak bisa duduk.
"Yerin, Hyerin!" Ken berusaha menyadarkan Hyerin. Dia menepuk lagi pipinya, tapi seperti yang terlihat dari tadi jika tidak ada reaksi apapun yang diperlihatkan.
Ken semakin khawatir dan bingung. Tidak menunggu waktu lagi dia berniat membawa Hyerin ke tempatnya. Meski berat tapi harus kemana lagi? Entahlah Ken tidak bisa berpikir lagi untuk hal mendesak ini. Bayangan iblis dan ancamannya sangat terlihat nyata mungkin dia sudah tidak memiliki tempat untuk pergi.
"Tolong lah Hyerin sadar! Kau mau seperti ini terus?" Komentar Ken sangat kebingungan.
Hyerin hanya tertidur dan diam di atas kasur, meski kondisinya tidak separah tadi tapi dia masih membisu, sekarang yang mulai terlihat buliran air mata turun ke pipinya.
Ken mengguncangkan lagi tubuh Hyerin dia sangat kesulitan.
Ken hanya bisa merasa khawatir, karena sudah kehabisan cara dia sekarang memilih duduk menemani. Ekspresi khawatir masih tersisa di wajah Ken, sekilas Ken terlihat sangat peduli.
Dalam satu ruangan yang sudah menampungnya selama ini, di tempat tidur itu sekilas lagi muncul bayangan Sani. Ken melihat kenangan itu karena Sani yang lebih sering tidur di atas kasur dimana Hyerin juga tertidur sekarang. Ken masih terus menghela napasnya, dia belum merasa tenang dan nyaman apalagi saat melihat ke arah Hyerin. Rasanya sangat bersalah, jika saja dia tahu reaksinya akan seperti ini Ken tidak akan pernah memperlihatkan kebenaran itu pada Hyerin. Untuk apa jika hanya menyiksanya seperti ini?
Satu detik saja Ken tidak bisa terus merasakan tenang. Kali ini dia sudah terlanjur terjun ke dalam masalah yang entah untuk hidupnya sendiri apakah dia masih bisa? Memang tujuannya sempat salah, karena itu dia harus bertekad lagi untuk memperbaiki semua kondisinya. Hanya dirinya yang tahu tentang kebenaran besar ini, mungkin saja memang hanya dia satu-satunya. Jika benar Ken tidak bisa membiarkan orang lain melakukan hal yang sama seperti iblis wanita itu, cukup disesalkan mengapa untuk melakukan perjanjian terlarang seperti itu sangatlah mudah. Apa yang terjadi jika sudah banyak orang tergiur dan melakukannya? Apa yang akan terjadi dengan dunianya ini?
__ADS_1
Ken berpikir terlalu jauh, tapi itu tidak salah juga karena kebenarannya hanya dia yang tahu kan. Pemikiran itu tidak muncul tanpa sebab, yang dia tahu apapun yang dilakukan iblis hanya tipu daya saja dan semua akan rugi jika sudah mengikuti iblis itu.