Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Pembicaraan


__ADS_3

Di seberang pembatas jalan trotoar di sampingnya adalah gedung yang akan dia tuju, Hyerin mengamati dari kiri kemudian ke arah kanan. Matanya tidak berhenti mengawasi orang satu persatu. Dari balik kerumunan, dari setiap tempat yang terlihat, Hyerin tidak menemukan lagi ke dua laki-laki yang sedang dihindarinya. Akhirnya dia bisa tenang dan berlari melanjutkan perjalanan tanpa rasa sabar. Saat melihat sebuah gedung bertingkat di depannya Hyerin kembali memastikan sesuatu, kenyataannya dia tidak melihat satu roh pun yang berkeliaran di luar. Ketika masuk ke dalam gedung Hyerin masih tidak menemukan satu roh pun juga, dia tidak melihat tanda-tandanya. Apa mungkin bukan waktu yang tepat untuk menemui guru wanita itu? Kemanakah sekarang dia harus pergi lagi? Dia berpikir sejenak tanpa membuahkan hasil. Yang pada akhirnya dia mengulangi kegiatannya sejak awal, mengamati gedung satu persatu dan masuk dari satu pintu ruangan ke ruangan lainnya.


Kedua kaki nya melemas, serasa ingin ambruk seketika juga. Pencarian tanpa membuahkan hasil lagi.


Kedua matanya meratap langit-langit gedung yang menaunginya, sejenak hatinya kembali mengutuk. Tentang kehidupan yang menyedihkan, tentang dirinya yang sekarang, terlebih tentang cerita kematiannya itu.


Hyerin menghela napas panjang dan memikirkan kembali semua kejadian dengan detail, menimbang mana yang menurut nalurinya benar atau salah.


"Hyerin! Hyerin!" Dari arah kanan terdengar suara membisik hingga menembus Indra pendengarannya, spontan Hyerin mencari suara yang menghalau perhatiannya.


Dari arah pintu Hyerin menangkap seseorang yang mengendap hati-hati berbisik ke arahnya. Ketika kedua mata saling pandang satu sama lain Hyerin seperti mengerti dengan isyarat yang dimaksudkan perempuan itu. Meskipun belum jelas sosoknya siapa Hyerin dengan hati-hati mengikuti arahan dari perempuan itu.


Pandangannya kembali membagi perhatian ke semua arah, yang dia tahu dirinya selalu diikuti Rai lelaki yang tidak dikenalinya itu. Mungkin semua orang yang pernah bertemu dengannya juga pernah melihat sesekali Rai yang tidak jauh mengawasi, itu alasannya mengapa perempuan itu sangat bersikap hati-hati.


Hyerin berjalan dan berhasil menangkap tangan perempuan itu dan memapahnya ke suatu ruangan yang sangat dalam di gedung tersebut. Hyerin menemukan sebuah pintu menyerupai tembok yang kemudian hilang secara otomatis saat dia memasuki ruangan di balik pintu tersebut.


Masih dengan banyak tanya, namun Hyerin bungkam enggan mengatakan apapun sebelum dia bisa memastikan dirinya aman di tempat tersebut.


"Pokoknya disini kita aman, semua tempat ini sepenuhnya adalah tempat manusia yang tidak bisa ditembus oleh dewa kematian sekalipun." Terang wanita itu yang akhirnya Hyerin menyadari jika wanita itu berasal dari gedung sekolah waktu itu, dia sempat melihatnya namun tidak pasti menanyakan identitasnya siapa.


Saat di ujung jalan wanita itu berhenti dan menunjukkan ke arah semua orang yang sudah sama menunggunya di tempat yang sama.

__ADS_1


Hyerin melihat beberapa orang tidak lebih dari belasan orang yang berkumpul di tempat sempit dan hampir tidak menyisakan ruang untuk satu orang pun.


"Mari kita jelaskan bersama-sama bagaimanakah situasinya sekarang ini." Terang seorang lelaki yang Hyerin bisa langsung mengenalinya, lelaki yang sama pada waktu di sekolah itu.


Hyerin duduk di sebuah kursi begitupun dengan semua orang, duduk melingkar saling menjaga satu sama lain.


Hyerin masih tidak mengerti tapi dia mencoba mengikuti alur yang melibatkannya.


"Sekarang keadaannya semakin tidak terkendali, kalian tahu? Pertama adalah Desy, kemudian wanita tua di samping alun-alun pusat kota, lalu sekarang Guru di kelas kita." Jelas lelaki itu yang terlihat sangat serius dengan perkataannya.


Hyerin sedikit tersindir karena dia sebelumnya menemui semua orang yang sudah disebutkan.


"Selain itu juga semua orang sudah bergunjing dengan hal yang sama, tentang apapun yang berkaitan dengan kejadian di masa lalu yang pernah terjadi. Menyebutkan tentang pasien di kamar 13 dan rumor tentang Akemi." Hyerin mengangguk hatinya menerawang kembali dalam-dalam ingatan yang terlintas begitu saja di pikirannya.


"Mereka semua hilang?" Ketus Hyerin dengan nada tidak percayanya. Dia masih tercengang dan baru bisa menangkap maksud dari pembicaraan.


Alih-alih semua orang memperhatikan Hyerin, melihat keraguan Hyerin dan rasa tidak tahu ya yang terlukis jelas di wajah Hyerin.


"Seperti itu kenyataannya. Kami sudah melakukan semua penyidikan, dan kesimpulannya orang-orang hilang setelah menemui kamu." Jawab lelaki itu yang memberikan sebuah penjelasan singkat agar mudah dipahami Hyerin.


"Apa mungkin karena Rai? Orang-orang menyebutkan hal yang sama, dan mengisukan bahwa ada dewa kematian lain yang membunuh secara brutal setiap orang." Sambung Hyerin.

__ADS_1


Lelaki itu hanya mengangguk lemah.


"Sebenarnya belum ada kepastiannya apakah itu memang ulah dari salah satu dewa kematian yang ada atau karena hal lain. Tapi dari hasil penyelidikan kami semua setiap orang yang menemui kamu khususnya, maka orang tersebut langsung hilang tanpa kabar."


Hyerin menghela napas lagi, dia akhirnya mengerti ada sebuah kejadian serius yang menimpanya.


Namun dari hatinya yang paling dalam Hyerin mengira jika semua itu adalah ulah Rai, karena dalam beberapa kesempatan dia menemukan Rai terus mengikutinya.


Hyerin tidak langsung memberikan jawaban, namun dia menahannya karena tidak ingin menambah dugaan yang salah lagi.


"Sebagai tindakan kita, pertama kita harus menghentikan rumor dari semua orang, dan bertindak secara diam-diam." Terang lelaki itu yang memberikan sebuah solusi.


"Ada yang ingin ku tanyakan, apakah dewa kematian kita sendiri bisa terlihat oleh semua roh lain?" Tanya Hyerin memastikan dugaan dalam hatinya itu.


Pikirnya jika hal tersebut ulah Rai maka keberadaan Rai tidak terlihat oleh orang lain, hal tersebut berlaku sama jika setiap kejadian karena ulah Akemi maka keberadaan Akemi tidak bisa terlihat orang lain.


Semua orang kembali menjadikannya sebagai pusat perhatian, meski sedikit risih tapi Hyerin tidak bisa lebih lama lagi memendam hal yang sangat penting di dalam hatinya.


"Kita semua roh di sini memiliki dewa kematian yang berbeda, hanya roh itu sendiri yang bisa melihat wujud dari dewa kematiannya. Kau bahkan tidak mengetahui hal paling dasar?" Tanya lelaki itu yang panik.


Hyerin sedikit memalingkan wajah dan malah tersenyum. Meski sebenarnya dia merasa tidak nyaman dengan keadaan yang membuatnya merasa canggung.

__ADS_1


Beberapa saat terdiam, begitupun Hyerin yang masih berusaha mempertahankan posisi duduknya itu.


"Baiklah baru hal itu uang sudah kita bahas hari ini, sebagai saran tolong untuk semua orang datang ke sekolah harus selalu hadir diusahakan." Ucapan yang terdengar mengakhiri pertemuan singkat tersebut. Hyerin mengamati semua orang yang bersikap tak acuh pada dirinya. Wajar saja mungkin mereka takut, keberadaannya patut ditakuti karena setiap orang yang ditemuinya pasti akan dikabarkan hilang. Hyerin harus terbiasa dan bersyukur, selain mereka semua murid di sekolah tersebut yang menerima Hyerin tidak seperti orang lain di luar sana.


__ADS_2