Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
kebimbangan Rere


__ADS_3

Hyerin masih diam saat namanya berulangkali disebutkan di tengah-tengah perkumpulan itu.


Rasanya untuk apa? Dia kembali mengingat Rai yang sudah tidak ada, dan masalah menahannya tanpa memberinya sedikit harapan untuk bertemu Rai, karena hal tersebut yang selalu dia inginkan.


"Hyerin, ayo sekarang giliran mu untuk berbicara!" Rere mencoba menarik kesadarannya. Begitupun lelaki itu yang sangat berharap Hyerin bicara.


Melihat pemandangan yang menurut pendapat mata Ken sangat tidak adil. Bagaimana bisa Hyerin dengan kondisinya yang jelas terlihat harus terus dipaksa bicara, jika dia ada dalam keadaannya juga akan melakukan hal yang sama.


"Apa yang kalian lakukan? Tidak bisakah melihat sedikit kondisi orang lain? Jangan egois dong, kemauan kalian kan sudah Hyerin turuti sekarang kalian harus diam!" Ucap Ken tak tahan melihatnya.


Mendengar perkataan Ken sedikit membawa perubahan, hingga lelaki itu langsung pergi dengan kecewa tanpa mengatakan apapun. Sedangkan Rere ikut diam meski dia tidak mengatakan apapun.


Setidaknya Hyerin harus diberi ruang.


"Rere, ayo kita pergi!" Ajak Ken.


Rere menoleh dan tak mengerti dengan ajakan Ken.


Ken hanya berusaha memberinya pengertian dengan menunjuk ke arah Hyerin.


Mata Rere mengikuti petunjuknya dan mulai melihat Hyerin dengan sangat seksama. Saat diam Isak tangis Hyerin terdengar kembali. Itu yang ingin Ken tunjukkan dengan melihatnya saja sudah menyayat hati bagaimana dengan Hyerin yang menghadapi kenyataan.


Ken hanya diam tidak bicara lagi, hatinya terenyuh sakit dan sekarang harus menghadapi niat kedua orang yang tidak diketahuinya itu.


"Tolong jangan libatkan Hyerin. Bagaimanapun iblis itu sudah berbohong. Tidak ada satupun yang dikatakannya benar." Ucap Ken kembali meyakinkan.

__ADS_1


Rere terus memandangi Hyerin mencoba memahami beban yang dia tanggung. Kehilangan seseorang memang bukan perkara mudah dan bisa dilupakan begitu saja, apalagi jika orang itu sudah ribuan tahun terlibat dan saling menunggu dalam ratusan reinkarnasi, tapi sayang takdir memang tidak mempertemukan.


Tapi bagaimana nasib temannya? Pikiran Rere kembali bimbang. Matanya menatap Ken kemudian berpaling lagi. Dia harus mengatakan alasannya, tapi mungkin Jika dia mengatakannya maka nasib temannya ada dalam suatu bahaya.


"Ada yang ingin kau katakan? Aku tahu alasanmu juga ingin membawa Hyerin kepada iblis itu pasti sangatlah penting kan?" Tanya Ken menghentikan Rere yang terus berkutat dengan perasaan bimbang nya.


"Aku juga memiliki alasan penting untuk tetap mempertahankan Hyerin." Ucap Ken langsung tersenyum saat Rere balik memperhatikannya.


Rere terlihat gusar, sebagian hatinya mengakui pernyataan temannya itu. Memang tidak mudah membuat Ken dan Hyerin mengerti, itu bukan cara yang baik.


Tiba-tiba Ken berjalan ke arah Hyerin, padahal tadinya dia menginginkan Rere untuk menjauh darinya.


"Kau masih menangis saja, bangun! Sadar!" Teriak Ken pada Hyerin. "Jika kau seperti ini iblis itu semakin mudah mengincar dan membunuh kita!" Ucap Ken.


Rere yang mendengarnya hanya tercengang. Bagaimana bisa Ken berpikir seperti itu, jadi iblis itu hanya ingin membunuh mereka berdua, karena apa? Bukankah iblis itu mengatakan hanya butuh Hyerin.


Rere tidak sempat menghentikannya. Dia masih bingung dan perkataan Ken pada Hyerin kini terngiang jelas. Rere terus berpikir tentang kemungkinan iblis itu membunuh Hyerin dan Ken, itu sangat mungkin kan?


Rere masih tidak bisa percaya dengan mudah, dia seperti mendengar suatu kabar yang baginya mungkin benar atau tidak.


"Memikirkan apa? Mereka sudah pergi lagi?" Ucap seseorang bertanya pada Rere.


Rere melihat ke arah temannya, tapi sesuatu yang dia lihat bersama temannya itu langsung membuat Rere diam tanpa kata. Mata Rere terus memandangi seseorang yang bersama temannya.


"Rai!" Cetus Rere pelan.

__ADS_1


Sekilas senyum menyeringai dan saat orang itu membuka mata Rere langsung berubah pikiran, dia sadar dugaannya salah karena orang yang dilihatnya itu bukanlah Rai melainkan iblis yang sangat ingin dia jauhi. Tapi mengapa harus berdampingan dengan temannya itu? Rere cemas, dia tidak bisa bertanya meskipun hatinya sangat ingin tapi karena melihat iblis mentalnya sudah langsung turun dan keberanian nya hilang. Kemudian Rere melihat ke arah temannya yang masih diam saja dengan tenang, entah apa maksudnya dengan pemandangan yang dia lihat kini.


"Kita harus pergi kemana ya untuk mencari mereka." Ucap temannya Rere terdengar santai.


Rere masih belum bisa menghilangkan perasaan takut yang tiba-tiba langsung menguasai isi pikirannya. Belum lagi sebuah pertanyaan yang membuatnya tidak bisa berpikir waras lagi, mengapa bisa temannya bersama iblis itu? Mengapa begitu terlihat akrab? Apa artinya? Pertanyaan itu terus menerka. Yang bisa dilakukan Rere hanya berjalan mundur dengan sangat tenang, dia tidak ingin jika iblis itu kembali menatapnya. Tapi ternyata iblis itu alih-alih kembali menatapnya dengan tajam. Sekilas melihatnya membuat Rere bungkam, dan rasanya seluruh sendi tubuhnya langsung kaku, tenaganya seperti sudah terkuras, dia benar-benar lemas tak berdaya.


Beruntung Rere cekatan dan memilih tak berpikir panjang, dia langsung kabur ketakutan entah kemana karena gerakannya yang sekilas cepat itu langsung hilang dari pandangan keduanya, antara temannya Rere dan iblis itu.


"Bunuh dia juga, jadikan persembahan!" Ucap iblis itu dengan nada yang khas dan senyuman liciknya menggambarkan bagiamana asli dari diri iblis itu.


Dan anehnya temannya Rere itu malah diam dan tenang, seperti sudah menerima perintah dari iblis itu. Seharusnya kan ucapan iblis itu langsung dia tolak, tapi pemandangan ini cukup menjelaskan jika iblis sudah menjalin kerja sama bahkan mungkin sudah lama dan Rere tidak mengetahuinya.


Di tempat lain Rere sangat ketakutan, dia masih belum bisa memulihkan kesadarannya itu.


Pemandangan tadi yang dilihatnya terus menjadi mimpi buruknya kini.


Sekarang apa yang akan dia lakukan?


Apakah temannya itu sudah bekerja sama dengan iblis? Apakah itu artinya?


Rere masih diam tak bergeming. Dia yakin jika tadi satu detik saja terlambat pergi dari tempat itu sesuatu mungkin saja akan terjadi padanya. Itu sangat mungkin. Dan apa yang sudah direncanakan Jiro? Mata Rere membulat. Bukan sebuah jawaban yang dia dapatkan, ekspresi terkejutnya karena dia merasa sesuatu sudah menyentuh pundaknya saat itu.


Perlahan Rere menggerakkan kepalanya ke arah samping, memastikan seseorang yang sudah datang padanya saat itu. Tapi dia langsung diam, sepertinya Rere tahu siapa yang datang. Pasti Jiro.


Rere berusaha ingin melepaskan diri dengan kembali berlari tapi Jiro sangat cekatan lebih sigap dari Rere. Hingga Rere terus ditahan oleh tangannya.

__ADS_1


Rere terus melawan, dia tidak ingin mengikuti keinginan Jiro untuk pergi bersamanya, itu pasti karena sesuatu hal atau karena keinginan iblis itu kan? Rere berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari genggaman Jiro, baginya dia hanya harus bisa melarikan diri. Tapi naas niatnya tidak bisa dia lakukan karena Jiro langsung memukul Rere sangat keras dan Rere langsung tak sadarkan diri.


Dengan perasaan senang Jiro membawa tubuh Rere, sudah sangat jelas tujuannya kemana jika bukan kembali ke iblis itu.


__ADS_2