Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Kehidupan Hyerin


__ADS_3

Jangan tanyakan siapa yang paling nyaman dan senang dengan kehidupan roh saat ini? Karena semua roh yang ada sekarang mungkin tidak pernah berpikir lagi tentang dunia mereka di dimensi kehidupan lain.


Hyerin sedikit menghela napas saat pemandangan yang masih membuatnya merasa jengah, saat berbalik maka anak kecil bisa berinteraksi dengan roh, saat melihat maka banyak manusia dewasa yang bisa melihat kehadirannya.


Mungkin sedikit roh yang bertanya pada dirinya sendiri, setelah sekarang maka esok akan terjadi apa? Atau setelah hari ini maka esok akan seperti apa.


Tidak ada yang tahu, karena kedatangan roh ke dunia fana tempat manusia hidup masih menjadi teka-teki sampai setelah beberapa tahun berlalu. Dan itu bukan masalah, roh saat ini hanya memikirkan bagaimana untuk hidup sekarang, bagaimana untuk menghabiskan kesenangan sekarang, dan bagaimana untuk mencari teman sekarang.


Entah manusia atau roh hubungan keduanya sampai sejauh ini masih berkesan baik, ada timbal balik dari kedatangan roh yang menetap satu dimensi dengan kehidupan manusia, karena di tempat roh sekarang tidak ada lagi ancaman yang mengundang mereka dan tidak ada lagi sebuah peringatan yang membuat setiap napas seperti tercekik di dada.


Hyerin salah satunya, dia hidup dan menjalani semuanya dengan terlena. Kadang tidak ingin memikirkan apa yang terjadi selanjutnya apakah masih ada ancaman untuk roh sepertinya? Seolah tak ingin tahu ambisi Hyerin masih sama, rasa penasaran yang membuat dia akan terus bertahan hidup dari semua perubahan, salah satunya karena Rai.


Sejak penglihatan terakhirnya, saat itu dan sampai sekarang Hyerin masih yakin jika ada kehidupan bersama Rai di sana. Ada sebuah tempat yang sedang menunggunya, dia tidak harus menyerah tapi harus mencarinya entah bagaimana caranya itu.


"Hyerin!" Sebuah suara tiba-tiba menghalau lamunan Hyerin.


Matanya segera menerawang mencari ke arah sumber suara. Ternyata Nenek tua yang sedang tersenyum simpul padanya.


Padahal di sekitar masih begitu ramai dan orang-orang mungkin akan memperhatikan ke arahnya, bukan saatnya Hyerin membiarkan Nenek itu berbicara padanya.


Dengan hati-hati Hyerin memperhatikan ke semua arah di sekelilingnya, berjalan menghampiri Nenek seorang diri dengan kilat.

__ADS_1


"Nenek sudah bertemu dengan cucu, ternyata cucu nenek itu laki-laki." Ucap Nenek itu girang pada Hyerin.


Hyerin hanya bisa memalingkan wajah tidak begitu memperhatikan saat nenek itu berbicara, Hyerin lebih fokus mengambil tangan Nenek itu dan memapahnya agar menjauh dari keramaian.


"Jangan cepat-cepat jalannya, aduh!" Keluh Nenek sepuh itu.


Hyerin segera menghentikan langkah kakinya, melihat saat itu di taman sedang sepi.


Di hadapannya adalah seorang Nenek-nenek sepuh yang jika dia lihat umurnya sudah tidak lama lagi, tentang cucu yang dia sebutkan mungkin hanya khayalannya saja karena kenyataannya bahwa anak dan cucunya sudah meninggal. Selama itu Hyerin mencari mereka tapi keluarga Nenek tidak ditemukan. Akhirnya karena rasa iba Hyerin tak bisa membiarkan nenek hidup sendirian.


"Kenapa bawa nenek ke sini? Nenek gak mau main ke taman." Ucap Nenek itu tampak masih tersisa dari tawa bahagianya tadi.


"Nenek sekarang ikut aku ya. Aku capek mau pulang dan makan." Ucap Hyerin manja layaknya dia sedang berbicara pada seorang ibunya sendiri.


Di dalam rumah, ruangan yang cukup menampung dua orang dewasa, ada sebuah kamar tunggal dan ruang tamu lalu ruang dapur terpisah dengan satu kamar mandi di belakang.


Foto-foto berjajar rapih di atas tembok ruangan, mulai dari ruangan tamu dan kamar, Nenek selalu tersenyum saat menatap salah satu foto keluarga yang ada di sana, membuat nenek rasanya kembali mengingat banyak kenangan bersama semua anaknya dulu. Menghabiskan waktu mengurus keluarga dengan seorang suami tentara dan juga 2 orang anak. Nenek masih ingat dan merasa jika suaminya masih tetap ada di rumah.


Hyerin berdiri di samping tubuh nenek renta yang sedang asik memandangi album foto keluarga, Hyerin bisa melihat kebahagiaan di wajah nenek walaupun kebahagiaan itu sudah berlalu lama.


"Suami ku adalah lelaki hebat dia selalu bangga dengan seragam dan sumpah setianya sebagai abdi negara." Ucap Nenek dengan rasa bangga.

__ADS_1


"Sekarang suamiku pasti pulang, aku harus mempersiapkan semuanya. Kita beres-beres saja ya!" Ucap lagi nenek yang lanjut sibuk menata rumah.


Hyerin tak berkomentar apapun meski dia tahu kenyataan sebenarnya, suami nenek yang sudah meninggal dan juga anaknya yang sudah meninggal. Sayang sekali nenek renta tinggal sendirian dengan nasib dan takdirnya. Hyerin menatap ke arah kanan, seperti biasa seorang perempuan muda sedang berdiri seolah berdoa dan juga di sampingnya ada lelaki persis seperti yang nenek ceritakan. Hyerin tidak heran dengan kedatangan mereka, keduanya adalah anak dari Nenek itu, mereka memang selalu berkunjung sebagai roh, suka cita dan perasaan cintanya pada sang ibu membuat kedua anaknya tinggal di rumah berharap bisa menemani kehidupan ibu.


Tak gentar Hyerin hanya bisa sebatas menatap dan membiarkan mereka, dalam satu sisi Hyerin tak begitu tenang jika ada roh yang tinggal bersama manusia, itu seharusnya tidak boleh. Tapi perasaan iba mengalahkan aturannya.


"Hey sekarang kau bisa kan berbicara dengan Ibu ku?" Tanya seorang lelaki pada Hyerin yang masih diam bersikap seolah dia tak memperhatikannya.


"Sekarang ku mohon! Aku sudah berharap begitu lama." Timpal seorang perempuan muda yang nyaris mirip seperti nenek, mungkin wajah nenek muda juga berparas sama dengannya.


Hyerin tak bergeming meski sangat jelas dia bisa melihat roh itu, kecuali nenek. Benar saja aturan di dunia ini tidak semua roh bisa terlihat oleh manusia hanya roh yang memiliki kekuatan yang besar bisa memperlihatkan kehadirannya pada manusia.


"Sudahlah kak, gak berguna juga bicara terus." Sambungnya yang tampak kesal.


Hyerin tidak ingin meladeni permintaan roh, karena dia tidak boleh melakukannya apalagi saat di hadapan Nenek. Apa jadinya jika dia tak sengaja terlihat sedang berbicara dengan roh yang tak terlihat, nenek akan bertanya-tanya dan mungkin tak bisa mempercayainya lagi.


Setelah kedua roh itu pergi barulah Hyerin juga pergi ke ruangan dimana Nenek sibuk sedang merapihkan ruangan.


Sebaiknya Hyerin membantu nenek untuk beres-beres, sangat ingin sekali dia bisa menemani nenek lebih lama entah sampai kapan waktunya hingga dia diharuskan mengantarkan nenek pada akhir hidupnya.


"Kau berdiri saja, cepat bantu aku rapihkan rumahnya sekarang! Suamiku akan datang dan aku harus merapihkan semuanya." Ucap Nenek itu dengan sangat semangat.

__ADS_1


Hyerin tak menjawab dia hanya diam tapi pikirannya tak berhenti bertanya, apalagi tentang roh suaminya yang tak kunjung terlihat. Hyerin sedikit merasa heran mengapa roh suami nenek tidak pernah datang.


__ADS_2