
Sekarang sudah tidak ada orang lagi kan? Riuh keramaian di dunia manusia tak sedikitpun berhasil menyentuh indera pendengaran Hyerin. Biasanya suara air jatuh dari langit bisa membuatnya berteduh, walaupun itu tak mungkin bisa menyentuhnya. Tapi sekarang... dia tidak mendengarkan semuanya, seolah Hyerin hanya seorang diri duduk di sudut ruangan yang hampa, hanya dirinya sendiri.
Sampai detik ini, Hyerin baru mengerti mengapa dia lebih baik tiada saja dan semua luka mungkin akan pergi juga. Tapi mengapa takdir begitu hebat mempermainkannya. Dalam cerita yang tak pernah usai, dalam kisah yang tak pernah terpisah, Hyerin selalu sendirian setelah dia mengerti jika ada orang yang pernah dalam situasi sulitnya saat ini, yaitu Rai. Tapi menyedihkan sekali, ketika Rai sudah tiada dan tak mungkin kembali penyesalan itu hadir baginya sebagai hantu, Hyerin benar-benar tak bisa melupakannya dan Hyerin tak pernah memilih hidupnya yang sekarang.
Tiba-tiba saja memori ingatannya kembali melayang jauh sekali pada tahun-tahun dimana Rai masih tersenyum di belakang sendirian, sedangkan Hyerin yang asyik tak pernah menyadarinya.
Menyakitkan sekali.
Buliran air yang meluncur keluar dari matanya begitu deras, Hyerin tak tahu seberapa lama lagi dia akan menangis seperti ini, seberapa jauh lagi siksa pada hatinya.
Menyedihkan sekali karena Hyerin harus sendirian lagi, bahkan saat Rai hadir di depan mata tapi kali ini dia benar-benar tak bisa menerimanya. Dan momen itu sangat menyedihkan.
"Yerin!" Terdengar sebuah panggilan yang tidak begitu asing bagi telinga Hyerin, hingga karena suara itu Hyerin langsung terdiam dan hatinya mulai kembali, kesadarannya mulai utuh. Hyerin berbalik mencari ke semua arah, namun tak ada yang ditemukannya padahal suara itu sangat begitu jelas tadi.
"Yerin." Terdengar lagi.
Hyerin berbalik lagi dan melihat sosok lelaki yang sudah tidak asing dalam waktu terakhir ini.
"Rai." Ucap Hyerin lirih.
Rai balik tersenyum lagi seolah apa yang dia katakan bukan sesuatu yang luar biasa kan.
"Jadi sekarang pergi ya!" Ucap Rai lagi-lagi. Tapi matanya terhenti, ekspresinya langsung berubah saat sekali lagi melihat Hyerin yang begitu terpaku ke arahnya.
Rai terdiam, sekarang dia bingung dengan tatapan Hyerin.
__ADS_1
"Maafkan aku, lupakan saja aku sudah malas " Komentar Rai yang dengan lebih beraninya dia mengabaikan Hyerin.
Baru setelah menit berlalu kesadaran Hyerin kembali lagi, tanpa mengatakan apapun pada Rai dia masih bisa mengontrol hatinya membuat perasaannya paham jika orang yang ada di hadapannya bukanlah Rai.
"Mau apa?" Tanya Hyerin.
Rai balik melihat Hyerin terheran, kali ini gilirannya memperlihatkan ekspresi itu. "Tumben sekali nanya." Sebutnya.
Tanpa basa-basi lagi Hyerin langsung menjauh berniat untuk pergi saja.
"Jangan kabur!" Teriak Rai. Dia langsung berlari menyusul. "Pokoknya kau hanya bisa pulang bersama ku." Ucap Rai begitu percaya dirinya.
"Baiklah." Ucap Hyerin lemah.
Lagi-lagi Rai langsung mematung, seolah dia benar-benar kaget mendengarnya padahal biasanya Hyerin menolak kan?
Hyerin langsung berhenti dan menatapnya jengkel.
"Aku hanya takut kau salah jalan, tidak ada yang lain." Ucap Rai beralasan, dia kembali kaget karena Hyerin yang sudah mulai kesal.
"Jalannya bukan kesana, kita salah jalan." Ucap Rai sambil terus tersenyum berusaha membuang suasana yang mulai canggung.
####
Takdir apa yang sedang terjadi? Hyerin hanya melihat dirinya yang sangat menyedihkan, bersimpuh menatap masa depan yang tidak menjanjikan, dan sekarang dia harus bertemu dengan lukanya di masalalu.
__ADS_1
Pertemuan Hyerin dan Rai saat ini, segala macam kemiripan tampak di mata Hyerin hingga kadang sesaat Hyerin yakin jika itu adalah Rai. Tapi setelah keyakinan itu Hyerin kembali merasa jika itu bukan, Rai tidak mungkin kembali dalam masa depannya kan?
Setelah berdebat cukup panjang dengan rasa bimbang, Hyerin mencoba menumbuhkan rasa benci untuk melupakannya. Tapi akankah berhasil? Bahkan dia kini mengikuti apa yang dikatakan Rai, Hyerin juga menerima dengan mudah sebuah tawaran darinya, dan terakhir Hyerin memutuskan untuk menjalaninya saja.
Mudah bukan? Hyerin ingin sekali menganggap semuanya sangat mudah seperti saat hari yang terus berganti, waktu tak akan pernah diam menunggu ataupun kembali ke masa lalu. Waktu akan tetap berjalan pada porosnya. Rasanya andai saja Hyerin bisa seperti waktu untuk menyudahi kisahnya.
Setiap kali merasa dia harus berakhir dengan cara apapun, meninggalkan tempat saat ini yang terdengar mustahil, Hyerin tak ingin lagi berpikir lebih dalam, tidak ada lagi perasaan yang tersisa di dalam sana Hyerin hanya ingat jika hidupnya hanya sia-sia.
"Ehemm.." Suara batuk yang disengaja.
Hyerin menatap ke sebelahnya dan di sana masih ada Rai, dia kembali menarik pandangannya dan menghela napas.
"Boleh aku tebak sesuatu?" Ujar Rai yang saat itu hanya diam saja bersama Hyerin seorang wanita yang membuatnya sangat penasaran, karena rasa penasaran itu Rai tak bisa menyimpannya hanya sebatas rasa saja.
Hyerin masih diam saja, jauh dalam hatinya dia tidak ingin sekali harus mengobrol atau bahkan bertatap wajah dengan Rai, tapi di sisi lainnya lagi dia tidak bisa pergi jauh dan mengakhirinya.
"Aku mengingatkan mu pada seseorang kan?" Celoteh Rai, dia sekarang tak berharap Hyerin akan menjawabnya. "Orang mengatakan seseorang akan bereinkarnasi tapi tidak jika seperti ku, seorang dewa kematian tak akan pernah bereinkarnasi lagi." Rai masih mengobrol sepihak dengan pikiran yang kembali melayang pada banyak kisah yang terjadi di masalalu.
Hyerin tertegun, padahal ucapan pertama Rai sudah membuat Hyerin tahu apa itu artinya. Tapi karena sudah terlanjur bercerita lebih baik dia mendengarkan apa yang akan diceritakan Rai sekarang.
"Aku pernah kehilangan dan hidup sendirian cukup lama sekali, pernah menunggu cukup lama sekali. Itu menakutkan." Ungkap Rai yang langsung mengubah ekspresi Hyerin.
"Dan akhirnya aku bertemu lagi, tapi dia menghilang lagi. Kemudian datang dan dia sudah hilang lagi. Hingga saatnya dia selamanya hilang tak akan kembali." Rai menceritakan semua perasaannya saat ini.
Entah mengapa mendengarkan alur cerita yang dibicarakan Rai sekilas Hyerin merasa itulah hidupnya sekarang. Gak terasa air mata berjatuhan, sambil menunduk Hyerin menyembunyikan wajahnya.
__ADS_1
"Hingga aku memutuskan untuk hidup apa adanya, menjalani semua yang ada di depan mata. Aku sudah tak mengharapkan kisah yang baik lagi. Rasanya lebih baik menyerah saja." Rai akhirnya bisa menemukan Hyerin yang menundukkan wajah, dengan bahu naik turun karena menangis.
Saat Rai berniat untuk menyadarkan Hyerin, tapi tangannya kembali dia tarik dalam genggaman. Rai tak ingin Hyerin berhenti menangis, jika itu caranya agar lebih baik maka tak apa.