
"Mereka semua!" Ucap Hyerin seolah masih menganggap jika ini adalah sesuatu yang tidak bisa dipercayainya. Hyerin membalikkan wajahnya menatap satu persatu orang yang tidak sama lagi.
Rere tersenyum tidak menandakan jika keadaan di sekitarnya sesuatu yang salah.
"Aku bahkan menyesalinya bisa sampai melakukan perjanjian ini. Kita tidak tahu kan akibat yang pasti? Kenapa kamu malah membiarkan semua orang?" Hyerin berbicara lancar menyesalkan sebuah tindakan yang dilakukan Rere.
"Membiarkan semua orang?" Ucap Rere mengulangi perkataan Hyerin. Menganggap jika perkataan Hyerin kurang tepat.
"Bukan aku yang membiarkan semua orang, tapi kamu tahu bahwa ini satu-satunya jalan." Sambung Rere memaparkan alasannya.
"Sekarang lihat yang terjadi! Apa ada yang berubah? Apa sesuatu menjadi lebih baik?" Celoteh Hyerin masih menganggap jika tindakan Rere benar.
"Aku hampir mati saat itu, apa kau sudah tahu? Jika kita mati di tempat ini maka tidak akan ada alasan untuk bisa bereinkarnasi. Apa itu yang kamu harapkan?" Balas Rere lebih tidak terima.
Hyerin mematung mendengarkan penuturan Rere, sesuatu hal yang baru pertama kali dia tahu sampai saat itu. Dan artinya, untuk semua yang pergi termasuk Rai?
"Aku hanya berinvestasi dengan keberuntungan saja. Sudahlah yang penting kita semua masih bisa hidup di tempat ini." Rere kembali memberikan sebuah asumsi lain.
Namun perkataan Rere seolah tak berarti saat itu, Hyerin tidak akan pernah bisa melupakannya jika saja kenyataan tentang aturan kehidupan dan kematian di dunia ini baru dia dengar seolah menjadi ledakan bom waktu.
"Aku sudah salah mengatakannya. Anggap saja jika aku tidak pernah mengatakannya." Sesal Rere karena dia merasa perkataannya itu sudah membungkam Hyerin.
Namun benar saja, bahkan dari tatapan Hyerin dia sangat enggan untuk menerima kenyataan pahit itu yang berarti dia tidak akan pernah bisa kembali bertemu dengan Rai dalam semua penantian dan kerinduannya.
__ADS_1
"Cepat kita berkumpul sekarang!" Ajak Rere yang masih tak diindahkan sedikitpun.
Hyerin malah berlari menjauh untuk sekarang dia tidak ingin mempertanyakan tentang keberadaan Rere dan orang-orang apalagi tentang masalah lama yang masih menjadi bahan pertanyaannya.
Sedetik saja Hyerin hanya ingin terdiam tenang.
Rasanya untuk menangis atau menyesali segala sesuatunya sudah terlambat. Kau tahu bagaimana hati yang kosong? Pikiran yang tak bisa menolak untuk tetap tenang.
Seolah sudah kehilangan arah dan tujuannya, Hyerin masih menatap bingung tapi tidak ada lagi yang harus ditangisi nya sekarang. Apa yang membuatnya bisa menangis? Nasi sudah menjadi bubur kan? Rasanya masih hampa satu kunci hidupnya harus bisa terbiasa dengan jalan kehidupan yang membingungkan.
******
"Kemana lagi itu?" Tanya seorang lelaki yang penasaran karena Rere masih menatap ke arah Hyerin pergi hingga tak terlihat lagi.
"Kau sudah melakukannya! Sekarang sudah puas?" Tanyanya.
Rere terdiam, dia sedikit tersenyum mewakili jawaban yang tidak perlu dijelaskan lagi.
"Sekarang rencana kita apa? Semua orang disini yang tersisa begitu banyak."
"Kita akan membawa semua orang naik. Tanpa terkecuali." Simpul Rere memberikan sebuah keputusan.
"Wow. Hebat sekali. Ayo kita lakukan dramanya!" Diakhiri dengan sebuah tawa yang saat itu terasa begitu tak ingin cepat berakhir bagi Rere dan juga temannya.
__ADS_1
"Ken tidak akan pernah kembali, Rai sudah tiada. Anggap saja semuanya cukup dan sudah waktunya kita pergi ke dunia yang seharusnya!" Batin Rere.
Boleh dikatakan jika Rere memang di mata Hyerin dia bukan orang yang berpihak padanya, Rere hanya seseorang yang memperhitungkan keberuntungan, selama rencananya sesuai dengan Hyerin dia bisa menerima semua rencana. Tapi jika tidak sejalan lagi, itu tidak akan membuatnya rugi.
Tapi memang di satu sisi Hyerin sudah kehilangan dua orang sekaligus. Padahal bagi Hyerin dengan ingatannya kini sudah cukup bisa menyiksanya selama dia hidup. Ingatan Rai tidak akan pernah bisa pudar atau hilang, dalam semua waktu dan kehidupan keduanya bersama dan terpisah, saling menanti dengan dua waktu yang berbeda dan dua kehidupan yang tak sama. Semua terjadi sampai waktu yang tak pernah terasa lagi hingga dalam batasan terakhir Rai harus bertemu dengan tempatnya.
Tak adil rasanya, pada waktu ini Hyerin harus mengawali pertemuan mereka karena ingatan Hyerin yang masih belum pulih sepenuhnya, menganggap jika Rai adalah orang asing yang selalu menjadi penguntit.
Siapa yang tahu kehidupan bersama terjalin tidak singkat, saat Hyerin harus menjadi roh yang tak utuh dia pun kembali ke kehidupannya sebagai manusia dan terus melewati waktu hingga takdir mengharuskannya kembali. Pada saat kehidupan kedua itu, ingatan dan semua rasa yang masih tertinggal sangat membekas dan membaut Hyerin ingat akan semua hal tak terkecuali.
Dan diwaktu yang bersamaan dia juga harus kehilangan, Rai begitu saja pergi tanpa mengucapkan pamit atau hadir sebagai Rai yang hidup bersamanya dulu. Rasa terlambat dan terlanjur itu membuat Hyerin harus memikul beban perasaan yang sudah lebih dulu dirasakan Rai saat harus menanti dalam ratusan kehidupan dan beberapa reinkarnasi yang tidak menentu untuk menyambut Hyerin kembali datang lagi dalam kehidupannya.
Dan sekarang, semua yang dirasakan Rai dulu sangat jelas membekas untuk hidup Hyerin. Kehilangan dan mencari tak pasti, menunggu tak pernah bertemu, menyesali beberapa kali, dan bersedih hingga akhirnya dia bertemu dengan titik terendah di hidupnya. Itulah sekarang, saat Hyerin harus kehilangan Rai.
Tak cukup dari penantiannya yang tak pasti. Hyerin masih ingin menumbuhkan harapan dan menganggap jika ada saatnya nanti sebuah kehidupan mempertemukan. Ada saatnya nanti sebuah kehidupan menyatukan. Ada saatnya.
Harapan itu meluncur sampai ke tingkat langit tertinggi, lalu terjatuh sekaligus tanpa ampun.
Apa yang terjadi saat ini? Hyerin harus menerima sebuah kenyataan bahwa Rai tidak akan pernah bisa bereinkarnasi lagi, karena semua roh yang mati dari dunia ini berarti tidak akan bereinkarnasi lagi, itu karena sebab kematian mereka ulah iblis.
Bagaikan tersambar petir beberapa kali dan rasanya dia bisa langsung berhenti bernapas saja. Memang itu harapannya, dia ingin segera mengakhiri semua takdir yang melibatkannya lagi dalam semua waktu, Hyerin ingin sekali jika sesuatu bisa mengakhiri hidupnya. Hanya itu yang mengisi hati dan harapannya saat ini.
Bukan hal yang sulit? Dia hanya perlu mati dan tak akan pernah kembali untuk menyambut hari-hari tanpa semua kebahagiaan terbesarnya. Hanya itu saja.
__ADS_1
Hyerin masih melamun menatap kosong ke arah yang entah kemana matanya akan menetap. Entah apa yang bisa dilakukannya sekarang, rasanya semua sudah berakhir dan tidak akan pernah ada waktu untuknya lagi. Tapi itu terasa lebih baik. Bagaimana jika dia mengakhiri hidupnya sekarang.