
"Aku mau ini yang terakhir, dia bukan urusan kalian lagi." Ucap Rai membuat Hyerin langsung membulatkan matanya.
Hyerin tahu jika Rai sedang mengatakan sebuah ancaman pada orang yang mungkin sudah membawanya hingga kemari.
Entah mengapa rasanya Hyerin mengerti sesuatu, apalagi tentang perasaannya yang selalu nyaman berada di dekat Rai karena ingatannya pasti selalu membuat dia kembali mengenang Rai miliknya. Andai saja jika dia adalah Rai yang sama.
"Heh. Ngapain lihat-lihat dari tadi? Cepet lepasin." Ucapnya yang masih dengan nada membosankan membuat seketika perasaan Hyerin langsung berubah.
"Lepasin dulu." Ucapnya lagi sambil mengacungkan tangannya yang tanpa disangka itu ternyata tangan Hyerin yang dari tadi memegang tangan Rai. Hyerin segera menepisnya melepaskan tangannya dengan sedikit perasaan malu, dia tidak bisa tahu sejak kapan tangannya yang memegangi tangan Rai? Bukanlah sejak dia pergi dari orang-orang tadi Rai yang sudah memapahnya?
"Sekarang sudah sadar?" Tiba-tiba Rai kembali bertanya tentang sesuatu yang tidak dia jelaskan dulu, Hyerin hanya kembali mengerutkan dahinya benar-benar tak mengerti apa yang dikatakan oleh Rai.
"Hampir saja mati, kok bisa kamu lepas dari ujian mereka? Padahal selama ini gak ada satu iblis pun yang bisa." Rai mengatakan kata-kata yang membuat Hyerin tersinggung lagi, entah mengapa Hyerin cukup heran karena orang-orang mengatakannya iblis.
Dari pada menjawabnya Hyerin memilih diam saja karena kesal, mengapa dalam satu kali pertemuan dengan orang-orang mereka seenaknya memanggilnya iblis.
Rai masih memandangi Hyerin yang di matanya sangat begitu keras kepala. Padahal cukup menjawabnya setiap kali ditanya tapi Hyerin membuatnya lagi-lagi harus bersabar menahan emosinya.
"Sudah lupakan. Sekarang sebaiknya kau ikut dengan ku!" Pinta Rai.
"Siapa yang setuju? Memangnya aku mau ikut? Seenaknya saja." Ucap Hyerin yang baru pertama kali ini bicara. Sudah cukup dengan ucapan yang dikatakannya, Rai langsung mengerti jika Hyerin benar-benar masih belum mengerti.
__ADS_1
"Bodoh banget, tinggal nurut saja susah. Terserah deh bukan urusan." Celoteh Rai yang langsung berjalan ke arah lain, mungkin karena sudah kehilangan akal dan sudah putus asa Rai akhirnya membiarkan Hyerin pergi.
Hyerin melihat lelaki aneh di hadapannya sudah pergi ke arah lain, itu artinya dia sudah terbebas darinya.
Dari pada memikirkan kata-kata orang Hyerin lebih baik memikirkan caranya agar bisa terbebas dari orang-orang aneh yang terus menyebutnya iblis. Lagi pula siapa yang mau jika dirinya disamakan dengan iblis?
"Tunggu! Tunggu!" Teriak Rai yang berusaha menghentikan Hyerin.
Dengan pintarnya Hyerin memilih berlari untuk menghindar, dia sudah sangat jelas menolak ajakannya tapi mengapa lelaki aneh itu selalu bersikeras?
Tak jauh berlari tiba-tiba Hyerin sudah menabrak seseorang yang berdiri di hadapannya hingga Hyerin harus tersungkur ke tanah.
"Pokoknya kamu ikut sekarang jangan banyak tanya!" Tegas Rai dengan nada memaksa.
Hyerin tak mengindahkan kata-kata itu, lagi pula apa alasannya mengapa dia harus menurut saja menerima apa yang diperintahkan oleh orang asing.
"Percayalah di sini bukan tempat mu, ada sesuatu yang banyak sekali perlu kamu ketahui, tolong jangan jadi orang bodoh yang berlari kesana kemari." Tanpa diduga Rai mengatakan semua kata-kata itu, padahal Rai dari awal pertemuannya sudah memperlihatkan sisi buruknya yang begitu cuek, tapi sekarang sebaliknya dia tampak begitu peduli.
Hyerin terdiam sejenak memikirkan banyak sekali masalah yang bergelut dalam pikirannya. Satu hal yang membuat dia ragu sampai saat ini, setiap kali dia melihat Rai di hadapannya spontan bayangan Rai miliknya semakin jelas terlihat, dia bukannya gak ingin menerima hal itu tapi Hyerin hanya takut kecewa jika saja dugaannya salah.
"Ayo pergi! Memangnya kamu punya tempat untuk pergi dan kembali lagi?" Celoteh Rai yang masih bersikeras. "Jangan salah paham, aku juga sama seorang iblis yang sudah melakukan perjanjian dengan iblis." Terang Rai.
__ADS_1
Mendengar perkataan itu Hyerin langsung membulatkan matanya, entah mengapa nalurinya semakin menjadi saat Rai terus memberitahu tentang banyak hal mengenai dirinya. Apakah memang dia Rai?
Hyerin masih diam, tentu saja dia tidak bicara bagaimana luka itu sangat dalam di hatinya. Sekali lagi Hyerin tak ingin kecewa.
"Aku ingin sendiri saja, lagi pula tidak ada yang mau menerima ku itu sudah cukup." Cetus Hyerin sambil membuang pandangannya.
Rai tampak memikirkan sesuatu. "Anggap saja semua orang tidak ada, hanya aku dan kamu kita berdua saja sudah cukup bisa hidup." Rai kembali meyakinkan Hyerin, tapi semakin Rai berusaha dengan keras sosok yang sangat Hyerin nantikan selama ini semakin jelas.
"Aku ingin sendiri!" Teriak Hyerin yang mulai lepas kendali dengan perasaannya, hingga teriakkan itu berhasil membungkam mulut Rai.
Detik berlalu suasana menjadi hening, entah apa yang sedang terjadi dengan hatinya, Hyerin tak peduli siapapun dia Rai atau bukan ataupun orang lain saja. Dia tidak ingin kecewa untuk sejauh ini. Tak terasa sebuah tekanan tercipta dari dasar perasaannya sendiri, membuat dia muak pada dirinya sendiri dan tanpa sadar mulutnya terisak, sebuah tangisan yang langsung pecah dalam hitungan menit.
Rai masih berdiri di sana, matanya tak pernah lepas memperhatikan Hyerin. Rai tak pernah tahu siapa wanita yang ada di hadapannya sekarang, dia juga tak mengerti mengapa dipertemukan dengan iblis wanita yang cukup unik. Banyak sekali hal yang ingin dia cari tahu tentang Hyerin, terutama karena Hyerin baru saja bisa lolos dari ujian dewa kematian yang lain, dia perlu alasan itu.
Namun seketika melihat dengan jelas cara Hyerin menangis, terisak dalam mulutnya yang membisu. Rai Hanya bisa menebak seberapa sesaknya rasa sakit yang Hyerin simpan di dalam hatinya, seberapa hebat dirinya menahan sepanjang waktu, hingga tangisan itu pecah.
Merasa iba, Rai tidak meneruskan niatnya alasannya selain karena kondisi Hyerin dia juga tidak akan mendapatkan suatu informasi apapun darinya, semoga saja hanya untuk saat ini.
Tak berlangsung lama akhirnya Rai pergi sesuai dengan keinginan Hyerin. Dia pergi untuk kembali ke tempatnya bersama orang yang sudah banyak dan telah lama bersama dengannya.
Semua berawal dari takdirnya sebagai dewa kematian, setelah melakukan sumpah untuk bisa hidup Rai harus menjadi dewa kematian dan meninggalkan seseorang yang tak mungkin dia temui lagi. Tepatnya seorang wanita yang dulunya adalah iblis sama seperti Hyerin tapi karena suatu ujian gagal kekasihnya harus terbakar oleh api dan hilang untuk selamanya. Dari kehilangan itu Rai mulai mengumpulkan banyak orang untuk memenuhi rasa kesepiannya hingga saat ini.
__ADS_1