
Rere sudah pergi dengan temannya meninggalkan Ken yang masih berbaring di atas kasur di dalam sebuah ruangan. Di sana Hyerin masih diam menatap keluar jendela kamar tanpa berniat memulai pembicaraan.
"Dia pasti marah." Batin Ken. Merasa sangat malu karena sudah bertindak seperti tadi, akhirnya tetap saja harus menyusahkan Hyerin.
"Aku minta maaf, dan terimakasih." Ucap Ken setelah sadar dengan kejadian tadi. Ken masih diam di kasur karena sulit untuk bergerak, seluruh tulangnya memang remuk terhantam pada tembok bangunan.
"Hem." Jawab Hyerin yang masih cuek dan dingin seperti es.
"Aku bodoh ya. Akhirnya tetap saja harus menyusahkan mu!" Ucap Ken terdengar mengakui kesalahannya.
"Ia. Memang bodoh." Balas Hyerin yang sudah membalikan badan dan menatap Ken dengan penuh emosi.
"Kau bodoh datang kesana! Untuk apa?" Tanya Hyerin, kata-kata nya mungkin sangat sulit dia ucapkan dari tadi seperti terus tertahan di dadanya yang naik turun mengatur napas.
"Aku tak butuh pahlawan seperti itu, jangan bersikap gegabah lalu akhirnya masih menyusahkan." Ucap Hyerin nada bicaranya berubah lagi. Dia seperti tetao menahan semua yang ingin dikatakannya. Hyerin berbalik lagi memalingkan wajah.
"Aku yang salah, tanpa pikir panjang menemui iblis yang jelas-jelas bukan tandingan kita semua." Balas Ken terdengar menyesal.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi!" Janji nya.
"Aku tidak butuh orang seperti mu, jadi jangan ikut campur dengan urusan ku lagi." Ucap Hyerin terdengar gemetar seperti sedang menangis.
"Aku tidak kasihan, aku hanya melihat diriku yang sama seperti dulu dan semuanya aku tahu, aku bisa merasakannya." Ken menjawab seolah dia benar-benar melakukannya bukan karena emosi rasa kasihan atau apapun.
"Asalkan kau senang aku tidak akan melakukan apapun lagi." Cetusnya.
__ADS_1
Mendengar perkataan Ken membuat hati Hyerin seperti teriris lagi, sakit rasanya mengapa dia harus peduli dan sangat peduli, kepeduliannya mengingatkan Hyerin lebih dalam tentang Rai.
Tanpa terasa air mata berjatuhan tanpa sebab, Hyerin masih mematung menundukkan kepala di depan jendela. Mulutnya bungkam tapi kedua bibirnya berusaha keras menahan Isak tangis yang akan meluncur keluar. Sekarang rasanya lebih berat lagi, bukan karena dia tidak ingin menerima kebaikan dan niat baik Ken sebagai teman tapi Hyerin tak sanggup menerima rasa yang sama dari orang lain, dia tidak ingin ada Rai kedua yang meninggalkannya lagi. Dan dia tidak ingin semua orang pergi hanya karena dirinya, dia tidak ingin menjadi orang terakhir yang menyedihkan sekali.
"Maaf aku selalu mengingatkan mu tentang dia, aku tidak bermaksud menjadi seperti Rai." Ucap Ken diakhir perkataannya tersenyum simpul.
Hyerin hanya bisa diam saja selain menahan tangisannya dia tidak melakukan apapun lagi.
"Sudah ku bilang, aku hanya tidak ingin ada orang lain seperti ku, harus kehilangan berkali-kali karena ulah iblis itu. Jadi tanpa berpikir lagi aku sudah melakukannya. Padahal itu bodoh sekali." Ken masih terus bicara meski Hyerin diam tak pernah meresponnya.
"Kau harus hidup! Bagaimanapun jangan menjadi Rai yang kedua." Batin Hyerin. Dia menjawab semua perkataan Rai dengan hatinya.
"Aku berjanji, aku tidak pernah ingin menjadi seseorang yang mengingatkan mu tentang dia. Tapi aku orang lain orang asing yang tak perlu kau hiraukan." Ucap Ken lagi.
Sebaliknya Ken seperti sosok yang paling mengerti Hyerin, mengerti dengan jalan pikiran dan perasaannya.
"Kau sangat bodoh dan menyedihkan." Sebuah suara terdengar mendekat dari arah pintu. Ken berbalik dan melihat Rere yang masuk.
"Kau tidak bisa tahan kan? Bagaimana rasanya?" Tanya Rere memancing Ken untuk bicara.
"Kau pikir meledek ku itu bebas ya sesuka hatimu? Padahal kau sendiri lebih bodoh." Timpal Ken tak mau kalah.
"Sudahlah, aku juga tahu semuanya. Kalau memang cinta ya cinta, benci ya benci. Aku bisa tahu kau yang mana, sekarang kamu pikir dia (Hyerin) akan peduli atau merubah cara pikirnya menjadi seseorang yang melihat jika dirimu adalah Rai laku mencintai mu sepenuh hati?" Rere terus menyudutkan Ken dan sangat puas mengatakannya.
"Apanya yang cinta. Kau tahu apa hah? Ya kalau aku sih gak bisa menjadi Rai atau menggantikannya." Balas Ken. "Sudahlah, kau sembarangan saja menebak-nebak." Ucap Ken kesal.
__ADS_1
"Padahal emang bener kan?" Ucap Hyerin manish berusaha memancing Ken untuk jujur.
Ken tak menjawabnya, dia diam dan memandangi ke arah luar jendela.
"Tuh kan, beda banget kan dengan yang dibicarakan!" Sindir Rere saat menyadari jika Ken terus melihat ke arah jendela karena Hyerin sedang berdiri di luar sana.
"Nanti sakit sendiri baru tahu rasa!" Komentar Rere.
"Sembarangan! Pergi sana!" Usir Ken kesal karena terus diganggu apalagi saat dia sedikit melihat ke arah Hyerin lalu diganggu oleh Rere saat itu.
"Ngusir. Padahal siapa tuan rumahnya." Komentar Rere sambil berlalu pergi keluar dari arah pintu.
Ken diam tidak ingin meladeni lebih lama lagi obrolan dengan Rere yang terus menerka perasaannya. Meski semua yang dikatakan Rere benar tapi dia tidak mau jika orang lain harus tahu dan berbicara tentang perasaannya di hadapannya.
Ken kembali diam dan mengalihkan pandangannya lagi, membiarkan Hyerin berdiri di luar tanpa memperhatikannya.
Dia diam dan tanpa sadar hatinya kembali merenung lebih dalam, menyadari kembali semua tindakannya yang sudah dilakukan. Memang benar, mungkin dirinya pernah ingin terlihat dan dilihat seperti Rai di mata Hyerin, hal itu akan lebih membuat hatinya tenang. Tapi rasanya terlalu egois, pikiran dan perasaannya itu sangat egois. Mana mungkin Hyerin bisa menerimanya untuk menggantikan Rai? itu tidak mungkin sekali.
"Apa yang ku katakan tadi pada Yerin? Apa hang ku katakan?" Batin Ken mulai merasa menyesal karena baru sadar terlalu berterus terang dan berkata seolah dia ingin menjadi pahlawan atau terlihat seperti pahlawan di mata Hyerin.
"Memalukan sekali." Hardik Ken terlihat sangat menyesal.
"Aku pasti tak sanggup menatap Hyerin setelah ini, mengapa juga harus berkata seperti itu? So tahu sekali. Pasti Hyerin tersinggung karena semua yang sudah ku ucapkan tadi." Ucap Ken dalam hatinya. Dia sangat menyesal sekaligus malu. Apalagi ya g membuatnya lebih malu dari ini? Tidak ada lagi selain perkataan Rere dan kata-kata yang dia ucapkan tadi pada Hyerin.
Ken masih berdiam diri di dalam kamar, dia memang tidak bisa berjalan untuk saat ini karena tindakannya sendiri dia harus lumpuh sementara pemulihan. Dia juga sekarang berada di tempat Hyerin dan temannya yang lain, dia tak menyangka bisa datang ke tempat ini langsung dibawa oleh Hyerin sendiri.
__ADS_1