
"Aku gak pernah berpikir ternyata sesuatu hal yang dilakukan Rai terulang oleh orang lain, dan itu berhasil." Sindir Ken sepertinya dia bermaksud lain dari arah jalan obrolannya.
Hyerin hanya bisa mematung canggung, dia tidak bisa menerima sindiran yang terdengar memalukan.
"Bagaimana? Kau sangat puas kan?" Tuduh Ken terdengar seperti sedang menghakimi kesalahan Hyerin.
"Maksud ku tidak seperti itu Ken." Bela Hyerin dengan nada memohon.
Tapi sesuatu tidak terduga lagi, Ken malah mentertawakan ekspresi Hyerin yang menurutnya cukup puas dijadikan lelucon.
Hyerin masih kaget merasa dia sudah dipermainkan. Tak canggung lagi Hyerin mendekati Ken dan meninju tubuh Ken hingga rubuh. "Puas ya? Puas!" Hardik Hyerin sangat begitu kesal.
Ken masih tertawa dia tidak keberatan jika harus ditinju beberapa kali. Sekejap matanya menangkap ekspresi hangat dan sikap Hyerin yang sudah dinantinya, sebaiknya tetap seperti itu Ken berharap Hyerin selalu memperlakukannya akrab dan hangat.
"Puas ya!" Hyerin masih melampiaskan kekesalannya, dan berhenti ketika tahu Ken mungkin sudah menatapnya sedari tadi. Tanpa dikomando Hyerin langsung menghentikan tingkahnya dan sedikit menjauh dari Ken, tentu saja keadaan menjadi canggung hingga tak ada satupun kata yang bisa dikatakan Hyerin dan Ken.
Hyerin tidak tahu mengapa dia langsung merasa canggung saat melihat tatapan Ken yang tidak biasa lagi. Tapi jika dipikir kembali justru membuat dia merasa bersalah, Hyerin tak berharap Ken memiliki perasaan lebih yang bisa membuat keduanya dingin dan canggung. Bagaimanapun Hyerin tak bisa membiarkan Ken larut dalam perasaannya untuk semakin jauh lagi.
"Kenapa?" Cetus Ken membuat mata Hyerin langsung menatap ke arahnya.
"Aku padahal ingin menjadi teman saja." Ungkap Ken. Hyerin tahu jika itu adalah benar kata-kata hati Ken.
"Kau keberatan?" Tanya Ken dengan nada lugas, dari caranya bertanya membuat Hyerin bingung jika hanya diam saja.
"Aku tak berpikir seperti itu, Ken! Kita akan menjadi teman dan seterusnya." Balas Hyerin mengutarakan apapun yang spontan dan mudah dikatakan, meski hatinya sedikit keberatan juga.
"Tidak apa-apa, yang terpenting sekarang kita bekerjasama baik dari pada harus saling menyangka. Aku tahu mempunyai kepercayaan dari seseorang seperti saat ini itu adalah sesuatu yang tidak mungkin." Terang Ken terdengar mengalihkan topik.
__ADS_1
"Apa maksudnya tentang Rere lagi?" Batin Hyerin menerka-nerka maksud Ken.
"Tolong jangan percaya dengan mereka, kita berdua saja sudah cukup! Aku tidak ingin ada hal yang sama terulang lagi." Sekali lagi Ken mengingatkan Hyerin dengan maksud yang sama. Meskipun terdengar jengah dan membuat Hyerin tak senang, tapi dia harus bisa paham ada maksud lain yang diinginkan Ken seperti tentang keselamatannya sendiri.
"Tapi terserah saja." Sambung Ken sebelum Hyerin berbicara menjawab.
"Baiklah, aku bisa melakukannya kau tak perlu khawatir." Simpul Hyerin hati-hati berharap Ken tidak akan pernah tersinggung dengan keputusan yang diucapkan oleh mulutnya sendiri, walaupun dalam kenyataannya bisa saja berubah tergantung bagaimana sikap Rere dan temannya itu.
"Mereka tidak akan bisa terus di sisi mu, menjadi teman bahkan sebagai orang yang bisa dipercaya. Itu terlalu tidak mungkin." Ken memberikan asumsinya lagi.
Hyerin langsung terganggu, dia tidak ingin mendengar kata-kata Ken yang terlalu memberikan spekulasi tanpa bukti. "Sudah stop Ken! Aku akan menilainya sendiri." Tukas Hyerin langsung menghentikan kata-kata Ken sebelum setiap kalimat terangkai keluar mengalir dari mulutnya.
Ken langsung diam dia tidak lagi berceloteh seperti tadi, meski rasanya masih sesak dan hatinya tak sabar untuk terus mengeluarkan setiap kata yang sudah disimpannya lama. Pandangannya tentang Rere tidak bisa begitu saja berubah meskipun sampai kapanpun itu.
"Yerin!" Seru seseorang membuat Hyerin langsung berbalik mencari ke sumber suara.
Rere datang dari arah lain berlari penuh semangat ke arah Hyerin, lekas kembali setelah tak lama Hyerin meninggalkannya bersama orang-orang di tempat itu.
"Kenapa Re?" Tanya Hyerin heran karena melihat Rere yang tiba-tiba datang dan langsung memberikan perintah atas dasar dan sebab yang tidak begitu jelas.
"Kamu dan Ken pokoknya pergi dari tempat ini!" Ucap lagi Rere mengulangi kata-katanya.
"Untuk apa Re?" Hyerin terbawa suasana dia panik melihat Rere yang terlalu tergesa-gesa.
"Di sini tidak aman, nanti akan aku jelaskan." Saran Rere langsung menyambut tangan Hyerin. Ketika Rere ingin menghampiri Ken meski dia sedikit ragu.
"Aku tetap di sini." Ucap Ken membuat Hyerin membulatkan matanya tak percaya.
__ADS_1
"Ken jangan egois ya, tolong!" Hyerin bahkan langsung menyerang Ken dengan kata-katanya.
"Sekarang kita pergi dan lihat Rere sudah bersusah payah datang ke sini."
Ken tak bergemingembuat Hyerin langsung memalingkan wajahnya ke sisi lain membelakangi Ken yang masih saja tak mengindahkan permintaannya.
"Aku tanya sekali ini, kamu akan pergi atau tetap tinggal?" Hyerin menarik napas, berpikir panjang tidak mungkin lagi. Dia langsung memberikan pilihan pada Ken dan akan menerima keputusan apapun yang keluar dari mulut Ken meski itu harus menguras emosinya.
"Aku tetap di sini." Balas Ken singkat.
Bola mata Hyerin langsung berputar memperlihatkan manik kecewa.
"Kita pergi sekarang Re!" Pinta Hyerin masih memandangi Ken dengan serius.
"Kalian harus bersama, kita pergi bersama dari sini Ken!" Pinta Tere yang seperti memang tidak memiliki waktu untuk berdebat lama dengan keegoisan masing-masing hati.
"Baiklah kita pergi!" Sambung Rere langsung meraih tangan Hyerin. Berat rasanya meninggalkan Ken yang dalam penglihatannya tidak berdaya sendirian di tempat yang sebentar lagi akan disusul bahaya. Tapi apa daya karena Hyerin sendiri sudah bertanya pada Ken.
"Kamu yakin?" Tanya Rere saat tiba di pelataran gedung sekolah yang masih terlihat sama.
"Sudahlah!" Balas Hyerin singkat. Dia terlihat dingin lagi, diam dengan seribu cerita yang disimpannya dalam hati. Rere tak bisa memaksakan apapun untuk memintanya bicara, jelasnya antara Hyerin dan Ken Medika butuh ruang untuk bisa saling memahami.
"Mereka sudah menunggu kita, ada sesuatu yang harus diketahui bersama." Terang Rere.
Tanpa komando Hyerin langsung mengikuti instruksi Rere, dia berjalan mendahului dengan Rere mengikuti dari belakang.
"Maafkan aku!" Sambut seorang lelaki berbadan tinggi dan besar darinya, Hyerin melihat dia adalah teman Rere. Ekspresinya sangat menyesal mungkin karena perkataannya tadi saat dia mengantarkan Rere kembali ke gedung. Hyerin hanya mengangguk.
__ADS_1
"Kau duduk di sana!" Ucap Rere menunjukkan meja terpisah dan letaknya paling depan.
Tapi arah berjalan Hyerin berubah, dia tidak menginginkan permintaan Rere, Hyerin memilih duduk di antara orang-orang berbaur dengan mereka. Tentu saja saat masuk ke ruangan semua pasang mata langsung menghakiminya. Hyerin tak ingin mempersoalkan satupun kemungkinan yang mereka pikirkan tentangnya, dia hanya ingin tenang dan kembali fokus untuk penyelidikannya.